
Temaram lampu kualitas tinggi menerangi kamar C12. Terlihat semua penghuni kamar C12 sedang duduk melingkar. Memberikan ruang bundar di antara mereka semua. Meta, Violla, Riana, Riani dan Andin sedang makan bersama di nampan yang cukup besar. Mereka memakan makanan bersamaan yang berada di nampan dengan tangan telanjang alias tanpa sendok. Saling berebut nasi dan juga lauk. Hal seperti itu adalah hal yang lazim dilakukan bagi anak pesantren. Memakan secara bersamaan memang akan menjadikan rasa makanan menjadi lebih nikmat. Tidak peduli dengan apapun lauknya, semua akan terasa nikmat jika sudah bertemu dengan lidah. Beberapa kali diselingi candaan kecil yang membuat makan semakin bergairah.
"Silakan dihabiskan, aku sudah kenyang."
Andin mengatakan kepada semua teman-teman nya lalu segera berlalu mencuci tangannya ke belakang.
Setelah Andin mencuci tangan di belakang, ia sengaja melewati jalan yang lain. Itu ia lakukan hanya untuk melihat-lihat berbagai sudut asrama pesantren. Sejak kedatangan Andin di Pesantren memang tidak pernah mengelilingi sudut-sudut asrama pesantren. Tetapi entah mengapa tiba-tiba ia ingin melihat-lihat seluruh isi asrama pesantren.
Wah, semua sudut asrama rupanya sangatlah bersih. Bahkan tidak ada butiran debu sekecil apapun.
Ketika Andin sedang memandangi kanan kirinya dan segera menuju tangga, mata Andin terbelalak dengan pemandangan di depannya. Yaa, Andin melihat aula yang berada persis di bawahnya. Terlihat dua orang sedang bercengkrama di aula itu.
Sedang apa Ummi dan si kaku tampanku di aula? Mereka terlihat sedang mengobrol.
Tentu jiwa penasaran Andin membuncah dalam dadanya. Ia pun memasang telinga dengan keseriusan tingkat akut.
"Hahaha, Ummi jangan mengkhawatirkan tentang pernikahan ku. Aku pasti akan menikah Ummi."
Andin pun langsung dapat menyimpulkan bahwa pembicaraan mereka berdua tidak lain tidak bukan ialah pembahasan mengenai pernikahan Ustad Zidan Haq yang sedang di tanyakan langsung oleh Ummi.
"Kalau kau mau, Ummi bisa membantu mencarikanmu jodoh untuk mu Ustad Zidan." (kata Ummi)
"Terimakasih sebelumnya Ummi." (jawab Ustad Zidan)
"Mungkin kau akan tertarik dengan Mbak Zulfia. Dia sangat cantik, baik , solehah, dan juga setia. Kau bisa mempertimbangkan tentangnya Ustad Zidan. Atau jika kau ingin bertemu dengannya sekedar untuk melihat terlebih dahulu, Ummi yakin kau akan langsung jatuh kepadanya.."
Mendengar ucapan Ummi, seketika Andin pun langsung merasa lunglai tak berdaya. Bagaimana tidak, Ummi sedang menjodohkan Ustad Zidan Haq alias si kaku tampannya dengan Mbak Zulfia. Entah mengapa desiran hebat tiba-tiba membuat dadanya sangat sesak. Andin segera berbalik badan lalu berlari kembali ke kamar C12 lewat jalan yang lain. Rasa sakit telah menguasai dirinya, tetes demi tetes air mata pun membanjiri wajahnya. Andin merasa telah gagal sebelum berperang.
__ADS_1
Ketika Andin telah sampai ke kamar C12 semua penghuni kamar bertanya-tanya kebingungan melihat Andin yang tiba-tiba kembali ke kamar langsung tengkurap dikasurnya dengan tangis yang kian menjadi-jadi. Hanya Meta yang berani menanyakan kepada Andin. Tentu saja ia lakukan karena Andin memang sahabatnya. Jika bukan dia yang menghibur lantas siapa lagi? Begitu yang terlintas dalam benak Meta kira-kira.
"Andin, kau kenapa? Siapa yang membuat mu menangis seperti ini?"
Tanya Meta sambil mengelus pundak Andin. Sedangkan Violla, Riana dan Riani yang memang berada di kamar C12 juga hanya bisa mematung menahan hembusan nafas mereka.
"Aku tidak apa-apa. Kerjakan urusanmu sendiri!"
Ungkap Andin dengan sesenggukan lalu menyingkirkan tangan Meta yang sedang mengelus pundaknya. Bahkan bukan hanya Meta saja yang terkejut dengan Andin, semua pun terkejut. Ia memang dikenal dengan gadis yang sangat supel kepada semua orang. Tetapi mereka berusaha mengerti dengan keadaan Andin sekarang. Andin memang membutuhkan waktu sendiri saat ini. Mereka pun memutuskan untuk tidak menanyakan kepada Andin lagi. Mereka berpura-pura tidak melihat bahwasanya Andin sedang terjatuh dalam kesedihan yang mendalam. Sebenarnya mereka tidak tega, tetapi tidak ada pilihan lain selain memberinya waktu tanpa diganggu oleh siapapun.
Di tempat lain, masih di asrama pesantren tepatnya di aula tempat Ummi dan juga Ustad Zidan Haq berada.
"Bagaimana toh Ustad Zidan. Sejak tadi kau hanya mengalihkan pembicaraan jika membahas tentang Mbak Zulfia.." (kata Ummi dengan sangat lembut)
"Hehe maaf ya Ummi. Sebenarnya aku tidak tertarik dengannya."
"Kau bahkan belum melihatnya secara langsung kan? Dia sangat baik."
Mendengar jawaban Ustad Zidan Haq, Ummi mengangkat alisnya sedikit menelisik menebak-nebak mengapa Zidan Haq menolak secara halus.
"Apa kau sudah memiliki calon, Ustad Zidan?"
Zidan Haq hanya mengulas senyum tak berniat menjawab pertanyaan Ummi. Tentu saja Ummi mengerti maksud senyuman Zidan Haq.
"Apa Ummi boleh tahu, Ustad Zidan?"
"Andin Raharga."
__ADS_1
Betapa terkejutnya Ummi mendengar ungkapan jujur dari Zidan Haq. Tetapi ia hanya diam saja tak menanggapi lebih lanjut lagi. Yang dipikirkan Ummi saat ini adalah apakah Andin mengetahuinya atau bahkan tidak mengetahui sama sekali.
Sedangkan di kamar C12, suara isakan tangis Andin masih terdengar sama. Padahal Andin pun belum mengetahui sepenuhnya mengenai tanya jawab Ummi dengan Zidan Haq di aula.
Tak ada satupun yang berani mendekati Andin ketika ia sedang sedih seperti itu.
......................
Setelah selesai berbincang-bincang dengan Ummi, Zidan Haq segera meninggalkan asrama pesantren setelah mendapat izin dari Ummi.
Lebih baik aku pulang saja, mungkin saja seseorang sedang menunggu ku sekarang haha.
Zidan Haq mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang untuk kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia mengingat-ingat beberapa memori masa kecilnya dengan mengulas senyum. Saat Zidan Haq sering main ke rumah Andin waktu kecil. Zidan Haq selalu bisa terhibur dengan keceriaan si kecil Andin. Melihat Andin yang selalu tersenyum apapun keadaannya. Andin memang gadis yang kuat sejak kecil, begitu pikir Zidan Haq. Hingga pada suatu hari, ia menemani Andin yang sedang mewarnai gambarnya. Zidan Haq pun sesekali membantu Andin dalam mewarnai gambarnya. Tetapi Zidan Haq lebih banyak terdiam daripada berbicara. Ia memang seperti itu kepada semua.
"Ahh, andai kau mengingat semua masa kecilmu Ndin.."
Sejak Andin kecil terpeleset di tangga rumahnya yang membuat kepala Andin membentur tembok dengan cukup keras, separuh ingatan masa kecilnya benar-benar hilang tak berbekas. Ia hanya mengingat separuh ingatan masa kecilnya saja. Tentu saja Papah Arga dan Mamah Kumala sudah memberikan yang terbaik untuk perawatan Andin kecilnya. Tetapi akhirnya mereka berdua bersyukur karena masih bisa bersama-sama dengan Andin walau ingatannya banyak yang hilang.
Kau selalu menggemaskan dan memang sudah dari kecil, Ndin..
"Kak Zidan..apa kau bisa menghidupkan boneka barbie Andin yang lepas kakinya? Kasian boneka ku pasti kesakitan kan, karena lepas kakinya.."
Ia teringat kembali ungkapan polos Andin kecil pada suatu hari. Tentu saja Zidan Haq merasa sangat geli dengan kepolosan Andin kecil. Tetapi Zidan Haq memang sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Ia memang sudah semenjak kecil berbakat memasang wajah yang selalu datar.
"Suatu saat nanti aku pasti akan mengungkapkan perasaanku kepadamu, Andin Raharga."
Zidan Haq membelokkan setir mobilnya masuk ke dalam gang elite menuju ke rumahnya dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAA, HAPPY WEEKEND ❤️🤗