Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Jahil


__ADS_3

"Mari silahkan duduk."


Kumala mempersilakan Helen dan Rossie untuk duduk setelah menjabat tangan keduanya.


"Dimana semuanya, eh pengantinnya?" (tanya Helen sembari mengulas senyum)


"Papahnya Andin sedang di ruang kerjanya sebentar, katanya tadi ada urusan mendadak. Andin sedang di kamar mandi, suaminya sedang mengambil minuman di dapur. Sebenarnya, aku sudah melarangnya, tetapi dia tetap bersikeras. Kau tahu, sendiri." (jelas Kumala)


Helen mengangguk sembari tersenyum.


"Apa Andin sangat berbahagia?"


"Kau bisa melihatnya sendiri, nanti."


Kumala dan Helen terkekeh bersama tentunya dengan pikiran yang berbeda-beda. Sedangkan Rossie masih tetap diam tak bergeming. Tiba-tiba Zidan datang dengan membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. Jelas saja, keterkejutan terlihat jelas di wajah Helen dan Rossie. Betapa tidak? Seseorang yang tengah dilihatnya kali ini adalah bagian dari keluarga mereka yang telah lama tak dijumpai. Walaupun sudah sangat lama, mereka tentu tetap mengenalinya. Bagaimanapun dia adalah bagian dari anggota keluarganya, yang tidak akan mungkin dilupakannya.


"Ibu..."


Zidan menyalami Helen dan memeluknya bergantian dengan Rossie, adik perempuannya. Kumala tersenyum melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya.


"Putramu sangat bijaksana, dia terlihat tulus dalam mencintai Andin." (ucap Kumala)


Rossie hendak mengangkat suara, tetapi Helen berhasil menggenggam tangannya terlebih dahulu, untuk melarangnya berbicara sedikitpun.


"Dimana Andin? Kenapa tidak kesini?" (tanya Helen kepada Kumala)


"Aku akan memanggilnya, Bu."


Perkataan Zidan tak di gubris sedikitpun oleh Helen. Tiba-tiba saja, Andin sudah berada di situ.


"Maaf ya Tante, Andin lama. Tadi Andin sakit perut, hehe."


Helen menganggukkan kepalanya, tersenyum alakadarnya. Memeluk Andin dan mengusap kepalanya beberapa kali.


"Heh, Rossie, kenapa kau diam saja?!"


"Eh, ngomong-ngomong, semalam kau pergi kemana hah?!"


Pertanyaan menohok dari Andin pada Rossie, tak ditanggapinya sedikitpun. Helen lah yang berbicara.


"Maaf ya Andin sayang, kemarin Rossie mendadak sakit dan dia meminta untuk berisitirahat di rumah."


"Rossie sakit? Sakit apa?" (tanya Andin)


"Disini kan juga ada dokter pribadi, seharusnya berisitirahat di sini saja." (ucap Kumala)


"Semalam disini bising sekali, jadi kami kembali ke rumah. Yang terpenting kan, kami sudah mendoakan akad pernikahan semalam supaya lancar."


Tidak biasanya Ibu berbohong seperti ini. Ibu pasti sangat terluka. Melihat kejadian nyata di depan matanya. Ketidak keterbukaan putranya sendiri.


"Baiklah, mamahnya Andin, kami izin pulang terlebih dahulu. Kami sudah ada janji dengan seseorang di pagi ini." (ucap Helen)


"Kenapa buru-buru sekali? Papahnya Andin bahkan belum kesini."


"Maafkan kami, titip salam saja untuk Tuan Arga."


"Tante..."


"Kenapa buru-buru sekali..."

__ADS_1


Helen tersenyum mengelus kepala Andin sekali lagi.


"Jaga kesehatan ya, Andin sayang."


Helen dan Rossie meninggalkan rumah besar Andin. Dan ya, rumah besar kerabat dekatnya. Dengan sejuta kemurungan dalam hati mereka berdua, Helen dan Rossie melangkahkan kaki dengan rasa tidak menyangka tentunya. Tidak menyangka, bahwa kehidupan yang tengah dihadapi, akan seperti drama settingan sinetron. Saling berpegangan tangan, saling menguatkan.


"Ibu, yang sabar ya?" (lirih Rossie)


Air mata Helen berhasil lolos setelah membendungnya sejak tadi. Rossie melihat dengan jelas ibunya yang tengah bersedih. Dalam hati, ia mengutuki kakak pertamanya itu.


Entah apa yang berada dalam pikirannya. Seharusnya, dia kan menghargai ibu sebagai ibu kandungnya? Ibu benar-benar sangat terluka. Padahal, sudah sangat lama ibu mencari keberadaan nya dan ingin bertemu serta merengkuh rindu pada nya. Jika tidak bisa menyenangkan, setidaknya jangan membuat ibu ku menangis?! Aku, membencimu. Aku tidak memiliki kakak satupun di dunia ini!


...----------------...


"Apa yang kau kirim untuk istriku, heh?"


"Sudah di buka, belum bang?"


"Ya, tentu sudahlah."


"Ya, itu isinya, bang."


"Ya kenapa harus seperti itu hadiah mu si?"


"Kan spesial, bang."


"Kau ini, ya, benar-benar tidak sopan."


"Tapi Andin suka, kan bang?"


Zidan diam sejenak.


"Benarkah, bang?"


"Iya tentu saja."


"Hemm, mungkin dia tidak menyukai motifnya. Baiklah bang, besok aku bisa mengirimnya lagi."


"E-e-eh. Tidak usah. Itu akan sia-sia. Andin tidak akan menyukainya."


"Tapi bang..."


"Eh, apa kau tahu? Ibu sudah mengetahui yang sebenarnya." (Zidan memalingkan pembicaraan)


"Ibu pasti sangat marah padamu, ya?"


"Ibu dan Rossie terlihat sangat bahagia melihat aku dan Andin berbahagia."


"Kau sedang menelepon siapa?"


Tiba-tiba suara Andin berhasil mengagetkan Zidan.


"Sudah dulu ya, istriku sudah sangat merindukan ku katanya."


Zidan mematikan panggilannya. Sedangkan Ziban, berdecih keras. Rasanya, masih tidak rela. Entah sampai kapan, penyakit itu akan bertahan dalam dirinya.


"Siapa yang tadi kau telepon?" (tanya Andin)


"Hanya teman."

__ADS_1


Andin mengangguk-angguk.


"Malam ini, sangat dingin ya?" (ucap Zidan)


"Matikan saja AC nya."


Zidan menghembuskan nafasnya pelan. Lalu tersenyum.


"Kata mamah mu, ini belum jadwal mu datang bulan, ya? Apa benar?"


"Ya, benar."


"Cuma istihadoh kan?"


Andin mengangguk.


"Tidak selalu keluar darah, kan?"


Andin mengangguk lagi.


"Berarti..." (ucap Zidan menggantung)


"Iya aku tahu,"


"Aku akan mengambil air minum di dapur dulu, ya? Haus sekali rasanya. Tunggu ya, aku janji hanya sebentar saja." (Andin tersenyum)


Zidan mengangguk bersemangat. Rasanya ada energi yang mengalir cukup tegang dalam dirinya yang membuatnya begitu berdesir. Atau memang benar-benar ada sesuatu yang tegang. Hanya dia dan Tuhan nya lah yang mengetahuinya. Andin berdiri dan melangkah kakinya, pelan sekali. Benar-benar pelan sekali. Tiba-tiba...


"Kenapa banyak sekali?"


"Apanya?"


"Darah nya sampai tembus banyak sekali."


"Ehehe, maaf ya. Sungguh diluar dugaan."


Zidan menampakkan wajah cemberutnya.


"Maaf ya?"


"Ya sudah tidak apa-apa."


"Hemm, kau tau kan..."


"Apa? Tidur di sofa lagi?" (tebak Zidan)


Andin mengangguk dengan wajah menggemaskan yang dibuat-buat.


"Hemm, baiklah. Semoga saja, cepat mampet."


Andin mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur dan mengambil air minum. Kali ini Andin pergi ke kamar mandi terlebih dahulu, dengan terkekeh-kekeh tentunya.


Sudah ku duga, dia pasti akan menanyakan tentang hal yang dibicarakan mamah. Untung saja, aku sudah siap siaga hehe.


Andin membersihkan celana tidur nya yang terdapat banyak bercak warna merah dengan menggunakan air mengalir. Ia masih saja terus terkekeh dengan tindakan konyolnya itu. Kekonyolannya, yang sengaja menempelkan cat merah yang mudah hilang di celana tidur nya. Cat berwarna merah yang sengaja ia pesan lewat online hari ini. Lagi-lagi, Andin terkekeh. Mengingat ekspresi Zidan padanya dan mengingat kejahilannya dalam mengerjai suaminya sendiri.


Maafkan aku suamiku. Beri aku waktu ya, hehe. Salah siapa, kau menikahi ku terlalu cepat. Maafkan ketidakdewasaan istrimu ini. Aku cuma butuh waktu beberapa hari lagi saja. Aku yakin, aku akan benar-benar siap. Sementara ini, aku akan terus mengerjai mu.


Andin terkekeh geli sendirian. Lalu membilas celananya dengan tawaan yang masih sama.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2