
Sore menjelang malam. Terdengar rintik hujan mulai membasahi halaman sekitar hotel bintang lima dengan fasilitas tidak perlu diragukan lagi. Hampir semua pasang mata memandang gerimis yang turun itu dibalik tirai jendela hotel. Tidak sedikit juga yang sengaja ke balkon mereka demi merasakan percikan air tetes demi tetes yang tuhan kirimkan. Yaa, itu karena sudah lama sekali hujan tidak mengguyur kota besar ini. Semua warga menengah kebawah sangatlah mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih. Tidak berlaku bagi orang menengah keatas. Tentu saja orang menengah keatas sangat mudah dalam mendapatkan air. Uang..uang adalah segalanya, percayalah.
Beberapa orang menengah ke atas turut merasakan suka cita atas turunnya gerimis di malam ini. Bukan karena mereka tidak lagi mampu untuk membeli air bersih, tapi memang ikut serta merasakan kebahagiaan dari penduduk menengah kebawah yang memang sangatlah kesusahan dalam mendapatkan air bersih.
Percayalah, mereka bahkan hidup dengan pas-pasan, dan tidak sedikit pula yang memang sangat kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi jika ditambah untuk membeli air bersih untuk setiap harinya? mereka tentu akan nekad mengambil air sungai yang sangat keruh yang terdapat jutaan bakteri yang menggenangi air itu. Yaa, tidak ada pilihan lain untuk bertahan hidup. Begitu kata mereka kira-kira.
Begitupun dengan sepasang suami istri yang sedang memandangi langit dibalik tirai jendela di hotel berbintang lima yang tengah menurunkan rintikan hujan perlahan. Mereka turut bersyukur dengan rintikan hujan malam ini.
"Syukurlah rintikan hujan sudah mulai turun ya pah. Ya walaupun sedikit demi sedikit itu akan sangat membantu mengisi sumur warga secara perlahan juga. Dan tentu saja hujan pasti akan segera turun setelah berbulan-bulan tak kunjung datang." (kata Kumala dengan tersenyum tulus)
"Tentu saja mah, hujan pasti akan segera datang dan keadaan akan kembali normal seperti biasa terutama untuk para warga yang memang kesulitan dalam mendapatkan air bersih." (Arga menanggapi Kumala)
"Apa kemarin papah ikut andil dalam menangani warga kesulitan mendapatkan air bersih juga pah."
"Tidak. Hanya saja, perusahaan Raharga lah yang ikut andil dalam membantu pemerintah dalam menangani warga yang kesulitan air bersih dengan mengirimkan bantuan air bersih setiap tiga hari sekali di berbagai penjuru di kota ini."
Kumala tersenyum setelah mendengar perkataan suaminya itu.
"Ah tentu saja sang CEO Raharga lah yang sangat hebat. Kenapa aku tadi sempat meragukan nya."
"Apa kau mulai menggoda ku?"
"Bukan begitu pah, semua ini berkat pemimpin yang hebat seperti dirimu."
"Semua ini berkat cinta dari dua bidadari papah, yaitu mamah dan juga putri kita, Andin."
Kau memang sangat menyayangi Andin pah. Hanya saja Andin tidak mengetahui semua nya.
"Mamah jadi rindu sama Andin pah. Ayolah sekali-sekali kita jengukin Andin disana, sebelum kita kembali ke Surabaya. Andin pasti sangat senang jika papah datang."
Terdengar Kumala mengatakan kalimat itu dengan suara parau, yang membuat Arga juga ikut merasakan hal itu. Arga segera membenamkan wajah Kumala, istrinya kedalam dada bidangnya.
"Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu. Belum saatnya untuk menemui Andin disana."
"Aku hanya takut ada yang menjahili Andin disana pah."
__ADS_1
"Tenang saja. Bukankah Andin itu anak yang sangat kuat dan tegar? lagipula ada Ummi dan juga anak buah papah yang siap mempertaruhkan nyawanya demi putri kita. Dan satu lagi, ada dia yang menjaga Andin disana mah."
Isak tangis sesenggukan Kumala perlahan yang membuat hati Arga benar-benar ikut hancur merasakan kesedihan yang sama. Hanya saja Arga memang sengaja menyembunyikan semua kesedihan nya dibalik siapapun termasuk istrinya. Arga selalu mengatakan hal yang sama dan berulang kali kepada Kumala jika istrinya itu selalu merengek meminta menjenguk Andin. Dengan alasan yang sama, yaitu tenang mah, Andin selalu baik-baik saja disana.
"Apa kau benar-benar kesepian tanpa hadirnya Andin disamping kita, istriku?"
Kumala tidak berniat untuk menjawab pertanyaan suaminya itu yang menurutnya sangat lah konyol. Tentu saja Kumala sangat merindukan Andin. Bahkan sampai serindu-rindu nya. Kumala hanya menganggukan kepalanya pelan yang masih membenamkan wajahnya di dada suaminya itu. Dan Arga merasakan gerak anggukan dari istrinya. Yang tanpa Kumala menjawab tentu saja Arga sudah mengetahui jawabannya. Karena hal itulah yang benar-benar mereka berdua rasakan setelah Andin tinggal di asrama. Arga memang pandai sekali dalam menyembunyikan perasaan sedihnya.
"Bagaimana kalau kita membuat Andin versi kedua?"
Kumala benar-benar dibuat terkejut dengan perkataan suaminya itu. Ia pun langsung mendorong tubuh suaminya.
"bukankah kita sudah sepakat untuk memiliki Andin saja." (kata Kumala dengan mengerucutkan bibir)
Istriku ini benar-benar sangat menggemaskan.
"Aku kan hanya menawarimu saja mah. Mungkin saja kau mau kita membuat..."
"Cukup pah!"
Kumala segera memotong kalimat Arga sebelum ia melanjutkan kalimatnya lagi.
"Jangan sentuh aku!" (kata Kumala)
"Apa? bagaimana aku tidak menyentuhmu. Aku kan suamimu, kau istriku dan kau wajib melayaniku."
"Aku tidak peduli!"
"Ah iya iya istriku, aku minta maaf. Kita memang sudah sepakat untuk memiliki Andin saja dan fokus kepadanya. Itu tidak akan diubah lagi apapun alasannya. Sekarang ayo peluk dulu."
Kumala terlihat menarik garis bibir senyum kepada suaminya setelah mendengar ucapan yang membuatnya merasa lega. Lalu menerima uluran tangan suaminya itu dan kembali membenamkan wajahnya kedalam dada suaminya.
Setelah itu terdengar bisikan Arga ke telinga Kumala.
"Ayo cepat mandi sana, kita akan melakukan ritual rutinan seperti biasa. Malam ini aku sungguh ingin melakukannya." (kata Arga dengan membelai lembut rambut halus Kumala, istrinya)
__ADS_1
"Aku sedang ada tamu sayang.."
"Ah, kau benar-benar membuatku kecewa. Ayolah kita lakukan sekali ini sajaaa." (Arga memasang muka memelasnya seperti seorang anak yang sedang meminta dibelikan permen)
"Tentu tidak boleh seperti itu dong pah."
Kumala benar-benar cekikikan didalam hati setelah merasa menang untuk malam ini.
"Kau tidak mau?? kalau begitu aku akan memaksamu."
Arga lalu melepas pelukan istrinya lalu meraih dagu istrinya. Tapi setelah itu Kumala terlihat berlarian dan tentu saja Arga mengejarnya. Karena bertambah gemas dengan tingkah istrinya itu.
"Coba saja kalau bisa."
"Kau benar-benar ingin menantang ku yaa."
Mereka berdua pun berlarian layaknya anak kecil. Mereka memang masih seperti pengantin baru, yaa tentu saja karena mereka memang masih muda. Hanya saja mereka berdua sudah bersepakat untuk memiliki Andin seorang.
Setelah tragedi kejar-kejaran, entah apa yang dilakukan mereka setelah itu dan entah siapa yang menjadi pemenang, Kumala atau Arga. Hanya Tuhan dan mereka berdua lah yang mengetahuinya.
...****************...
Embun pagi masih menetes di ranting-ranting pohon dan juga dedaunan pohon di sekitar hotel berbintang lima. Menandakan telah turunnya gerimis semalaman itu memang benar adanya. Beberapa penghuni masih bergulat dengan selimut dan bantal mereka. Beberapa penghuni lainnya juga sudah terlihat memakai setelan pakaian jas rapi yang sedang memanasi mobilnya di parkiran umum fasilitas hotel berbintang itu. Tentu saja mereka belum sempat sarapan, mereka biasanya sarapan di mobil atau di kantor. Yaa, mereka memang sangat mengutamakan pekerjaan kantor demi kemajuan kantornya dan juga karir nya di kantor itu.
Berangkat lebih pagi dan lebih awal dari karyawannya adalah hal yang selalu berlaku untuk seorang CEO Arga Raharga. Yaa, ia memang sangat disiplin soal waktu dan ketepatan. Tentu saja hal itu sangatlah berpengaruh untuk semua karyawan nya disegala penjuru. Yang membuat semua karyawan nya sangat bekerja keras dalam bekerja dan disiplin perihal waktu. Itu adalah salah satu alasan siapapun yang bekerja untuknya, di perusahaan miliknya, akan mendapat gaji yang besar tidak seperti perusahaan lain pada umumnya. Yaa, itu adalah imbalan yang impas atas kerja keras semua karyawannya.
"Mah, papah berangkat ke kantor dulu ya. Mamah di kamar saja, jangan mengantar makan siang untuk papah ke kantor seperti biasa. Karena nanti papah akan ada meeting di perusahaan cabang di kota ini. Setelah itu papah akan pulang lebih awal."
(kata Arga dengan memainkan rambut halus istrinya yang memang masih tiduran diatas kasur dengan selimut yang menempel di seluruh badannya)
"Tumben pulang lebih awal."
" Tentu saja aku masih rindu kepada istriku ini. Sepertinya ada hal yang perlu kita tuntaskan."
"Aaaa aku mohon hentikan itu."
__ADS_1
Arga mencium kening istrinya dengan tersenyum jahil tanpa menggubris perkataan istrinya lagi, dan segera meninggalkan istrinya yang masih memonyongkan bibirnya.
BERSAMBUNG...