
Boneka ayu nan apik berserakan di atas tikar yang digelar. Bertempat di sebuah taman yang senantiasa indah tak pernah berubah sampai sekarang. Mengingatkan beberapa memori masa kecil. Masa dimana bermain dan bersenang-senang adalah hal yang pokok. Tanpa nya, adalah hal yang kurang bagi setiap anak-anak.
Andin tengah duduk di atas tikar tersebut. Memandang lurus ke depan. Pandangan bayang-bayang dirinya dan Ziban Alkash yang ia anggap sebuah memori penuh kenangan.
Setelahnya, ia mengaitkan semua peristiwa yang terjadi saat dirinya menginjakkan kaki pertama kali di MAN 102 Bandung. Beberapa hal yang dahulu kala ia anggap sebagai hal yang sulit dicerna akal pikiran, saat ini terjawab kan sudah.
Dia masih mengingatku. Bahkan sangat mengingatku.
Andin menarik garis senyum di bibirnya. Mengingat semua hal yang telah ia lewatkan dengan Ziban walaupun dengan cara perlakuan yang tidak biasa.
Terkadang, sesuatu hal yang dianggap membahagiakan, akan berakhir sebuah kekecewaan. Begitupun sebaliknya. Sesuatu hal yang dianggap menyedihkan, akan berakhir pada sebuah kerinduan.
Ia terlihat telah mampu menerima segalanya. Ikhlas seikhlas ikhlasnya. Kedewasaan yang diharap-harapkan Arga waktu kecil, telah matang setelah terpaan cobaan menghampirinya.
"Ante?"
"Ante sedang melihat apa? Kenapa Ante sampai tersenyum."
Elle menoleh ke belakang. Ia ingin memastikan apa yang tengah di lihat Andin sehingga membuatnya tersenyum seperti itu. Andin menyadari kebingungan Elle atas dirinya.
"Tidak Elle sayang. Ante sedang tidak tersenyum."
"Ante, Elle itu sudah besar. Jadi, Elle sudah semakin pintar."
Andin sedikit mendekatkan wajahnya pada wajah Elle.
"Oh ya? Memangnya seberapa besarnya?"
"Sebesar ini, ante. Benar-benar besar."
Elle membuaat lingkaran besar tak terlihat di atas kepalanya, menggunakan tangannya yang masih kecil.
Andin menatap Elle dengan tersenyum sangat manis. Ia seperti melihat dirinya di masa kecil. Bukan. Bukan karena hal-hal yang dialami oleh Elle dan dirinya adalah kesamaan. Tetapi Elle dan dirinya yang sangat menyukai boneka. Boneka memiliki daya tarik yang luar biasa. Dan sangat berarti. Dulu, kini, dan esok yang akan datang. Andin melihat ketertarikan Elle terhadap boneka, sama persis dengan dirinya.
"Semoga kau mendapatkan semua kebahagiaan di dunia." (lirihnya)
"Apa yang ante ucapkan?" (tanya Elle)
Andin menanggapi pertanyaan Elle hanya dengan gelengan kepala dan sebuah senyuman.
"Elle. Ante boleh tanya sesuatu?"
"Silakan ante."
__ADS_1
Elle menjawab pertanyaan Andin tanpa berhenti memainkan boneka-boneka nya.
"Apa Elle sangat menyayangi ayah?"
"Sangat sangat sangat, ante."
"Apa Elle tahu, bagaimana hubungan ibu dan ayah Elle, saat ini? Maksudnya, apakah sudah membaik?"
Elle berhenti memainkan bonekanya.
"Apa maksud ante? Elle tidak memahami pertanyaan ante."
Seketika Andin menepuk jidatnya. Ia baru saja melupakan bahwa, Elle masih terlalu kecil untuk memahami ucapan nya.
"Ayah..."
Elle meneriakkan sebuah sebutan ayah. Andin masih tetap saja menatap Elle. Ia tahu, Elle tengah melihat Zidan yang datang perlahan mendekati mereka berdua.
Zidan ikut duduk bersila di atas tikar tersebut. Andin membuang mukanya ke arah lain.
"Sedang apa putri ayah?" (tanya Zidan)
"Main boneka-bonekaan sama Ante Andin. Ayah mau ikut?"
Tiba-tiba Elle menarik-narik tangan Andin. Ia meminta suatu hal bantuan darinya.
"Ante, tolong ajari ayah Elle main boneka, ya? Elle sangat lapar. Elle akan meminta ibu untuk menyuapi Elle."
Seketika Andin menatap Zidan sekejap. Ia menggelengkan kepalanya menolak permintaan Elle. Tetapi Elle terus saja merayu Andin. Dan Andin pun akhirnya diam saja tak menanggapi atau menolak permintaan Elle kembali.
Elle berterimakasih. Ia berterimakasih untuk hal yang tidak akan Andin lakukan. Ia berlari menjauh dari mereka, dan mencari ibunya.
Setelah Elle benar-benar menghilang dari jangkauan mata, Zidan menggapai jemari Andin lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Sampai kapan kita akan terus seperti ini?"
"Kau masih istriku. Kau bahkan belum pernah menjalankan tugasmu sebagai seorang istri."
Andin melepaskan genggaman Zidan.
"Dan aku sangat memahami perasaan mu. Aku tahu, tidak mudah bagimu atas semua yang telah terjadi."
Zidan memejamkan matanya. Mengingat semua hal yang terjadi kala itu. Ia yang sangat tidak berdaya. Tetapi ia tidak membiarkan Olive melakukan hal-hal rendah walau dirinya tidak berdaya. Pada saat pertemuannya dengan Olive kala itu, Olive mengatakan akan bertindak sesuatu.
__ADS_1
Dan benar saja, Olive mendatangi rumah Diana dan Elle tinggal. Ia membawa dua preman bersama dirinya. Zidan sebelumnya telah menyuruh orang untuk mengawasi Olive. Orang suruhan Zidan, berhasil mencegah hal-hal buruk menimpa Diana dan Elle. Ia memang tahu, pekerjaan yang dikerjakan oleh Olive, tidak akan pernah membawa kebaikan.
Zidan mengembuskan nafasnya.
"Kau memintaku menikahi Diana. Aku sudah lakukan atas kemauan mu itu,"
"Percayalah, Andin. Aku tidak mencintai nya. Aku hanya mencintai mu saja."
Kali ini Andin berani menatap mata Zidan. Ia menatapinya sedikit lama, sebelum ia mengatakan sesuatu. Andin terlihat tidak setuju dengan ucapan Zidan.
"Kau tidak berhak berbicara apa itu cinta? Siapa yang berhak mendapatkan cinta? Dan bagaimana cinta itu dijalankan. Kau tidak berhak menyinggung mengenai kata cinta di hadapanku."
Andin kembali membuang mukanya. Lalu ia kembali berucap.
"Kau hanya perlu mempelajari apa itu sebuah pertanggungjawaban." (lanjutnya lagi)
Zidan memejamkan matanya kembali. Memahami sepenuhnya ucapan Andin. Memahami segala lelara yang harus dirasakannya akibat dirinya.
"Aku sudah menerima Elle sebagai putriku. Aku akan melakukan segalanya demi kebahagiaan putriku itu,"
"Tetapi..."
Zidan menggantungkan kalimatnya. Lalu beberapa saat, ia melanjutkan kalimatnya kembali.
"Tetapi aku tidak menerima Diana sebagai istri ku. Istriku hanya kau, Andin."
Zidan memegang pipi Andin, lalu menyuruhnya untuk menghadap ke arah dirinya.
"Tatap mata ku. Tatap mata laki-laki yang sudah menciptakan kesedihan di kehidupan mu. Tatap."
Andin menatap mata Zidan. Ia membiarkan Zidan terus memegangi pipinya. Mereka berdua saling tatap. Saling membaca dan mengartikan kesedihan yang tersirat. Zidan mengulas senyum.
"Sekarang aku tahu. Aku sangat mencintaimu. Dan kau sempat memandang cintaku. Kau pernah menerima dan pernah bersedia menjalani hidup bersamaku. Sekarang tidak lagi. Tidak ada sedikitpun cinta yang tersisa. Itu yang ku lihat dari mata mu."
Andin masih menatap dan memerhatikan Zidan sepenuhnya. Pikirannya dan dunianya kali ini sedang terfokus hanya padanya. Dalam dirinya yang tengah berbicara. Zidan kembali tersenyum.
"Sekarang aku tahu, apa yang kau butuhkan sejak kau mengetahui masa laluku."
Zidan perlahan mendekatkan wajahnya. Semakin mendekatkan wajahnya, hingga tak tercipta lagi jarak antara mereka. Andin memejamkan matanya. Zidan memegangi kedua pipi Andin. Perlahan menyatukan bibirnya yang sedikit bergetar dengan bibir tipis Andin. Dengan sedikit memberi tekanan ke dalam hingga bibir mereka bersatu sempurna.
Zidan menyudahinya. Andin kembali membuka matanya. Mereka berdua sama-sama meneteskan buliran bening di pelupuk matanya. Mereka sama-sama tahu, hal tersebut adalah hal pertama dan terakhir.
"Aku mentalakmu, Andin Puspita Arga. Sekarang, kau bukan lagi istriku."
__ADS_1
BERSAMBUNG...