
Denting piano terdengar luwes di telinga. Memanjakan telinga siapa pun yang berhasil mendengarnya. Andin menyusuri beberapa ruangan. Berusaha mencari asal muasal denting piano yang begitu menarik perhatiannya.
Dimana? Ada dimana suara piano itu?
Andin terus saja berjalan menyusuri jalan dengan indra pendengarannya. Hingga ia berdiri tepat di depan pintu. Andin membuka pintu itu setelah ia yakin suaranya ada di dalam ruangan itu.
"Wahh, Tante. Alunan yang Tante mainkan begitu indah."
Andin langsung saja mengeluarkan isi hatinya ke Helen. Sejujurnya, ia memang baru mengetahui di rumah Helen terdapat ruangan seperti itu. Terdapat piano, dan banyak sekali lukisan yang tertempel di setiap jengkal dinding ruangan itu. Helen berhenti memainkan piano setelah menyadari ada seseorang yang masuk di ruangannya dan sedang berbicara kepadanya.
"Andin sayang, sini." (ucap Helen)
Andin mendekat ke Helen. Mengambil kursi lainnya, lalu menjejeri Helen.
"Aku baru tahu Tante bisa memainkan piano." (ucap Andin)
"Tante hanya iseng saja, Andin sayang. Eh dimana Rossie?"
"Rossie sudah tidur Tante. Katanya dia begitu letih. Alasannya itu benar-benar tidak masuk di akal kan Tante? Seakan-akan dia telah bekerja keras haha."
Helen tersenyum seperti biasa.
"Kau mau mengajari Tante memainkan piano kan?"
Andin tergelak mendengar ungkapan Helen.
"Mengajari Tante?"
"He'eh. Kau adalah murid andalan di kelas musik dulu kan."
"Ti-tidak Tante."
"Kau begitu merendah sayang."
"Apa Rossie yang menceritakan padamu, Tante?"
"Ya tentu saja. Dengar ya, Rossie sangat menggemari semua prestasi mu di sekolah dulu."
Cih! Dasar bermuka dua. Bisanya hanya mengejek setiap saat. Rupa-rupanya, kau juga bangga padaku.
"Ya Tante, Rossie memang salah satu penggemar ku haha."
"Ayo Andin, ajari Tante ya?"
"Yang Tante mainkan sudah sangat bagus Tante."
"Benarkah Andin sayang?"
"Andin bersumpah."
Helen tersenyum atas pujian dari Andin. Rasanya, ia makin bersemangat dalam memainkan pianonya itu. Sedangkan sejak tadi pandangan Andin masih menyusuri ruangan Helen itu.
"Tante?"
"Ya Andin sayang."
"Apa Andin boleh melihat-lihat ruangan Tante ini?"
"Tentu saja sayang."
Helen melanjutkan dalam memainkan pianonya itu. Sedangkan Andin mulai menjadi juri amatir menilai semua lukisan yang menempel di dinding.
"Hemm, walau aku tak tahu nilai-nilai lukisan yang sejatinya, tapi ini terlihat sangat luar biasa. Benar-benar orang tertentu yang memiliki tangan ajaib yang telah berhasil menciptakan karya sebagus ini." (Andin bergumam sendiri masih diiringi alunan musik piano oleh Helen)
Apa ini?
Andin memegang boneka karakter laki-laki yang terbuat dari kayu seutuhnya.
Aku seperti pernah melihat boneka ini. Tapi dimana?
Andin masih mengamati boneka kayu itu. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Ya, ia seperti tidak asing dengan benda itu.
__ADS_1
"Tante?"
"Tante Helen?"
Helen segera menyudahi permainan nya.
"Ada apa nak?"
"Ini boneka Rossie?"
Ucap Andin seraya menunjukkan boneka kayu yang masih ia pegang.
"Hemm, memangnya kenapa Andin?"
"Katakan Tante. Ini milik Rossie apa bukan?"
"Ada apa Andin sayang?"
"Andin seperti tidak asing, Tante."
Ya Andin, tentu saja. Kau memang sangat mengenali boneka kayu itu. Hanya saja, kau tidak ingat.
"Bukan punya Rossie, Andin."
Andin mengernyitkan dahinya.
"Apa ini hanya pajangan saja, Tante?"
"Tidak. Itu punya..."
"Punya siapa?"
"Punya Zi...."
"Hei Tante! Foto siapa itu?"
Tiba-tiba mata Andin terfokus kepada bingkai foto berukuran sedang yang berada tepat di atas piano Helen. Andin pun segera mengambil benda itu tanpa mengindahkan ucapan Helen yang belum tuntas.
Kali ini Helen yang mengernyitkan keningnya. Ia memikirkan mengenai beberapa ingatan masa kecil Andin yang hilang. Rupanya, sampai saat ini pun ia belum mendapatkan ingatannya kembali.
"Kau tidak mengenali mereka berdua Andin sayang?"
Andin menggelengkan kepalanya mantap. Tidak ada secuil ingatan pun mengenai dua anak laki-laki yang berada di bingkai foto itu.
"Aku tidak mengenalnya Tante. Maka dari itu Andin menanyakan padamu."
Rupanya, ingatan Andin yang hilang memang benar-benar tidak kembali setelah operasi itu. Sudah bertahun-tahun lamanya. Ia bahkan tidak mengenali saudara Rossie yang lain.
"Tante?"
"Kenapa Tante diam saja?"
"Tidak ada apa-apa Andin sayang."
"Sebenarnya siapa dua anak laki-laki ini Tante? Lihatlah yang paling kecil, dia terlihat benar-benar menyebalkan hahaha."
Dia Ziban. Kakaknya Rossie, dan di sebelahnya adalah Zidan.
Helen termenung sejenak. Ia berfikir bagaimana mungkin Andin sama sekali tidak mengingatnya sedikitpun. Bahkan Andin tidak mengingat Helen memiliki tiga anak.
"Apa mamah mu atau papah mu tidak berkata apapun sayang?"
Andin terlihat tidak memahami ucapan Helen.
"Apa maksud Tante?"
Helen mengedikkan kedua bahunya.
"Entahlah. Mungkin sesuatu yang tidak kau ketahui atau hemm...mungkin sesuatu yang telah hilang." (ucap Helen sedikit memancing)
Helen merasa Andin di perlakukan tidak adil oleh kedua orangtuanya. Bagaimanapun, Andin berhak mengetahui sesuatu yang pernah hilang di hidupnya. Sesuatu yang tak dapat Andin ingat kembali sepenuhnya. Ya, Helen tidak bisa menyembunyikan semuanya kali ini. Ia tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh kedua orangtuanya Andin. Ia hanya tidak ingin turut serta membohongi nya terlalu lama. Andin sudah besar. Andin sudah tumbuh dewasa. Ia berhak mengetahui sepenuhnya tentang beberapa masa kecilnya yang hilang dari ingatannya.
__ADS_1
"Sesuatu yang hilang? Apa maksud Tante?"
"Apa selama ini kau tidak merasa ada yang kau curigai Andin sayang?"
Apa maksud Tante Helen? Semakin kesini aku semakin tidak mengerti maksud ucapannya.
"Ah Tante, ayolah. Jangan membuatku kebingungan seperti ini. Katakan saja, kumohon."
"Emm, baiklah,"
"Apa kau benar-benar tidak mengenali dua laki-laki yang berada di bingkai foto ini?"
Lagi-lagi Andin hanya menggelengkan kepalanya.
"Dia teman mu. Masa kau tidak ingat?"
"Teman ku?"
"He'eh."
"Bagaimana mungkin Tante? Aku bahkan tidak mengenal mereka berdua."
Helen mengedikkan bahunya.
"Dan mengapa foto nya ada di ruangan mu Tante?"
"Tentu saja. Mereka berdua kan annn..."
"Ibu....!"
"Ibuuuuu....!"
"Ada apa Rossie. Kenapa kau berteriak seperti itu?"
Helen dan tentunya Andin, terkejut dengan teriakan Rossie yang tiba-tiba sudah masuk di ruangan itu.
"I-itu bu,"
"I-ini ga-wat." (ucap Rossie terbata-bata)
"Gawat kenapa Rossie, sayang? Ada apa? Katakan pelan-pelan nak." (Helen merengkuh pundak Rossie berusaha menenangkan putrinya itu)
"Hei, kau ini kenapa Rossie?!" (ucap Andin)
"Ibu, di depan..."
"Ada apa sayang? Ada apa di depan?" (ucap Helen)
"Ini, minum dulu." (ucap Andin sembari menyodorkan segelas air yang memang sudah ada di meja)
Rossie menerima air pemberian Andin lalu cepat-cepat ia habiskan.
"Uhukkk...uhukkk..."
"Pelan-pelan sayang." (ucap Helen)
"Di depan rumah banyak sekali orang berpakaian seragam hitam semua Bu. Dan mereka semua membawa senjata. Rossie takut..." (ucap Rossie ketakutan)
Helen dan Andin mengernyitkan keningnya. Tanpa berlama-lama, mereka pergi ke depan untuk memastikan apa benar yang dikatakan Rossie. Awalnya Rossie menolak dan tidak ingin ikut. Tetapi Andin berhasil membujuknya dan memastikan bahwa tidak akan menyeramkan. Dan benar saja, ketika mereka bertiga mengintip di jendela, mereka melihat banyak mobil yang terparkir di depan rumah. Dan tentunya orang-orang yang tak di kenal.
"Mereka semua siapa Tante? Kenapa mereka semua berbaris rapi di depan rumah ini seperti itu? Ada apa ini?" (tanya Andin berbisik-bisik)
"Entahlah sayang. Tante bahkan tidak mengenal salah satu pun diantara mereka." (lirih Helen)
"Ibu, Rossie takut..." (Rossie merengek ketakutan)
"Hust...diam Rossie sayang. Tidak akan terjadi apa-apa." (ucap Helen menenangkan)
Tiba-tiba terdengar suara yang memekakkan gendang telinga. Semua barisan tadi merapatkan barisannya, lalu tiba-tiba helikopter datang dan mendarat dengan sempurna di depan rumah itu. Andin, Rossie dan tentunya Helen menyipitkan matanya untuk menantikan dan melihat siapa yang akan turun dari helikopter itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1