Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Berhenti, Pah!


__ADS_3

Suara ketukan pintu terdengar di balik pintu kamar Ziban Alkash. Sekretaris Chan yang baru saja sampai di kamar Ziban pun membalikkan badannya sekejap. Lalu setelah itu, ia meletakkan nampan berisi makanan untuk Ziban.


"Biar saya lihat siapa yang datang, tuan muda."


Ziban hanya mengangguk lalu kembali menatap langit-langit kamarnya dan terus menggenggam ponselnya.


Sekretaris Chan membuka pintu. Ia melihat seorang laki-laki berpakaian rapi serta jas putih yang menempel di luarnya.


Sekretaris Chan pun langsung dapat menebak siapa dokter tersebut. Ia adalah salah satu teman Clara yang berprofesi sebagai dokter di negara ini. Begitu lah benak Sekretaris Chan mengingat kembali.


"Anda pasti temannya Clara kan?" (tanya Sekretaris Chan)


Sekretaris Chan mengawali pembicaraan dengan berbahasa inggris.


"Clara? Clarada maksudnya?"


Dokter tersebut pun menjawab pertanyaan Sekretaris Chan dengan berbahasa inggris juga.


Clara dan Clarada sama saja, dok!


Sekretaris Chan hendak menanyakan nama dokter tersebut, tetapi tiba-tiba dokter tersebut sudah masuk ke dalam. Sekretaris Chan tidak sempat mencegahnya. Hal itu membuat Sekretaris Chan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu segera menyusul dokter tersebut.


Sekretaris Chan melihat dokter tersebut yang sudah duduk di dekat Ziban. Sedangkan Ziban hanya diam saja.


"Siapa nama anda, dok? Apakah anda asli Indonesia?"


Sekretaris Chan menanyakan dokter tersebut masih dengan Bahasa Inggris. Dokter itu pun mengulas senyum, lalu menjabat tangan Sekretaris Chan.


"Nyong Ferdian. Nyong sekang Purbalingga, Jawa Tengah. Ya, jelas teyeng Bahasa Indonesia."


Sekretaris Chan mengernyitkan keningnya, lalu melihat ke arah Ziban untuk mencari jawabannya. Tetapi Ziban pun hanya mengedikkan bahunya. Mereka sama-sama tidak mampu mencerna ucapan dokter tersebut.


Seketika Ferdian pun tertawa terpingkal-pingkal.


"Maafkan saya. Saya tidak bermaksud membuat kalian bingung,"


"Saya Ferdian. Saya dari Purbalingga, Jawa Tengah. Tentu saja, bisa Bahasa Indonesia. Itu ucapan saya tadi."


Ferdian pun berbicara dengan Bahasa Indonesia. Sekretaris Chan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Baru kali ini, saya bertemu dengan dokter yang sangat ramah seperti anda." (ucap Sekretaris Chan)


"Ya, saya kerapkali mendengarkan ucapan-ucapan seperti itu dari beberapa pasien saya."


Ferdian kembali tertawa lepas. Sekretaris Chan mengernyitkan keningnya kembali. Tidak ada hal menggelikan yang pantas ditertawakan menurut Sekretaris Chan. Tetapi justru, Ferdian tertawa seperti tengah menonton sebuah pertunjukan lawakan.


Astaga, siapa yang dikirimkan Clara ke sini. Apa dia ini benar-benar dokter ahli yang Clara bicarakan?


"Baiklah, sepertinya kita perlu berbicara terlebih dahulu. Mari ikut saya sebentar."


Sekretaris Chan meminta izin kepada Ziban keluar kamar sebentar untuk berbicara dengan Ferdian. Ziban pun mengangguk.


Mereka berdua pun beranjak pergi keluar dari kamar Ziban untuk berbicara empat mata. Tentunya setelah meminta Ziban untuk terlebih dahulu makan makanan yang di bawakan Sekretaris Chan.


Setelah Sekretaris Chan dan Ferdian keluar dari kamarnya, Ziban masih terus menatap langit-langit kamarnya dengan ponselnya yang tak terlepaskan dari genggamannya sejak tadi. Tiba-tiba bunyi notifikasi pesan berbunyi kembali setelah sebelumnya berkali-kali berbunyi sebelum kehadiran Sekretaris Chan dan Ferdian. Ziban membuka dan membaca pesan dari orang yang sama lagi.


"Kau percaya pada ku, kan? Semua isi pesan yang aku kirimkan ke ponsel mu adalah benar. Aku tidak bermaksud menjelek-jelekkan teman ku sendiri. Aku hanya membela kebenaran. Aku bersumpah Andin tidak sebaik yang kau kira."


Ziban masih mengamati isi pesan panjang lebar darinya dari atas ke bawah. Membaca berulang-ulang di dalam hatinya. Semua pesan-pesan yang hanya berisikan kalimat hinaan tertujukan pada Andin.


Kali ini Ziban meletakkan ponselnya. Lalu ia meringkuk kan tubuhnya di atas ranjangnya. Tanpa menyentuh sedikitpun makanan yang dibawa oleh Sekretaris Chan.


Dan mencintainya sampai saat ini, adalah kebodohan


......................


Dalam keheningan malam. Ku tertunduk lemas tak berdaya. Perlahan ku mulai membuka kelopak mataku. Mengharap berjuta cahaya tengah menungguiku. Mengharap kehidupan kecil ku yang ku anggap sangatlah menyedihkan, kembali terulang. Menerima dengan lapang segala lelara di masa kecil. Berlarian, bermain boneka, lalu belajar keras demi papah.


Saat itu, ku kembali memberanikan diri untuk membuka kelopak mataku. Mengharap desiran cinta ini, mampu menuntun ku dalam muara kebahagiaan.


Dan saat ini, untuk ketiga kalinya. Aku yang malang ini, harus berusaha membuka kelopak mataku lagi, dengan untaian harapan baru.


Ceklek


Suara pintu kamar terbuka. Andin meletakkan pena nya. Lalu segera menutup buku diary nya. Sedangkan Arga berdiri mematung melihat Andin yang tengah duduk dengan lampu remang-remang. Arga mulai mendekati Andin.


"Berhenti, pah!"


Andin berhasil menghentikan langkah kaki Arga.

__ADS_1


"Andin, putriku. Tolong maafkan papah." (ucap Arga lirih)


"Untuk apa?"


Arga kembali melangkahkan kakinya selangkah.


"Aku bilang berhenti, pah."


Arga menundukkan kepalanya putus asa. Lalu ia berbalik badan dan menutup pintu kamar Andin dari luar dengan pelan. Andin meneteskan dua bulir air mata.


Arga berjalan menuju kamarnya dengan terus menunduk. Mendengar penolakan Andin ketika didekati nya, membuat Arga semakin merasa sesak. Ketika sudah cukup lama tadi, ia mengumpulkan keberanian untuk meminta maaf pada putrinya. Dan berimbas dengan sebuah penolakan. Ia sangat menyadari kesalahannya. Sebagai papah, yang menggariskan takdir menyedihkan di kehidupan putrinya.


"Bagaimana pah? Papah sudah berbicara dengan Andin?"


Kumala berlari mendekati Arga yang baru saja membuka pintu kamar. Tetapi Arga masih diam menunduk. Kumala pun melihat jawaban dari wajah Arga. Ia segera menuntun Arga untuk duduk di sofa kamar.


"Atas semuanya yang sudah terjadi pada putri kita, tentu Andin memerlukan waktu, pah. Tak mudah baginya, untuk memaafkan apalagi melupakan."


Kumala mengelus pundak Arga.


"Ini semua karena keegoisan papah, mah." (ucap Arga)


Kumala berhenti mengelus pundak Arga. Ia mengingat semua didikan Arga pada putri mereka. Ambisinya Arga yang terlalu tinggi pada putri perempuan nya itu. Ia tidak memahami, bahwa perempuan memiliki sisi lemah lainnya. Perempuan mampu mengingat perlakuan-perlakuan yang dianggapnya buruk, selamanya. Tersimpan rapat di dalam hatinya. Dan saat ini, pernikahan yang terlalu terburu-buru. Lagi-lagi, itu atas kehendak Arga.


Tak dapat dipungkiri, Kumala membenarkan bahwa Arga memanglah melakukan kesalahan. Tetapi di sisi lain pun, ia sebagai istri nya, sangat memahami suaminya. Arga memutuskan segala sesuatunya, untuk kebaikan Andin menurut versinya. Begitu pikir Kumala berusaha memahami.


"Terkadang orangtua memang melakukan kesalahan. Kesalahan yang diperbuat tanpa disadari." (ucap Kumala)


Kumala menghembuskan nafasnya berat.


"Ibunya Rossie sangat berbesar hati. Walaupun dia adalah ibu kandung dari suami putri kita, tetapi dia tetap mendukung Andin. Dia mengatakan dengan lantang bahwa, putranya lah yang mutlak salah. Dia akan mendukung apapun keputusan yang akan diambil." (ucapnya lagi)


Arga mengingat semua yang diucapkan Helen. Semua hal yang di curahkan Andin pada Helen. Helen bahkan sangat menyesali ketidakbijaksanaan putranya. Helen meminta maaf atas nama putranya itu.


"Semua keputusan ada di tangan Andin, mah. Papah sudah tidak ingin mengatakan apapun lagi. Papah tahu, semua penderitaannya akibat hasil dari keputusan-keputusan ku. Sekarang, tidak lagi."


Kumala menggenggam erat kedua tangan Arga, saling menguatkan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2