
"Andin, ayo turun. kau mau ikut dan membantu Ummi apa tidak?"
Buyar. Hilang. Ingatan yang belum purna ia jelajahi telah membuyar seketika setelah suara lembut Ummi yang memanggil dan mengajaknya.
"Ah iya Ummi, tentu saja."
Andin turun dari mobil hitam milik Ummi dengan sangat anggun. Setelah dua tahun terakhir ia terlihat sedikit berbeda. Ia terlihat sedikit dewasa. Entah apa yang membuat nya menjadi pribadi yang bukan dirinya itu.
Ummi tersenyum kepada Andin. Lalu ia menggandeng tangan Andin layaknya seorang ibu kepada putrinya.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan pasar terbesar di kota itu. Mereka ingin membeli sayuran dan lauk pauk lainnya.
Sejak keberangkatan ke pasar, dalam hati Andin bertanya-tanya, mengapa Ummi mengajaknya ke pasar dan mengapa tidak Mbak Zulfia? Biasanya kan dialah yang selalu ada di samping Ummi.
"Ummi, emm...apa aku boleh bertanya sesuatu kepada Ummi?" (tanya Andin sedikit ragu)
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Tidak biasanya Ummi mengajakku berbelanja ke pasar. Hemm, apa Mbak Zulfia akan biasa saja karena Ummi mengajakku bukan mengajaknya?"
Ummi tersenyum hangat. Dia memahami kegelisahan Andin.
"Kau tidak enak dengan Mbak Zulfia, iya kan?"
Andin terdiam. Yang di duga oleh Ummi memang benar adanya. Ia memang sedikit merasakan keganjalan dalam hatinya beberapa hari terakhir. Entah mengapa ia merasa Zulfia sedikit berbeda kepadanya akhir-akhir ini. Dan juga tentunya Meta, sahabatnya yang sampai detik ini masih mendiamkan Andin.
Ya, Meta memang tidak melakukan hal apapun kepada Andin. Tidak seperti Talita yang ketika merasakan bara api kecemburuan langsung saja berniat buruk kepada Andin. Sejatinya Meta dan Talita memang jauh berbeda sekali.
Meta berasal dari keluarga sederhana sedangkan Talita memang di lahirkan di keluarga berpunya. Mungkin itulah yang membuat Talita berani bertindak seenaknya kepada Andin. Sepertinya dia melupakan sesuatu, bahwa di atas langit masih banyak langit-langit lainnya.
Jika mengenai Meta, sejatinya seseorang bisa melakukan apa saja jika itu sudah di tekadkan dalam hatinya. Tetapi Meta tidak melakukan hal itu. Ia bahkan memilih untuk diam dan terus saja diam. Mungkin persahabatan lah yang membatasi tindakan nya. Entah sampai kapan Meta akan kembali akrab dengan Andin. Hanya Tuhan yang mengetahui nantinya.
"Memangnya kau dengan Mbak Zulfia sedang bertengkar?" (tanya Ummi kepada Andin)
"Ehehe, tidak Ummi. Aku hanya sedikit penasaran saja." (jawab Andin seraya menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidaklah gatal)
"Ummi tidak suka di bohongi. Apa Ummi pernah mengajarkan mu untuk berbohong?!" (tukas Ummi tegas)
Andin menenguk salivanya sekali.
"Ahaha, bukan apa-apa Ummi."
"Andin...?"
Langkah kaki Ummi terhenti. Hal itu pun membuat Andin menghentikan langkah kakinya juga. Sorot mata tajam Ummi yang dipersembahkan hanya untuk Andin terlihat mematikan. Tentu saja mimik wajah Andin lah yang patut disalahkan. Seharusnya ia harus biasa saja, maka Ummi tidak akan mencurigainya. Ya, begitulah Andin.
__ADS_1
"Andin, Ummi sedang bertanya."
"Mbak Zulfia hanya terlihat berbeda kepadaku. Tidak biasanya ia seperti itu kepadaku. Maafkan aku Ummi. Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan. Selebihnya aku tidak tahu menahu apapun." (kata Andin menunduk)
Ummi menyeringai tipis. Andin tidak melihat ekspresi wajah yang Ummi tunjukkan. Entah apa yang terdapat di pikiran Ummi. Hanya dia dan Tuhannya lah yang mengetahuinya.
"Sudah, jangan di bicarakan lagi. Ayo, kita masuk ke dalam pasar. Sepertinya sudah terlihat lebih banyak pengunjung."
Ummi kembali menggamit lengan Andin dan segera melanjutkan misi mereka di pasar kota itu.
Ada apa dengan Ummi? Apa omonganku tadi sama sekali tidaklah penting? Ah, semoga saja Ummi tidak menanyakan hal ini kepada Mbak Zulfia. Bisa-bisa nanti aku yang akan malu.
Andin masih mengikuti langkah Ummi dengan benak yang tengah bertanya-tanya.
......................
"Memangnya apa yang harus ku tahu darimu Kak Raditya?"
Andin mengernyitkan keningnya melihat sosok teman Ziban Alkash di hadapannya itu. Ia mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus di ketahui oleh Andin. Sepertinya Andin tidak terlalu tertarik.
"Apa kau tahu, Ziban akan melanjutkan pendidikan di luar negeri."
Andin berfikir sejenak. Ia memastikan bahwa omongannya tidak akan salah kaprah di hadapan temannya Ziban.
"Apa kau tahu mengenai aku dan juga Kak Ziban?" (Andin bertanya balik)
"Termasuk kontrakku dengan temanmu yang tidak waras itu, kak?"
Raditya menganggukkan kepalanya pelan.
"Ah, kalau begitu kita jangan berbasa-basi lagi kak. Kau kan mengetahui semuanya, oleh karena itu jangan katakan apapun kepadaku tentangnya. Ya, tentu karena aku sama sekali tidak peduli kepadanya. Baiklah aku pulang dulu."
Andin mengibaskan tangannya. Ia hendak meninggalkan Raditya. Sebelum hal itu terjadi, tangan Raditya sudah berhasil mencekal Andin. Tentu Andin terlihat terkejut.
"Hei kak! Lepaskan kepalaku!"
"Eh, emm... maafkan aku Ndin. Aku terlalu bersemangat dalam menghalangi mu agar tidak pergi hehe." (katanya seraya melepaskan tangannya yang mencengkram kepala Andin)
Andin merapikan kerudung di kepalanya yang sedikit berantakan akibat ulah teman Ziban yang sepertinya sama-sama tidak waras.
"Sebenarnya apa mau mu sih kak?!"
"Sudah kubilang, aku membawa suatu berita yang amat penting untukmu. Kau dengarkanlah dulu."
Andin mendengus kesal.
__ADS_1
"Katakanlah, kak."
Mimik Raditya terlihat lebih serius.
"Sebelumnya aku ingin bertanya kepadamu."
"Ya tanya saja."
"Kau mengira bahwa Pangeran Senjana adalah Tuan Zidan Haq kan. Benar begitu?"
Bagaimana dia mengetahuinya?
"Emm, maksudnya kak?"
"Sudahlah, jangan berlagak tidak tahu seperti itu. Ini mengenai hadiah kecil berserta surat yang datang kepada di setiap harinya. Benar begitu? Jawab saja, katamu kau tidak ingin bertele-tele saat berbicara denganku."
Berfikir, berfikir, dan berfikir. Itu yang Andin lakukan sebelum mengatakan sesuatu. Tetapi sepertinya kali ini tidaklah membuahkan hasil. Jalan pikirannya kali ini benar-benar buntu. Sayang sekali. Tidak ada pilihan lain.
"Bagaimana kau mengetahui hal pribadiku seperti itu kak?"
"Hal pribadi? Hahaha."
Raditya tertawa geli mendengar ucapan Andin.
Ish, ada apa dengan orang ini, mengapa dia malah tertawa seperti itu.
"Apa yang kau tertawakan kak! Aku berkata bersungguh-sungguh bahwa hal itu adalah hal pribadiku. Memangnya aku salah?"
Raditya berhenti dari tawanya. Ia menyedakepkan tangannya dan sedikit menyorotkan mata tajamnya. Kali ini ia terlihat lebih perkasa menurut Andin.
"Ya. Kau bukan hanya salah. Tapi kau bahkan lebih dari salah kaprah!"
"Apa maksudmu kak?"
Raditya memejamkan matanya sebentar. Mengambil nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan.
"Pengirim sebenarnya surat berserta hadiah kecil untukmu adalah Ziban Alkash. Akulah yang selalu membantunya dalam mengirimkan ke lemari loker mu. Kau dan Talita juga sempat menyelidiki hal itu kan? Bukankah kalian sempat mengejar ku? Laki-laki berjaket hitam dan memakai topi itu adalah aku. Raditya. Teman dekat Ziban. Dan aku tidak lain tidak bukan hanyalah suruhannya semata, tidak ada maksud lainnya selain hanya membantunya."
"Dan apa kau tahu, setiap masalah yang kau hadapi di sekolah ini, bahkan Ziban lah yang berada tepat di belakang mu."
"Dan satu hal lagi. Ya, kau mengira bahwa Ziban adalah pemain perempuan kan? Hahaha, lagi-lagi kau salah dalam menilainya. Dia bahkan tidak pernah mendekati perempuan satupun. Kau bisa pegang ucapanku, karena semua omonganku adalah benar adanya. Aku bersumpah atas nama Tuhan."
"Aku yakin, kau mengerti arah pembicaraan ku. Aku yakin, kau mengerti maksudku. Selebihnya, biar kau ingat-ingat sendiri."
Seperti berada di alam yang berbeda. Entah apa yang dirasakan oleh Andin. Entah apa yang harus ia ekspresikan kali ini. Lemas. Tak berdaya. Bibir yang terbiasa berbicara ini dan itu bahkan kali ini terasa kelu, bahkan sangat kelu. Ia hanya menatap lamat-lamat pijakan kakinya. Menatap lekat penuh arti tempat ia bertumpu di taman MAN 102 Bandung. Raditya membalikkan badan, lalu meninggalkannya. Meninggalkan Andin yang masih bertumpu di tempatnya.
__ADS_1
Maafkan aku man, seharusnya aku tidak mengatakan hal ini kepada Andin. Tetapi aku benar-benar muak dengan mu yang selalu melarang ku untuk tidak membocorkan hal ini kepada Andin demi abangmu. Percayalah man, apapun yang akan terjadi nantinya, setidaknya Andin telah mengetahui setengah dari kebenaran tentangmu.
BERSAMBUNG...