
"Ah sial! Kenapa lolos sii."
Terlihat seseorang menggeram dan mengepalkan tangannya. Ya, Talita. Ia benar-benar emosi karena gagal dalam mengejar orang yang menginjak botol plastik di ruangan loker, dia malah lolos begitu saja akibat kerumunan siswa lain.
Andin pun menyusul Talita dengan ngos-ngosan.
"Huhh, ternyata kau pandai berlari juga Talita. Eh mana orangnya.."
Andin melontarkan pertanyaan kepada Talita dengan nafas yang tidak teratur. Pertanda ia benar-benar sudah berjuang ikut berlari, tetapi memang tidak bisa dipungkiri Talita lah yang tercepat.
"Lolos sudah Ndin. Padahal aku sangat penasaran dengannya."
"Eh, kenapa jadi kau yang penasaran, ini kan masalahku."
"Aku suka menyelidiki segala hal apa kau lupa itu?"
"Ah iya, baiklah. Eh apa kau lihat orangnya tadi?"
Sejenak Talita menyedakepkan satu tangannya dan satu tangan yang lainnya menyangga dagunya. Yaa, ia sedang berfikir dengan pertanyaan Andin.
"Tidak jelas Ndin. Dia memakai jaket berwarna hitam dan juga topi.."
"Yah, sayang sekali."
Obrolan selesai, mereka kembali ke kelas untuk menerima pelajaran selanjutnya. Ketika Andin baru akan duduk, tiba-tiba getar ponsel notifikasi email berbunyi.
Talita acuh tak acuh dengan urusan pribadi Andin. Ia pun bermain dengan ponselnya sendiri.
Andin segera membuka isi email nya, sebelum bel jam pelajaran benar-benar berbunyi.
To: Andin Puspita Arga
Selamat siang, sekedar info bahwa Ziban Alkash akan segera kembali bersekolah dalam kurun waktu tiga hari lagi. Mohon diingat hari bertepatan dengan pulangnya Ziban Alkash ke Indonesia. Karena saya tidak akan mengingatkan mu kembali setelah tiga hari nanti. Selalu diingat, dan dicatat dalam otak hari kepulangan Ziban Alkash. Jika sampai lupa, dan Ziban Alkash tidak menyukainya, maka itu murni kesalahan darimu. Dan tentunya kau tahu, apa yang akan Ziban Alkash lakukan atas ketidaksukaan nya. Sekali lagi, mohon dicatat hari tanggalnya.
Terimakasih.
Rinta Selviana,
Asisten pribadi Ziban Alkash.
Benar-benar keterlaluan si kak Rinta ini. Dia bahkan memperingati ku seperti mau terjadi gempa bumi saja. Cih!
__ADS_1
Lalu Andin menarik layar kebawah pesan masuk email. Terlihat banyak sekali email masuk, teman-teman lamanya dahulu, guru-guru nya dahulu yang cuma hanya sekedar menanyakan kabar atau memuji, dan masih banyak lagi. Tetapi semua pesan masuk itu ia lewati, bahkan tak dibukanya sama sekali. Ada satu yang membuatnya tertarik untuk membuka isinya.
Yaa, pesan dari Rossie, temannya dahulu dan juga anak Tante Helen.
"Heiii, Andin! Sebenarnya aku sangat malas untuk mengirimmu pesan lagi. Yaa, tentu saja karena setiap pesan dariku masuk, kau hanya membukanya saja. Tapi kali ini wajib dibuka dan dibaca. Ini karena permintaan ibu yang memaksaku untuk mengabarimu. Ibuku mengirimkan salam padamu Ndin. Katanya jangan sampai telat makan, dan tidurnya harus teratur.
Sudah cuma itu saja sih, karena aku tidak yakin kau membalas email ku, jadi sebaiknya ku persingkat saja agar aku tidak terlalu mengeluarkan tenaga."
Andin tersenyum setelah membaca ungkapan polos dari anak Tante Helen. Dan segera mengetikkan sesuatu di keyboard ponselnya.
"Salam kembali buat Tante Helen ya. Katakan Andin sangat merindukannya.."
Pesan terkirim. Andin memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Lalu bersiap-siap menerima pelajaran selanjutnya.
...----------------...
Di tempat lain, hotel New York berada. Terlihat Ziban Alkash yang sedang duduk di taman hotel ditemani dengan Sekretaris setianya. Yaa, Sekretaris Chan.
"Apa ada kabar terbaru di sekolah, Sekretaris Chan?" (tanya Ziban Alkash kepada Sekretaris Chan)
"Sementara ini tidak ada tuan. Semua berjalan dengan semestinya, mengenai tugas anda dan yang lainnya selalu beres."
Jawab Sekretaris Chan dengan lugas, tiba-tiba dua orang pelayan hadir diantara mereka membawa nampan berisi dua gelas air minuman dan juga buah-buahan segar.
Setelah dua pelayan meninggalkan Ziban Alkash dan juga Sekretaris Chan, obrolan kembali terdengar sebelum tiba-tiba ponsel milik Sekretaris Chan berdering keras pertanda ada panggilan dari seberang sana. Dan itu sangat mengganggu Ziban Alkash.
"Heh! Cepat angkat dering telepon mu itu. Bunyinya benar-benar membuatku sakit telinga!"
"Baik, tuan. Maafkan handphone saya ini tuan, nanti saya akan membeli handphone baru lagi supaya dering nya terdengar lebih nyaman di telinga."
"Hemm, keputusan yang tepat. Kau memang selalu bisa diandalkan Sekretaris Chan."
"Terimakasih sanjungannya, tuan. Saya izin mengangkat telepon terlebih dahulu."
"Hemm."
Sekretaris Chan segera menjauh dari taman setelah mendapat izin dari Ziban Alkash untuk mengangkat telepon. Sekretaris Chan pun segera menelepon kembali siapa yang berani-beraninya memanggil sejak tadi. Tanpa menunggu waktu yang lama, seseorang di seberang sana menjawab panggilan balik dari Sekretaris Chan.
"Heh?! Memangnya kau siapa? Berani-beraninya bermain-main denganku?!"
Sekretaris Chan berbicara dengan nada tinggi penuh emosi. Sedangkan terdengar dari seberang sana gemerutuk gigi tak berani menjawab.
__ADS_1
"Katakan sesuatu karena kau sudah mengangguku atau akan ku tuntut kau!"
Mendengar ancaman Sekretaris Chan, nyali si penelepon tadi semakin menciut. Tetapi tiba-tiba seseorang merebut
Ponsel di seberang sana, dan angkat bicara.
"Selamat siang Sekretaris Chan, ini saya Bram. Saya ingin bertemu dengan Tuan Ziban. Dan saya sekarang sedang berada di depan pintu gerbang menuju taman."
"Saya akan meminta izin terlebih dahulu kepada Tuan Ziban, setelah itu saya akan menghubungi anda kembali."
Telepon diputus. Sekretaris Chan segera kembali ke tempat tadi Ziban Alkash berada, dan melaporkan kepada Ziban Alkash tentang Tuan Bram yang ingin bertemu dengannya.
"Mohon maaf tuan, Tuan Bram ingin bertemu dengan anda."
Terlihat Ziban Alkash yang menghela nafas malas setelah mendengar laporan dari Sekretaris Chan. Lalu ia segera memutuskan.
"Baiklah, suruh saja dia kesini. Tetapi perlu dicatat, hanya lima belas menit saja."
Sekretaris Chan mengirim pesan kepada nomor tadi, untuk mempersilakan Tuan Bram masuk.
Tanpa menunggu waktu yang lama, Tuan Bram sudah sampai di taman itu.
Sekretaris Chan mempersilakan Tuan Bram duduk. Sedangkan sebagai gantinya, Sekretaris Chan lah yang berdiri di belakang Ziban Alkash.
Tanpa menunggu waktu lagi, Tuan Bram segera mengawali pembicaraan.
"Tuan Ziban, kedatangan saya kemari yaitu untuk menagih jawaban atas tawaran saya beberapa hari yang lalu."
Ziban Alkash kembali mengingat-ingat kejadian itu. Kejadian dimana ia bertemu dengan Tuan Bram suatu hari. Mereka berbincang-bincang lumayan akrab, tetapi setelah beberapa saat kemudian ternyata kedatangan Tuan Bram ada maksud lain.
"Saya mempunyai gadis cantik sekali seumuran dengan anda, mungkin anda bersedia menyentuhnya. Kapan pun anda ingin menyentuh putriku, saya akan mengijinkan nya. Dia pasti bisa menyenangkan anda tuan. Dan sebagai gantinya, kita bisa bekerja sama dalam berbisnis. Bagaimana Tuan Ziban?"
Tanpa menjawab sepatah katapun, Ziban Alkash pergi meninggalkan laki-laki sedikit tua itu yang menurutnya tidak waras. Bagaimana mungkin seorang ayah ingin menukar kehormatan putrinya dengan kerjasama bisnis? Begitu umpat Ziban Alkash setelah merasa telah membuang waktunya untuk mendengarkan omong kosong laki-laki gila itu.
Ziban Alkash telah mengingat kejadian itu lagi, lalu segera menjawab tawaran Tuan Bram yang sekarang berada di depannya.
"Aku tidak tertarik sama sekali karena aku sudah memiliki kekasih yang bahkan tidak ada yang bisa menandingi kecantikannya, sekarang pergilah."
Sebelum Tuan Bram menyela kembali, Sekretaris Chan segera angkat suara karena melihat keresahan yang terpancar jelas dari wajah tuannya.
"Tuan Bram tolong cepat pergi dari sini karena waktu lima belas menit anda sudah habis. Dihitung mulai dari anda masuk ke gerbang taman tadi dan bicara dengan Tuan Ziban, lalu sampai keluar gerbang taman. Silakan pergi sebelum saya bertindak lebih jauh."
__ADS_1
Dasar Sekretaris sialan! (umpat Tuan Bram dalam hati)