
Hari libur telah tiba. Setiap anak diperbolehkan pulang dengan syarat kembali ke keluarga mereka. Tidak sedikit pula yang meminta izin untuk keluar selamanya dari asrama. Ya, tentu saja karena alasan tertentu mereka. Kebanyakan adalah bagi mereka yang akan melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Mereka harus mencari tempat tinggal baru yang lebih dekat. Tetapi tidak dengan Andin. Ia bahkan belum memutuskan apa yang akan ia pilih untuk dirinya selanjutnya. Bukan apa, karena jika ia telah menentukan hidupnya sekalipun, Arga tidak akan menyetujuinya. Sudah seperti itu dari dahulu. Atau lebih tepatnya sudah seperti itu tradisinya. Arga lah yang berhak menentukan apa yang akan terjadi di hidup putri nya itu.
Tiga tahun lamanya. Tiga tahun sudah berlalu begitu saja pada kehidupan Andin di Bandung. Kehidupan tanpa sanak saudara satupun. Kehidupan tanpa dukungan pasti dari siapapun. Setelah pengiriman surat berserta boneka dari Kumala pada tahun awal terdahulu, rupanya itu adalah pertama dan terakhir sejak Andin di asrama. Kecewa? Tentu saja. Siapapun akan merasa dibuang dan diasingkan jika berada di posisi Andin sekarang. Andin memang hebat. Ia bisa menahan rasa yang kerap kali berkelebat.
"Eh Ndin, kau tidak membawa semua barang mu. Apa kau akan tetap disini saja?" (tanya Riani)
"Sudahlah Riani, jangan banyak bertanya. Andin kan calon ustadzah disini. Jadi, untuk apa membawa barang-barang nya terlalu banyak jika harus dibawa kembali lagi ke sini." (timpal Riana meledek)
Andin masih mengemasi barang yang di perlukan olehnya.
"Ah sudahlah, kalian berdua tidak usah sibuk mengurusi hidup ku." (jawab Andin dingin)
"Hei, Riani, dan lihatlah tas ransel Andin. Pertama kali aku melihat tas itu ketika baru masuk di asrama ini. Dan sepertinya selalu di bawa kemana-mana terutama ke sekolah hahaha." (Riana tertawa pecah)
"Riana, kau tidak boleh seperti itu pada Andin."
Kata Riani. Sedangkan Riana, saudara kembarnya tetap saja tertawa walaupun hanya sendirian. Riana memang usil sekali dan suka memancing emosi seseorang. Benar-benar berbanding terbalik sekali dengan kembarannya itu yang selalu merasa tidak enakan.
"Andin, apakah yang dikatakan oleh Riana adalah benar? Apa kau selalu membawa tas ransel hitam mu itu kemana pun kau pergi?" (tanya Riani polos)
"Ah sudah ku bilang iya. Aku selalu memperhatikan nya, dan dia selalu memakai tas itu-itu saja. Kau ini tidak percaya kepadaku." (Riana yang menjawab)
Riani menyenggol lengan kembarannya itu.
"Kau tidak boleh seperti itu. Kasihan Andin kan. Padahal kan uangnya banyak. Tetapi kenapa dia tidak membeli tas lain lagi ya?" (Riani terlihat berpikir)
"Huss, kau jangan bilang ini ke Andin. Mungkin tas ransel hitam itu adalah tas keramat. Makannya dia tidak ingin dan tidak mau mengganti nya. Ini menurutku."
Riana setengah berbisik kepada kembarannya itu. Tentu saja Andin mendengarkan semuanya. Riana memang terbiasa mengatakan hal yang tidak benar. Dan parahnya, Riani sebagai kembarannya selalu mempercayainya.
Andin menutup rapat resleting ransel hitamnya. Ia sudah selesai memasukkan semua barang yang diperlukan.
"Kalian berdua sudah selesai bicaranya?" (kata Andin)
"Jika sudah, aku pulang terlebih dahulu ya. Oh ya, kalian kapan akan membereskan barang-barang kalian?" (tanya Andin)
Dua saudara kembar itu hanya saling menyenggol satu sama lain. Saling menyalahkan karena mengetahui bahwa tinggal mereka berdua lah yang belum membereskan barang-barang yang untuk di bawa pulang kembali ke rumahnya. Mereka berdua memang sudah tidak akan tinggal di asrama itu lagi. Di kamar C12 hanya Meta dan Violla lah yang belum ingin keluar dari asrama itu.
......................
Selamat tinggal asrama ku.
Selamat tinggal.
__ADS_1
Terimakasih telah menampung raga ini.
Terimakasih.
Andin melangkahkan kakinya keluar gerbang asrama. Sangat berat. Sebenarnya ia pun belum mengetahui apakah ia akan kembali ke tempat itu lagi atau tidak. Semua barang-barangnya pun masih di asrama. Andin memang sengaja membawa beberapa pakaiannya saja. Ia tidak mau repot saat di perjalanan nanti.
Kereta akan berangkat empat puluh lima menit lagi. Waktu yang lebih dari cukup untuk sampai di stasiun kereta api. Ia memandang tiket nya dengan penuh senyuman. Tiket yang telah ia pesan dua hari yang lalu.
Setelah tiga tahun lamanya, akhirnya aku kembali ke Surabaya lagi. Tante Helen, ya, aku akan menemui mu pertama kali.
"Dik Andin kan?"
Terdengar suara tepat di belakang Andin. Andin pun membalikkan badannya untuk melihat siapa yang sedang menyapanya.
"Iya pak, bapak tahu aku?"
Andin sempat melirik seseorang yang kini berada tepat dihadapannya itu dari bawah hingga atas. Seorang bapak-bapak yang berpakaian rapi. Terlihat tua, tetapi tidak terlalu tua. Beberapa kali ia melihatkan gigi putihnya. Sepertinya ia adalah tipikal orang yang supel.
"Mobil sudah siap. Mari kita langsung mulai perjalanannya saja."
Apa maksudmu pak?
"Dik Andin mau ke stasiun kan?"
Laki-laki itu terlihat kebingungan. Sepertinya ia memang tidak mengetahui apapun.
"Bisa tahu bagaimana maksud mu dik?"
"Kenapa bapak sampai bisa tahu bahwa aku akan menuju ke stasiun."
Andin terlihat sama bingungnya.
"Tadi ada yang memesan jasa tumpangan mobil dari bapak. Apa itu bukan kau, dik? Atas nama Andin Puspita Arga tujuan stasiun."
"Ah, mungkin bapak salah mendengar."
"Tidak dik. Kan pemesanan nya lewat aplikasi. Ini coba lihat...."
Laki-laki itu yang ternyata adalah sopir mobil online menunjukan handphonenya yang berisi data-data calon penumpangnya. Andin mengusap keringat kecil di pelipisnya.
Siapa yang memesan ini untukku?
"Ah, maaf sebelumnya pak. Tetapi aku tidak merasa pernah memesan tumpangan dari bapak."
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu dik. Kan sudah jelas-jelas atas namamu tadi kan?"
"Ehm i-iya sih pak. Tetapi aku sudah memesan ojek online terlebih dahulu. Dan mungkin akan datang sebentar lagi."
Sopir mobil online itu tersenyum tulus kepada Andin. Ia merasa Andin tengah mencari-cari alasan.
"Baiklah dik, jika Dik Andin tidak merasa memesan, lebih baik bapak tetap mengantarmu karena bapak ini bukanlah orang jahat. Dan selain itu, biayanya sudah dibayar lunas oleh si pemesan. Masalah pembayaran sudah beres. Jadi, Dik Andin jangan khawatir." (kata Si Bapak lembut)
Sial, bapak ini meremehkan uangku. Aku memang sudah memesan ojek online langganan ku, pak!
Tiba-tiba dering ponsel Andin bergetar. Andin segera mengangkat melihat siapa yang meneleponnya.
"Halo..."
"Halo non, maaf ya non motor saya tiba-tiba mogok di perjalanan. Lebih baik Non Andin cari tumpangan lain saja. Saya carikan yang lain saja ya non?"
Glek.
"Aaaa, terimakasih banyak paman. Karena kau sudah memesan atas nama diriku,"
"Seharusnya kau bilang dulu paman, jadi aku tidak kebingungan,"
"Sudah dulu ya paman, ini sopirnya sudah menungguku sejak tadi."
Tut...Tut....Tut...
Sambungan telah dimatikan oleh Andin. Andin berakting sebaik yang ia bisa di hadapan sopir mobil online. Bagaimanapun, ia membutuhkan tumpangan mobil itu karena waktu semakin berjalan. Andin tidak mau repot dan menunggu untuk mendapatkan tumpangan lain. Sedangkan di seberang sana, pengendara ojek online tadi terlihat kebingungan. Ia tidak memahami arah pembicaraan penumpang langganannya itu. Kenapa Non Andin memanggilku dengan sebutan paman? Kira-kira itulah yang berada di benak pengendara ojek online tadi.
"Bagaimana dik? Jadi naik kan?" (kata Pak Sopir)
"Tentu saja, pak." (Andin menahan rasa malunya)
"Jadi, paman Dik Andin yang memesan?"
Andin mengangguk ragu.
"Paman Dik Andin sangat baik. Ia mungkin ingin memberikan kejutan untuk mu dik. Dan ternyata berhasil."
Pak Sopir tertawa sumringah di hadapan Andin. Terlihat Andin yang memaksakan senyumannya. Andin benar-benar tidak enak karena telah membohongi Pak Sopir yang terlihat sangat apa adanya itu.
Maafkan aku pak, hehe. Dan teruntuk siapapun yang memesan jasa tumpangan mobil ini untukku, aku ucapkan terimakasih. Kau pasti orang yang baik. Bahkan, sangat baik.
BERSAMBUNG...
__ADS_1