Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Koridor Cinta


__ADS_3

Hari yang begitu cerah di kota Bandung. Seperti biasa, Andin berangkat ke sekolah. Tapi kali ini Andin benar-benar sangat bersemangat dalam pergi ke sekolah. Yaa, tentu saja karena hari ini adalah hari kebebasan nya tanpa sang iblis yang selalu menyuruh ini dan itu semaunya sendiri.


Alasan lain Andin berangkat lebih awal tidak seperti biasanya, tentu saja karena pagi ini ia akan mendapat jawaban dari kepenasarannya selama ini tentang Arif.


Andin memang sudah berjanjian dengan Arif untuk bertemu di koridor saja pagi-pagi, tentu saja kali ini Andin sangat menyetujui.


Berangkat pagi adalah hal yang sangat jarang Andin lakukan ketika di sekolah. Andin memang tidak suka membuang waktu berlama-lama di sekolah sebelum jam dimulai.


Tapi hari ini Andin memang sudah berjanjian dengan Arif ketika pulang sekolah kemarin, jadi ia harus berangkat lebih pagi tidak seperti biasanya.


"Hei Arif ayolah ceritakan ke aku tentang kaitanmu dengan Talita Arifa."


"Besok kita bertemu di koridor sekolah pagi hari sebelum jam pelajaran dimulai, bagaimana?"


"Apa kamu berjanji akan menceritakan semuanya, Rif? Bukan cuma omong saja kan."


"Ah iya, aku berjanji."


Dalam perjalanan menuju sekolah Andin tiba-tiba teringat dengan anak-anak jalanan yang sempat ia temui. Rasanya sangat rindu kepada mereka. Akhirnya Andin memutuskan untuk mampir sebentar di perempatan lampu lalulintas. Karena mereka biasanya disitu, tapi entah untuk sepagi ini.


Andin menelusuri berbagai titik di perempatan lampu lalulintas itu dengan harapan akan menemukan yang sedang dicarinya walaupun hanya satu.


Tapi sayang, anak-anak jalanan itu belum terlihat batang hidungnya di perempatan lalulintas. Akhirnya Andin memutuskan untuk bertanya kepada penarik becak yang memang sudah berada di tempat penarik becak sejak tadi.


"Permisi pak, anak-anak jalanan yang biasa berkeliaran di perempatan sini dimana ya pak? Apa mereka memang belum datang?"


"Anak-anak yang biasa dijalanan, untuk jam sepagi ini belum datang nak. Mungkin saja mereka sedang persiapan."


"Ooh begitu syukurlah. Terimakasih ya pak."


"Memangnya kenapa mencari anak-anak itu? apa mereka berulah nakal kepadamu?"


"Ah tentu saja tidak pak, saya berteman dengan mereka. Jadi saya ingin menemui mereka. Baik pak, saya pergi dulu ya pak terimakasih."


"Sekolahmu dimana nak? Biar bapak antar."


"Saya di MAN 102 pak, sudah dekat kok."


Andin beranjak pergi setelah berpamitan dengan penarik becak itu.


Terlihat penarik becak itu yang sedikit kebingungan dengan apa yang setelah ia dengar. Bagaimana mungkin seorang pelajar dari sekolah ternama berteman dengan anak-anak jalanan yang bahkan jauh dari levelnya? kira-kira itu yang ada dibenak si penarik becak itu.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah Andin segera menuju ke tempat yang sudah disepakati bersama Arif kemarin. Ya, di koridor sekolah.


Setelah kejadian di koridor sekolah bersama Ziban beberapa bulan yang lalu, Andin memang sudah tidak pernah lagi melewati koridor sekolah. Bukannya apa, Andin memang sudah tidak terlalu suka untuk melewati koridor sekolah. Yang ada Andin selalu muak jika ia mengingat bagaimana Ziban menutup akses jalan ke koridor dengan sikap angkuhnya.


"Mana sih si Arif? kenapa aku sampai duluan. Sebelumnya seorang Andin tidak pernah menunggu seperti ini!"


Andin terlihat kesal karena ia yang sampai terlebih dahulu dan harus menunggu Arif datang. Andin memang sebelumnya tidak pernah menunggu siapapun. Apa yang ingin dilakukan Andin akan selalu ia lakukan, kecuali keinginan papah yang tidak terbantahkan.


"Jangan-jangan Arif tidak menepati janjinya kemarin. Cih! harusnya aku tidak percaya begitu saja padanya. Arif kan memang makhluk yang sangat aneh dan susah ditebak seperti halnya semua orang yang aku temui akhir-akhir ini."


Kalau begitu aku akan kembali ke kelas dan segera meluapkan kemarahan ku yang sudah lama tidak aku tunjukkan kepada Arif. Untuk kali ini aku akan benar-benar marah padanya! Lihat saja nanti, aku akan membuat Arif menyesal telah berani-beraninya membohongiku seperti ini!


Andin terlihat sangat marah kepada Arif, dan akan berniat untuk memberi pelajaran kepada Arif. Sebelum Andin beranjak dari koridor, tiba-tiba seseorang datang menghampiri Andin yang memang sedang sendirian disitu. Bukan, tapi kali ini bukan Ziban. Karena jelas-jelas Ziban sedang menghadiri undangan cerdas cermat tingkat nasional. Tapi siapa?


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Seseorang itu bertanya kepada Andin, yang memang masih membelakangi nya. Andin tentu sangat tidak ingin menjawab pertanyaan orang itu.


Jangan bertanya kepadaku! pergilah. Aku benar-benar


sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun!


Andin masih diam saja ditempatnya dengan wajah yang sangat muram, itu menandakan Andin memang sedang marah kepada seseorang tidak lain tidak bukan adalah Arif seorang.


"Apa yang kamu lakukan disini?"


Seketika Andin terkesiap setelah menyadari ada seseorang yang benar-benar sedang bertanya padanya. Rupanya bukan khayalan seperti biasanya. Begitu pikir Andin kira-kira.


Bukan adanya seseorang di belakangnya yang membuat Andin terkesiap. Tapi suara orang itu yang membuat Andin terkesiap.


Aku seperti pernah mendengar suaranya, bahkan sangat tidak asing buatku. Apakah mungkin...


Andin menoleh ke arah suara itu dan ternyata..


Apa?! kenapa dia ada disini? apakah dia datang untukku? ah iya, aku yakin sekali dia pasti datang kesini untukku. Aaaaa, cintaku si kaku tampanku akhirnya kau datang menemui ku disini. Dari awal aku memang sudah tau kau akan datang kesini untukku. Aaaa, ayo peluk aku sekarang...


"Bagaimana anda tiba-tiba disini?" (Andin terlihat gugup dalam bertanya kepada lawan bicaranya)


" Sedang ada tugas disini." (jawab Zidan Haq dengan lembut dan tanpa ekspresi sedikitpun)


Ah ayolah katakan saja kau memang ingin menjagaku disini kan? Tapi kau memang baru ingin menampakkan wajah tampanmu dihadapanku sekarang. Iya, iya.. mungkin itulah alasanmu sebenarnya. Sudah-sudah, tidak perlu menjelaskan lagi. Aku benar-benar sangat senang kau ada disini, cintaku.

__ADS_1


"Oh sedang menjalankan tugas disini. Kira-kira anda bertugas disini berapa lama?"


Andin menanyakan sesuatu hal yang bisa memancing jawaban yang sangat diharapkan nya, yaitu tujuan Zidan Haq datang ke sekolah ini itu untuk menemui Andin dan juga untuk menjaganya.


Beberapa siswa lain yang memang melewati koridor umum itu memandang Andin dan juga lawan bicaranya terheran-heran.


"Itu tidak penting. Sekarang kembali lah ke kelasmu, karena bel masuk akan segera berbunyi."


Aaaa kenapa dia tidak menjawab pertanyaan ku si. Ah iya, mungkin saja dia memang malu untuk mengungkapkan tujuan yang sebenarnya datang kesini. Dia kan memang sangatlah kaku, tapi sungguh kau bertambah tampan setelah sekian lama tak melihat mu.


"Baiklah, saya akan ke kelas dan belajar sebaik mungkin."


Andin akhirnya hanya menurut perkataan Zidan Haq demi mendapat pujian atas aktingnya menjadi gadis yang penurut dan rajin.


Akhirnya Andin segera ke kelas IIS 1 Favorit setelah beranjak dari koridor dengan hati berbunga-bunga. Ya, tentu saja setelah bertemu Zidan Haq di koridor sekolah.


Sejenak Andin terlupa dengan kemarahannya kepada Arif. Tapi setelah tiba di ruang kelas IIS 1 Favorit ingatan Andin kembali tentang janji palsu Arif kemarin.


Kemarahan Andin kembali terkobar setelah mengetahui bahwa Arif tidak ada di ruang kelasnya.


Kenapa Arif tidak ada di kelas? atau dia sengaja membuatku bertambah marah dengan menghindari ku seperti ini? Arif, kali ini kau benar-benar keterlaluan!


Ketika Andin benar-benar terbakar emosi karena Arif, tiba-tiba ada teman kelas perempuan yang mendekati Andin dan bertanya sesuatu.


"Apa kau tidak takut dengan seseorang yang berbicara denganmu tadi di koridor?" (tanya nya kepada Andin)


"Memangnya apa yang harus aku takutkan." (jawab Andin dengan lempeng)


"Dia kan pemilik sekolah ini, bahkan tadi aku melihat mu berbicara dengannya tanpa merasa segan sedikitpun."


Apa?! bagaimana mungkin?! Aaaa jadi dia disini itu memang pekerjaan nya sendiri. Ah, padahal aku sudah percaya diri sekali dia datang untukku. Cih!


"Ah tentu saja aku sangat menghormati nya. Eh tunggu, apakah kau tau kenapa Arif jam segini belum tiba di kelas?"


Andin segera memalingkan topik pembicaraan tentang Arif. Sebelum Andin dihujani pertanyaan mengenai Zidan Haq, guru privat nya dulu.


"Arif kecelakaan tadi. Surat keterangannya juga sudah sampai kok."


"Apa?! kenapa bisa?"


"Untuk detailnya aku kurang paham Ndin."

__ADS_1


Ya Tuhan, rupanya Arif tidak sedang mengingkari janjinya. Tapi memang ia sedang mengalami musibah. Ah, semoga Arif baik-baik saja.


BERSAMBUNG...


__ADS_2