
"Tadi Andin terlihat begitu mempesona. Hingga semua pun melihatnya dengan mata tak berkedip. Aku melihatnya tadi." (ucap Helen terlihat gembira)
"Kau selalu memuji Andin." (ucap Kumala)
"Ahaha, tidak. Andin memang cantik seperti anda."
"Kau bisa saja."
"Dia sudah seperti puteri ku sendiri."
"Andin sangat beruntung mempunyai ibu yang sangat baik seperti mu,"
"Dan kau malah menemani Andin disini, bukan menemani anak mu."
"Menemani anak saya?" (tanya Helen)
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Andin keluar dari kamar mandi dengan tersenyum melihat ke arah dua perempuan itu.
"Hust, nanti kita bahas lagi. Jangan sampai Andin tahu, bahwa kita sedang membicarakan nya." (bisik Kumala pada Helen)
Helen dan Kumala pun terkekeh kecil, menahan rasa ingin tertawanya setelah melihat Andin memicingkan matanya.
"Ada apa dengan mamah dan tante?" (tanya Andin)
"Tidak ada apa-apa, Andin sayang." (ucap Helen dan Kumala secara bersamaan)
"Aku kira ada apa."
"Eh, Rossie betah sekali di kamar tamu rumah ku ini, tante. Hingga ia tak keluar sebentar saja menemuiku."
"Kau kan sudah sangat paham dengan sifat temanmu itu, bukan?" (ucap Helen)
"Baiklah. Biar Andin yang ke kamarnya. Rossie memang selalu membuatku kerepotan."
"Eh, Andin, kau tidak boleh seperti itu, nak." (kata Kumala)
"Andin hanya sedang bercanda, Nyonya Kumala." (ucap Helen menengahi)
"Tuh mah. Tante Helen saja tahu."
Wajah Kumala sedikit pias. Kumala merasa Helen lebih tahu segalanya tentang putrinya itu. Ya, mau bagaimana lagi. Tak dapat dipungkiri, Helen memang lebih dekat dengan putrinya di banding dirinya sendiri.
"Ya sudah, biar Andin ke kamar Rossie, ya?"
"Ya, sayang, pergilah." (ucap Kumala)
Andin pergi ke luar kamar dan menuju kamar Rossie di rumahnya itu.
"Saya akan pergi ke dapur, Nyonya Kumala."
"Ke dapur? Apa kau lapar? Biar aku panggilkan pelayan saja ya. Masa di rumahku, kau sampai kelaparan seperti ini si."
"Ahaha, anda salah paham, nyonya. Saya hanya ingin melihat keadaan di dapur saja. Mungkin saja, saya bisa sedikit membantu mereka menyiapkan semuanya."
Kumala tersenyum.
"Kau tidak perlu repot-repot seperti itu. Itu bukan pekerjaan untuk mu."
"Saya hanya ingin membantu, sudah itu saja."
"Baiklah. Kau memang sangat lah baik."
"Saya pergi ke dapur dulu."
Helen hendak meninggalkan Kumala di kamar Andin. Tetapi Kumala tiba-tiba berbicara kepadanya lagi.
"Tapi bisakah, kau berbicara denganku tidak seformal itu? Jangan memanggilku dengan sebutan nyonya dan kata-kata formal lainnya. Hilangkan itu ya, ku mohon dengan sangat."
__ADS_1
Helen membalikkan badannya lalu tersenyum.
"Baiklah, mamahnya Andin."
Helen berjalan keluar kamar lalu menuju ke dapur. Kumala tersenyum penuh arti.
Ibunya Zidan benar-benar memiliki hati yang besar. Dia baik sekali. Dia bahkan menemani Andin, calon menantunya. Ah, aku tidak mau ikut campur mengenai urusan rumah tangganya dengan ayahnya Zidan. Yang pasti, ibunya Zidan telah berbaik hati pada Andin di hari pernikahan nya ini. Aku yakin, selain permintaan dari Andin, kedatangan ibunya Zidan disini juga merupakan permintaan dari Zidan. Ya, berhubung tidak memungkinkan ibunya Zidan datang dan turut serta mengurus pernikahan Zidan di rumahnya, karena ada istri barunya. Ah, sekali lagi, ibunya Zidan memang sangat berbesar hati.
Kumala berdiri dari duduknya. Tetapi lalu duduk kembali. Ada pertanyaan yang tiba-tiba mengganjalnya.
Andin sudah mengetahui bahwa Helen adalah ibunya Zidan kan? Dan Helen akan menjadi ibu mertuanya kan?
Ah, tentu saja Andin sudah tahu. Zidan pasti sudah menceritakan semuanya pada Andin. Dan oleh karena itulah, kemarin Andin memohon-mohon supaya Helen menemaninya di hari pernikahan nya.
Kumala berdiri kembali. Ia berjalan keluar dan membuka pintu. Ia berhenti kembali.
Ya, dan mengenai Rossie, pasti dia hanya masih tidak menyangka bahwa teman dekatnya akan menikah dengan kakaknya sendiri.
"Sudahlah, Kumala. Kau tidak perlu merasa bimbang tidak jelas seperti ini. Zidan itu anak yang baik. Dan papahnya Andin lah yang memilihnya langsung. Ia selalu mengatakan bahwa akan selalu memberikan yang terbaik untuk Andin." (lirih Kumala meyakinkan dirinya sendiri)
Kumala menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ingin menghilangkan kebimbangan yang tengah melandanya. Ia tidak ingin menyimpannya dalam kepalanya lagi. Ketika Kumala melangkahkan kakinya beberapa langkah, tiba-tiba saja seorang perempuan memanggilnya.
"Mala..."
Sebelum Kumala melihat ke arah seseorang yang memanggilnya dengan sebutan yang tidak biasa itu, ia menyempatkan diri untuk berfikir, kira-kira siapa yang sedang berbicara dengannya.
"Mala, kenapa diam saja?"
Akhirnya Kumala membalikkan badannya, setelah berhasil mengenali suara seorang perempuan itu.
"Ummi...ya ampun! Kau disini." (pekik Kumala sangat terkejut)
Ummi memeluk Kumala.
"Kau mengatakan bahwa kau sangat sibuk di asrama kan?"
"Bagaimana aku tidak datang. Kau mengundang ku. Hanya orang tertentu dan istimewa lah yang mendapat undangan dari mu, Mala."
"Aku sangat berterimakasih, karena pengasuh asrama tempat Andin tinggal telah datang ke sini."
"Aku sahabat mu. Dan kau menitipkan putri mu padaku. Itulah yang terjadi."
"Ya, benar. Dan tak dapat di gugat, kau memang pengasuh asrama terbaik di kota mu itu kan?"
"Sudah, sudah. Aku tak suka di puji."
"Hemm, baiklah. Mari kita ke bawah. Aku akan menghormati mu sebagai tamu ku yang sesungguhnya." (ucap Kumala senang)
"Hahaha, jangan berlebihan seperti ini, Mala." (Ummi tertawa)
"Baiklah, ayo turun."
Kumala menggamit lengan Ummi tanpa menunggu jawaban "iya" dari Ummi.
"Sabarlah dulu, Mala. Sebelumnya, aku ingin bertemu dengan pengantin perempuan nya. Kau terlihat tidak sabaran sekali ingin mengobrol denganku" (Ummi terkekeh kembali)
"Biar nanti Andin yang akan turun ke bawah."
"Memangnya Andin dimana?"
"Di sedang bersama temannya di kamar khusus tamu."
"Baiklah, antarkan aku ke kamar itu, Mala."
Kumala diam sejenak. Ia terlihat berfikir.
"Emm..."
__ADS_1
"Ayolah, Mala. Aku telah bersamanya selama tiga tahun terakhir. Aku sudah sangat dekat dengannya. Oleh karena itu, aku pun ingin berbicara dari hati ke hati berdua. Boleh kan?" (pinta Ummi)
"Baiklah. Kau masuk saja dan tunggu di kamar Andin ya. Aku akan memanggil Andin untuk segera ke kamarnya."
Kumala membuka kembali pintu kamar Andin. Ummi mengangguk paham.
Sesampainya Kumala di kamar khusus tamu di rumahnya itu, ia langsung mengatakan pada Andin yang terlihat tengah tengkurap berdua bersama Rossie di ranjang. Sepertinya mereka tengah membicarakan hal-hal yang asik.
"Rossie, biar Andin ikut denganku sebentar ya?" (ucap Kumala)
"Tentu saja." (Rossie tersenyum)
"Ada apa mah?"
"Ummi datang, nak. Dia sedang di kamar mu. Temui lah dia dan mengobrol dengannya."
"Benarkah, mah?"
"He'eh."
Andin langsung saja berlari ke kamarnya. Rasanya sudah sangat tidak sabar bertemu dengan Ummi. Ya, mereka berdua memang terlihat lebih dekat sebelum detik-detik kepulangan Andin dari asrama.
"Ummi..." (ucap Andin)
"Duduklah di samping Ummi, Andin."
Andin mengangguk, dan duduk di sebelah Ummi.
"Bagaimana kabarmu, nak?"
"Sangat baik, Ummi. Bagaimana dengan Ummi?"
"Keadaan Ummi, baik juga. Ummi tak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi. Boleh Ummi berbicara serius padamu, nak?"
Andin menganggukkan kepalanya.
"Kau sudah Ummi anggap seperti puteri Ummi sendiri. Kau juga menganggap Ummi sebagai orang tua mu juga kan?"
"Tentu saja, Ummi."
"Bolehkah Ummi meminta satu permintaan, padamu. Hanya satu saja."
"Katakanlah, Ummi."
"Tetapi kau janji kan, tidak akan membiarkan permintaan Ummi ini sampai di ketahui oleh orang lain, terutama mamah mu?"
Andin terdiam. Sebenarnya hal apa yang di inginkan Ummi, hingga sampai harus di rahasiakan seperti ini. Itulah pertanyaan Andin di kepalanya.
"Kenapa harus seperti itu, Ummi?"
"Berjanjilah, Andin..."
"Baiklah, Andin berjanji pada Ummi. Tidak akan pernah membagi pembicaraan antara Ummi denganku hari ini." (ucap Andin tak ingin terlalu banyak bertanya)
"Batalkan pernikahan mu,"
"Tolong lepaskan Ustad Zidan,"
"Biarkan Ustad Zidan bersama Zulfia."
Deg
Betapa terkejutnya Andin. Betapa tak menyangka dirinya, bahwa itulah satu permintaan dari Ummi. Satu permintaan yang benar-benar amat sulit untuk dapat dimengerti dan diterima oleh siapapun pengantin di alam jagat raya ini.
"Andin, tolong jangan diam saja. Ummi mohon hentikan pernikahan mu ini. Buat alasan apa saja, agar pernikahan nanti malam tidak terlaksana. Ummi memohon kepadamu, Andin. Ummi sudah terlanjur berjanji pada Zulfia untuk menyatukan nya dengan Ustad Zidan. Jangan diam saja, Andin. Jangan diam saja. Katakan pada Ummi, bahwa kau akan menuruti satu permintaan dari Ummi..."
BERSAMBUNG...
__ADS_1