Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Fawnia Grizelle Alexsa


__ADS_3

Hari sebelumnya...


Pagi hari di asrama. Terlihat seperti biasa semestinya. Beberapa santri terlihat penuh gelora dengan kesibukannya. Dan beberapa santri pula, terlihat asik mengobrol dengan santainya. Di pojokan jalan umum tempat semua santri perempuan melewati tempat itu, terlihat Zulfia yang mencegat Meta yang memang tengah sibuk.


"Ada apa, Mbak?"


Ucap Meta sangat cuek. Ia masih mengingat semua perkataan Andin. Semuanya. Tidak ada satupun yang terlewat dalam ingatannya. Ia menilai semua fakta yang Andin ungkapan, memang terlihat jauh lebih masuk akal. Ummi dan Zulfia memang sedang bersekongkol. Begitu asumsinya.


"Kau masih marah, padaku?"


"Tidak."


"Ya ampun, Meta. Kau seharusnya tidak marah padaku. Kau harus mempercayai ku, ku mohon."


"Aku bilang, aku tidak marah, mbak."


Zulfia membuang nafasnya sedikit kasar.


"Kau harus ikut, denganku."


Zulfia menggamit dan menarik paksa lengan Meta.


"Kemana mbak?"


Zulfia tak menanggapi Meta.


"Kau mau membawaku kemana, mbak?"


"Aku belum menyelesaikan piket ku..."


"Mbak, lepaskan..."


Zulfia masih saja tak mengindahkan penolakan Meta. Ia sudah memberanikan diri menekadkan sesuatu di dalam dirinya sepagi ini.


Beberapa waktu lamanya, mereka berdua telah sampai di sebuah desa yang benar-benar jauh dari keramaian. Zulfia memberikan kode pada Meta untuk mengikutinya dari belakang. Tanpa memberontak seperti tadi awalnya, kali ini ia mengikuti Zulfia walau dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Kemanapun Zulfia membawanya, yang pasti Zulfia tidak mungkin berusaha menculiknya. Begitu pikir Meta yang pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti Zulfia.


Mbak Zulfia membawaku ke rumah siapa ini? Terlihat sederhana. Bahkan sederhana sekali.


Meta menghentikan langkahnya di samping rumah sederhana itu. Zulfia menyadarinya.


"Kenapa berhenti?"


"Kita ke rumah siapa ini, mbak?"


"Nanti kau akan tahu. Ayo."


Zulfia masih tidak memberitahu jawaban yang ingin di dengar oleh Meta. Tetapi kali ini Meta tidak menyetujui ajakan Zulfia dengan menggelengkan kepalanya. Itu tanda penolakannya.


"Ayo lah, Meta. Ku mohon." (pinta Zulfia)


"Aku tunggu disini saja, mbak."


Zulfia terlihat berfikir. Hingga akhirnya ia mengiyakan permintaan Meta kali ini, dengan syarat meminta Meta berjanji untuk tidak pergi meninggalkan tempat itu. Meta pun berjanji.


Zulfia melangkahkan kakinya kembali menuju pintu depan rumah tujuannya itu. Ia mengetuk pintu sederhana itu dan terdengar beberapa kali menyebut nama seseorang.


"Diana..."


Tak menunggu waktu yang lama, seorang perempuan seumurannya membuka pintu itu. Zulfia mengulas senyumnya.


"Zulfia, kau disini? Ada apa?"


"Aku boleh masuk? Ada hal penting yang perlu aku bicarakan denganmu."


......................

__ADS_1


Membuka mata, menutup mata, membuka mata, menutup mata. Itulah yang dilakukan Meta sejak tadi hingga dini hari ini. Usaha Meta untuk tidur rupanya sia-sia. Sepertinya, sesuatu sedang membuat hatinya berantakan kali ini. Kacau. Tidak karuan. Ia masih berusaha memejamkan matanya kembali.


......................


"Met..." (panggil Zulfia)


"Ayo masuk..."


Meta berdiri dari duduknya di bebatuan yang menempel di tanah. Ia melihat sosok perempuan lainnya berdiri di samping Zulfia yang mengulas senyum. Sepertinya dia adalah teman Zulfia. Begitu tebaknya kali ini.


"Meta, ayo masuk..." (ajak Zulfia lagi)


"Tapi mbak," (ucap Meta)


"Ayo masuklah di gubug ku. Zulfia adalah teman sekolah ku dulu. Jika kau temannya Zulfia, berarti kau temanku juga." (ucap teman Zulfia)


Oh yeah, kali ini asumsi mu benar, Met!


Meta pun masuk ke dalam rumah itu dengan sedikit ragu-ragu. Ia mengikuti Zulfia dan temannya itu yang berjalan di depan.


Tiba-tiba ia di kejutkan dengan gadis perempuan kecil yang tiba-tiba berlari ke arah mereka. Gadis kecil itu memeluk Zulfia. Ia hanya diam memperhatikan semuanya.


"Ante..."


"Halo Elle sayang. Apa kabar denganmu?" (ucap Zulfia hangat)


"Elle, biarkan ante duduk dulu, ya?" (ucap teman Zulfia)


Gadis kecil berkulit putih dengan pipi chubby dan poni rapi itu mematuhi perintah teman Zulfia. Meta terpukau dengan gadis kecil yang menggemaskan itu.


Anak kecil itu benar-benar menurut. Dia sangat mematuhi tantenya. Ah, benar-benar menggemaskan. Aku jadi ingin memiliki keponakan sepertinya. Astaga Meta!


"Ayo silakan duduk..."


Meta, Zulfia, dan temannya itu duduk beralaskan tikar yang terlihat usang. Gadis kecil itu duduk di samping Zulfia.


Zulfia memperkenalkan temannya itu pada Meta. Meta pun segera menjabat tangan Diana.


"Aku Meta, kak." (ucap Meta)


Diana mengulas senyum.


"Elle, ayo cium tangan Ante Meta." (perintah Diana)


Elle pun benar-benar menyalami dan mencium tangan Meta. Meta mencubit gemas pipi chubby Elle. Elle sedikit memekik kesakitan.


Ah, rupanya Mbak Zulfia mengajakku kesini hanya untuk menemani menemui teman lamanya. Dasar.


"Ibu... katanya kita makan pakai kecap. Elle sudah lapar Bu."


Deg.


Ibu?


Dia bukan keponakannya, melainkan adalah putrinya?


Diana tersenyum malu melihat kelakuan kurang sopan Elle di hadapan kedua tamunya.


"Berikan Elle sarapan terlebih dahulu, Di. Sepertinya Elle sangat bersemangat untuk sarapan." (ucap Zulfia terkekeh)


Kali ini Diana ikut terkekeh. Sedangkan Meta masih tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


"Baiklah. Aku ke dalam sebentar, sekalian mengambil air minum untuk kalian. Hanya air putih saja tidak apa-apa kan?"


"Ehehe, tidak masalah kak. Kami terbiasa hanya meminum air putih ketika di asrama." (ucap Meta)

__ADS_1


Diana tersenyum. Ia bersyukur tamunya sangat memahami kondisi kehidupannya. Ia pun pergi ke dalam dan di ikuti Elle tentunya.


......................


Meta membuka matanya kembali.


Ahh, ya Tuhan. Aku ingin tidur. Semua hal tadi pagi benar-benar membuatku sangat gelisah seperti ini.


Jam menunjukkan pukul 01.40 WIB. Meta turun dari tempat tidurnya dan melihat Violla yang tertidur dengan pulas nya. Sejak kelulusan sekolah kemarin, memang tinggal mereka berdua lah yang masih tetap di asrama diantara si kembar dan Andin. Tentunya tinggal mereka berdua juga lah yang berada di kamar C12. Meta mengambil botol air minumnya di meja. Ia meneguk air dengan sangat pelan.


"Kak Diana. Kau sangat kuat. Dan Andin..."


Meta tak mampu melanjutkan kalimat lirihnya kembali. Ada sesuatu yang mencekal keras di dalam tenggorokan nya. Sesuatu yang belum pernah berada dalam dirinya. Sesuatu rasa simpati yang amat mendalam yang belum pernah ada di dalam hidupnya. Baru kali ini. Baru kali ini rasa itu datang dari dasar dalam hatinya.


Sahabatku, Andin...


Meta memangku kepalanya menunduk di meja menggunakan kedua tangannya.


Sahabatku, Andin...


Tolong jangan bersedih...


Ia terus saja memikirkan semua ungkapan menyayat Diana dan bukti nyata adanya Fawnia Grizelle Alexsa yang berada dalam hidup Diana. Hingga Meta berhasil terlelap tidur dalam posisi tiduran yang masih sama.


......................


"Selamat pagi Mbak Zulfia."


Zulfia mengulas senyum lalu menundukkan kepalanya.


"Selamat pagi, Ummi."


"Kau sedang sibuk? Tolong ikut Ummi ke dalam sebentar." (pinta Ummi)


Zulfia mengangguk dan mengikuti Ummi ke dalam rumah utama tempat Ummi tinggal dan memantau semua yang berada di asrama.


"Duduklah..."


Seperti biasa, Ummi duduk di kursi sedangkan Zulfia duduk di karpet bawah. Itu adalah salah satu bentuk penghormatan kepada pengasuhnya. Kali ini Ummi tidak memaksanya untuk duduk di atas saja. Bagaimanapun pastinya, Zulfia tentu akan merasa sangat risih jika diperlakukan lebih istimewa daripada yang lainnya. Oleh karena itu, Ummi membiarkan bagaimanapun kenyamanan Zulfia kepada dirinya.


"Mbak Zulfia,"


"Ya, Ummi."


"Maafkan Ummi, ya?"


"Maaf untuk apa, Ummi?"


"Ummi tidak bisa memenuhi janji Ummi padamu. Ummi sudah berusaha menjodohkan mu dengan Ustad Zidan, tetapi takdir berkata lain."


"Janji?" (Zulfia kebingungan)


"Sebenarnya Ummi pernah berjanji pada diri Ummi sendiri, untuk menjodohkan mu dengan laki-laki terbaik. Dan Ummi merasa Ustad Zidan sangat pas untukmu. Tetapi..."


Zulfia tersenyum getir, hanya saja Ummi tidak menyadarinya.


"Mungkin Ustad Zidan memang baik. Benar sekali perkataan mu, Ummi. Tetapi, aku tidak baik untuknya."


"Kau memang selalu sabar dan ikhlas. Nanti Ummi akan cari laki-laki yang lebih tepat untukmu, ya?"


"Terimakasih sebelum dan sesudahnya, Ummi. Maaf, tetapi Ummi tidak perlu repot-repot memikirkan hal seperti itu untukku. Aku percaya, akan ada seseorang yang tepat, dan di waktu yang tepat pula."


"Masya Allah,"


"Ummi boleh memelukmu, Mbak?" (ucap Ummi)

__ADS_1


"Jika Ummi sampai sudi menanyakan boleh tidaknya untuk memelukku, maka aku akan sangat bersalah dan berdosa jika sampai berani menggelengkan kepalaku."


BERSAMBUNG...


__ADS_2