Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Mimpi Dalam Kereta


__ADS_3

Andin telah sampai di stasiun tepat waktu. Setelah mengucapkan terimakasih pada bapak sopir online tadi, ia pun tidak lupa meminta maaf kepadanya. Rupanya ia masih merasa tidak enak.


"Eh, minta maaf untuk apa dik?" (tanya nya kebingungan)


"Ehehe, aku hanya ingin meminta maaf bukannya meminta uang. Memangnya tidak boleh?"


Bapak sopir online tadi, tertawa renyah. Sebelum ia meninggalkan Andin, ia sempat mendoakan Andin supaya sampai tujuan dengan selamat.


Ah, di tengah-tengah dunia penuh tipu-tipu ini rupanya masih ada saja malaikat yang berkeliaran.


Andin telah duduk di tempat duduknya sejak tadi. Duduk sendirian, adalah pilihan yang terbaik. Kereta mulai bergerak meninggalkan beribu-ribu kenangan Andin di Bandung. Meninggalkan jejak-jejak pahit manis hidupnya di kota itu.


Pada kenangan, ku ucapkan, selamat tinggal sekali lagi.


Andin memejamkan matanya. Menikmati perjalanan naik kereta yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Inilah kehidupan sederhananya. Hidup di tengah-tengah masyarakat adalah pengalaman menarik baginya. Ya, bagi, putri tunggal Keluarga Raharga.


Andin melihat gadis kecil dan juga anak laki-laki kecil yang terlihat lebih tua dari gadis itu. Ia tersenyum melihat kedua anak kecil itu yang tengah bermain-main. Tiba-tiba anak laki-laki itu menarik lengan kecil gadis berumur enam tahunan. Gadis kecil berkerudung. Ia terlihat benar-benar menggemaskan di usianya itu yang sudah selalu memakai kerudung. Ya, tentu saja itu adalah peran ibunya. Sejak kecil ia memang sudah dilatih untuk terus menutup auratnya itu.


Andin hanya melihat dan mendengarkan obrolan kedua anak kecil itu.


"Hei, jangan menarik lenganku! Akan ku adukan pada mamah ku!"


"Ah kau ini bawel sekali!"


"Hiks, hiks, hiks. Mamahhh, tolong akuuu."


Andin sedikit was-was ketika melihat gadis kecil itu tiba-tiba menangis. Ia ingin menghampirinya, tetapi ada sesuatu yang menahannya. Entah apa.


"Taraaaa! Lihatlah! Ini buatan ku sendiri! Keren bukan?"


Suara bersemangat dari anak laki-laki itu sangat memekakkan telinga. Gadis itu terdiam dari rengek tangisnya.


"Apa ini?" (tanya gadis kecil itu)


"Ah, kau ini gadis yang payah! Ini boneka kayu, bodoh!"


"Iya aku tahu, ini boneka! Coba jelaskan apa maksud mu."


Andin masih memerhatikan dengan seksama obrolan dua anak kecil itu. Ia terlihat sama penasarannya seperti gadis kecil itu.


"Ini boneka untukmu, dan ini untukku."


Anak laki-laki itu menyodorkan boneka kayu perempuan kepada gadis itu. Sedangkan boneka kayu laki-laki untuk dirinya sendiri. Gadis itu terlihat sangat kegirangan.


"Ayo, beri nama yang bagus untuk boneka kayu kita." (ucap gadis kecil itu)


"Tenang, aku sudah menyiapkannya."


"Apa itu? Katakanlah."


"Punyaku Pangeran Senjana, sedangkan punyamu Putri Senjani, bagaimana? Kau suka?"


Andin terkejut.


Pangeran Senjana, Putri Senjani? Bukankah itu...


"Apa maksud dari nama itu? Kita beri nama Tono dan Tini saja."


"Ah, nama yang kau berikan benar-benar kampungan. Sudah lah Pangeran Senjana, Putri Senjani saja ya?"

__ADS_1


"Maksud dari Pangeran Senjana dan Putri Senjani itu apa?"


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Aku yang lebih tua darimu. Kau menurut saja!"


Anak laki-laki itu mendorong tubuh mungil gadis kecil itu.


"Aaaaa, mamah...dia nakal sekali...huhuhu...."


Andin terperanjat melihat kedua anak itu tiba-tiba bertengkar. Satu detik, dua detik, tiga detik. Tak ada satupun yang melerai mereka berdua. Andin berlari sekuat yang ia bisa. Semua orang yang menghalanginya ia singkirkan tanpa memperdulikan ocehan mereka. Andin terus berlari. Tekadnya sudah bulat. Ia akan melerai dua anak kecil itu. Ia akan memeluk erat gadis kecil yang tengah menangis.


Tiba-tiba...


Jedug!!


Brughhhhh!!!


Aaaaaaa!


Andin terbangun dari mimpinya seketika mengusap-usap jidatnya yang terbentur dinding samping tempat duduknya.


"Aaaaa, sakit sekali!" (Andin meringis kesakitan)


Seketika sakitnya terlupakan setelah berhasil mengingat mimpinya tadi.


Boneka kayu? Pangeran Senjana, Putri Senjani? Dua anak kecil itu, apakah gadis kecil itu adalah aku? Dan, anak laki-laki itu...


Andin masih terlihat berfikir. Ia masih mencoba mengingat-ingat dan memaknai sendiri mimpinya itu. Ia mencoba mengingat-ingat hal apa yang ia lupakan di masa kecilnya. Ia tengah mencari jawaban dari mimpinya. Apakah memang benar kisahnya atau hanya bunga tidur belaka.


Saat Andin masih berpikir, tiba-tiba ada yang menutup kedua matanya dari belakang. Ia refleks memegang tangan yang menutupi matanya itu. Berusaha melepaskannya.


"Aaaa, siapa ini?! Tolong lepaskan! Benar-benar tidak sopan!"


"Kenapa bisa a-anda...."


Zidan Haq tersenyum manis sekali. Berpakaian rapi tetapi tidak resmi seperti biasanya. Benar-benar selalu akan menyihir bagi siapapun yang memandangnya. Ia segera duduk di sebelah Andin.


"Kau terkejut?" (ucap Zidan lirih)


"Kenapa bisa anda berada di sini juga? Sejak kapan?"


"Menurutmu sejak kapan?"


Ah kenapa dia balik bertanya kepada ku? Kalau aku sudah tahu mengapa aku perlu menanyakannya tadi. Dasar.


"Tentu hanya anda yang tahu." (Andin memonyongkan bibirnya)


"Tentu saja aku naik kereta dari stasiun sama sepertimu."


Zidan menyentil gemas hidung Andin yang tidak terlalu mancung dan juga tidak pesek. Sedang. Itu adalah sebutan yang pas untuk hidung Andin.


"Ya mungkin saja anda nekad memberhentikan kereta nya ketika di perjalanan kan." (sergah Andin tak mau kalah)


"Haha. Ya, itu mungkin saja ku lakukan si. Tetapi sepertinya itu terlalu mengambil resiko. Yang ada aku akan masuk ke kabar berita hari ini haha."


Mereka berdua tertawa bersama.


"Tetapi kenapa anda naik kereta juga?"


"Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian dalam perjalanan pulang."

__ADS_1


Andin diam sejenak. Ia selalu berhasil membuatnya terharu. Ternyata masih ada seseorang yang benar-benar peduli padanya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Hemm, kalau begitu, soal pesanan tumpangan mobil online tadi..."


"Anda yang memesannya? Untukku? Iya?"


Zidan terlihat berpikir. Ia mencoba mencerna apa yang sedang dikatakan oleh Andin.


"Terimakasih ya. Jika tanpa bantuan anda, saya akan terlambat sampai di stasiun."


"Jika kau sampai ditinggal kereta nya, maka aku akan akan mengejarnya untuk segera memutar kembali dan segera meminta maaf kepada mu karena sudah meninggalkan Putri Andin ku."


Andin tersenyum malu-malu.


Ya ampun, seharusnya aku tidak meragukan mu kemarin-kemarin.


Mereka berdua kembali berbincang santai sebelum hingga akhirnya Andin tertidur pulas bersandar di bahu Zidan.


Dasar gadis tiduran sekali. Padahal tadi juga habis tertidur kan.


Zidan mengelus pelan pipi halus Andin.


Tuan Arga, putrimu ini terlihat sangat menggemaskan ketika tertidur seperti ini.


Zidan mendekatkan wajahnya ke wajah Andin. Ia bahkan sampai merasakan hembusan nafas Andin. Ia memfokuskan penglihatannya ke bibir Andin. Entah apa yang berada dalam pikirannya. Menyusuri dengan jemarinya perlahan. Mendekat, semakin mendekat.


NGOOOKKKKK.....


Tiba-tiba Andin mendengkur keras. Zidan benar-benar terkejut sekaligus terheran-heran mengapa gadis cantik sepertinya mendengkur sekeras itu. Zidan pun segera memundurkan wajahnya kembali.


Astaga, anak ini. Apa Tuan Arga mengetahui bahwa putrinya benar-benar menyeramkan ketika mendengkur sekeras itu. Haha.


Zidan menahan kegelian nya. Ia takut akan menganggu tidur Andin jika sampai melepaskan tawanya.


Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Sesuatu yang perlu ia tanyakan kepada adiknya. Ia pun mengambil ponselnya dan segera memanggil adiknya.


"Ya, bang. Ada apa?" (suara Ziban di seberang sana)


"Apa kau yang memesan tumpangan mobil online untuk Andin tadi?"


"Ya bang. Itu supaya Andin tidak kepanasan ketika di perjalanan. Lagian, akan lebih nyaman ketika duduk di jok mobil daripada motor. Memangnya kenapa bang? Apa Andin tidak menyukainya?"


"Ahh, Andin bahkan berterimakasih kepadaku tadi."


Ziban diam saja.


"Kau memang adikku yang paling bisa diandalkan. Sudah dulu ya. Aku takut akan menganggu tidur Andin."


"Andin sedang tidur, bang?"


"Ya,"


"Dia tidur bersandar di bahuku. Dia terlihat nyenyak sekali." (ujarnya sambil memandang wajah Andin)


Ziban Alkash membanting ponselnya ke tembok hingga terdengar suara yang keras. Amat keras.


Ah, adikku ini kebiasaan mematikan panggilan seenaknya saja. Dasar.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2