
"Aku ulang sekali lagi!! Silakan maju ke depan menyerahkan diri!"
Gertak ketua geng itu dengan nada sangat tinggi. Membuat nyali siapapun yang mendengar pasti akan menciut.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Tak ada satupun dari seisi kelas X IIS 1 Favorit yang membuka suara.
"Aku peringatkan, jika pelaku yang menyebar fitnah Andin tidak segera mengakui maka kalian semua harus ikut bertanggungjawab!!"
Semua anak mengutuki dalam hati si pelaku yang tidak segera mengakui perbuatannya. Tiba-tiba salah satu dari mereka ada yang mengangkat tangannya. Ketua geng itu dan semua siswa kelas X IIS 1 Favorit pun memandang anak itu dengan hati yang berbeda-beda.
"Kau bahkan membawa semua siswa kelas X IIS 1 Favorit, padahal kan tidak semua anak bersangkutan dengan perundungan Andin?!"
Protes seorang anak tadi yang mengangkat tangannya. Ketua geng itupun kembali menggertak.
"Tutup mulutmu! Aku tidak akan membawa kalian semua ke sini tanpa sebab!! Siapapun yang merundung Andin, menertawai Andin atau bahkan hanya menutup mata dan telinga walaupun mengetahui bahwa Andin sedang di rundung, maka kalianlah pelakunya! Dan kalian harus bertanggungjawab karena telah memperlakukan Andin seperti itu!!"
Semua anak terdiam menelan salivanya berkali-kali. Tak mampu lagi menyanggah, tak mampu lagi mencoba mencari-cari alasan. Semua yang dikatakan oleh ketua geng motor itu memang benar adanya. Pada dasarnya semua anak yang terdapat di kelas X IIS 1 Favorit memang bersangkutan dengan perundungan Andin di sekolah.
"Hemm, rupanya masih belum ada yang mengakui ya. Baiklah jika itu mau mu.."
Ucap ketua geng motor itu sembari melembutkan nada bicaranya. Bukannya senang dengan suara yang dilembutkan dengan ketua geng itu, hal itu justru membuat semua anak kelas X IIS 1 Favorit bergidik ngeri. Dan benar saja, tiba-tiba ketua geng itu melangkahkan kakinya mendekati semua anak yang terduduk lemah ketakutan di tengah-tengah segerombolan geng motor. Ketua geng itu mendekati seseorang dan lagi-lagi melembutkan nada bicaranya.
"Hai...senang bertemu denganmu kembali."
Seseorang yang di sapa oleh ketua geng itu menyorotkan mimik arti wajah yang benar-benar ketakutan. Tanpa memberi ia kesempatan untuk berpikir lebih panjang lagi, ketua geng motor itu tiba-tiba menyeret kasar seseorang itu menuju ke depan. Tentu saja, yang diseret pun sedikit meringis karena terkejut, malu dan sedikit menahan rasa sakit. Tetapi ia hanya diam saja. Tidak melawan ketua geng motor itu atau hanya sekedar sedikit memberontak. Semua pasang mata memandang pemandangan yang berada tepat dihadapannya. Memandang wajah yang tertunduk tak berkutik sedikitpun. Hal itu tentu membuat beberapa siswa melototkan matanya karena terkejut, dan beberapa siswa pula menampilkan wajah yang biasa-biasa saja.
"Apa kabar denganmu, Arif."
Arif alias Talita pun terkejut karena namanya disebutkan oleh ketua geng motor itu. Talita pun sedikit mengangkat wajahnya ke arah ketua geng motor itu berharap akan mengenalinya. Melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Talita, ketua geng motor itu mengerti maksudnya.
"Kau ingin melihat wajahku Rif? Benarkah?"
__ADS_1
Ucap ketua geng motor itu seraya menyedakepkan kedua tangannya. Semua siswa kelas X IIS 1 Favorit pun melihat tajam pemandangan yang berada di hadapannya itu. Seolah-olah tidak ingin melewatkan kejadian sekecil apapun. Ketika semua siswa yang sedang berlabuh dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba...
"DORRRR..."
"DORRR..."
"DORRR..."
Suara tembakan pistol mengudara tiga kali di gedung itu. Hal itu membuat semuanya menutup telinga rapat-rapat. Dan beberapa siswa menutup wajahnya, tidak sanggup melihat apa akibat dari suara tembakan pistol itu.
Setelah bunyi tiga kali tembakan pistol itu selesai, semua anggota geng motor itu membuka helmnya. Melihat siapa yang berada di balik helm itu, semua mata memandang sangat terkejut. Belum hilang rasa keterkejutan semua yang berada disitu, ketua geng motor itu membuka helm nya perlahan.
"Apa?! Kak Ziban?! Bagaimana mungkin?!"
Secara tidak sadar Talita mengungkapkan keterkejutannya. Begitupun dengan semua yang melihat pemandangan itu. Rupanya yang menculik paksa semua siswa kelas X IIS 1 Favorit tidak lain tidak bukan ialah Ziban Alkash dan semua anggota kepengurusan OSIS di MAN 102 Bandung termasuk Rinta Selviana.
"Ada apa Rif? Kau terkejut?"
Tiba-tiba getar notifikasi email masuk bergetar di handphone Ziban. Membuat semua siswa tawanan yang berada disitu sedikit dapat menghela nafas.
Selamat siang, Tuan Ziban.
Maaf mengganggu waktu anda tuan. Ini dari pihak rumah sakit tempat Andin Raharga dirawat. Kami telah memeriksa Andin Raharga berulangkali, tuan. Dan hasil riset pun menunjukkan bahwa Andin Raharga mengalami stress yang berlebihan. Mungkin saja ada beberapa hal yang membuat pikiran, batin dan hati Andin Raharga yang selalu berperang. Hal itu membuat daya tahan tubuh Andin Raharga sangat lemah hingga mudah sekali pingsan. Saran kami, mempertahankan supaya Andin Raharga selalu berbahagia adalah salah satu kunci kesehatan untuknya.
Terimakasih.
Hormat kami,
Para dokter perawat Andin Raharga
Setelah membaca isi email yang masuk di handphone nya, Ziban Alkash membanting keras handphone nya persis di depan Talita hingga handphonenya pecah ke sembarang arah.
__ADS_1
"Puas kau membuat Andin bertambah menderita hah?!"
Gertak Ziban kepada Talita. Talita pun hanya tertunduk dalam karena malu.
"Cepat katakan kepada mereka bahwa kau yang memfitnah Andin dengan memasang fotoku dan fotonya di papan pengumuman kemarin!!"
"Iya kak, aku mengakui.." (jawab Talita lirih)
Betapa terkejutnya beberapa siswa yang mendengar ungkapan dari Arif. Padahal Arif dan Andin terlihat selalu dekat di manapun mereka berada. Dimana ada Andin disitu ada Arif. Siapa sangka teman dekat Andin di sekolah justru yang menghianati pertemanannya dengan memfitnah Andin yang tidak-tidak. Siapa sangka teman dekatnya justru yang membuat Andin dirundung semua siswa.
"Apa yang kau dapatkan dengan memfitnah temanmu sendiri hah?!"
"Haha rupanya kau benar-benar tidak tahu malu ya. Apa kau ingat kau dan Andin juga memiliki rahasia tentangmu?"
Ucapan Ziban membuat Talita mengingat sesuatu. Ya, rahasia mengenai dirinya bahwasanya ia adalah seorang perempuan. Hal itu hanya diketahui oleh Andin dan Zidan Haq saja.
Bagaimana Kak Ziban mengetahuinya? Apa dia juga mengetahui bahwa semua ini kulakukan hanya untuknya? (batin Talita berkecamuk)
"Kau benar-benar sangat hebat dalam beperan sebagai temannya Andin. Seharusnya kau mendapat penghargaan teman tidak tahu diri, haha."
"Padahal Andin selalu menjaga rahasiamu karena dia memang benar-benar menganggap mu sebagai temannya. Betapa malang nasib Andin. Apa yang akan dia pikirkan jika nanti ia mengetahui temannya sendirilah yang memfitnah dirinya dan sampai membuat dirinya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit."
Ungkap Ziban getir. Mendengar ungkapan Ziban Alkash, semua teman kelasnya Andin terlihat sangat bersalah. Lalu mereka semua berteriak meminta maaf secara bergantian kepada Ziban Alkash termasuk yang membuat Andin terjatuh. Mendengar ungkapan permintaan maaf, Ziban kembali tersenyum getir.
"Sekretaris Chan, cepat lakukan tugas mu."
Tiba-tiba Sekretaris Chan hadir di tengah-tengah antara mereka dengan membawa catatannya.
Semua yang berada di gedung itu terlihat bingung dan bergidik ngeri dengan kehadiran sesosok sekretaris yang bertubuh tinggi dan tegap. Yang paling terlihat ketakutan tentunya adalah Talita. Ia hanya berharap Sekretaris Chan tidak akan bertindak diluar dugaan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1