
"Kau tidak sedang bercanda kan Andin sayang?"
Kalimat itulah yang pertama kali terlontarkan oleh Helen setelah mendengar Andin mengatakan bahwa ia sudah dijodohkan. Sepertinya Helen masih saja menganggap Andin sebagai gadis yang penuh dengan humor di segala situasi.
"Ah Tante, untuk apa aku berbohong? Jujur saja pertama kali Andin mendengar hal itupun sempat tidak mengira dan sempat tidak percaya."
Helen terdiam sejenak. Ia tengah mencerna kalimat yang baru saja ia dengar sendiri dari Andin.
"Apakah kau akan menerima perjodohan ini dengan senang hati, sayang?"
"Aaah Tante Helen, ceritanya sangatlah panjang. Biar aku ceritakan dahulu mengenai kisah ku kepadamu Tante, biar kau dapat memberi ku saran terbaik. Kan sudah Andin bilang, Andin sedang bimbang. Untuk saat ini Andin benar-benar tidak tahu apa mau hatiku yang sebenarnya Tante."
Helen menyunggingkan senyuman. Dari sedikit yang ia dengar tadi, sepertinya ia sudah bisa sedikit memahami kegelisahan Andin.
"Baiklah Andin, Tante mengetahui kegelisahan mu. Ya, bagaimanapun kan kau masih sangatlah labil."
Helen menahan tawanya, sedangkan Andin memasang wajah cemberut.
"Ah Tante, jangan meledekku."
"Iya maafkan Tante ya. Hemm, sekarang katakan pada Tante, seperti apa laki-laki yang dijodohkan denganmu itu?"
Andin membisu. Sepertinya Helen memang harus memancing nya untuk kali ini.
"Apa dia tampan?"
Andin menggelengkan kepalanya. Itu tandanya laki-laki yang dijodohkan dengan Andin tidaklah tampan. Rupanya Helen berhasil memancing Andin tanpa membuatnya kerepotan untuk mencari cara lain agar Andin mau bercerita. Helen memang pintar membaca situasi apapun.
"Hemm..." (Helen terlihat berfikir)
"Jika laki-laki yang dijodohkan denganmu itu tidaklah tampan, maka itu berarti dia..." (Helen kembali menggantung kan kalimatnya)
"Berarti dia sangat-sangat tampan kan? Bukan begitu?"
Andin benar-benar dibuat geli dengan tingkah Tante Helen kali ini.
"Ah sudah cukup Tante. Kau tidak perlu menebak-nebak seperti itu."
"Memangnya kenapa? Tante kan memang belum diberitahu olehmu, jadi tentu saja Tante hanya bisa mereka-reka."
"Ahaha, karena dugaan mu memang tidak pernah salah Tante. Jadi, kau tidak perlu mengatakannya kepadaku dengan meminta pembenaran dariku ini."
Helen tersipu malu mendengar pujian Andin.
"Eh Tante, katakan dahulu darimana Tante mengetahui bahwa laki-laki itu sangatlah tampan?"
__ADS_1
"Kau ini ya. Tentu saja Tuan Arga Raharga tidak akan mungkin menjodohkan putri tunggalnya dengan orang sembarangan. Dan besar kemungkinan laki-laki itu adalah jelmaan malaikat dan sejenisnya."
Andin terkekeh mendengar dugaan Helen kali ini.
Ya Tante, kau benar. Dia adalah malaikat. Itu dugaan ku selama ini. Dan apakah kau tahu Tante? Aku pun telah lama memuja malaikat itu. Tetapi apa kau tahu juga Tante? Tiba-tiba satu lagi malaikat datang untukku yang ternyata telah lama berada di dekatku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dengan hatiku kali ini.
Andin kembali teringat dengan kata-kata Raditya beberapa tahun yang lalu.
"Aku yakin, kau mengerti arah pembicaraan ku. Aku yakin, kau mengerti maksudku. Selebihnya, biar kau ingat-ingat sendiri."
Apa maksud dari ucapannya? Memangnya apa yang telah aku lupakan selama ini? Ada apa denganku, hingga aku harus mengingat-ingat kembali. Dan, apa yang harus ku ingat? Memangnya aku sepikun itu? Apa Kak Raditya hanya asal berbicara tanpa adanya maksud sedikitpun ya? Tetapi hal itu sangat sulit dipercaya. Pada saat itu ia terlihat penuh dengan keseriusan tingkat tinggi. Ah, entahlah.
Begitulah pertanyaan-pertanyaan yang selalu hanya berputar di benak Andin selama ini. Tidak ada yang berusaha memberitahu nya sedikitpun. Bahkan hanya sekedar kode kecil pun nihil. Ujung-ujungnya Andin hanyalah berpasrah diri. Berdecih, lalu mengembuskan nafasnya.
"Ah, sudahlah."
"Ah, entahlah."
Selalu saja seperti itu.
"Andin sayang, mengapa kau diam saja nak? Tante minta maaf jika ucapan Tante menyinggung perasaan mu nak." (ucap Helen membuyarkan lamunan Andin)
"Aaaa sama sekali tidak Tante. Terimakasih telah menyadarkan Andin dari lamunan hehe."
"Ehehe, maafkan Andin Tante."
"Ah, sudahlah. Cepat ceritakan apa yang ingin kau ceritakan pada Tante."
Andin memasang wajah yang muram.
"Aku akan menceritakan kepada Tante tatap mata langsung saja. Tidak di panggilan video seperti ini."
"Baiklah sayang. Tante menunggu ceritamu itu ya. Ingat itu."
"Iya, iya Tante."
"Ibuuu?!"
"Ibuuuu, handphone Rossie sudah atau belum?!"
Terdengar teriakan Rossie. Helen dan Andin pun tertawa terpingkal-pingkal sebelum akhirnya mereka menyudahi panggilan videonya dan kembali dengan kegiatan mereka masing-masing.
Setelah obrolan dengan Helen berakhir, Andin menghempaskan tubuhnya di kasur susunnya. Kasur yang tidak terlalu empuk. Tidak seperti kasur Andin yang berada di istana rumahnya. Ya, Andin sudah terbiasa akan hal itu. Menghembuskan nafas beratnya berkali-kali. Rasanya banyak sekali sesuatu yang mengganjal. Banyak sekali sesuatu yang membuat dirinya semakin bimbang apa yang harus diputuskan.
Huft, sepertinya Ummi juga tidak menyukai hubungan ku dengan Ustad Zidan. Ah ya, tentu saja ini ada kaitannya dengan Mbak Zulfia. Ummi kan sempat menjodohkan nya dengan Mbak Zulfia. Ah ya, aku harus menemui Mbak Zulfia lagi.
__ADS_1
Andin merapikan kerudungnya dan berjalan pelan menuju dapur. Zulfia memang selalu saja memiliki kesibukan di tempat itu. Dan itu adalah kemudahan tersendiri bagi siapapun yang tengah mencarinya.
"Mbak Zulfia?"
Andin memanggil Zulfia yang terlihat sedang mencuci piring di wastafel. Zulfia pun menanggapi panggilan Andin tanpa memberhentikan pekerjaannya itu.
"Mbak, bisakah kau menunda pekerjaan mu dulu? Ada sesuatu yang sangat penting yang perlu ku bicarakan denganmu Mbak Zulfia."
"Sesuatu yang penting seperti apa memangnya? Katakan saja sekarang. Disini tidak ada siapapun."
Zulfia masih tak memberhentikan pekerjaannya itu. Sedangkan Andin melihat ke kanan kirinya. Yang dikatakan oleh Zulfia memang benar adanya. Tidak ada siapapun di dapur itu kecuali mereka berdua.
Ah, ya. Yang dikatakan olehmu memang benar. Tidak ada siapapun disini kecuali kita berdua. Tetapi bisakah kau lihat mataku sebentar saja?! Kau bahkan sejak tadi berbicara tanpa melihat ku yang berada di samping mu seperti ini. Lalu bagaimana aku dapat berbicara serius?!
Tiba-tiba Andin memiliki ide untuk membuat Zulfia meliriknya. Ide yang tidak ia pikirkan sebelumnya. Bahkan yang jarang ia lakukan, apalagi di rumahnya.
"Andin, apa yang kau lakukan?! Sudah hentikan." (ucap Zulfia)
Andin tidak menggubris perkataan Zulfia. Ia tetap saja membantu Zulfia menyelesaikan pekerjaan nya dalam mencuci piring.
"Andin, tolong hentikan. Ini adalah tugasku."
Kali ini Andin menuruti Zulfia. Dan kali ini juga mata Zulfia dan Andin saling tatap. Tentu hal itulah yang sejak tadi Andin inginkan. Andin pun tidak ingin melewatkan hal itu.
"Mbak Zulfia, ayolah kumohon beri aku waktu untuk berbicara hal yang serius denganmu, kumohon."
Andin mengangkat dan menelungkup kan kedua tangannya di depan wajahnya. Ia tengah memohon-mohon kepada Zulfia. Kali ini ia harus mendengar secara langsung apa yang ingin ia dengar dari nya selama ini. Sedangkan Zulfia memandang Andin lamat-lamat. Sepertinya ia sudah memahami tujuan Andin sejak tadi.
"Ku mohon Mbak Zulfia, kali ini jawablah pertanyaan ku."
Zulfia mengembuskan nafasnya pelan.
"Apa ini mengenai pertanyaan yang sama, seperti sebelum-sebelumnya?"
Andin menganggukkan kepalanya pelan.
Zulfia membersihkan telapak tangannya di wastafel. Lalu ia mengeloyor pergi meninggalkan Andin.
"Oh ya, kau tadi mau membantu ku mencuci piring kan? Selesaikan cuci piringnya."
Andin meneguk salivanya. Sudah berkali-kali ia berusaha. Sudah berkali-kali ia membujuk Zulfia untuk menjawab apa yang ingin ia dengar. Kali ini ia sudah pasrah. Rasanya sangat lelah jika harus terus seperti ini.
Aku hanya ingin menanyakan kepadamu, apakah yang dikatakan Meta adalah benar? Mengapa kau menyuruh Meta untuk melarang ku berhubungan dengan Ustad Zidan? Apakah kalian berdua hanya sedang cemburu kepadaku karena Ustad Zidan pada akhirnya memilihku?
BERSAMBUNG...
__ADS_1