
"Benar-benar tidak sopan!" (gerutu Andin)
Andin membereskan semua sisa-sisa. Lalu ia membuangnya di tempat sampah. Tentunya masih dengan gerutu yang sama. Ketika ia sedang berjalan tanpa arah, tiba-tiba seseorang mencekal tangannya dari belakang. Andin sontak melotot karena takut yang mencekal dirinya adalah salah satu anak buah dari papahnya. Tanpa menoleh ke belakang, melihat siapa yang tengah mencekal nya, ia pun seketika memberontak dan berlari tanpa arah. Orang tadi pun berusaha mengejarnya.
"Andin, tunggu,"
"Jangan takut."
Andin tak mengindahkan ucapan seseorang yang tengah mengejarnya itu. Kali ini misinya adalah kabur dari siapapun yang akan membawa dirinya pulang kembali ke rumah.
"Andin..."
"Ku mohon berhentilah berlari."
"I-ini aku..."
"Zidan Haq.."
Andin pun berhenti seketika menyadari yang tengah mengejar dirinya tidak lain tidak bukan ialah Zidan Haq semata. Zidan Haq berhasil menyusul Andin yang memang sengaja berhenti.
"Kau berlari cepat sekali." (ucap Zidan sembari mengontrol nafasnya)
"Kenapa anda mengejar ku."
"Ya karena kau berlari."
"Oh begitu."
"Lalu, kenapa anda bisa ada disini?"
"Hanya kebetulan saja."
"Baiklah."
Andin kembali berjalan pelan tanpa arah. Zidan menyeimbangi langkahnya.
"Emm, kau sedang apa disini?" (tanya Zidan)
"Jangan berpura-pura."
Zidan terdiam sejenak. Ia tak dapat menyela perkataan Andin kembali. Tentunya Andin sedang mengira bahwa kedatangan Zidan memang untuk membujuk rayu dirinya untuk mau pulang ke rumahnya. Ya, dan dugaan Andin memang benar adanya. Dan mengapa Zidan dapat mengetahui lokasi keberadaan Andin, tentu karena memang ia telah melacak ponselnya. Dan itu adalah hal yang sangat mudah ia lakukan.
"Apa kau marah, kepadaku, Ndin?"
"Tidak."
"Lalu, kenapa kau diam saja."
"Sedang tidak ingin berbicara."
Diam sesaat. Zidan masih saja mengimbangi langkah Andin.
"Andin,"
"Kita, pulang ya?"
"Anda pulang saja sendiri."
__ADS_1
Hening kembali. Suasana keheningan malam turut mendukung suasana hati Andin kali ini.
"Andin,"
Zidan memegang lengan Andin agar ia menghentikan langkahnya itu. Lalu ia menurunkan lutut nya dan segera berlutut di hadapan Andin. Tentu Andin tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Zidan Haq. Zidan mengambil sesuatu di saku jas nya. Andin terperangah melihatnya.
"Setidaknya pulang lah demi diriku ini." (ucap Zidan lembut)
Andin masih tidak dapat mengungkapkan sepatah katapun.
"Will you marry me, Andin Raharga?"
Semua organ di dalam tubuh Andin seperti lepas dari tempatnya masing-masing. Itulah yang ia rasakan saat ini. Lemas tak karuan. Rasa ingin pingsan karena saking berbahagianya diri.
"Kau bersedia melahirkan anak-anak yang cantik untuk ku?" (ucapnya lagi)
Andin mengangguk dan tersenyum malu. Pipinya kali ini benar-benar bersemu merah merekah. Untung saja, hanya beberapa kerlip lampu lah yang menyorot ke arah mereka.
"Terimakasih banyak." (ucap Zidan tersenyum puas)
Zidan memakaikan cincin berlian di jari manis Andin dengan penuh penghayatan. Lalu ia merengkuh tubuh Andin di dalam pelukannya. Andin sebenarnya sangat terkejut. Tetapi, ia tetap menerima dan bahkan membalas pelukan hangat itu.
"Dan apa anda tidak meminta saya untuk melahirkan anak-anak yang tampan juga seperti anda?" (ucap Andin)
"Itu jika kau sudi melahirkan nya untuk ku."
"Ahaha, tentu saja."
"Dan tolong hilangkan sebutan anda dan saya jika berbicara dengan ku."
"Emm, tapi itu agak susah karena tidak terbiasa."
"Lalu saya, eh aku harus memanggil anda. Emm, memanggil mu apa?"
Zidan mempererat pelukannya.
"Panggil saja, suamiku sayang."
Andin terkekeh geli mendengar ucapan Zidan Haq. Tetapi ia tidak menyanggah ucapannya. Ia hanya ingin merasakan pelukan hangat darinya.
Terimakasih, tuhan. Semoga ini adalah yang terbaik.
Sedangkan di balik pohon di tepi danau itu. Seseorang tengah menahan sesak di dadanya sejak tadi. Menahan berjuta rasa kecewa yang berkecamuk dalam dirinya. Rasa yang muncul setelah menyaksikan pemandangan di depannya itu. Tidak ada air mata yang keluar dari kelopak matanya yang nyaris sempurna itu. Hanya batinnya lah yang mengatakan bahwa kali ini ia benar-benar tidak kuat. Kali ini ia benar-benar tidak sanggup menjalani hidupnya lagi di sekeliling keluarganya. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat terakhir untuk segala keluh kesahnya, justru tidak pernah dan tidak akan pernah seperti itu. Orang itu terlihat mengambil ponselnya lalu mengetikkan pesan kepada seseorang.
"Aku akan melanjutkan pendidikan dan berkarir di luar negeri untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Urus keberangkatan ku dan segala keperluan ku di luar negeri nantinya. Kau ikut denganku. Aku sudah memutuskan, dan kau tidak perlu bertanya sedikitpun."
Pesan terkirim.
"Baik, Tuan Muda Ziban."
Pesan langsung dibalas dari seberang.
Kau selalu ada disaat semua suka duka ku dan bahkan saat di titik terberat ku sekalipun, Sekretaris Chan.
......................
"Andin sayang..."
__ADS_1
"Andin...."
"Tenanglah, mah."
Arga mengelus kepala Kumala. Berusaha menenangkan istrinya itu yang tengah menangisi putrinya yang pergi entah kemana.
"Sudah mah, sudah. Andin pasti mau pulang, nantinya." (ucap Arga)
Kumala masih saja tenggelam dalam sesenggukan nya. Tiba-tiba seseorang membunyikan bel rumahnya. Pelayan rumahnya hendak membuka pintu tetapi dengan sigap Arga melarangnya. Ia mengatakan ia yang akan langsung membukanya.
"Bagaimana?!" (ucap Arga)
Itulah kata pertama yang diucapkan oleh Arga ketika melihat beberapa anak buahnya yang telah kembali.
"Ma-maaf tuan."
"Apa kalian belum menemukan puteriku?!"
Hanya gelengan kepala saja yang terlihat dari semua jawaban anak buahnya itu.
"Apa gaji yang ku beri kepada kalian tidak cukup, hah?!"
"Ampuni kami tuan. Tadi tempat terdeteksi di sekitar danau kota. Tetapi tiba-tiba hilang begitu saja."
"Jangan beralasan apapun!!"
Arga menendang pintunya keras-keras dan hendak menutup pintu itu. Tetapi sebelum hal itu dilakukan oleh Arga, mobil yang sangat ia kenali terlihat masuk lewat pintu gerbang. Arga menyipitkan matanya dan keluar ingin melihat lebih dekat. Begitupun dengan Kumala. Ia tiba-tiba sudah berhasil menjejeri Arga.
"Siapa pah?" (tanya Kumala)
"Itu mobilnya Zidan, mah."
Dan benar saja yang diucapkan oleh Arga. Terlihat Zidan yang keluar dari mobilnya itu.
"Saya membawakan permata kalian." (ucap Zidan Haq)
Lalu Zidan Haq berlari kecil ke pintu mobil kirinya dan membukakan pintu itu. Arga dan Kumala masih menyaksikan siapa yang Zidan Haq maksud. Dan ketika Andin telah keluar, Arga mengembuskan nafasnya lega. Sedangkan Kumala berlari ke arahnya lalu memeluk erat dirinya.
"Andin sayang..."
Andin diam saja. Ia bahkan tak membalas pelukan mamahnya itu. Kumala masih belum menyadari nya.
"Mamah sangat merindukan mu, nak."
"Andin?"
"Jangan diam saja,"
"Kau merindukan mamah juga kan?"
Masih tidak ada jawaban dari Andin.
"Andin, sayang?"
"Andin? Apa yang terjadi."
Arga dan Zidan berlari ke arah mereka berdua. Membantu Kumala yang tengah menopang badan putrinya yang tak bergerak sedikitpun.
__ADS_1
BERSAMBUNG...