
Bulan demi bulan berlalu, kegiatan semua siswa berjalan dengan semestinya. Hari masuk sekolah, materi, tugas, praktek, ujian, hari libur, dan akan seperti itu seterusnya dalam bersekolah. Pelajar hanya berkewajiban berperan sebagai pencari ilmu yang sungguh-sungguh. Saling bersaing satu sama lain adalah hal yang lumrah dalam kehidupan. Yang membedakan adalah bagaimana cara seseorang dalam bersaing. Ada yang berusaha semaksimal mungkin dan dapat mengalah jika memang ditakdirkan untuk kalah, dan tidak sedikit pula yang akan melakukan segala cara untuk menjadi seorang pemenang.
Talita Arifa. Ia termasuk siswa yang ambisius dalam bersaing dengan yang lainnya. Tetapi tidak dengan Andin. Ia menjalankan kegiatan pembelajarannya di sekolah dengan sangat santainya dan tidak pernah sama sekali berambisi untuk menjadi yang terbaik. Ia memang selalu seperti itu. Dahulu Papah Arga lah yang selalu menekan Andin, tetapi tidak dengan saat ini. Yaa, Andin sedikit merasakan kebebasan setelah dipisahkan dengan keluarganya. Dan itu adalah hal yang selalu Andin sukuri, walaupun ada seseorang yang membelenggunya di sekolah.
"Ah, untung saja sebentar lagi Kak Ziban lulus dari sini. Yaa, tentu saja masa kontrak dengan iblis itu akan segera berakhir pula."
......................
Jam istirahat sekolah telah tiba. Terlihat siswa-siswa berlarian saling menabrak satu sama lain. Andin yang baru saja keluar dari kelasnya hendak sholat pun mengernyitkan keningnya melihat anak-anak berbondong-bondong berebut jalan.
Ada apa dengan mereka semua? Tidak biasanya mereka seperti itu. Ah sudahlah, toh bukan urusanku kan.
Andin berjalan dengan sangat santai menuju masjid. Tak terlalu penasaran dengan kehidupan orang lain adalah prinsip Andin.
Setelah selesai sholat dhuhur, seperti biasa Andin akan mencari makan siang.
Ketika Andin baru sedang memasang tali sepatu di depan masjid, terdengar geng perempuan membicarakannya.
"Lihatlah si Andin itu. Dia benar-benar tidak tahu diri sekali ya."
"Ah iya benar sekali. Katanya anak pesantren, tetapi kelakuannya seperti pelacur."
"Hahaha, dia hanya sok baik saja kepada semua. Jangan-jangan semua laki-laki di goda olehnya, ups!"
Obrolan mereka bertiga diakhiri dengan gelak tawa dan wajah penuh keprihatinan menatap Andin yang masih terdiam berdongkok memasang tali sepatunya.
Andin yang sejak tadi diam saja mendengar obrolan mereka, tiba-tiba mengepalkan tangannya lalu bangun mendekati geng perempuan tadi. Seketika Andin mendorong mereka semua dengan sangat keras hingga terjatuh.
"Apa yang sedang kalian bicarakan hah?!" (gertak Andin dengan emosi yang tersulut)
Mereka bertiga segera bangkit dari jatuhnya akibat dorongan keras Andin.
__ADS_1
"Ya, syukurlah jika kau merasa. Kami tidak perlu lagi menjelaskan secara rinci." (kata salah satu dari mereka bertiga dengan menyeringai)
Mendengar jawaban yang memancing emosi Andin kembali, Andin mendekat mengulas senyum yang sangat di buat-buat lalu sejurus dengan itu Andin menggeram dan kemudian mencengkeram leher yang mengatakan Andin pelacur tadi.
Tentu saja mereka sangat panik dengan hal yang tak terduga seperti itu. Teman gengnya yang lain sedikit memberi perlawanan kepada Andin. Tetapi kali ini Andin jauh lebih kuat, mungkin saja karena emosinya yang sedang bertahta menguasai dirinya.
"Katakan apa maksud perkataan mu tadi?!" (tanya Andin yang masih mencengkeram lehernya)
Yang dicengkeram lehernya pun segera memberi kode kepada kedua temannya untuk cepat mengatakannya. Mereka berdua pun segera memahami maksud kode dari temannya yang sedang dicengkeram oleh Andin.
"Ah, ayolah Ndin lepaskan dia terlebih dahulu. Apa kau tidak kasihan jika nafasnya terputus?"
"Iya Ndin, benar. Dia itu sudah seringkali berbuat dosa, jadi biarkan dia bertobat dahulu." (kata temannya yang lain)
Perkataan pembelaan dari mereka berdua, sontak membuat yang sedang Andin cengkeram tadi melototkan matanya ke arah temannya itu. Mereka berdua sedikit cengengesan lalu menjawab pertanyaan Andin tadi.
"Kami hanya melihat rumor tentang mu saja Ndin, sungguh."
"Rumor?" (Andin terlihat kebingungan)
Andin pun segera melepaskan cengkeramannya, yang dilepaskan pun sedikit terbatuk-batuk sambil memegang lehernya.
"Kau bisa lihat sendiri di papan pengumuman, Ndin."
Tanpa menunggu waktu lagi, Andin langsung menuju tempat yang dibicarakan mereka tadi. Ketika Andin telah pergi, mereka bertiga mendengus kesal padanya. Terlebih dengan salah satu dari mereka yang dicengkeram Andin tadi.
"Berani-beraninya dia mencengkeram leherku sangat erat seperti itu, apa dia tidak tahu seberapa berharganya diriku ini? Cih!"
Dua temannya yang lain menanggapinya dengan penuh emosi pula. Karena baru kali ini ada yang berani mengancam geng terkenal mereka.
Dalam perjalanan Andin menuju tempat papan pengumuman MAN 102 Bandung, terlihat semua anak-anak memandangi Andin dengan tatapan yang aneh. Hal itu membuat Andin semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi mengenainya.
__ADS_1
Andin mempercepat langkah, tanpa melirik ke kanan kiri. Beberapa kali pula ketika Andin melewati segerombolan anak-anak, mereka melempar botol bekas kepadanya. Tentu hal itu sangatlah membuat Andin sakit hati. Tetapi Andin tidak peduli, ia terus mempercepat langkah. Karena dalam dirinya saat ini hanyalah mengetahui apa yang sedang terjadi adalah hal yang paling utama.
Ketika sampai tepat di papan pengumuman MAN 102 Bandung, betapa terkejutnya Andin ketika melihat pemandangan yang berada di depannya itu. Seketika Andin terpuruk lemas ke lantai, mengusap kepalanya frustasi beberapa kali.
Siapa yang tega membuat ku malu seperti ini?! Memangnya apa salahku padanya?!
Jeritan hati Andin meluap-luap seraya melepas foto cetak berukuran besar bertuliskan "Hati-hati, wanita penggoda" yang menempel di papan pengumuman. Foto yang terlihat sangat jelas sedang memijat kaki Ziban Alkash di ruang rahasia yang terdapat di perpustakaan sekolah.
Rasanya aku sangat ingin bercerita kepada si kaku tampanku mengenai hal ini. Ia pasti bisa membantuku jika aku berkata jujur padanya. Tetapi apa yang harus ku lakukan? Ia sedang ada urusan di luar negeri selama beberapa waktu. Aku harus menemui Kak Ziban untuk meminta pertanggungjawaban nya. Bagaimana pun ini bersangkutan dengannya kan? Dan mengapa semua anak-anak bahkan hanya mengucilkan ku saja? Bagaimana dengan Kak Ziban? Memangnya apa salahku hingga seseorang telah memfitnah ku seperti ini? Apakah kali ini dia sedang merayakan kesuksesannya setelah membuatku malu seperti ini?
Andin tertunduk kembali ke lantai, terlihat Andin yang menitikkan air mata dan menahan sakit dalam dadanya. Sakit sendiri, tanpa ada yang memahami keadaannya bahkan orangtuanya sekalipun.
"Apakah papah senang melihat ku jauh dari keluarga dan sengsara seperti ini?"
"Apakah mamah akan mengulurkan tangannya kepadaku ketika mengetahui putrinya sedang dirundung?"
"Harusnya papah dan mamah membunuh ku saja sejak aku lahir ke dunia ini. Itu akan jauh lebih baik."
Andin mulai sesenggukan dalam sepinya. Tak ada satu tempat pun yang terbuka untuknya bercerita, untuknya berbagi duka, untuknya melawan asa.
Seseorang tiba-tiba memeluk Andin dari belakang lalu mengusap air matanya.
"Andin, sudah jangan bersedih. Aku tahu kau tidak bersalah. Kau masih punya aku. Aku yang selalu bersamamu. Aku yang selalu mendukungmu. Aku yang selalu menggenggam erat tangan mu kala kau butuh aku."
Andin membalikkan badannya. Lalu segera membalas pelukan Talita erat dengan sesenggukan karena tak kuasa menahan rasa sakit yang membuncah dalam dadanya.
"Berjanjilah kau tidak akan merundungku seperti teman-teman yang lainnya, Talita. Hanya kau teman satu-satunya yang aku miliki sekarang."
Terlihat Talita yang tersenyum dan mengusap punggung Andin untuk sedikit menenangkannya.
"Tentu saja, Ndin."
__ADS_1
Dibalik bilik ruangan itu pula, berdiri seseorang yang tengah mengepalkan tangannya lalu menggeram keras sebelum ia meninggalkan ruangan itu.
BERSAMBUNG...