Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Kerinduan Rossie


__ADS_3

Hujan deras mengguyur kota Surabaya. Malam yang begitu mencekam bagi para insan yang kesepian. Keluarga yang tidaklah utuh membuat beberapa insan merindukan kehangatan yang sempat hilang. Seperti seorang gadis yang tengah meringkuk di bawah selimut tebalnya. Sejak tadi ia terlihat tengah memejamkan matanya, tetapi sungguh ia tidak sedang berusaha tidur. Sepertinya ada sesuatu yang membuat gadis itu berkelana liar dalam pikirannya.


Suara pintu kamar terbuka terdengar jelas di gendang telinga gadis itu. Ia semakin merapatkan kedua matanya setelah mengetahui siapa yang datang. Ibunya. Ya, siapa lagi? Siapa lagi kalau bukan ibu ku? Benak gadis itu. Setiap malam ibunya memang selalu masuk ke kamarnya untuk melihat putrinya sudah tidur apa belum. Jika ia mengetahui bahwa putrinya telah terlelap tidur, maka ia pasti akan selalu mengelus rambut putrinya dan tidak lupa untuk mendaratkan kecupan hangat di kening putrinya itu.


Begitupun dengan malam ini. Ketika ia sudah menjalankan ritualnya sebagai ibu si gadis, ia segera berbalik badan untuk kembali ke kamarnya. Tetapi tiba-tiba tangan gadis itu berhasil mencekal lengan ibunya untuk tidak segera beranjak.


"Mengapa kau terbangun sayang, ada apa?" (ujar si ibu lembut)


"Bisakah ibu tidur bersama Rossie malam ini saja?"


Rossie bertanya kembali kepada ibunya yang tidak lain tidak bukan adalah Helen. Helen pun tersenyum lalu kembali duduk di samping putrinya.


"Memangnya ada apa sayang? Tumben sekali putri ibu kekanakan seperti ini." (kata Helen sembari mencubit pelan hidung Rossie)


"Bu, aku benar-benar merindukan ayah."


Helen tersentak mendengar ungkapan putrinya walaupun berkali-kali ia telah dengar dari rengekan putrinya itu. Tetapi ia harus berusaha berakting sebaik mungkin. Ini demi putrinya.


"Ibu kan sudah sering mengatakan kepadamu, jangan merindukan seseorang yang tidak pernah merindukan mu."


"Lalu bagaimana dengan kakak-kakak ku, bu?"


"Tentu saja kedua kakak mu itu sangatlah merindukan mu, sama seperti mu dan juga ibu."


"Bagaimana ibu tahu? Bukankah sudah tidak ada kabar dari mereka."


Helen tersenyum mendengar pertanyaan putrinya. Ia tahu sekali apa yang harus ia katakan di hadapan putrinya itu. Ia tahu apa yang harus ia jelaskan agar putrinya memahami dan mau mengerti.


"Sayang, Kau ingat apa yang terjadi padamu beberapa hari yang lalu nak? Tiba-tiba ibu datang menemui mu yang tengah gelisah kan? Begitupun dengan kakak-kakak mu. Ibu mengetahui hati anak-anak ibu semuanya. Ibu mengetahui karena ibu memiliki ikatan batin yang kuat dengan kalian."


Rossie mengangguk paham mendengar tutur kata ibunya itu. Ibunya memanglah benar. Beberapa hari yang lalu Rossie memang tengah gelisah ketika berjalan sendirian di jalanan yang sepi di sore hari. Ia merasa ada yang membuntuti nya dari belakang. Dan benar saja dugaannya, ketika ia membalikkan badannya, ia melihat sesosok preman yang begitu menakutkan. Ia pun segera melangkahkan kakinya cepat, berusaha menemukan rumah penduduk terdekat. Selang beberapa waktu, tiba-tiba mobil yang amat Rossie kenali menghampiri nya. Ia benar-benar bersyukur karena yang datang adalah ibunya sendiri.


"Itu karena ibu merasakan akan ada sesuatu yang menimpa mu, sayang. Makannya ibu menyusul mu. Sekuat itulah hubungan batin antara ibu dan anak. Begitupun dengan kedua kakak mu. Ibu sangat tahu, mereka pun sangat merindukan mu, dan juga ibu. Kau tak perlu menanyakan alasannya pada ibu, tentu saja ini adalah karena kekuatan antara ibu dan anak yang sangat kuat dan susah di jelaskan. Kau paham sekarang sayang?"


"Maafkan Rossie, ibu."


Rossie memeluk ibunya hangat. Helen pun membalas pelukan putrinya itu.


"Ziban dan Zidan pasti nanti akan sangat terkejut jika melihat adiknya sekarang yang ternyata telah tumbuh menjadi gadis dewasa seperti ini."


Helen mengacak lembut rambut putrinya yang terurai.

__ADS_1


Aku sayang ibu, bahkan sangat-sangat sayang...


......................


"Kau mau lanjut kemana setelah ini Ndin?"


Tanya Riani yang memang hanya sedang berdua dengan Andin di kamar nya, kamar C12.


"Ah, bagaimanapun juga keputusan ku tidak akan pernah disetujui oleh papah ku."


"Ah jadi begitu ya? Kau selalu menuruti kemauan papahmu rupanya."


Andin hanya mengedikkan bahunya acuh.


Hemm, ya seperti itulah kehidupan menyedihkan ku. Semua tidak akan mengetahui penderitaan ku.


"Lalu liburan kali ini apa kau tidak akan pulang seperti tahun-tahun sebelumnya, Ndin?" (tanya Riani lagi)


"Entahlah nanti, lalu kau bagaimana? Akan tetap di asrama ini atau pindah ke tempat lain?"


"Kebanyakan keluar dari sini Ndin. Begitupun denganku dan kembaranku nantinya. Tentu saja karena dengan alasan melanjutkan pendidikan dan mencari tempat tinggal yang lebih dekat."


"Ah iya, baiklah. Terserah denganmu saja."


Tiba-tiba aku ingin menghubungi seseorang.


Andin meraih handphone nya. Ia memanggil seseorang dengan panggilan video. Panggilan langsung terjawab dari seberang sana. Sepertinya seseorang yang Andin panggil itu memang tidak pernah memiliki kesibukan saja. Begitu maki Andin kepada Rossie.


"Hem hem hem, ada yang menghubungi ku setelah sekian lama. Pasti ada maunya nih."


Andin cengengesan mendengar ungkapan menohok dari temannya itu.


"Ahaha, kau tahu saja."


"Hem, aku memang selalu berbaik hati kepada siapapun. Tetapi kali ini aku tidak akan berbaik hati kepadamu. Daaaah, aku matikan panggilannya dulu."


"Aaaaa Rossie, kumohon jangan seperti itu. Ayolah, biarkan aku berbicara denganmu sebentar saja, ya?"


"Berbicara denganku atau dengan ibuku?" (Rossie menyeringai)


Lagi-lagi Andin hanya bisa cengengesan saja. Ya, tentu saja karena dugaan Rossie padanya memang tidak pernah salah.

__ADS_1


"Hehe ayolah Rossie, biarkan aku berbicara dengan Tante Helen."


Tanpa menanggapi ucapan Andin kembali, terlihat Rossie yang berjalan pelan menuju ibunya yang tengah berada di dapur.


"Ibuuu, ada putrimu yang lain yang ingin berbicara denganmu Buu." (teriak Rossie)


Andin tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan temannya itu yang tidak pernah berubah sejak dahulu. Terlihat Helen yang meraih handphone uluran dari putrinya itu.


"Lihatlah Bu, gadis ini hanya akan menghubungi kita jika dia sedang butuh saja. Benar-benar tidak tahu malu."


Rossie mengerucutkan bibirnya. Ia terlihat cemberut yang sangat tidak dibuat-buat. Sedangkan Helen hanya menanggapi putrinya itu dengan menggelengkan kepalanya pelan. Tentu saja hal itu membuat Rossie semakin mengerucutkan bibirnya. Ia merasa bahwa ibunya pun tidak mendukung ucapannya kali ini.


"Hahaha lihatlah putri manja mu itu, Tante. Dia selalu cemburu kepadaku sejak dulu, dan sampai sekarang pun rupanya masih sama."


Andin semakin membuat Rossie semakin murka. Bahkan terdengar beberapa kali ia menggeram sebal.


"Sudah sudah. Kalian berdua itu selalu bertengkar. Katakan bagaimana kabarmu Andin sayang?"


"Kabarku selalu baik Tante. Bagaimana dengan Tante Helen?"


"Tante pun selalu baik nak."


"Apa tidak ada yang merepotkan mu selama ini Tante?" (Andin meledek Rossie)


"Hei! Apa maksudmu. Kau sedang menyindir ku ya?!"


"Hahaha, aku tidak mengatakan bahwa yang menggangu Tante Helen adalah kau kan? Itu kau sendiri yang mengatakan."


Rossie berdecih keras. Andin benar-benar puas mengerjai temannya itu. Untuk menghindari pertengkaran antara Rossie dengan Andin kembali, Helen pun menyuruh Rossie untuk kembali ke kamarnya. Akhirnya Rossie pun mengalah dengan menuruti kemauan ibunya.


"Awas saja kau, Andin!" (geram Rossie)


Setelah kepergian Rossie, Helen dan Andin pun terlihat tengah mengobrol santai. Hingga akhirnya Helen pun menanyakan apa maksud tujuan Andin yang ingin berbicara dengannya mengenai hal serius.


"Minggu besok Andin kan liburan Tante, apa boleh Andin pergi ke rumah Tante Helen saja?"


"Kau tidak perlu meminta izin tentang itu sayang. Pintu ini selalu terbuka lebar untuk mu. Lalu bagaimana dengan papah dan mamah mu?"


"Ah, sudahlah Tante. Jangan bicarakan mereka berdua. Ada sesuatu yang penting yang ingin ku ceritakan pada Tante Helen. Hanya kau yang dapat mengerti keadaanku. Ini mengenai..." (Andin menggantungkan kalimatnya)


Helen hanya terdiam. Ia menunggu kalimat yang akan diungkapkan Andin kembali.

__ADS_1


"Ini mengenai Andin yang sudah dijodohkan dengan seseorang, Tante Helen. Dan entah mengapa hatiku sedang merasa sangat bimbang. Yang tidak bisa di mengerti oleh diriku dan orang lain, kau mengerti itu semua. Maka dari itu Andin ingin meminta pendapat dari Tante..."


BERSAMBUNG...


__ADS_2