
Kala itu, dimana hanya ada awan kelam. Segala lika-liku menyedihkan yang bersemayam. Semua hal terlihat buram. Merenungi segala kehidupan yang terlewat di balik lampu temaram. Lagi-lagi, Tuhan memang tak akan mengecewakan atas kebaikan juga keikhlasan yang hambanya tanam.
Sepasang pengantin memandang satu sama lain. Saling menyiratkan kebahagiaan yang dirasakan. Hubungan percintaan yang tak seindah pasangan lain. Merasa kisahnya baru kemarin, dimana mereka bertemu setelah beberapa tahun. Menatap dalam-dalam seakan mereka saling membutuhkan. Saling memerlukan. Dan ya, saling merindukan.
Kisah percintaan yang sulit diceritakan. Kisah cinta mengesankan mereka yang terbayar atas nama kesabaran dan keikhlasan. Sungguh, siapapun akan terkesan.
"Astaga, apa kalian hanya akan saling pandang saja?! Lihatlah, kami sudah menunggu. Cepat lemparkan bunga pernikahannya."
Raditya mengucapkan keluhannya terhadap pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan. Sepertinya, ia sangat mewakilkan hati semua yang sudah menunggu sesi pelemparan bunga dari sepasang pengantin tersebut.
Mereka tentu berharap mereka lah yang berhasil menangkap bunga tersebut. Rossie dan Raditya berkerumun di antara mereka semua.
"Salah satu diantara kita, harus mendapatkan bunga itu. Lagipula, aku sudah meminta Ziban supaya melemparkan ke arah kita. Tenang saja, beb." (ucap Raditya)
Rossie tersenyum malu-malu.
"Kau sangat pintar, beb."
Sedangkan Meta duduk manis di kursi. Ia terlihat sangat percaya diri. Mengingat ucapannya kemarin pada sahabatnya.
"Kau berjanji akan mencarikan ku jodoh kaya, kan? Ah, kau tidak perlu repot-repot. Aku akan memberikan solusinya. Lebih baik, kau memberikan bunga pernikahan kalian besok, saja. Aku yakin, dengan hal itu, aku akan cepat mendapatkan jodoh terbaik."
Andin mengiyakan permintaannya. Hal itulah, yang membuat Meta merasa sangat percaya diri. Ia tidak perlu repot-repot berkumpul diantara mereka. Karena ia yakin, sahabatnya itu, akan menepati ucapannya.
Meta tersenyum licik sembari mengangguk-angguk. Melihat dengan tatapan nanar ke arah semua orang yang menantikan sesi tersebut. Ia tahu, hal itu adalah sia-sia.
Sepasang pengantin memegang bunga pernikahan mereka bersama. Saling menatap kembali.
"1...2...3..." (ucap Ziban dan Andin)
Deg!
Semua yang telah berkerumun menanti, terlihat sangat kecewa. Terutama Raditya. Sepasang pengantin tersebut berjalan pelan dengan bersama-sama. Ia hendak memberikan bunga tersebut secara langsung. Dan itu, melewati kerumunan yang sudah mengumpul. Raditya memonyongkan bibirnya.
Sialan, Ziban!
Sedangkan Meta merasa dirinya berada di atas awan. Ia merasakan, semua orang tengah memandangnya penuh keirian. Sepasang pengantin tersebut berjalan ke arah dirinya. Ia membenarkan posisi duduknya menjadi senyaman mungkin.
Rasakan kalian! Jangan berharap banyak. Andin itu sahabat ku. Lagipula dia sudah mengiyakan permintaan ku.
Meta berpura-pura tidak tahu. Sepasang pengantin tersebut semakin mendekat ke arahnya, ia mengambil minuman yang sudah disediakan. Ia mulai meminumnya.
"Uhuk!"
Meta tersedak. Ia membulatkan matanya.
Kurang ajar, Andin!
Dia melewati ku!
Meta menoleh ke belakang. Turut menyaksikan siapa yang hendak diberikan bunga tersebut. Begitupun dengan semua orang.
"Cepatlah menyusul." (ucap Ziban dan Andin bersamaan)
Sekretaris Chan sangat terkejut dengan Ziban dan Andin yang memberikan bunga pernikahan mereka. Tentu Sekretaris Chan tidaklah mengharapkan mendapat bunga tersebut. Tetapi, ia tetap mengucapkan terimakasih dengan sedikit tersenyum.
"Terimakasih tuan dan nyonya muda." (ucap Sekretaris Chan)
Semua acara telah terlewati satu demi satu. Semua tamu yang memang dari kerabat dekat saja, telah berpulangan. Saat ini, hanya tersisa keluarga inti saja, dan sahabat. Mereka semua tengah berkumpul di ruang tamu Keluarga Raharga.
Andin dan Ziban pun, sudah mengganti baju pengantin mereka. Mereka turun ke bawah setelah mengganti pakaian. Andin menyapukan pandangannya, melihat semua keluarganya.
__ADS_1
"Eh, mah, pah. Dimana Kak Diana, suaminya, juga anak-anaknya."
Andin celingukan mencari-cari mereka. Arga lah yang menjawab pertanyaan Andin.
"Hasan dan Husain tiba-tiba sangat rewel. Jadi, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah mereka."
Andin mengangguk memahami. Ziban menggandeng lengan Andin untuk duduk bersama mereka semua.
"Man, kalian seharusnya pergi honey moon saja. Aku bisa mencarikan tempat-tempat terbaik untuk honey moon." (ucap Raditya)
"Tidak perlu repot-repot, Dit. Semua sudah disiapkan." (ucap Ziban)
Semua orang terkejut dengan ucapan Ziban, terutama Andin. Ia mencubit perut Ziban dengan keras, hingga membuat Ziban meringis menahan sakit. Itu Andin lakukan, karena Ziban tidak memberitahu perihal rencana honey moon yang tengah dibicarakan, kepadanya. Tentu hal itu, membuat Andin kesal.
"Kemana, nak?" (tanya Kumala)
"Ke puncak, mah." (jawab Ziban)
Raditya menghembuskan nafasnya. Ia menyesali rencana Ziban, yang memutuskan untuk berbulan madu di puncak. Ah, lebih tepatnya iri.
Disana udaranya sangat dingin. Dia benar-benar mencari-cari kesempatan.
"Raditya, Rossie, dan Meta juga ikut ke sana. Kita sekalian akan liburan bersama. Lagipula papah sudah mengizinkan."
Ucapan Ziban membuat semuanya memandang Arga. Sedangkan yang dipandang, hanya mengedikkan bahunya, tidak ingin menjawab apapun.
"Sekretaris Chan, kau juga ikut."
Seketika Sekretaris Chan menolak dengan keras. Ia tentu tahu, konsep honey moon untuk sepasang pengantin baru itu. Karena, ia lah yang menyiapkan nya atas perintah Ziban. Tetapi, Ziban memaksa Sekretaris Chan untuk ikut. Akhirnya ia mengiyakan dengan sangat terpaksa.
Semuanya akhirnya ikut ke puncak, kecuali Kumala, Arga, dan Helen. Mereka tetap di rumah masing-masing.
Andin, Ziban, Rossie, Raditya, Meta, dan Sekretaris Chan pun segera bersiap-siap dengan cepat. Dengan target sampai di puncak, adalah sore hari. Tidak kurang, tidak lebih.
"Aku ini kekasihnya Rossie. Aku yang akan menjaganya." (ucapnya)
Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang menuju puncak. Mereka semua berada di dalam satu mobil yang sama. Bernyanyi-bernyanyi lalu tertawa. Hanya Sekretaris Chan saja yang masih berekspresi biasa-biasa saja. Andin mengirimkan pesan kepada Meta.
"Kau tahu, kenapa aku memberikan bunga pernikahan kepada Sekretaris Chan? Karena dia terlihat tertarik pada mu. Aku sudah menepati janjiku kan? Cepat atau lambat kalian akan saling suka lalu menikah. Bersiap-siaplah."
Meta seketika mencuri-curi pandang Sekretaris Chan. Mempertanyakan kepada dirinya sendiri, apakah yang diucapkan Andin adalah benar atau hanya omong kosong.
Mereka semua pun sampai di puncak tepat sore hari. Semua terkejut, karena melihat tiga tenda camping berjejeran sangat dekat, di tempat tujuannya tersebut. Sekretaris Chan menjelaskan kepada mereka semua. Bahwa, Ziban dan Andin akan menempati tenda camping yang berada di tengah. Meta dan Rossie di samping kanan. Sedangkan Raditya dan dirinya sendiri di samping kiri. Semuanya kecuali Andin dan Ziban, hanya bisa pasrah meratapi nasib mereka.
Setelah acara makan bersama selesai, sore bergulir dengan cepat menjadi petang. Mereka semua masuk ke tenda masing-masing, untuk beristirahat.
Ziban dan Andin merebahkan tubuh mereka.
"Kau masih ingat kan, aku masih memiliki enam permintaan." (ucap Ziban)
"Baiklah, katakan saja." (ucap Andin)
"Aku tidak akan memberatkan mu. Oleh karena itu, untuk mewakilkan enam permintaan itu, aku hanya meminta enam anak."
"Apa?!"
"Kita akan membuatnya, kan?"
Andin membalikkan tubuhnya dengan membelakangi Ziban. Wajahnya bersemu merah muda. Ziban memeluknya dari belakang.
"Kita akan mulai membuatnya dari sekarang."
__ADS_1
Ziban mulai membuka pakaian yang menutupi tubuhnya. Dan segera melucuti pakaian Andin. Ia menggenggam kedua tangan Andin. Ia mulai menyusuri satu bagian yang menurutnya sangat indah. Mengecupnya pelan. Lalu naik ke atas pelan, tepat di bibir. Ziban membisikkan sesuatu.
"Buka mulutmu."
Andin menurutinya. Ziban mulai bekerja tanpa mendapat perlawanan sedikitpun dari Andin. Baru beberapa saat, Andin menyudahinya. Ia terlihat sampai kesusahan bernafas karena ciuman yang terlalu dalam, dan lupa untuk bernafas.
Ziban pun mulai membuat tubuh mereka benar-benar bersatu sempurna. Seketika Andin menjambak rambut Ziban dengan segala kekuatannya. Mereka sama-sama merintih keras menahan sakitnya masing-masing.
"Apa yang kau lakukan?!" (pekik Ziban)
"Sakit." (lirih Andin)
Mereka berdua sempat diam beberapa saat, hingga Ziban kembali berucap.
"Bagaimana? Lanjut atau tidak?"
"Lanjut lah."
Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang belum paripurna. Kali ini, Ziban melakukannya dengan berhati-hati.
Sedangkan di tenda sebelah kanan, tempat Meta dan Rossie beristirahat, mereka menutup rapat-rapat telinganya menggunakan tangannya masing-masing. Mereka berbicara dengan berbisik-bisik.
"Rossie, aku benar-benar tidak bisa tidur. Dan tidak akan bisa tidur. Suaranya terdengar sangat jelas."
"Kau benar, Met. Mereka melakukannya sampai teriak-teriak."
Hal yang sama pun terjadi di tenda sebelah kiri. Hal bisik-berbisik pun terdengar disana.
"Heh sekretaris, aku sudah tidak kuat."
"Tidak kuat bagaimana?"
"Jangan sok suci kau. Aku akan pergi dari sini saja. Ziban benar-benar kurang ajar."
Sekretaris Chan tak merespon apapun. Raditya kembali berucap.
"Seharusnya tenda mereka di bawah jurang saja, sial!"
"Kau ikut pergi atau tidak?" (ucapnya lagi)
Sekretaris Chan hanya diam saja. Raditya keluar dari tenda lalu mengajak Rossie dan Meta ikut bersamanya. Mereka mencari penginapan terdekat. Setelah beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Sekretaris Chan sudah berada di belakang mereka. Ia mengikuti mereka mencari penginapan terdekat. Menjauhi suara-suara meresahkan yang menodai telinga mereka.
Semburat mentari pagi, menyambut pagi sepasang pengantin baru tersebut. Mereka segera keluar dari tenda setelah kembali memakai pakaiannya masing-masing. Tetapi betapa terkejutnya mereka. Rossie, Raditya, Meta dan Sekretaris Chan sudah tidak ada di tenda camping masing-masing.
"Sudahlah, biarkan saja. Mereka pasti sedang berjalan-jalan pagi di sekitar sini." (ucap Ziban pada Andin)
Ziban menarik lengan Andin untuk mengikutinya melihat pemandangan pagi hari yang sangat indah di ketinggian. Andin memejamkan mata sekejap sembari tersenyum. Ziban menatapnya. Lalu ia memeluknya erat. Andin membalas pelukan hangat darinya.
"I love you." (lirih Ziban)
Andin tersenyum di balik peluknya. Ia merasa, gadis yang sangat menyedihkan dahulu, saat ini, tidak ada yang menandingi kebahagiaannya.
"I love you more, suamiku."
TAMAT...
Terimakasih atas semua dukungan cinta dari kalian.
Musim kedua Ustad atau Alkash menjadi "Just One Feeling". Silakan cek profil author, tambahkan favorit, ya?
Oh ya, novel terbaru "Padamu Cinta" sudah launching lho. Selain untuk menghibur, disana akan ada banyak pelajaran. Sekali lagi, cek profil author yaa.
__ADS_1
Luvvv kaliaannn ! 🤗