
Apa selama ini, Andin memang benar-benar membenciku? Ah, dia tidak tahu, padahal aku mencintainya lebih dari diriku sendiri.
Ziban Alkash duduk di sofa sembari menyangga kepalanya dengan tangannya.
Dan ya, benarkah Andin sangat egois? Kenapa aku berfikir bahwa semua yang dikatakan perempuan semalam adalah benar. Dia adalah teman dekatnya, kan? Dia pasti tahu segalanya tentang Andin.
Ziban mengacak rambutnya pelan.
Tapi, apa benar aku mencintainya? Lalu, apa yang membuat ku jatuh cinta padanya?
Ziban berdiri dari duduknya. Beberapa jam belakangan ini, ia terlihat sangat gusar. Tiba-tiba terdengar Sekretaris Chan mengetuk pintu. Ziban pun mempersilakan Sekretaris Chan untuk segera masuk. Setelah Sekretaris Chan masuk ke dalam, ia benar-benar terkejut dengan kamar Ziban. Kamar nya yang dipenuhi dengan kegelapan, walau di saat siang bolong.
"Selamat siang, Tuan Muda Ziban Alkash. Hal apa yang membuat anda memanggil saya? Apa anda membutuhkan sesuatu?" (ucap Sekretaris Chan)
Sebelum Ziban menjawab pertanyaan darinya, Sekretaris Chan melangkahkan kakinya menuju tirai jendela yang belum di buka. Ia hendak membukanya, tetapi Ziban terlebih dahulu melarangnya.
"Ada apa, Tuan Muda?"
Sekretaris Chan memicingkan matanya. Seperti biasa, ia tentu hendak menerka-nerka hal aneh apa yang tengah ada di dalam diri Ziban.
Ziban kembali mengacak rambutnya pelan.
"Ah, tidak ada apa-apa. Hari ini, aku hanya ingin ditemani kegelapan." (ucap Ziban pelan)
Sekretaris Chan melangkahkan kakinya kembali. Kali ini, ia mendekati Ziban. Terlihat ia, yang menuntun Ziban untuk berisitirahat di ranjangnya. Ziban tentu merasa diperlakukan dengan tidak biasa oleh sekretaris nya. Ia ingin menolak, tetapi ia tidak dapat melakukan penolakan itu. Entah apa yang tengah terjadi padanya.
"Beristirahatlah saja, tuan," (ucap Sekretaris Chan)
"Ada apa anda memanggil saya, tuan? Apa anda membutuhkan sesuatu?"
Sekretaris Chan kembali mengulang pertanyaan yang sama.
"Ya, tadi ada. Tetapi aku sedang tidak ingat." (ucap Ziban)
Lagi-lagi, Ziban mengacak rambutnya. Lalu setelah itu, Ziban menatap langit-langit kamar hotel itu. Sekretaris Chan memejamkan matanya sekejap. Lalu membukanya kembali. Dan tentunya dengan raut wajah yang masih sama. Ya, datar.
Sekretaris Chan menuangkan air putih di gelas untuk Ziban. Sepertinya Ziban kali ini membutuhkan air minum. Ya, seperti itulah kira-kira pikir Sekretaris Chan memahami Ziban. Ketika tengah menuangkan air, tiba-tiba ia melirik segelas susu yang masih utuh tak tersentuh. Seketika itu pun, Sekretaris Chan melirik Ziban dengan tatapan datar yang tetap sama.
"Minum air ini, Tuan Muda."
Sekretaris Chan menyodorkan segelas air putih untuk Ziban. Ziban menatap Sekretaris Chan sejenak, sebelum ia benar-benar menerima segelas air tersebut.
"Terimakasih, Sekretaris Chan." (ucap Ziban pelan)
Terimakasih?
"Apa saya boleh bertanya pada anda, tuan?"
__ADS_1
"Dengan senang hati."
Dengan senang hati?
Sekertaris Chan benar-benar dibuat kebingungan. Tetapi ia segera membuang pikiran tidak pentingnya itu.
"Mengapa susu nya masih utuh?"
Ziban meletakkan gelas di atas meja yang berada di dekat ranjangnya. Lalu ia melirik segelas susu yang masih utuh, yang dimaksud Sekretaris Chan.
"Minum susu? Ah, seperti anak kecil saja." (ucap Ziban)
Sekretaris Chan menanggapi ucapan Ziban dengan hanya sebuah anggukan saja.
"Baiklah, saya izin untuk kembali mengurus pekerjaan saya yang belum selesai, tuan."
"Ah ya, aku ingat. Bukan kah kata mu, pagi ini kita ada meeting penting? Kenapa kau tidak membangunkan ku tadi pagi. Aku tadi bangun terlalu siang. Entah apa yang terjadi padaku, tidak biasanya aku tidur selama itu."
"Maafkan saya tuan, anda sedang tidak sehat. Oleh karena itu, izinkan saya yang menangani semua pekerjaan anda beberapa hari ini."
Sekretaris Chan membantu Ziban untuk merebahkan tubuhnya. Ziban hanya menurut saja. Lalu Sekretaris Chan menyelimuti separuh tubuh Ziban.
"Saya permisi, tuan."
Sekertaris Chan meninggalkan Ziban untuk beristirahat di kamar saja. Terlihat Ziban yang memijit keningnya pelan.
Tak menunggu waktu yang lama, Sekretaris Chan telah sampai di kamar nya yang memang tidak terlalu jauh dari kamar Ziban Alkash. Ia mengambil laptopnya dan terlihat sibuk beberapa saat.
Tiba-tiba ponsel Sekretaris Chan berdering. Ia melirik siapa yang menelepon.
"Clara."
Sekretaris Chan pun segera mengangkat telepon dari Clara. Dengan harapan, hal baik akan dikatakan olehnya.
"Ya, Clara. Bagaimana?"
"Lalu kau, bagaimana? Apakah ada hal aneh yang kau lihat dari atasan mu, itu?"
Clara menanyakan kembali pada Sekretaris Chan mengenai kondisi Ziban saat ini.
"Semua dugaan mu mengenai efeknya, benar sepenuhnya." (ucap Sekretaris Chan)
"Kau harus lebih sabar lagi dalam menghadapinya, Chandra."
Sekretaris Chan berdecih mendengar Clara yang masih tetap keras kepala memanggil namanya itu.
"Lalu bagaimana dengan hasil uji kelanjutan nya?"
__ADS_1
Diam sesaat. Tak ada suara dari seberang.
"Halo, Clara?"
"Ah, iya sebentar. Aku sedang meneliti ulang hasil ujinya. Kau ini, tidak sabaran sekali."
Terdengar Clara yang sedikit meninggikan suaranya. Sekretaris Chan sedikit menarik garis senyum di bibirnya. Sedikit sekali.
"Baiklah, jika kau masih lama dalam meneliti ulang, kau bisa mengirim melalui pesan atau email saja." (ucap Sekretaris Chan)
"Astaga, kau ini. Kau sebenarnya masih membutuhkan bantuan dariku, tidak?"
"Ya, tentu."
"Jika memang seperti itu, jangan matikan sambungannya. Katakan padaku, apa ada hal lain yang terjadi selain dari prediksi ku?" (tanya Clara)
"Atasanku menjadi sedikit pelupa."
"Hemm, benarkah?"
"Iya, seperti itulah pengamatan ku. Tidak ada orang lain yang lebih memahaminya dibandingkan diriku. Sekretaris pribadinya."
"Ya, baiklah. Aku tahu, kau memang memahami segalanya. Aku akan memberitahu mu kembali melalui pesan saja nanti, ya. Aku tau, orang yang memahami segalanya ini, sangatlah sibuk."
Sambungan telepon dimatikan oleh Clara. Sedangkan Sekretaris Chan kembali menarik garis senyum kecil di bibirnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia pun kembali menyibukkan dirinya di layar laptopnya.
Satu jam berlalu. Sekretaris Chan telah menyelesaikan beberapa urusannya yang tertunda melalui laptopnya. Saat ini, ia memang tidak bisa berpergian. Tentu karena ia mengingat keadaan Ziban Alkash saat ini. Memantaunya dari dekat, adalah pilihan yang paling tepat.
Sekretaris Chan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia segera membasuh wajahnya. Lalu setelah ia selesai membasuh wajah, Sekretaris Chan mengambil minuman yang mengandung soda. Ia meminumnya satu tegukan saja. Lalu kembali duduk di sofa.
Suara notifikasi pesan terdengar dari arah ponselnya. Sekretaris Chan melirik, lalu kemudian mengambil ponselnya dan segera membaca isi pesannya. Ia melihat setumpuk pesan tenggelam yang belum ia baca sama sekali. Ia hanya berniat membuka pesan teratas dengan atas nama Clarada.
Pesan pertama, tertulis semua hasil uji kelanjutan. Sekretaris Chan membaca dan memahami semuanya di dalam hatinya. Ia berlanjut membaca pesan kedua darinya.
"Mengenai atasan mu itu, yang menjadi sedikit pelupa, kau tidak perlu khawatir, Chandra. Itu hanyalah salah satu efek yang tidak terlalu berbahaya. Hanya saja, yang perlu diperhatikan adalah pikirannya yang saat ini sedang terganggu. Hal itu membuat pikirannya menjadi lemah dan mudah terpengaruh."
Sekretaris Chan kembali membaca pesan ketiga darinya.
"Untuk kelanjutannya, lebih baik kau berkonsultasi dengan tenaga medis. Aku mempunyai teman yang memang ahli di bagian tersebut. Aku sudah memberikan alamat mu kepadanya. Dia akan segera datang. Ingat, temanku, temanmu juga."
Seketika Sekretaris Chan mengagumi kepengertian Clara kepada dirinya. Clara sudah sangat membantu baginya. Sekretaris Chan masih menatap pesan dari Clara. Tiba-tiba, satu pesan lagi masuk darinya.
"Sama-sama."
Sekretaris Chan menarik sedikit garis senyum di bibirnya lagi. Penampakan yang memang jarang terlihat. Sayangnya, tidak ada yang melihatnya seperti itu. Setidaknya, jika ada yang melihatnya mengulas senyum walau sedikit itu, mungkin Sekretaris Chan akan sedikit di bebaskan dari cap nya sebagai laki-laki yang kaku.
"Ya, terimakasih, Clara." (ucapnya dalam hati)
__ADS_1
BERSAMBUNG...