
Derung mobil sport melaju cepat membelah jalanan. Tak ada satupun orang yang bersuara di dalam mobil itu. Hanya suara mesin kendaraan lainnya yang saling bergemuruh satu sama lain. Terlihat Ziban Alkash yang duduk menyender di kursi belakang dengan penglihatan mengarah ke nuansa jalanan malam hari. Sedangkan Sekretaris Chan yang menyetir dengan kacamata hitam yang menutupi matanya. Sekretaris Chan memang selalu berpenampilan cool kapanpun dan dimanapun ia berada.
"Sejak tadi Tuan Zidan berusaha menghubungi saya tuan muda. Mungkin saja anda ingin saya mengangkatnya sekali saja. Dan mungkin saja ada sesuatu yang ingin Tuan Zidan katakan.."
Sekretaris Chan berbicara kepada Ziban dengan memandang spion untuk melihat reaksi Ziban. Setelah mendengar perkataan Sekretaris Chan, terlihat Ziban yang menampakkan wajah muak. Hal itu tentu sangat di sadari oleh Sekretaris Chan dan segera meminta maaf kepadanya.
"Maafkan kelancangan saya tadi, tuan muda."
Sekretaris Chan kembali menyetir mobil fokus dengan pandangan lurus ke depan. Ziban pun kembali menatap jalanan dengan tatapan kosong.
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di kamar asrama C12. Kegelapan menyelimuti ruang kamar itu. Yaa, lampu telah di matikan sejak semua penghuni naik ke ranjang susun mereka. Andin telah memejamkan matanya. Sejak tadi ia berusaha untuk beralih dunia menuju dunia mimpi. Namun kenyataannya adalah walaupun mata ia terpejam rapat, tetapi tidak dengan badannya dan pikirannya. Andin melirik ponselnya yang menujukkan pukul 00.05. Andin menghembuskan nafas pelan, karena sampai dini hari ini ia belum bisa tertidur walau hanya sebentar saja. Padahal besok ia harus kembali bersekolah. Begitu pikirnya. Tiba-tiba terdengar suara bisikan seseorang mengajaknya bicara.
"Hey Andin apakah kau belum tidur?"
Bukankah itu Meta yang berbisik? Apakah Meta belum tertidur juga?
"Apakah itu kau Met?"
"Iya tentu saja. Apa kau tidak mengantuk Ndin? Kau kan harus kembali bersekolah besok."
"Ah, entahlah. Aku pun tidak tahu ada apa denganku sebenarnya. Tiba-tiba mataku terjaga sepanjang malam ini tanpa merasa mengantuk sedikitpun."
"Ayo Ndin, turun dan keluar ke kamar sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Ah, ada apa Met? Ini sudah larut malam sekali."
"Sebentar saja Ndin, kumohon."
"Hemm, baiklah."
Akhirnya mereka berdua pun turun dari ranjang susunnya secara bergantian. Pertama Meta yang turun terlebih dahulu. Setelah itu baru Andin menyusul keluar kamar dengan berhati-hati takut mengganggu penghuni kamar lainnya yang tengah tertidur pulas. Andin dan Meta pun duduk berhadapan di teras kamar C12.
"Kau mau mengatakan apa Met? Tumben sekali terlihat seserius ini." (kata Andin sembari menyangga dagunya)
"Sebelumnya tidak pernah aku seserius ini Ndin. Jadi mohon kau serius juga ya."
"Ah iya, katakan saja apa yang ingin kau katakan."
__ADS_1
"Aku ingin bertanya mengenai si kaku tampanmu itu Ndin, apa boleh?"
Seketika Andin membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka Meta, sahabatnya akan menanyakan hal itu. Tetapi ia berusaha mengontrol dirinya.
"Ah iya, kenapa tidak. Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan, Met."
Sekarang posisi duduk Andin bersender di kursi dengan kedua tangannya digunakan untuk menopang kepalanya. Itu ia lakukan agar ia terlihat lebih rileks.
"Mengenai si kaku tampan mu alias guru privat mu dulu, tidak lain tidak bukan ialah orang yang sangat kau cintai bukankah ia pemilik MAN 102 Bandung? Dan bukankah namanya adalah Tuan Zidan Haq? Serta ustad di asrama pesantren ini juga Ndin??"
Glekkk...
Andin menelan salivanya dalam-dalam. Ia belum bisa berbicara sepatah katapun.
"Aku yakin sudah sejak awal kau mengetahui mengenai jodoh yang selalu aku ceritakan kepadamu. Dan apakah kau tahu apa itu artinya Ndin?"
Glekkk...
"Apa yang sedang kau bicarakan Met?"
"Aku menginginkan cinta Ustad Zidan! Apa itu kurang jelas?!"
"Meta, bukan hanya perasaan mu saja yang penting. Apa kau tidak memikirkan perasaanku juga Met?" (tukas Andin kepada Meta pelan)
"Haha, iya iya. Aku hampir melupakan sesuatu hal penting. Kaulah tuan putrinya. Kaulah si pemilik segalanya. Sedangkan aku adalah butiran debu yang bahkan telah lenyap di terpa angin!!"
Meta meninggalkan Andin di teras sendirian dan segera masuk ke dalam kamar C12. Hanya tertinggal Andin yang masih memandang lantai dengan tatapan pilu.
Bukan seperti itu maksudku Met. Ini semua adalah salahku. Seharusnya dari dulu aku mengungkapkan semua identitas sosok yang aku damba-dambakan dalam hidupku. Bagiamana lagi? Bukankah semua sudah terjadi, dan Meta telah mengetahui semua kebenarannya?
"Aku harus tidur juga karena besok harus berangkat sekolah seperti biasa.." (lirih Andin)
Andin pun segera bangkit dari duduknya untuk segera kembali ke kamar dan tidur. Andin membuka gagang pintu kamar C12.
"Eh, kenapa susah di buka seperti ini? Sepertinya telah di kunci oleh Meta."
Andin menghembuskan nafas pelan. Mencoba agar tidak terlalu membawa masalahnya ke dalam hati. Tentu ia mengingat karena Meta adalah sahabatnya. Bagaimana pun mereka berdua sama-sama memiliki perasaan yang sama. Tetapi tentunya tidak akan ada yang mengalah. Entah siapa yang salah sebenarnya. Entah itu Meta, yang sangat tidak tahu diri tetap mengejar Zidan walaupun telah mengetahui bahwa ia adalah orang yang di cintai Andin terlebih dahulu. Entah ataupun Andin yang salah, karena tidak mau mengalah kepada Meta. Mereka sama-sama menganggap perasaan yang tumbuh di dalam dirinya adalah benar.
__ADS_1
"Masih ada beberapa jam lagi menuju sholat shubuh. Aku harus tidur untuk mengisi tenaga karena besok harus bersekolah. Tapi tidur di mana?"
Terlihat Andin yang tengah berpikir keras. Ia memandangi sekeliling nya, berharap sesuatu bisa menjawab kegelisahan nya. Dan benar saja, seketika Andin melihat di pojokan terdapat karpet tipis bergambar animasi.
"Ahh, iya. Aku akan menggunakan karpet itu saja untuk alas tidur."
Andin mengambil karpet itu dan segera menggelarnya di atas lantai. Lalu Andin meringkuk kan tubuhnya di atas karpet dengan tangannya sendiri yang ia gunakan untuk mengganjal kepalanya.
"Ah disini sangatlah dingin..."
Ah ayolah Andin, ini hanya sebentar saja. Kau ingat kan bagaimana anak-anak di luar sana yang jauh lebih menyedihkan nya darimu? Ayo Andin, pejamkan matamu.
Andin semakin meringkuk kan tubuhnya karena sangat kedinginan. Lalu beberapa saat kemudian ia akhirnya bisa masuk ke dalam alam bawah sadar dan tertidur.
......................
"Hei Ndin, mengapa kau tidur di sini??"
"Andin.. cepat bangun!!!"
Tukas Violla dengan menyipratkan sedikit demi sedikit air yang berada dalam secawan gelas. Andin pun mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Hei Violla, apa yang kau lakukan hah?!" (kata Andin sedikit emosi)
"Seharusnya aku yang tanya kepadamu, mengapa kau tidur di sini?!"
"Ah, bukan urusanmu."
"Buka urusanku bagaimana. Lihat semua anak-anak tengah menertawai mu di belakang mu."
Andin pun segera menghadap ke belakang nya. Dan benar saja, ia melihat sekelompok anak-anak lainnya tengah berada di belakangnya. Dan rupanya ekspresi kebingungan dari Andin justru menimbulkan gelak tawa bagi siapapun yang memandang.
"Hahahaha, mengapa kau tidur di luar seperti ini Ndin? Apa karena kau tidak sadar tiba-tiba kau tidur di depan kamar seperti ini?" (tanya Riana)
Sebelum Andin menjawab pertanyaan Riana, tiba-tiba Meta lewat sudah bersiap-siap menuju ke masjid untuk sholat shubuh berjamaah.
"Aaaah, semalaman aku tidak bisa tertidur karena hawa di kamar sangat panas. Jadinya, aku berpikir untuk menggelar karpet di depan saja. Karena pastinya aku akan mendapatkan angin yang sedang ku cari."
__ADS_1
Ungkap Andin di depan semuanya. Semuanya pun percaya dengan ungkapan Andin. Meta yang masih berjalan pelan pun sedikit melirik Andin dengan tatapan sinis. Andin membalas Meta dengan mengulas garis senyum di bibirnya.
BERSAMBUNG....