
Terik mentari terasa sangat menyengat dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Meta yang sedari tadi meminum air minum yang ada di botolnya, tiba-tiba saja menemukan ide yang dirasa boleh ia coba. Mengingat kata-kata Zulfia kemarin, bahwasanya ia sudah menyerahkan semuanya pada Meta.
"Sekarang kau lebih dari kata percaya, kan? Semuanya terserah padamu, Met. Kau akan mengungkapkan kebenarannya pada sahabatmu Andin, atau kau akan ikut diam layaknya Diana selama ini walau kau saat ini telah mengetahui semuanya."
Ya! Aku harus mengatakan kebenarannya pada Andin.
Meta terus saja berusaha memantapkan pendiriannya. Disisi lain, ia menghawatirkan perasaan Andin, sahabatnya. Dan disisi lain pula, ia terenyuh mengingat gadis perempuan kecil yang sangat memerlukan pertanggungjawaban atas hadirnya ia di dunia ini.
Andin berhak mengetahui semuanya. Aku yakin, dia akan lebih merasa kecewa jika aku sampai diam saja.
Meta melangkahkan kakinya ke kamar sebelahnya. Terlihat ia yang mengajak temannya berbicara.
"Aku boleh meminjam handphone mu sebentar?"
"Tumben sekali. Untuk apa?"
"Aaa aku sangat merindukan Andin."
"Baiklah tidak masalah. Ini."
Meta menerima handphone yang dipinjamkan temannya itu padanya. Lalu ia kembali ke kamarnya, kamar C12. Ia lekas membuka buku diary nya di bagian belakang, yang terdapat nomor Andin. Ya, ia memang sengaja mencatatnya. Mengingat nomor telepon Andin memang tidak sembarang orang memiliki.
"Andin, ini Meta."
Terkirim.
Meta membolak-balikkan handphone temannya itu berkali-kali. Ia masih menunggu Andin membalas pesannya. Dan tentunya, ia tengah memikirkan bagaimana cara memulai pembicaraan yang serius padanya.
Ah, jika tempat mu dekat dengan asrama, maka aku akan lebih memilih mengunjungi mu, Ndin. Dan jika iya sekalipun, akan sangat sulit mendapatkan izin dari Ummi. Huh.
Bunyi notifikasi berbunyi.
"Heh, kau kemarin pulang ke asrama jam berapa? Kenapa tidak mengabari ku? Aku mencari-cari mu, tau!"
Meta langsung saja membalasnya.
"Hehe. Setelah acara akad pernikahan selesai, aku langsung saja pulang karena tiba-tiba aku bertemu dengan Ummi dan diajak ikut pulang dengannya. Tentu saja aku tidak bisa menolak Ummi. Kau tahu sendiri, kan."
Pesan terkirim lagi. Beberapa saat, Meta menunggu tanggapan dari Andin. Tetapi sebelum Andin menjawabnya, ia kembali mengetikkan sesuatu. Sepertinya, kali ini ia tidak bisa menahan diri untuk berlama-lama dan berbasa-basi dengannya.
"Andin? Kau sedang tidak sibuk kan?"
"Ada hal yang sangat penting yang perlu aku bicarakan denganmu."
Notifikasi berbunyi kembali.
"Ada apa memangnya?"
Meta mengetik lagi.
"Lewat telepon saja ya? Atau panggilan video mungkin?"
Tak membutuhkan waktu lama, tiba-tiba panggilan video berdering. Meta langsung saja menerimanya.
"Ada hal apa? Atau jangan-jangan kau hanya rindu denganku, ya?" (ucap Andin)
__ADS_1
"Kau sedang dimana dan bersama siapa?" (ucap Meta tak berbasa-basi)
"Di kamar ku. Sendirian."
"Lalu, suami mu?"
"Ah, dia sedang pergi ke kantor papah."
Meta menghela nafas lega.
Syukurlah.
"Hemm, Ndin..."
"Hahaha, kenapa wajahmu terlihat tegang sekali. Ada apa?" (Andin tertawa sumringah)
Kali ini Meta diam saja. Ia terus memerhatikan sahabatnya yang tertawa lepas sekali. Kembali lagi ia di hadirkan dengan rasa tidak tega yang menyelimuti dinding hatinya. Melihat sahabatnya yang tertawa lepas seperti itu, membuat nyali nya untuk mengungkapkan kebenaran kembali ciut.
"Heh, kenapa kau murung sekali?!" (ucap Andin menghentikan gelak tawanya)
"Ehem..."
"Met,"
Meta mengalihkan wajahnya dari kamera supaya Andin tidak melihat nya. Melihatnya yang mengusap buliran air bening yang mendadak memaksa untuk jatuh dari pelupuk matanya.
Meta, jangan ragu! Semua kebenaran perlu diungkapkan! Andin pantas mengetahuinya.
Meta kembali menghadapkan wajahnya di kamera dan menatap wajah Andin yang terlihat kebingungan.
Meta menggelengkan kepalanya.
"Andin..."
"Ada apa sebenarnya?!" (Andin penasaran)
"Jika aku mengungkapkan sebuah fakta kepadamu, walaupun itu sangat menyakitkan, apa kau sudi mendengarnya?"
"Maksudnya?"
"Andin, ku mohon jangan berpura-pura tidak memahami ucapanku."
Kali ini Andin melihat Meta yang menangis perlahan. Andin memahami. Sesuatu telah terjadi. Ia mengulas senyum.
"Apa ini tentang pernikahan ku?"
"Lebih tepatnya tentang masa lalu suami mu."
Meta mengelap air tangisannya beberapa kali. Ia sudah tidak peduli dengan harga dirinya yang menangis di hadapan sahabatnya. Ia sudah tidak memperdulikan itu.
"Katakan, jika kau ikhlas untuk mengatakan." (ucap Andin masih mengulas senyum)
Meta menangis sesenggukan. Andin bersabar menunggu ucapan Meta selanjutnya.
"Suami mu sebenarnya telah memiliki putri. Dia hampir berumur tujuh tahun. Kau harus mempercayai ku, ku mohon Ndin. Ku mohon. Aku tidak berbohong."
__ADS_1
Duar!
Andin diam mematung beberapa saat. Mencoba mencerna kembali ucapan Meta. Berharap ada kesalahan dalam telinganya kali ini.
"Met..."
"Demi Tuhan, Ndin! Aku tidak berbohong! Kau boleh mendatangi putrinya yang bernama Elle beserta ibunya Elle namanya Kak Diana."
"Kau mengetahui tempat tinggal mereka, Met?"
"Tahu! Sangat tahu! Nanti akan ku kirim lewat pesan alamatnya jika kau menginginkan kebenaran dari mata kepala mu sendiri."
Meta masih terisak dalam tangisannya. Sedangkan Andin sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Hanya saja, wajahnya benar-benar terlihat tidak hidup sama sekali. Ia tahu, Meta sedang berbicara kebenaran. Ya, itu terlihat jelas dari wajahnya. Dari air mata yang ia tumpahkan demi rasa iba padanya.
"Andin, maafkan ucapanku ini. Tolong maafkan."
"Aku mengharapkan alamat itu darimu, Met."
Meta menganggukkan kepalanya.
"Aku tahu, kau sahabatku yang sangat kuat, Ndin."
Andin tersenyum getir. Ia mematikan panggilan video dengan Meta setelah berhasil memaksakan senyumannya.
Di seberang sana, tepatnya di kamar luas nan mewah, Andin memejamkan matanya agak lama. Berusaha menggali kekuatan yang tersisa. Notifikasi berbunyi.
"Desa Kalisapu, RT 45, RW 06. Rumah Diana Anastasia. Jawaban dari segala kegelisahan mu ada disana."
Andin memejamkan matanya sekali lagi, lalu membukanya dengan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya. Ia melangkahkan kakinya menuju lemari bajunya dan mengambil rok dan tunik branded miliknya. Tidak lupa pula mengambil kerudung warna senada. Ia segera mengganti pakaiannya dan bersiap-siap. Setelah selesai bersiap-siap, ia mengambil tas selempang miliknya dan bergegas keluar.
"Rapi sekali. Kau mau kemana, nak?"
Suara Kumala membuat Andin menghentikan langkahnya.
"Mamah, Andin akan pergi ke Bandung. Ada hal penting yang perlu Andin urus disana."
"Ke asrama, maksudnya?"
"Sudah dulu ya mah, Andin buru-buru."
"Eh tunggu. Sudah meminta izin suami mu?"
"Sudah." (jawab Andin berbohong)
"Tapi dengan sopir rumah kan?"
"Iya mah, tentu. Daaahh mamah."
Andin berlarian kecil meninggalkan Kumala dan segera menuju ke depan untuk meminta diantar oleh sopir rumah.
Dalam perjalanan, Andin terus saja menggali-gali kekuatan. Tidak ada air mata. Tidak ada tangisan. Ia kembali mengingat-ingat semua hal yang telah terjadi padanya. Semua kepedihan yang ia mulai ingat satu persatu. Dan kini, tumpukan kepedihannya bertambah lagi dan membuat luka baru. Dahulu, luka yang pernah disuguhkan oleh sang papah kini mulai berangsur memudar. Tetapi kali ini suami nya berhasil menambah dan membuat luka yang dulu kembali teringat. Luka, dimana tidak adanya cinta yang benar-benar nyata dalam hidupnya. Tidak papahnya, tidak suaminya sekarang ini.
Haha, apa itu cinta. Cinta memang tidak ada. Tidak ada!
BERSAMBUNG...
__ADS_1