Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Janji Ummi Untuk Zulfia


__ADS_3

Sekitar pukul 20.00 WIB, di dalam ruangan aula asrama pesantren, dua orang perempuan tengah duduk berhadapan dalam keheningan ruangan. Terlihat Ummi yang duduk dengan anggun, sedangkan Zulfia yang duduk menunduk di lantai.


"Mbak Zulfia, ayo duduk di kursi. Ummi ingin berbicara serius denganmu.." (kata Ummi dengan mengulas senyum tulus layaknya seorang ibu kepada anaknya)


"Tetapi Ummi..."


"Bukankah kau selalu melayani Ummi dengan seluruh jiwa raga mu dan menuruti semua keinginan Ummi?"


Zulfia membisu. Ia memang tidak pernah menolak semua permintaan dari Ummi.


"Ayo Mbak Zulfia, duduk saja di kursi bersama Ummi. Tidak apa-apa, kau tidak perlu kaku seperti itu Mbak Zulfia.."


Kata Ummi sembari memegang lengan Zulfia dan segera membantunya untuk duduk di sebelahnya. Terlihat jelas sekali bahwa Zulfia sangat ragu-ragu.


Bagaimana mungkin aku harus biasa saja di hadapan mu Ummi? Kau adalah pengasuh asrama pesantren ini. Sedangkan aku hanyalah muridmu yang sangat hina. Tentu aku harus menghormati mu kan?


Tentu Zulfia tidak dapat menolak uluran tangan Ummi yang hendak membantunya untuk duduk di sebelah Ummi. Bagaimana pun, menuruti semua keinginan Ummi juga adalah kewajiban Zulfia. Begitu pikirnya.


"Nah duduk di atas seperti itu. Tidak usah ragu-ragu. Bukankah Ummi tidak pernah memukul mu Mbak Zulfia?"


Tanya Ummi sedikit bergurau. Hal itu tentu di tanggapi oleh Zulfia dengan tersenyum geli. Ia tentu harus menahan tawa nya agar tidak terbahak-bahak di hadapan Ummi. Jika hal itu sampai terjadi, bagaimana pikir Ummi kira-kira nanti?


"Iya Ummi..." (Zulfia menanggapi dengan singkat)


"Apa kau berniat untuk pulang ke kampung halaman, Mbak Zulfia?"


"Ah tentu tidak Ummi. Aku kan di sana sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi."


Ummi tersenyum mendengar ungkapan dari Zulfa. Lalu ia mengusap kepalanya pelan.


"Ummi tidak bermaksud untuk mengingatkan mu mengenai kedua orang tuamu. Maksud Ummi, mungkin kau akan memberi doa secara langsung di makam orang tuamu."


"Tidak apa-apa Ummi. Aku sama sekali tidak sedih. Jika untuk hal itu, biar nanti aku pikirkan lagi Ummi."

__ADS_1


"Baiklah, Mbak Zulfia."


"Begini, bukankah kau sudah seperti anak Ummi sendiri? Ummi sudah menganggap mu sebagai anak Ummi sejak lama .."


Zulfia hanya menanggapi perkataan Ummi dengan tersenyum. Lalu Ummi pun melanjutkan kalimatnya.


"Kau gadis yang cantik nan baik hati, Mbak Zulfia. Kau juga sudah pantas untuk membangun sebuah keluarga. Ummi sebagai ibumu, hanya menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik.."


"Kau mau Ummi jodohkan kan? Atau kau sudah mempunyai calon imam mu sendiri?" (sambungnya lagi)


Betapa terkejutnya Zulfia. Ia tak menyangka Ummi akan menjodohkannya.


Bagaimana ini? Apa yang harus ku katakan pada Ummi?


Zulfia mati kutu mendengar pertanyaan yang terlontar dari Ummi. Ia akhirnya diam saja dan menunduk. Ummi tersenyum dan segera menyadari sikap Zulfia itu.


"Ayo Mbak Zulfia, katakan saja dengan jujur. Apa kau sudah memiliki calon suami untukmu sendiri?"


"Belum Ummi.."


"Jadi kau mau Ummi jodohkan kan? Ummi tidak mungkin akan menjatuhkan anak Ummi sendiri ke dalam jurang. Jadi Ummi pasti akan mencarikan jodoh terbaik untukmu."


"Bagaimana Mbak Zulfia, apa kau mau Ummi jodohkan? Atau kau mau meminta waktu untuk menjawab pertanyaan dari Ummi ini?"


Lagi-lagi Zulfia hanya diam membisu.


"Ayo katakan satu kata saja, iya atau tidak Mbak Zulfia?" (tanya Ummi kembali)


Zulfia menunduk dalam dan sedikit tersenyum malu-malu. Akhirnya Ummi pun telah mengetahui jawabannya tanpa Zulfia berkata sedikitpun. Ummi mengusap pipi Zulfia lembut.


"Ummi berjanji akan berusaha mencarikan jodoh terbaik untukmu.."


Itulah awal mula mengapa Ummi berusaha menjodohkan Zidan Haq dengan Zulfia. Rupanya Ummi memang telah berjanji akan berusaha mencarikan jodoh untuk murid terdekat nan kesayangannya itu. Ummi bahkan memang kerap kali mengatakan bahwa ia telah menganggap Zulfia sebagai anaknya sendiri. Terlebih setelah mengetahui bahwa orang tuanya Zulfia mengalami kecelakaan yang berujung maut beberapa tahun silam. Ummi merasa ia perlu menggandeng tangan Zulfia yang kerap kali tak bersemangat dalam menjalankan hidupnya. Bagaimanapun juga, pada saat orang tuanya Zulfia mengalami kecelakaan, Zulfia memang masih terlalu muda dan Ummi lah yang paling dekat dengannya pada saat itu. Zulfia memang telah berada di asrama pesantren itu sudah lama. Itu karena kesibukan kedua orangtuanya lah yang menjadi faktor alasan di antarnya Zulfia ke asrama.

__ADS_1


"Sekarang, kalian berdua sudah tidak sibuk lagi bapak, ibu... tenanglah di alam sana, Zulfia akan selalu mendoakan untuk kalian. Zulfia menyayangi kalian. Zulfia berjanji akan menjadi anak yang baik demi ayah dan ibu."


Lirih Zulfia suatu hari pada saat Zulfia ditemani oleh Ummi langsung datang ke pemakaman kedua orangtuanya pada acara seratus hari sepeninggalannya. Tentu saja dengan isak tangis yang tak henti-hentinya. Ummi lah yang mengelap setiap air mata Zulfia yang terus saja menetes. Ia sangat mengerti perasaan Zulfia.


Bisa-bisanya Ustad Zidan Haq kemarin-kemarin mengatakan bahwa calonnya adalah Andin Raharga? Putri dari sahabatku, Kumala. Jika memang iya, lalu aku harus mendukung Mbak Zulfia, anakku sendiri atau mendukung anak dari sahabatku?


"Assalamualaikum Ummi..."


Lamunan Ummi seketika buyar setelah terdengar di telinganya seseorang mengucap salam. Ia pun segera membuka pintu.


"Waalaikumsalam, Mas Lurah. Ayo masuk ke dalam."


Ummi mempersilakan santri laki-lakinya yang memang bergelar lurah di asrama pesantren itu. Ya, tentu ia lah yang mengurusi segala masalah yang dihadapi santri laki-laki. Tentu sebelum ia menangani semua masalah santri laki-laki, ia pun selalu mendiskusikannya dengan Ummi. Mas Lurah, panggilan akrab dari Ummi. Katakanlah dia adalah tangan kanan dari Ummi.


"Baiklah apa ada yang ingin kau sampaikan, Mas Lurah?"


"Tentu Ummi. Ini mengenai ta'zir santri laki-laki yang sempat kabur dari asrama pesantren ini kemarin. Sudah dihitung ada lima anak yang meninggalkan asrama pesantren tanpa izin alias kabur."


Pembahasan kali ini antara Ummi dan Mas Lurah mengenai ta'ziran atau dalam Bahasa Indonesia nya ta'ziran berarti hukuman. Mereka berdua mempertimbangkan semua aspek yang perlu di pertimbangkan hingga mendapati hasil diskusi ta'ziran final antara mereka berdua.


......................


Semua mata memandang ke depan, badan duduk tegap tanpa berkutik sedikitpun. Kelas efektif sedang berlangsung. Andin memandang lamat kursi di sebelahnya yang sudah dua minggu tak berpenghuni.


Lalu apa bedanya nanti aku dengan Talita? Bukankah seharusnya aku memaafkan Talita atas kesalahannya itu? Bagaimana dengan nasib masa depan Talita dan anak itu yang telah memalang jalanku hingga aku terjatuh yang pada akhirnya ikut di keluarkan juga. Ah, ya aku harus melakukan sesuatu.


Istirahat kedua telah tiba. Kali ini Andin tidak datang ke masjid. Ya, sudah dua hari ini Andin sedang kedatangan tamu rutinnya. Ia langsung menuju ke ruangan Zidan Haq di sekolah itu. Tetapi sayang sekali, petugas mengatakan bahwa Zidan Haq tidak datang ke sekolah hari ini. Betapa kecewanya Andin. Padahal ia sangatlah membutuhkan bantuan dari Zidan Haq.


"Sedang apa kau panas-panasan disini hah? Kau tidak takut kulitmu akan terpapar sinar matahari??"


Tiba-tiba Ziban Alkash datang dan menceramahi Andin sembari memasangkan sarung tangan di kedua tangan Andin. Setelah itu ia menarik paksa Andin menjauh dari situ. Andin tidak sempat menolak karena gerak cepat yang Ziban lakukan itu benar-benar membuat Andin tidak sadar diri.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2