
Hari demi hari berlalu, sejak Andin mengetahui bahwa ustad akhlak nya adalah si kaku tampannya alias Zidan Haq, ia selalu berangkat setiap pelajaran Akhlak tanpa absen. Tentu saja Andin masih memikirkan kejadian pada saat malam itu, dimana Andin mengetahui guru akhlaknya ialah Zidan Haq orang yang sangat dicintai Andin sejak dulu yang ternyata sahabat dekatnya juga benar-benar mencintainya tidak main-main. Andin benar-benar dibimbangkan yang sedang ia hadapi sekarang. Ia sangat mencintai Zidan Haq, tetapi bagaimana dengan Meta, sahabatnya? Begitu kira-kira pola pikir Andin. Ia benar-benar tidak mau kehilangan salah satu diantara mereka. Yaa, Meta memang mengetahui segala hal tentang Andin termasuk cintanya pada guru privatnya dulu. Tetapi Andin memang belum pernah menyebutkan nama guru privat nya dahulu kepada Meta, sahabatnya. Itulah kesalahan Andin. Mungkin jika Andin mengatakan nama si kaku tampannya kepada Meta sejak dulu, Meta tidak akan mengagumi orang yang disukai oleh Andin dan tidak akan menumbuhkan cinta bersemi hari demi hari kepada Zidan Haq. Bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.
"Ndin, bagaimana menurutmu dengan jodohku?"
Meta menanyakan pendapat kepada Andin setelah pelajaran Akhlak telah usai pada suatu malam hari dengan wajah berseri-seri. Andin yang ditanyai hal itupun berhasil membuatnya sangat terkejut. Andin pun segera mengendalikan keterkejutannya agar tidak terlalu mencurigakan.
"Ah biasa saja menurutku Met.." (jawab Andin dengan penuh kepercayaan dirinya)
"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu susah payah untuk bersaing denganmu."
Betapa terkejutnya Andin mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Meta, sahabatnya. Tetapi ia segera mengendalikan keterkejutannya kembali. Yaa, ia memang harus terbiasa dengan keadaan seperti ini. Yaitu berpura-pura seperti tidak tahu menahu tentang jodoh yang selalu dibicarakan oleh Meta. Tentu saja itu bertujuan untuk tidak menyakiti perasaan Meta.
......................
"Saatnya berangkat ke sekolah yeay.."
Terlihat Andin yang sedang berkemas menyiapkan segala keperluan untuk bersekolah sesekali mendendangkan lagu-lagu cinta dengan riang gembira.
"Wah, rupanya ada yang sangat bersemangat sekolah akhir-akhir ini.."
Meta yang masih diatas ranjang dengan memegang buku diary nya, menyindir Andin seperti biasa. Andin hanya mengangkat bahunya tidak berniat untuk membalas sindiran Meta, sahabatnya.
Tentu saja Met, karena di sekolah aku tidak akan bersikap munafik kepada dunia bahwa aku sangat mencintai si kaku tampanku Zidan Haq. Aku benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi diantara aku dan kau nanti, atau bahkan antara aku dan si kaku tampanku.
Sesampainya di sekolah, Andin langsung masuk ke dalam kelas X IIS 1 Favorit. Ya, tentu saja karena Andin memang sengaja berangkat ke sekolah dengan waktu yang kira-kira tidak menunggu lama untuk jam masuk pelajaran segera dimulai.
Semua siswa sudah terlihat di dalam kelas dengan kesibukan mereka masing-masing.
Terkecuali dengan Talita, yang sedang menyangga kepalanya. Dia terlihat sangat gusar, Andin pun segera mendekatinya.
"Dorrrrrr!!!"
Andin memukul keras pundak Talita, tetapi yang dipukul pun tidak bergeming sama sekali.
"Hei, bisa-bisanya kau tidak terkejut." (gerutu Andin)
"Apa kau sudah tidak waras lagi Ndin? Jelas-jelas aku sudah melihat mu di depan tadi, dan mata kita pun sempat beradu tadi kan?" (jawab Talita malas)
__ADS_1
"Hehe, iya juga ya."
Ada apa denganku ini, kenapa aku harus mengagetkan Talita? Jelas-jelas pintu masuk kelas kan ada di depan semua siswa, jadi setiap ada orang yang memasuki ruangan itu pasti tahu kan. Kecuali jika yang tertidur. Cih!
"Eh kau kenapa? Mengapa wajahmu terlihat sangat jelek untuk sepagi ini?"
"Kau sedang peduli kepadaku atau hanya ingin mengejekku saja?"
"Hehe, pepatah mengatakan jika kita bisa melakukan keduanya dengan baik dan benar, maka lakukanlah. Ibaratnya adalah menyelam sambil minum air."
"Makan semua kata pepatah mu! Kau terlalu banyak mendengar kata pepatah. Cih!"
"Kau ini kenapa sih heh."
"Aku benar-benar malas untuk berangkat ke sekolah, tidak ada Kak Ziban. Aku benar-benar rindu padanya huhu."
Andin benar-benar ingin tertawa bergulingan di atas lantai setelah mendengar ungkapan dari Talita yang menurutnya sangat konyol itu. Tetapi ia lagi-lagi menahan nya itu demi menghargai Talita, yang memang sedang terlihat sangat gusar.
"Ah sudahlah, nanti juga pasti segera kembali ke sini."
"Setelah kembali ke sini, aku akan mengungkapkan perasaanku kepadanya Ndin."
"Ya itu terserah denganmu, eh apa kau tahu ada seseorang yang membuka lemari loker ku dan menaruh kotak kecil."
Andin segera memalingkan pembicaraan nya, Talita pun terlihat antusias dengan yang dibicarakan oleh Andin.
"Wah wah, rupanya kau memiliki penggemar Ndin, ayolah ceritakan semuanya.."
Andin pun menceritakan kronologi ceritanya mulai dari ia membuka kotak itu, lalu dengan di dalamnya yang berisi gantungan kuncinya masa kecil yang sudah hilang sejak lama. Talita pun mendengarkan dengan seksama mamahami semua cerita yang keluar dari mulut Andin. Lalu segera mengeluarkan unek-uneknya.
"Hemm..apa kau tidak curiga dengan Tuan Zidan Haq Ndin? Mungkin saja dia yang menaruh kotak itu di lemari lokermu kan? Dia kan pemilik sekolah ini, jadi hal seperti itu adalah hal yang sangat mudah ia lakukan"
Ah iya, masuk akal juga ya. Dari dulu kan Si kaku tampanku kan memang juga sangat dekat dengan Papah Arga.
"Tetapi apa maksudnya dengan pangeran senjana, putri senjani?" (kata Andin)
"Ah, coba kau ingat-ingat Ndin, mungkin saja ada sesuatu yang kau lupakan saat kecil."
__ADS_1
"Hemm, aku benar-benar tidak mengingat tentang sebutan itu, Talita."
"Hemm, begini saja coba nanti kau buka lagi lemari loker mu. Mungkin saja ada petunjuk lainnya kan?" (Talita memberi saran)
"Ah iya kau benar juga Talita. Nanti istirahat pertama aku akan membuka lemari lokerku. Kau ikut denganku ya?"
"Siaaaaaaaappp.."
Mereka berdua telah sepakat untuk bersama-sama menyelidiki tentang siapa pengirim kotak kecil di loker Andin. Jam demi jam pelajaran berakhir, bel istirahat berdenting keras. Andin dan juga Talita segera menuju ke ruangan loker khusus perempuan.
Sesampainya di ruangan khusus loker, Andin langsung membuka lemari loker dengan kuncinya dan Talita yang berada di sampingnya. Tiba-tiba Talita sedikit berteriak..
"Wahhh, seikat bunga.."
Seikat bunga? Untukku? Sebenarnya ini kerjaan siapa si?
"Coba di cek di sekeliling bunga Ndin, mungkin saja ada petunjuk.." (Talita menambahi)
Andin pun segera menuruti kata-kata Talita, yaitu mengecek seikat bunga itu dengan teliti berharap ada sesuatu yang bisa membuktikan siapa pengirim seikat bunga itu. Tapi sayang, tidak ada satupun yang bisa ia temukan dalam seikat bunga itu.
"Tidak ada apapun sama sekali, Talita." (ungkap Andin dengan nada rendah)
"Hemm, apa ada yang spesial dari seikat bunga dalam hidup mu Ndin? Ah, maksudku mungkin saja ada suatu cerita masa kecilmu bersangkutan dengan seikat bunga.."
Andin terlihat berpikir sejenak mendengar perkataan Talita. Ia berusaha mengingat-ingat masa kecilnya yang mungkin saja ia lupakan ada sesuatu yang berkaitan dengan seikat bunga.
"Ah Talita, aku tidak ingat sama sekali. Kau kan tahu kalau aku sedikit pelupa."
"Cih! Ternyata nilaimu saja yang membumbung tinggi ke angkasa. Soal mengingat-ingat kejadian saja kau benar-benar payah Ndin!"
"Ehehe, kau tahu saja.."
Dalam sela-sela pembicaraan antara Andin dan Talita, tiba-tiba terdengar botol plastik yang teringsak keras. Talita dan Andin segera hening seketika, setelah mendengar ada seseorang selain mereka berdua di ruang loker itu.
"Sial. Kenapa disini harus ada botol plastik seperti ini si. Lalu apa gunanya dengan petugas kebersihan di sekolah ini!"
(seseorang mengumpat setelah menginjak botol plastik yang menurutnya sangat bersalah)
__ADS_1
BERSAMBUNG...