Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Tiga Hari Lagi


__ADS_3

Di dalam kamar luas nan mewah, bak puteri raja, tengah terbaring tubuh mungil tak tergerak. Desahan nafas teratur dan hasil pemeriksaan oleh dokter pribadi yang mengatakan bahwa Andin baik-baik saja lah, yang membuat Kumala, Arga, dan Zidan merasa sedikit lebih tenang. Bahwasanya, tidak ada hal serius yang harus di khawatirkan oleh mereka. Terdengar beberapa kali Andin mengigau tak jelas. Hal itu membuat Kumala khawatir mengenai keadaan putrinya itu. Tentu saja, Arga mencoba menenangkan istrinya itu. Menjelaskan bahwa keadaan seperti itu adalah hal yang lazim terjadi kepada seseorang yang tidak sadarkan diri. Dan hal itu pun turut di iyakan oleh dokter pribadi Keluarga Raharga. Hal itu sedikit membuat Kumala lebih tenang. Ia masih terus saja mendengarkan igauan putrinya itu sembari mengelus-elus kepalanya dengan penuh kasih sayang.


"Tan..."


"Te..."


"He..."


"Len...."


Beberapa potongan-potongan ucapan Andin berhasil tertangkap sangat jelas oleh telinga semua yang berada di kamar itu. Kumala menatap mata Arga, seperti ada sesuatu hal permintaan yang tersirat dari sorot mata Kumala kepada Arga. Arga memalingkan wajahnya. Zidan masih diam seribu bahasa. Sedangkan dokter pribadi nya, tiba-tiba angkat suara.


"Maaf jika saya lancang, Tuan Arga. Sepertinya Non Andin sejak tadi mengigau nama seseorang dalam ketidaksadarannya. Apa ia sangat dekat dengan Non Andin?"


Arga tak menjawab. Kumala lah yang angkat bicara.


"Helen. Dia sangat dekat dengan putriku, dokter." (ucap Kumala)


"Jika tidak keberatan, sebaiknya datangkan saja orang itu, Nyonya Kumala. Itu akan membuat kondisi Non Andin jauh membaik." (ucap sang dokter)


Kumala memandang penuh arti ke arah suaminya. Berharap adanya jawaban yang memuaskan dirinya. Tetapi sayangnya, Arga masih saja melengoskan wajahnya. Kumala berusaha membujuk nya.


"Pah..."


Arga mengembuskan nafasnya.


"Zidan, tolong jemput mereka berdua." (ucap Arga pada akhirnya)


"Baik, Tuan."


Zidan meninggalkan kamar Andin dan berjalan keluar dari rumah itu. Terlihat lama menatap ponselnya, lalu mengetikkan beberapa kalimat pesan. Setelah itu, ia memasuki mobilnya dan membelah jalanan.


......................


Di asrama tempat Andin tinggal, terlihat dua perempuan yang tengah berbicara serius di kamar C12.


"Kau yakinkan Andin sekali lagi, ya?" (ucap Zulfia)


Meta terlihat termenung sejenak. Ia memikirkan bagaimana dahulu tanggapan Andin ketika ia berusaha mengatakannya. Ya, Andin pasti tidak akan pernah mendengarkan nya karena ia menganggap Meta hanya cemburu dengannya. Meta menggelengkan kepalanya.


"Tidak Mbak Zulfia, kau saja. Andin tidak akan percaya denganku." (ucap Meta)


"Ku mohon Met,"


"Tidak mbak."


"Kau tidak menyayangi sahabat mu itu?" (ucap Zulfia)


Sahabat? Ku rasa kata itu sudah tak pantas lagi bersemat dalam kami berdua. Seharusnya aku dari awal tidak menyemburui dirinya dahulu. Jika hal itu tidak pernah terjadi, maka sampai saat ini kami pasti masih layak dikatakan sahabat.

__ADS_1


"Ayolah, Meta. Bukankah, kau sangat dekat dengannya? Aku yakin kau sangat menyayangi nya dan tidak ingin hal buruk terjadi padanya." (ucap Zulfia lagi)


Meta tersentuh dengan kalimat yang diucapkan oleh Zulfia. Ya, benar. Sesosok sahabat sejati tidak akan pernah membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada sahabatnya.


"Apa kau juga akan membantu ku, Mbak Zulfia?"


Zulfia tersenyum getir.


"Tidak, kau saja. Masih ada Ummi yang harus ku jaga disini."


"Kau yakin tidak mau membantu ku? Kau yang tahu segalanya. Aku hanya mendengarkan apa yang dikatakan olehmu semuanya."


"Aku tahu, kau pasti bisa, Meta. Kau sahabat yang terbaik, baginya."


Meta terdiam beberapa saat.


"kau pasti bisa, Met. Pergilah ke Surabaya tempat Andin tinggal. Kau tidak perlu kesulitan mendapatkan izin dari Ummi. Biar nanti aku saja yang mencari-cari alasan padanya. Ummi pasti akan mempercayai diriku."


"Baiklah, Mbak Zulfia. Tetapi boleh aku pergi dari sini setelah tiga hari esok saja?" (pinta Meta)


"Memangnya ada apa, Meta?"


"Tiga hari lagi, khatam Tafsir Al-Qur'an."


Zulfia terlihat berfikir dalam diamnya setelah mendengar alasan dari Meta yang sangat masuk akal. Bagaimana pun, mengikuti khatam Tafsir Al-Qur'an adalah semua impian santriwan dan santriwati. Ya, tentu karena kajiannya yang sangat membutuhkan waktu yang lama, tidak seperti kajian yang lainnya. Sebenarnya Zulfia takut akan terjadi beberapa hal tak terduga dalam tiga hari esok. Tetapi, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri dan mencoba mengerti keinginan dari Meta.


"Baiklah, Met. Kau bisa pergi setelah tiga hari esok." (ucap Zulfia sedikit ragu)


......................


Terdengar Helen yang berbicara sekali saja, Andin langsung membuka matanya tak berlama-lama. Semua orang yang berada di kamar itu terperangah dengan yang dilihatnya. Termasuk dokter pribadi Keluarga Raharga.


"Tante Helen dan Rossie, temanmu, sudah ada disini nak." (ucap Kumala masih mengelus kepalanya lembut)


"Apa kalian tadi dijemput oleh..." (ucap Arga pada Helen dan Rossie)


"Biarkan kami bertiga saja, disini." (potong Andin)


Arga tak melanjutkan ucapannya kembali setelah di potong oleh putrinya.


"Ayo, mah, dokter. Keluar dari sini. Beri mereka bertiga waktu." (ucap Arga)


Kumala mencium kening putrinya sebelum keluar dari kamar itu. Tinggal hanya Andin, Rossie, dan Helen yang berada di kamar mewah Andin. Rossie lah yang terlebih dahulu mengangkat suara.


"Hei, kau ini kenapa?! Ada apa denganmu?!" (ucap Rossie sedikit keras)


"Tidak bisakah kau berbicara sedikit lembut padaku, hah?!" (jawab Andin)


Rossie memicingkan matanya.

__ADS_1


"Kau tidak terlihat sakit ketika berbicara denganku."


"Sudah, Rossie. Jangan seperti itu pada Andin." (ucap Helen)


Andin bangun dari baringan nya. Rasanya ia sudah pegal berbaring tanpa bergerak beberapa saat lamanya tadi.


"Hei, kau hanya pura-pura tidak sadarkan diri, ya?!" (ucap Rossie)


Andin cengengesan sendiri.


"Kau memang gila! Sudah membuat semua orang jantungan!"


"Termasuk dirimu, kan?"


Rossie menyeringai. Ia tak mengiyakan yang dikatakan oleh Andin. Sedangkan Helen memampangkan wajah cemberut pada Andin. Andin mulai menyadarinya.


"Ehehe, Tante, maafkan Andin. Andin hanya ingin Tante disini." (ucap Andin cengengesan)


"Kau membuat semua orang panik, sayang."


"Iya Tante, Andin tahu. Itu jalan terakhir hehe."


"Jangan diulangi lagi. Atau Tante tidak akan mempercayai mu lagi, nantinya."


"Iya, Tante Helen."


Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Andin segera kembali ke posisi semula, yaitu berbaring.


"Ku rasa, waktu yang ku berikan sudah cukup." (ucap Arga)


Kumala berada di belakang Arga tanpa berbicara sepatah katapun.


"Kalian berdua, keluarlah dari kamar ini. Seorang pelayan berada tepat di depan pintu. Dia yang akan menunjukkan kamar untuk kalian." (ucap Arga pada Rossie dan Helen)


"Biarkan kami pulang saja." (sergah Helen)


"Ini sudah larut malam. Lagipula, Andin tidak akan mengijinkan kalian pergi dari rumah ini."


Terlihat Andin yang mengedipkan matanya beberapa kali pada Helen. Itu artinya, Andin memang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Arga.


"Baiklah."


Helen dan Rossie meninggalkan kamar Andin dan mengikuti pelayan yang menunjukkan kamar untuk mereka berdua.


"Tiga hari lagi, pesta pernikahan paling meriah yang belum ada dimanapun, akan diadakan di rumah ini." (ucap Arga)


Andin seketika melototkan kedua matanya. Kumala tersenyum lalu mendekati putrinya, dan duduk di sebelahnya. Sedangkan Arga masih berdiri tenang di tempatnya.


Kenapa buru-buru sekali?! Bagaimana dengan pendidikan ku, nantinya?!

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Mohon maaf baru sempat up, dikarenakan sedang sakit beberapa hari terakhir dan hari ini pun masih. Jadi, mohon di maklumi karena tidak maksimal.🙂🙏 Terimakasih dukungannya, semoga kalian selalu di berikan nikmat sehat yaa💛


__ADS_2