Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Diary Arif


__ADS_3

Lampu lalulintas berubah menjadi merah, itu pertanda semua pengendara harus memberhentikan kendaraan nya untuk sebentar secara bergantian. Tentu saja bukan tanpa alasan, peraturan lalulintas diciptakan untuk membuat semua pengendara menjadi teratur dan juga agar meminimalisir terjadinya kecelakaan lalulintas.


Tepat di bawah lampu merah, mobil sport putih keluaran terbaru berhenti. Ya, ialah mobil dari Zidan Haq dan disampingnya ialah Andin Raharga. Mereka akan menuju ke rumah Arif karena permintaan dari Andin. Tentu saja bukan karena Zidan takut dengan ancaman Andin bahwasanya akan diadukan kepada Tuan Arga jika Zidan tidak membantunya. Tapi karena alasan tertentu, hanya Zidan dan tuhannya lah yang mengetahuinya.


Sepanjang perjalanan Andin hanya terdiam saja, karena di satu sisi ia memikirkan keadaan Arif dan di sisi lain Andin benar-benar sedang merasa nervous karena semobil dengan si kaku tampannya.


Ah aku seperti istrimu saja, ayo ajak aku bicara. Kenapa anda mendiamkan wanita seimut diriku ini?! Ayolah katakan sesuatu, seperti "aku mencintaimu" misalnya.


Andin masih mengahadap ke bagian kiri jalan, sesekali menghadap ke arah depan lalu ke bawah. Begitupun seterusnya, Andin tidak berani untuk menghadap ke arah kanan nya karena ia benar-benar terlihat tersipu malu dengan jantung tidak karuan. Tiba-tiba lampu lalulintas berubah menjadi hijau, tetapi Zidan Haq belum juga menjalankan mobilnya yang membuat Andin penasaran untuk menghadap ke kanan. Rupanya ia baru akan menjalankan mobil sport nya itu. Andin segera kembali menghadap ke arah depan.


Ah jantungku benar-benar seperti ingin meledak saja. Aaaa, anda terlihat keren sekali dari samping.


"Apa kau sudah makan?"


Zidan Haq bertanya kepada Andin, yang tentunya membuat Andin merasa senang karena si kaku tampannya akhirnya memulai pembicaraan.


"Ah, saya belum lapar."


"Kalau sudah waktunya makan, ya makan. Jangan ditunda-tunda nanti perutmu sakit." (Zidan menjawab dengan tangan masih menyetir di kemudinya)


Aaaaa, tolong jangan membuatku tambah mengagumi anda.


"Baiklah."


Andin menanggapi Zidan dengan singkat, ia benar-benar sudah tidak bisa berkata-kata lagi dihadapan si kaku tampannya.


"Atau sekarang kau ingin makan terlebih dahulu?"


"Ah tidak usah. Saya ingin menjenguk Arif terlebih dahulu. Lagipula nanti di rumah Arif kan pasti ditawari makan hehe."


Andin menjawab dengan sangat polos. Sedangkan Zidan terlihat menghadap ke kanan jalan dengan tersenyum setelah mendengar kata-kata polos Andin. Benar-benar tersenyum sangat manis dengan lesung pipi yang terlihat sempurna. Tapi sayang, Andin tidak melihat pemandangan itu.


Setelah hampir setengah jam lebih, akhirnya mobil sport putih terhenti di depan halaman rumah Arif yang besar tapi tentu saja masih besar rumah Andin.


Andin yang memang masih memakai seragam sekolah putih abu-abu segera turun tanpa di perintah siapapun. Begitupun dengan Zidan yang mengikuti untuk turun dari mobilnya.


"Permisi, apa ada orang di rumah." (Andin sengaja menaikan suaranya agar si pemilik rumah segera keluar)


"Assalamualaikum."


Zidan mengucapkan salam setelah mendengar Andin hanya mengucapkan permisi saja. Andin pun terlihat diam karena kebiasaan nya kepada siapapun tanpa mengucapkan salam diketahui oleh si kaku tampannya.


Aaaa, anda memang idamanku.


Andin segera mengulangi kalimatnya, dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Tanpa menunggu waktu yang lama, ada seseorang yang keluar membukakan pintu, ya asisten rumah tangga Arif. Andin pun langsung mengucapkan salam dan juga mencium telapak tangan asisten rumah tangga Arif. Tentu saja karena ia harus bersikap sangat sopan dan manis di hadapan si kaku tampannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum bi, aku mendengar Arif kecelakaan. Apa Arif baik-baik saja?"


"Waalaikumsalam, biar bibi telepon dulu ya. Dia sedang ada di kamarnya."


Kenapa harus lewat telepon sih? dan kenapa juga harus minta izin. Aku kan temannya!


"Kenapa harus di telepon sih bi, aku kan temannya."


"Maaf non, itu karena keluarga ini memang sangat menjaga privasi."


Idih, main privasi-privasi an segala. Dasar si Arif!


"Silakan non, tuan.. kalian diizinkan masuk."


Tentu saja sudah pasti diizinkan!


Andin dan Zidan Haq masuk ke dalam rumah Arif. Zidan duduk di ruang tamu, sedangkan Andin segera menuju ke kamar Arif.


"Apa anda tidak ikut ke kamar Arif dengan saya?"


"Silakan kamu saja, aku disini saja."


"Tapi Arif kan laki-laki, apa tidak lebih baik jika anda ikut saja."


Zidan hanya menjawab ajakan Andin dengan menggelengkan kepalanya lalu tersenyum. Seperti mengatakan tidak apa-apa sana, kamu saja.


Andin segera beranjak untuk ke kamar Arif dengan didampingi oleh bibi untuk menunjukkan kamar Arif.


"Non itu kamarnya yaa, bibi mau ke bawah dulu. Mau buat minum untuk tuan di bawah."


"Baik bi, terimakasih."


Andin membuka pintu kamar Arif dengan hati-hati, takut Arif terganggu. Andin menyusuri kamar Arif dengan pandangan terkejut karena Arif tidak ada di kamarnya dan..


Apa aku tidak salah lihat?! kenapa kamar Arif berwarna merah jambu seperti ini?! dan lihatlah pernak-pernik yang hampir warna senada lalu..boneka?! Cih! yang benar saja, bisa-bisanya Arif menyukai warna perempuan seperti ini. Ah, pantesan saja ia memang sangat mengagumi kak Ziban. Ah ayolah Andin, jangan membahas kak Ziban karena selama tiga hari ini adalah kebebasan mu tanpa si pengganggu itu.


Andin menyelusuri kamar Arif yang hampir semuanya berwarna pink. Lalu Andin melihat-lihat meja belajar Arif.


Tiba-tiba Andin menemukan foto perempuan dan juga buku diary Arif.


"Wah, foto siapa ini? apa mungkin adiknya Arif?"


"Ah, rupanya aku lebih tertarik ke buku diary nya. Haha, aku ingin lihat apa saja kehidupan suka dan duka Arif selama ini. Maaf ya Arif, aku lancang akan membaca diary mu."


"Ah iya Andin, kau kan sahabat karibku. Baca saja lah, aku akan sangat senang jika kau mau membaca buku diary ku."

__ADS_1


Andin cekikikan sendiri dengan dialog karangannya yang berperan menjadi dirinya sendiri dan juga menjadi Arif.


Minggu, Februari.


Aku adalah seorang yang tidak tahu diri.


Melawan ketentuan mu,


Apakah aku masih bisa untuk dimaafkan olehmu, tuhan?


Aku telah menerima ganjaran dari perbuatanku.


Terimakasih karena engkau masih memberiku nafas hingga detik ini.


Mereka dahulu memuja-muja diriku.


Lalu sekarang kehidupan benar-benar berputar


Terimakasih tuhan, atas nikmat mu.


Andin membaca dengan khusyuk walaupun terlihat mengernyitkan keningnya, karena tidak memahami arah pembicaraan Arif. Lalu ia kembali membuka lembaran selanjutnya.


Selasa, April


Kemarin seseorang mengatakan kepadaku,


"Jika hari ini kamu sedang diuji, percayalah suatu saat kamu akan menerima hasil ujian itu. Apakah kamu akan lulus ataupun tidak. Itu semua tergantung dengan dirimu."


Yaa, dan aku akan berusaha untuk mendapatkan nilai memuaskan. Aku tidak akan mengeluh padamu lagi tuhan. Aku tahu engkau hanya ingin melihat kemampuan ku dalam menghadapi masalah.


Aku tahu engkau hanya ingin menaikkan derajat ku dengan mengujiku terlebih dahulu.


Terimakasih orang-orang baik.


Terimakasih yang masih mau menjadi temanku saat aku diterpa kesusahan.


Love


Talita Arifa


"Kenapa diakhir diary tertera nama Talita Arifa? dan maksud dari ini semua apa si? Ah aku akan membuka lembar selanjutnya, pasti ada jawaban di lembar selanjutnya"


Andin masih sangat bingung dengan curahan hati Arif di diary nya. Sebelum Andin membuka lembar selanjutnya, seseorang tiba-tiba muncul di kamar itu.


"Letakkan kembali buku diary itu!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2