
Cinta dan kekuatan, selalu datang beriringan
Hadirmu, penyemangat hidupku
Tanpamu, aku tak mampu
Ku ukir nama indahmu di lubuk hatiku
Nama yang selalu aku agung-agungkan
Nama yang selalu ku ucap dalam setiap sujud ku
Apa kau tahu itu?
Kata orang, cinta memang tidak harus memiliki
Benarkah? Apa kau percaya itu?
Tuhan pasti tahu, akan hambanya yang menyimpan seberkas cinta tulus kepada-nya dan juga kepada salah satu hamba-nya
Yaa, aku percaya itu
Aku mungkin tak akan bisa mengejarmu secara langsung, tapi percayalah aku akan memintamu dari tuhan mu.
Uhibbuka Fillah, ustadku.
"Wah wah wah...so sweet banget hahahaha."
Andin ikut membaca diary Meta ketika Meta sedang menulis curahan hati di buku diary nya. Tentunya tanpa Meta ketahui sejak tadi Andin memang sudah berada di belakangnya. Andin segera menertawai curahan hati Meta yang menurutnya sangat menggelikan. Tentu saja Meta langsung menutup buku diary nya lalu segera melotot kan matanya ke Andin.
"Huh, biarkan sajalah bukan urusanmu!" (Meta menjawab Andin dengan sinis)
"Ututu uhibbuka fillah ustadku hahaha. Aku mencintaimu karena Allah, ustadku."
Andin sengaja membuat-buat nada bicaranya sengaja untuk meledek Meta, sahabatnya. Tentu saja Meta sangat terpancing dengan ledekan Andin. Tetapi Meta hanya diam saja mendengar ejekan dari Andin, sahabatnya. Karena jika Meta berkata-kata lagi, Andin pasti akan lebih meledek nya.
"Hahaha, sejak kapan kau jadi melankonis seperti itu Met. Aku benar-benar baru tahu ternyata kau mempunyai sisi bucin juga haha."
"Hoammm, bukan urusanmu!"
Meta menguap lebar dan segera beranjak ingin meninggalkan Andin, daripada ia dihujat terus-terusan. Tapi Andin segera menarik lengan Meta karena ia tahu Meta memang ingin menghindar darinya.
"Heiii, kau mau kemana?! Aku belum selesai bicara denganmu, dasar."
"Ah, aku sedang malas berdebat denganmu biar aku tidur saja."
"Ah ayolah Met, biasanya kan kau yang selalu menjadi teman curhat ku. Sekarang giliran aku yang mau mendengar cerita-cerita mu."
__ADS_1
Meta segera duduk kembali bersama Andin dan memulai bicara.
"Aaaa Andin, aku benar-benar mencintai pak ustad huhu."
Meta memulai bicara kepada Andin dengan nada menangis yang dibuatnya. Tentu saja itu membuat Andin merasa sangat geli dengan tingkah Meta, sahabatnya yang tidak pernah bertingkah seperti itu sebelumnya.
Hahahaha, aku benar-benar geli dengan tingkahnya. Sebelum-sebelumnya Meta kan tidak pernah seperti itu. Aaah, cinta kepada seseorang memang bisa mengubah sifat dan sikap secara tiba-tiba. Tahan Andin, tahan. Jangan tertawa, dengarkan saja curahan Meta. Aku mohon jangan tertawa.
"Hahaha, aku geli sekali aduhhh sakit perutku."
Andin tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya menahan sakit karena tertawa. Sedangkan Meta hanya menampilkan raut muka merengut, yang membuat Andin semakin menjadi-jadi dalam menertawai tingkah Meta, sahabatnya.
Setelah beberapa saat tertawa dan akhirnya lelah, Andin segera mengajak bicara Meta kembali.
"Baiklah Met, mari kita serius. Memangnya apa yang membuatmu tergila-gila dengan ustadmu itu si?"
"Aaaa Andin, dia sangat keren di mataku."
Huh dasar! Kau memang hanya sedang dimabuk cinta saja Met. Palingan seleramu itu sangat rendah haha.
"Memangnya definisi keren menurutmu seperti apa?"
"Ah intinya aku benar-benar mencintainya."
Meta mengatakan kepada Andin dengan kedua tangannya yang menopang di dagunya sambil tersenyum berbunga-bunga seperti memang sedang dimabuk cinta.
"Hemm, aku jadi penasaran dengan pujaan hatimu itu. Aaahh, tapi tentu saja masih keren si kaku tampanku."
......................
Di tempat lain, tepatnya gedung khusus cerdas cermat tingkat internasional. Gedung yang memang hanya khusus untuk kegiatan diskusi cerdas cermat antarnegara. Hanya beberapa orang tertentu lah yang bisa memasuki gedung itu. Kebanyakan undangan diskusi ialah yang memiliki gelar tertinggi dalam pendidikan. Hanya satu orang saja yang masih sangat muda dan juga sekretaris nya yang bisa memasuki gedung itu. Tidak lain tidak bukan ialah Ziban Alkash dan juga sekretaris Chan. Sekretaris Chan lah yang mengurusi semua kegiatan penting menyangkut Ziban Alkash seperti undangan, meeting, cerdas cermat, dan berbagai kegiatan lainnya. Sekretaris Chan berusia tiga tahun lebih tua dari Ziban Alkash. Ia selalu berada di sisi tuannya, yaitu Ziban Alkash kapanpun ia dibutuhkan.
Terlihat beberapa perwakilan dari berbagai negara sedang berbincang lebih santai setelah meeting mengenai cerdas cermat tingkat internasional tadi. Bahasa Inggris digunakan dalam semua topik pembicaraan mereka termasuk berbicara santai sekalipun. Ziban Alkash hanya diam saja, beberapa kali Sekretaris Chan lah yang ikut membuka suara. Ia segera melirik Sekretaris Chan dengan tatapan aneh, yang membuat Sekretaris Chan segera menyadari tuan nya sedang gelisah.
"Apa anda ingin segera keluar dari sini, tuan?" (sekretaris Chan berbisik di dekat Ziban)
Ziban Alkash hanya menatap sekretaris nya dengan tatapan sebal, seperti mengatakan..
Jangan bertanya jika kau sudah tahu jawabannya, bodoh! Cepat bawa aku keluar dari sini apapun alasannya!
Sekretaris Chan segera memahami maksud tuan Ziban tanpa perintah dari tuannya. Lalu ia melangkahkan kaki menuju kursi pemimpin meeting. Semua pasang mata memandangnya, tapi ia tidak peduli dengan di sekeliling nya. Yang ia pedulikan hanyalah Tuan Ziban Alkash.
"Maaf tuan, tuan Ziban Alkash sedang tidak enak badan. Apakah kami bisa keluar dalam rapat?" (tanya Sekretaris Chan kepada pemimpin rapat)
"Ah ya, tentu saja. Katakan kepada Tuan Ziban untuk beristirahat saja."
Sekretaris Chan segera undur diri setelah mengucapkan terimakasih dengan Bahasa Inggris tentunya.
__ADS_1
Lalu Sekretaris Chan membukakan pintu untuk Tuan Ziban Alkash kemudian mereka meninggalkan ruang meeting itu dan segera kembali ke kamar khusus tamu undangan.
"Sekretaris Chan.."
Ziban memanggil Sekretaris Chan sambil berbaring di ranjang miliknya dan juga sedang memandangi foto seorang perempuan yang sangat disayanginya. Tidak lain tidak bukan ialah ibu tercintanya.
"Ya Tuan, apa anda membutuhkan sesuatu?"
"Hemm, kapan kita akan kembali ke Indonesia?"
"Dua minggu lagi, tuan. Itupun jika tidak ada perpanjangan meeting disini. Karena bagaimanapun anda memang sangat berpengaruh di sini tuan."
"Apa kau tidak bisa membuat ku untuk segera kembali ke Indonesia?"
"Maaf tuan, untuk hal yang sangat penting seperti ini saya tidak bisa menuruti kemauan anda."
"Dasar tidak berguna!"
Ziban Alkash melempar bantal ke wajah Sekretaris Chan dengan sangat keras, tetapi Sekretaris Chan hanya diam saja.
"Maafkan saya tuan."
Kegiatan rutin Ziban Alkash yang menjadi tamu undangan cerdas cermat tingkat internasional yaitu menghadiri meeting dan diskusi. Selebihnya Ziban Alkash masih mempunyai waktu yang lumayan banyak di dalam kamar khusus tamu undangan. Ia memang sering merasa bosan di situ dan ingin segera kembali ke tanah air untuk bersekolah dan juga mengerjai Andin sepuasnya seperti biasa.
Aaah, rasanya tanganku gatal sekali ingin mengerjai kebon karet lagi. Lihat saja nanti, ketika aku kembali aku akan menyuruh ini dan itu kepadamu. Kau hanya akan menjadi bonekaku ketika aku sedang bosan hahaha.
Ketika Ziban Alkash sedang melamun tiba-tiba Sekretaris Chan mengetuk pintu.
"Masuk saja Sekretaris Chan."
Sekretaris Chan masuk ke dalam kamar Ziban Alkash dan mengutarakan maksud kedatangannya.
"Ada seseorang yang ingin menemui anda, tuan."
"Siapa?"
"Tuan Bram."
"Katakan saja aku sedang tidur."
"Anda tidak mau menemui Tuan Bram sebentar saja tuan?"
"Apa aku harus mengulangi kata-kata ku lagi?!"
"Maafkan saya tuan."
Sekretaris Chan segera beranjak pergi meninggalkan Ziban Alkash setelah pamit undur diri dan segera menyampaikan kepada Tuan Bram bahwa Tuan Ziban sedang beristirahat.
__ADS_1
Tuan Bram adalah tamu undangan yang berasal dari Indonesia juga. Ziban Alkash memang tidak terlalu suka bertemu dengannya, entah apa alasannya hanya ia dan tuhannya lah yang mengetahui.
BERSAMBUNG...