Ustad Atau Alkash?

Ustad Atau Alkash?
Apa Hak Mu?


__ADS_3

Cinta adalah perjuangan, dan


Cinta adalah pengorbanan.


Persetan!!!!


Sakit ketika harus menahan lelara yang mendera. Luka yang baru saja berhasil di ukir. Entah kapan akan berakhir. Saat ini, berdamai dengan diri sendiri pun bahkan belum terpikir.


Sudahlah Tuhan, jangan dengarkan rengekan ku ini. Bukankah seperti biasa kau selalu seperti itu?


Maafkan aku Tuhan. Tolong jangan di bawa hati perkataan ku ini. Aku hanya sedang tidak merasa baik-baik saja.


Andin meletakkan kembali secarik kertas yang sudah kusut yang ia temukan di bawah meja kamar C12. Ia memang sedang membersihkan kamar C12.


Meta benar-benar terluka. Selama ini ia tidak pernah menyukai seseorang sedalam ini. Ah, seharusnya aku dan kau tidak pernah mengalami di posisi yang sangat kikuk seperti ini. Semua ini salahku. Murni salahku.


Andin terduduk lemas di lantai. Ia memberhentikan pekerjaannya dalam membersihkan kamar C12. Seketika bayangan dari beberapa bayangan mengenai pembicaraan Meta padanya terngiang-ngiang. Bayangan dimana Meta yang tiba-tiba datang kepada Andin dengan tujuan sesuatu yang penting, sesuatu yang harus di sampaikan, sesuatu yang harus Andin ketahui. Begitu kata Meta dalam mengawali pembicaraan nya. Apa pun dan bagaimanapun yang terjadi, Andin selalu berusaha biasa-biasa saja di hadapan Meta. Bercerita kesana kemari, mengumbar aib seseorang, sepertinya bukanlah kebiasaan Andin. Ia hanyut dalam bayangan itu.


"Aku ingin meminta maaf kepadamu Ndin."


"Sudahlah Meta, aku lah yang bersalah."


Mereka berdua terdiam beberapa saat. Entah apakah yang mereka pikirkan di pikiran mereka masing-masing. Dan juga tentunya karena tidak akrab selama beberapa waktu lamanya lah yang mendongkrak kekikukan diantara mereka berdua.


"Apa kau benar-benar mencintai Ustad Zidan, Ndin?"


Andin tidak menjawab pertanyaan dari Meta. Ia takut jawabannya akan salah.


"Andin, kumohon jawab saja pertanyaanku."


"Ehm Met...Ustad Zidan juga..."


"Iya Andin, aku mengetahui akan hal itu. Aku tahu ia sangat mencintai mu."


"La-lu?"


"Aku hanya ingin memastikan dan ingin mendengar langsung darimu. Apakah kau benar-benar telah memantapkan hati hanya untuknya Ndin?"


Andin semakin tidak mengerti arah pembicaraan Meta.


"Mengapa kau tiba-tiba menanyakan akan hal itu kepadaku?"


"Andin...jawab saja apa susahnya?"


"Ya, tentu saja aku sangat mencintai Ustad Zidan, begitupun sebaliknya. Tentu saja, itu ia sendiri yang mengatakan. Dan kau tadi bertanya perihal memantapkan hati? Saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang telah dewasa, bukan dengan anak-anak. Tentu saja, untuk urusan hati aku dan dia tidak akan pernah bermain-main."


"Andin..."


"Maafkan aku Met, bukan maksudku melukai hatimu."


"Tidak Ndin. Tidak sama sekali,"


Bingung. Satu kata yang patut di gambarkan untuk Andin kali ini. Awalnya ia mengira Meta masih menginginkan Zidan Haq. Oleh karena itu, ia mengatakan hal di hadapan Meta tadi dengan selugas itu. Rupanya Meta terlihat biasa-biasa saja. Tetapi Meta adalah tipikal gadis yang tidak mudah melupakan seseorang. Tentunya ia masih mencintai Ustad Zidan kan? Hanya saja ia memang lebih pandai menyembunyikan perasaannya dibandingkan Andin. Hal itulah yang saat ini masih bergejolak di benak Andin. Tentu saja Andin tidak akan mudah percaya dengan Meta setelah apa yang terjadi diantara mereka.


"Andin, kumohon percaya padaku untuk kali ini saja." (kata Meta)


"Apa yang harus ku percaya, Met?" (jawab Andin tidak terlalu tertarik)

__ADS_1


"Jangan kau lanjutkan hubungan mu dengan Ustad Zidan..."


Marah. Rasanya ingin marah. Rupanya itulah tujuan utama Meta menghampirinya. Ia bahkan sempat berbasa-basi dengan meminta maaf terlebih dahulu. Andin berdecih dalam hatinya. Ia mengutuki karena sempat mengatakan bahwa yang salah bukanlah Meta, melainkan dirinya sendiri.


"Kau sedang cemburu?"


Walaupun darahnya seperti mendidih, tetapi ia masih berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak ingin ego kemarahannya malah akan membuat malapetaka untuk dirinya sendiri. Bermain cantik. Ya, ia akan melakukan hal itu.


"Untuk apa aku cemburu?" (kata Meta sedikit menaikkan nada bicaranya)


"Untuk apa kau cemburu? Bukankah kau sangat memuja nya?" (jawab Andin menyeringai)


Meta menghela nafas dan memejamkan matanya.


"Ya Andin. Ku akui aku memang pernah memuja nya,"


"Tetapi percayalah, hal itu adalah dulu. Sekarang aku tidak memuja nya lagi."


Andin menganggukkan kepalanya. Mempercayai perkataan Meta? Tentu saja tidak.


"Lalu apa alasan mu melarang ku berhubungan dengan Ustad Zidan?"


"Andin..." (Meta menggantungkan kalimatnya)


"Andin, aku..."


"Kau tidak perlu mengetahui apa alasanku Ndin."


"Apa hak mu?"


Andin berdecih keras. Lagi-lagi ia hanya berdecih di dalam hatinya. Rasanya ia ingin mengeluarkan isi perutnya.


"Mengapa aku harus menuruti perkataan mu?"


"Ini demi kebaikanmu Ndin."


"Kebaikan seperti apa memangnya?"


"Mbak Zulfia yang mengatakan, bahwa Ustad Zidan tidak baik untukmu Ndin. Ada sesuatu yang tidak kau ketahui darinya..."


Ada sesuatu yang tidak ku ketahui? Tidak, tidak. Kau tidak boleh percaya dengan omong kosong orang lain Ndin.


"Andin?"


"Andin..."


"Ndin... Kenapa kau duduk di lantai seperti itu."


Seseorang yang sejak tadi yang muncul dalam bayang-bayang, tiba-tiba menjadi nyata. Ya, Meta menghampiri Andin yang tengah terduduk di lantai. Andin kembali ke dalam dunia nyatanya. Hanya saja, ia bertemu dengan orang yang sama seperti di dunia bayang-bayang nya tadi.


"Andin...?"


"Ah iya." (jawab Andin dan segera berdiri)


Tiba-tiba Meta melihat secarik kertas usang yang ia kenali. Ia pun mengambilnya dan memastikan apakah kertas itu adalah miliknya atau bukan.


"Ah Ndin, ini adalah kertas yang sudah lama. Ku mohon jangan diambil ke hati." (kata Meta sedikit kikuk)

__ADS_1


"Bukankah kertas ini sudah ku buang? Kenapa tiba-tiba ada disini si." (lirih Meta)


Walaupun Meta berujar lirih, tentu saja Andin masih dapat mendengar dengan baik. Hanya saja, Meta memang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengumpat di hadapan Andin.


Cih! Kau tidak perlu berusaha berperan menjadi sahabatku lagi Met. Dan teruntuk diriku sendiri, ku mohon kali ini kau harus bertindak tegas dan berperan antagonis di hadapannya! Ku mohon jangan merasa tidak enak seperti ini.


"Kau bicara apa tadi Met?" (selidik Andin)


"Aku? Aku tidak mengatakan apapun Ndin."


"Ah iya, baiklah."


"Andin...?"


"Iya..."


"Kau sudah mempertimbangkan apa yang pernah aku bicarakan kan?"


"Apa yang kau bicarakan?"


"Mengenai Ustad Zidan. Kau tidak akan melanjutkan hubungan kalian kan?"


"Aku akan menuruti keinginan kedua orang tuaku. Dan jika mereka berdua telah menjodohkan ku dengan Ustad Zidan, tentunya mereka sedang berusaha memberikan yang terbaik untukku."


"Andin, kau tidak tahu..."


"Kau merasa lebih mengetahuinya dibandingkan diriku, Met? Ingat ya, aku sudah mengenalnya lama dan bahkan sudah sangat dekat."


"Bukan seperti itu maksudku Ndin..."


"Kau sedang cemburu kepadaku kan?"


"Sudah ku katakan tidak Andin,"


"Entah mengapa aku merasa Ustad Zidan tidak pantas bersanding denganmu Ndin..."


"Iya, karena yang lebih pantas bersanding dengannya hanya kau kan?! Begitu maksudmu?"


"Kau telah salah paham Ndin. Semua ini yang mengatakan adalah Mbak Zulfia. Dan apa kau tidak percaya dengan nya?"


"Memangnya apa yang harus ku percaya darinya?"


"Astaga Andin. Sudah ku katakan bahwa Mbak Zulfia lah yang mengatakan bahwa Ustad Zidan adalah orang yang tidak tepat untukmu."


"Kalian berdua sama saja."


Andin hendak meninggalkan Meta. Rasanya ia sudah benar-benar muak harus berdebat dengannya. Tidak akan ada akhirnya. Tidak akan ada titik terang jalan terbaiknya. Berbicara dengannya adalah hal yang sia-sia. Begitu pikirnya.


"Andin...aku hanya ingin kau tidak salah dalam memilih."


Kata Meta sembari mencekal lengan Andin. Andin menghembuskan nafasnya geram. Ia benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Meta kepadanya. Kali ini ia sudah kelewatan batas.


"Papah Arga dan Mamah Kumala adalah kedua orang tuaku. Dan mereka tidak akan menyesatkan ku. Camkan itu!"


Andin melepas kasar genggaman Meta. Lalu ia meninggalkan Meta. Meninggalkannya di kamar C12 sendirian.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2