
"Aku boleh memakai baju handuk yang berwarna merah muda saja?" (ucap Zidan)
"Eh, jangan. Itu punyaku." (jawab Andin)
Andin menjawab dengan masih memalingkan wajahnya, tanpa melihat Zidan Haq sedikitpun.
"Apa aku tidak boleh meminjam baju handuk istriku?"
Oh, Tuhan.
"Itu sudah aku pakai beberapa kali. Kau ambil yang baru saja."
"Memangnya ada masalah apa?"
"Ya, karena sudah bekas ku."
"Tapi aku suka."
Zidan mengambil baju handuk berwarna merah muda dan langsung memakaikan di badannya. Lalu mendekati Andin yang tengah duduk di pinggir ranjang dengan masih memakai baju pengantinnya yang berwarna putih. Zidan merendahkan tubuhnya supaya seimbang dengan Andin yang tengah duduk.
"Kau mau mandi, apa tidak?"
Andin diam saja.
"Kenapa tidak menatap ku?"
"Andin..."
"Istriku..."
Ya, Tuhan.
"Karena kau masih memakai baju handuk." (ucap Andin menghadap Zidan dengan ragu-ragu)
Zidan menertawai kepolosan Andin.
"Kenapa kau tertawa?"
Zidan menyudahi tawaannya. Lalu ia duduk di samping Andin.
"Kita ini sekarang suami istri, dan kita bebas melakukan apa saja." (ucap Zidan)
"Bebas melakukan apa saja? Seperti apa contohnya?"
Zidan memejamkan matanya. Berusaha mencari-cari kata yang tepat untuk disampaikan. Ia sangat memahami Andin. Bagaimanapun, Andin memang baru lulus sekolah kemarin. Tetapi sangat tidak mungkin jika di umurnya Andin yang sekarang, ia tidak mengetahui apa arti malam pertama. Hanya saja, sangat memungkinkan bahwa Andin memang belum mengetahui cara-caranya. Yes, it's very reasonable. Begitulah pikir Zidan.
"Aku tanya sekali lagi, kau mau mandi apa tidak?" (ucap Zidan mengalihkan pembicaraan)
"Sudah malam." (jawab Andin tanpa menatap mata Zidan)
"Kau takut? Biar aku temani ya."
Apa?! Yang benar saja?!
"Ehehe, tidak usah. Itu akan sangat merepotkan."
"Tentu tidak, istriku."
"Aku sedang tidak ingin mandi."
"Memangnya kenapa?"
"Sedang tidak ingin saja."
"Ya sudah, tidak apa-apa. Kita tetap akan melakukannya malam ini."
Andin menelan salivanya berat. Ia memahami maksud perkataan Zidan.
Ya, aku memang mencintainya. Bahkan merasa sangat mencintainya. Tetapi entah mengapa, tiba-tiba ada sesuatu yang membuatku merasa belum siap untuk melakukan semuanya. Aku pun tidak tahu, hal apa yang memberatkan ku kali ini. Sekarang ini, ada sesuatu yang tidak ku pahami, apalagi jika harus di tuntut untuk mengatakannya. Itu sulit, percayalah.
"Andin..."
__ADS_1
"Eh, iya. Aku akan cuci wajah saja, ya."
Zidan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Kali ini Andin menatap mata Zidan.
Dia suami sah ku. Aku harus melayaninya sebisa dan semampuku. Itu yang ku tahu. Siap tidak siap, aku harus melakukannya.
Andin berdiri hendak mengambil baju handuk di lemari. Walaupun hanya berniat mencuci wajahnya saja, tentu ia tetap harus mengganti gaun pengantinnya dengan baju handuk terlebih dahulu. Dan tanpa sepengetahuannya Andin, Zidan terus saja memperhatikan Andin secara diam-diam. Ketika Andin masih memilih handuk mana yang hendak ia pakai, tiba-tiba kedua mata Zidan fokus di bagian panggul Andin.
"Andin..."
Andin membalikkan badannya.
"Ya, ada apa?"
"Sepertinya kau salah duduk tadi."
Apa? Salah duduk?
"Maksudnya?"
"Atau jika tidak, mungkin gaun mu terkena tumpahan jus."
Tumpahan jus? Dia sedang membicarakan apa?
"Ah, ayolah, bicara yang jelas." (rengek Andin)
"Lihat lah bagian belakang mu."
Andin pun langsung melihat bagian belakangnya.
Astaga, tadi dia bilang ini terkena tumpahan jus. Padahal ini kan darah. Sudah dua orang laki-laki yang menangkap basah dengan mata kepalanya, ketika aku kebocoran seperti ini. Dulu saat di sekolah, Kak Ziban, sekarang suamiku.
"Benar kan? Itu air jus yang menempel di gaun mu?" (tanya Zidan)
Andin mengernyitkan keningnya.
Dia bahkan masih belum tahu, ini apa. Apa semua laki-laki tidak mengetahuinya? Eh, bukannya Kak Ziban dulu sangat mengerti? Bahkan dulu, dia menyiapkan rok ganti untuk ku. Kenapa suami ku tidak tahu? Ah, aku yakin dia tengah berpura-pura saja. Mungkin, dia hanya sedang menjaga perasaan ku agar tidak malu.
Andin mencoba mengingat-ingat kapan terakhir ia datang bulan.
Darah istihadoh. Ya, itu adalah darah yang keluar dari ******** wanita di luar kebiasaan atau di luar waktu haid. Tidak biasanya Andin sampai mengalami istihadoh. Itulah yang dipikirkan Andin saat ini.
"Ada apa, kenapa diam?" (ucap Zidan)
"Ini darah."
Zidan Haq mengerti darah apa yang dimaksud Andin. Ia memejamkan matanya sekejap, lalu menghembuskan nafasnya pelan. Seperti menyiratkan suatu kekecewaan yang ia simpan. Ya, namanya juga tamu. Tidak boleh di tolak. Begitu pikirnya, berusaha memahami keadaan Andin sekarang ini.
"Kenapa darahnya ada di belakang?"
Zidan terlihat sangat serius dalam bertanya. Lagi-lagi Andin masih tidak menyangka bahwa Zidan memang tidak tahu apa-apa mengenai perempuan.
"Lalu darahnya memangnya harus dimana? Apa harus di kepala?"
"Suami mu ini sedang bertanya pada istrinya. Jawab saja lah."
"Lalu, apa yang harus ku jawab?"
"Ya kenapa darahnya menempel di bagian belakang, bukan di depan? Padahal kan anu nya di depan kan?"
Terserah, pikir saja sendiri.
"Aku mau mandi."
"Katanya sedang tidak ingin mandi?"
"Sudah berubah pikiran."
Andin memilih untuk secepatnya menuju kamar mandi dan segera membersihkan badannya.
Setelah beberapa lama waktunya, Andin pun keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai baju tidur panjang dan memakai kerudung simpelnya. Ia melihat Zidan yang tengah memainkan ponselnya dengan santainya sembari menyandarkan kepalanya pada dua bantal yang sudah di tumpuk. Memakai baju tidur juga, hanya saja ia memakai baju tidur yang lebih tipis dan agak transparan. Tidak seperti Andin yang memakai baju tidur yang tebal dan sangat tertutup.
__ADS_1
"Lama sekali mandinya?"
"Sudah terbiasa."
"Kau tidak perlu memakai kerudung jika tengah bersama ku."
Andin menuju sofa nyaman yang memang berada di kamarnya itu.
"Kita buka kadonya, sekarang ya?" (ucap Andin mengalihkan pembicaraan)
Zidan pun memandang meja yang terdapat bertumpuk-tumpuk bingkisan hadiah dari teman-temannya atas pernikahan Zidan dan Andin. Ia langsung saja menjejeri Andin dan bersiap-siap membuka kado untuk mereka berdua.
......................
"Sebenarnya apa yang sedang ibu bicarakan dengan mereka? Dan mengapa harus pulang ke rumah? Jadinya, kita tidak bisa menghadiri acara pernikahan Andin kan."
Rossie menanyakan hal yang tidak di mengerti olehnya. Ia masih kebingungan dengan ibunya, yang tiba-tiba datang ke kamar tamu di rumah Andin. Tiba-tiba ibunya mengajaknya untuk mengikutinya. Rossie pun menuruti perkataan ibunya tanpa ada bantahan sedikitpun darinya. Ia tahu, ibunya sedang serius.
"Begini nak, tadi ibu bertemu mereka berdua di rumah Andin. Mereka berdua, yang mengaku suami istri, tiba-tiba mendekati ibu dan mulai mengajak bicara pada ibu."
"Lalu, Bu?"
"Mereka berdua mengatakan ada sesuatu yang sangat penting. Bahwa ada hal penting mengenai kedua kakak laki-laki mu."
"Kak Zidan dan Kak Ziban?"
"Ya nak. Lalu ibu tentu saja sangat antusias. Bagaimanapun, ibu sangat merindukan mereka berdua. Pasangan suami istri itu bisa mengatakan sesuatu hal mengenai Zidan dan Ziban pada ibu, dengan syarat harus di rumah kita. Dan tentu saja, ibu harus mengajak mu untuk bersiap-siap berharap khayalan ibu menjadi kenyataan. Yaitu Zidan dan Ziban akan datang malam ini juga. Ternyata dugaan ibu, salah."
"Lalu apa yang di katakan mereka berdua? Ah, sayang sekali, Rossie tadi di belakang sangat lama karena sakit perut."
"Awalnya mereka hanya berbasa-basi. Ibu pun menanggapinya dengan sesabar mungkin. Dan ujung-ujungnya, mereka hanya mengatakan bahwa, ayah mu telah menikah dengan Olive."
"Itu kan sudah sangat lama, Bu?"
"Ibu pun tidak mengerti apa maksudnya."
"Ah, mereka berdua berlagak baik dengan memberikan informasi kadaluarsa. Cih!"
"Sudah sayang, mari tidur. Besok kita datang ke rumah Andin, menjenguk pengantin baru."
"Baik, Bu."
......................
"Apa isinya?"
Andin menanyakan kado kesekian kalinya yang mereka buka secara bergantian. Tetapi kali ini Zidan diam saja. Tentu Andin penasaran dengan isinya. Andin pun merebut nya dari Zidan.
"Wah, motifnya indah sekali." (ucap Andin berbinar-binar)
Satu bra dan satu dalaman bawah wanita yang tengah ia lihat-lihat.
"Kau jangan memakai itu, ya."
"Memangnya kenapa? Ini untuk ku kan? Tidak mungkin untuk mu, hehe."
"Nanti aku belikan yang bagus saja."
"Ini benar-benar sangat menarik menurutku. Selama ini aku belum pernah menemukan yang seperti ini. Sepertinya ini di desain khusus."
"Di desain khusus?"
Andin mengangguk sembari tersenyum.
Ziban! Apa-apaan kau ini! Ternyata ini yang kau bilang kau akan mengirim kado spesial itu?!
"Ini benar-benar bagus. Memangnya ini dari siapa?" (tanya Andin)
Zidan seketika menjatuhkan kartu ucapan yang bertuliskan "Untuk Bang Zidan, dari adik laki-laki mu. Semoga selalu bahagia, bang."
"Tidak ada petunjuk siapa yang memberi ini." (ucap Zidan berbohong)
__ADS_1
Awas saja kau ya! Kau sengaja mengirim bra dan dalaman bawah yang di desain khusus untuk istriku, hah?!
BERSAMBUNG...