We And Problems

We And Problems
Chapter 9 : Alexander and Liliana


__ADS_3

Situasi sunyi ini seolah tidak akan berakhir karena tidak ada respon apa-apa dari Liliana. Ree ingin menjawab, namun sangat terasa bahwa ia tidak memiliki hak untuk memutuskan.


“Liliana?” tanya Ree pelan.


“Duduk saja di tempat yang kosong.” jawab Liliana setelah sekian lama mendiami pria itu.


Ree tidak biasa melihat Liliana dingin terhadap orang lain seperti saat ini.


“Terima kasih. Tidak biasanya kamu bersama orang lain?”


Arah tatapan laki-laki itu menuju ke arah Ree dan terasa begitu jelas perbedaannya ketika manik mata hazel itu betabrakan dengan milik Ree, terasa begitu dingin hingga membuat Ree merinding. Caranya tidak seperti senyuman bunga matahari pada Liliana.


“Dia temanku, Ree Iunae Lumen.” jawab Liliana nampak acuh tak acuh.


“Teman? Kalau begitu aku juga, namaku Alexander Northway temannya Liliana.”


Liliana langsung membuang mukanya ketika laki-laki yang duduk di hadapannya memperkenalkan diri sementara Ree hanya tersenyum canggung karena sejak awal ia memang tidak nyaman dengan situasi ini.


“Kita tidak seakrab itu, jadi jauh-jauh.” timpal Liliana yang masih membuang mukanya.


Menyikapinya Alexander hanya tersenyum tipis sembari masih memandangi gadis mungil yang duduk di depannya itu.


“Tidak ada sesuatu yang praktis, semua butuh proses.”


Meski itu ungkapan yang bagus, tapi entah kenapa terdengar tidak mengenakkan.


*


*


*


“Bukannya semuanya nampak bagus?” tanya Yohan ketika melihat formulir pendaftaran beberapa murid perempuan yang berminat untuk menjadi anggota senat.


“Aku ingin mengadakan pelatihannya minggu ini, karena mereka sudah di tahun terakhir, jadi para murid perempuan tidak akan terlalu banyak pekerjaan di banding murid tahun pertama dan kedua.” jawab Frigid sembari sibuk mengurus beberapa dokumen yang merupakan tanggung jawabnya sebagai ketua senat.


“Jadi, satu murid yang kamu tawarkan kemarin itu bagaimana?” tanya Yohan.


“Kita tidak bisa berhenti ketika hanya satu orang saja yang tidak bisa berminat. Semua orang punya kepentingan masing-masing.” jawab Frigid dengan tenang.


Yohan menatap Frigid sedikit heran.


“Tidak biasanya, meski kamu menjalaninya hanya untuk memenuhi tugas tetapi jika ada yang menarik di matamu tidak bisa lepas begitu saja dan hari ini kamu melakukan hal yang sebaliknya.” timpal Yohan heran.


Pena yang ada di tangan kanan Frigid terhenti dari kegiatannya, membuat si penggerak menatap lurus Yohan.


“Aku akan berpatroli.”


Jelas sekali Frigid tidak ingin membahasnya, menyikapi perlakuan temannya, Yohan hanya bisa mengangkat bahu sembari ikut pergi bersama Frigid.


Memangnya apa syarat untuk menarik di mata Frigid? Bahkan Frigid sendiri tidak tahu kenapa Yohan dengan mudah menyimpulkannya. Apa yang Frigid lakukan sampai saat ini hanyalah untuk memenuhi semua tugasnya agar tidak ada kesalahan sedikitpun hingga dapat menyebabkan kerugian pada berbagai pihak.


“Meski sudah beberapa hari sejak sistem akademi dirubah, tetap saja aneh melihat koridor telah diisi berbagai macam orang.” timpal Yohan yang sudah mengikuti Frigid untuk berpatroli.


“Ini sama saja dengan berjalan di kota.”


“Meski itu terdengar mirip, tapi ungkapan itu sedikit aneh.” ucap Yohan.


*


*


*

__ADS_1


“Kamu baik-baik saja? Aku rasa kita semakin menjauh dari kafetaria.” ucap Ree pada Liliana yang masih memeluk lengannya cukup erat.


“Kita akan terus berjalan sampai orang itu tidak terlihat lagi.” ucap Liliana serius.


Melihat Liliana yang sedang nampak kesusahan membuat Ree langsung melepas pelukan Liliana pada lengannya dan berpindah pada pundak gadis mungil hingga membuat si pemilik pundak menatap Ree dengan wajah kebingungannya.


“Baiklah, tapi kita harus mencari sesuatu untuk dimakan terlebih dahulu. Karena sehabis ini aku ada kelas dan tidak dapat menemanimu.” ajak Ree.


Melihat sikap Ree yang santai menanggapi Liliana setidaknya membuat gadis mungil itu tenang. Meskipun ia jarang bersama Ree karena kelas mereka yang sering berbeda, setidaknya untuk saat ini ia tidak sendirian.


“Aku tidak tahu jika ada orang yang kamu ingin hindari, ku pikir kamu bisa akrab dengan siapa saja seperti di kelas Berburu.” ucap Ree sambil membuka kertas yang membungkus roti untuknya makan siang.


Karena keadaan Liliana, membuat mereka berdua tidak makan di kafetaria dan memilih untuk beristirahat di lapangan dekat akademi tempat Ree dan Viovarand pernah memiliki kenangan yang cukup buruk untuk diingat.


“Karena sepertinya Maglina ada latihan tambahan membuatku tidak bisa makan di kafetaria.” timpal Liliana.


Ree membenarkan pernyataan Liliana, setahunya Maglina merupakan calon prajurit khusus untuk istana dan selalu mendapat latihan berat di setiap kelas yang ia ambil.


“Apa Alexander takut dengan Maglina?” tanya Ree ketika mengingat bagaimana Maglina memperlakukan Antonio sewaktu kelas Berburu beberapa hari yang lalu.


Liliana menggeleng.


“Sayangnya tidak semudah itu. Maglina tidak bisa apa-apa jika harus berhadapan dengan Alexander.” ucap Liliana sekenanya.


“Meskipun akademi ini tidak memperlakukan seseorang dengan membedakan latar belakang keluarga, tetap saja di luar pagar akademi ini aku bukan apa-apa bagi Alexander. Ia adalah putra pertama dari keluarga Marquess Northway, keluarga yang cukup berpengaruh di kerajaan.” jelas Liliana


“Nampaknya kamu mengalami hal yang sulit Liliana, kenapa kamu terlihat risih ketika berhadapan dengannya? Apa kamu membencinya?” tanya Ree.


“Aku tidak peduli jika aku dibenci orang-orang karena sifatku, bahkan jika tadi mereka mengangguku aku tidak mempermasalahkannya jika alasan mereka jelas dan bisa ku terima.” ucap Liliana dengan wajah yang sedang bersemangat, memang nampak sedikit aneh di mata Ree.


Ree bisa menyimpulkan bahwa Liliana merupakan orang yang cukup acuh tak acuh dengan sekitar.


“Aku tidak suka dengan caranya ingin berteman denganku.”


“Apa ia mengikutimu kemana-mana? Atau bagaimana?” tanya Ree bingung.


Liliana menoleh pada Ree dengan tatapan yang sangat serius, hingga membuat Ree harus menahan napasnya sebentar.


“Dia terkenal sangat terkenal di akademi ini karena kepintaran dan wajahnya.” jawab Liliana cukup serius.


“A-apa? Kenapa aku tidak mengenalnya!?” tanya Ree sembari menunjuk dirinya sendiri.


Liliana menatap temannya itu dengan wajah yang kehilangan kata-kata untuk membalas ucapan Ree.


“Ree, apa kamu tinggal di gua?” tanya Liliana spontan.


“Eh! Bukan seperti itu!” elak Ree. Masalahnya ia tidak tahu jika ada orang seperti itu di akademi La Priens.


“Bahkan Maglina mengenalnya karena keahlian berpendang Alexander cukup hebat dan sering latih tanding dengan Maglina di kelas khusus para prajurit.”


Ree tidak tahu bagaimana ia harus menyikapi perkataan Liliana barusan. Ia kurang memperhatikan sekelilingnya, terlebih karena dua bersaudara Heitblood kemarin membuat Ree kewalahan dan beberapa kali sudah mencapai batas toleransinya untuk berinteraksi. Tentu saja ia tidak sempat mengobrol hal-hal yang biasa para perempuan bicarakan.


“Alexander bukanlah yang bersalah disini, namun nampaknya aku tidak bisa berteman dengan orang populer sepertinya.” tutur Liliana sembari mengemas sisa makanannya dan bersiap untuk pergi ke kelas selanjutnya.


“Hahaha! Kamu benar, mungkin sedikit sulit berteman dengan orang-orang yang memiliki banyak pengagum. Namun, aku jadi iri denganmu Liliana. Kamu bisa berteman tanpa ada batas.” ucap Ree.


Ia iri, meski pemilih namun Liliana tidak memiliki batasan dalam berinteraksi seperti dirinya. Kini setiap hari Ree harus merasakan apa yang namanya gelisah sepanjang waktu dan terus-menerus menekan diri agar tidak jatuh.


“Ree, jangan bilang kamu juga menjadi salah satu penggemarnya.” ucap Liliana disertai dengan tatapan horrornya.


“Eh?! Tentu bukan itu yang ku maksud! Kenal saja tidak, bagaimana bisa jadi penggemarnya!” ucap Ree heran. Terlebih ketika berinteraksi dengan manusia bernama Alexander tadi membuat Ree sangat tidak nyaman.


*

__ADS_1


*


*


Setelah makan siang bersama Liliana di belakang akademi, Ree pun bersiap untuk pergi ke kelas selanjutnya dengan menjinjing tas yang berisi beberapa buku dan perlengkapan belajar. Namun sebelum itu, Ree berbelok menuju pintu yang bertuliskan ‘perpustakaan’ untuk meminjam buku yang ia perlukan di pelajaran.


Matanya menyusuri beberapa rak buku sembari memindai nama-nama buku yang terdapat di rak hingga ia akhirnya menemukan ‘Tumbuh-tumbuhan’. Setelah masuk dalam blok itu barulah kini mata dan jari Ree memindai beberapa punggung buku di dalam rak.


“Ah!”


Langkah Ree berhenti ketika melihat buku yang ia inginkan berada di rak tingkat lima hingga ketika ia coba untuk meraih namun sangat sulit bahkan ketika ia berjinjit.


Ree menghela napasnya karena terlalu lelah untuk meraih ujung buku tersebut. Matanya melihat ke sekeliling untuk mencari tangga atau sesuatu yang dapat membantunya, namun matanya tak dapat menangkap keberadaan benda itu.


Gadis itu pun menurunkan tas jinjingnya dan mengambil sesuatu dari dalam sana, yaitu sebuah penggaris sepanjang 30 cm untuk membantunya menjangkau buku.


Seperti yang ia perkirakan berkat penggaris yang menjadi penyambung tangan Ree, ia mampu meraih ujung buku dan terus menariknya keluar.


“Uh!?”


Ree terkejut ketika ada bayangan yang menimpanya dan tangan yang lebih panjang darinya menangkap buku yang hampir terjatuh itu.


“Jika sudut buku ini terkena wajahmu, itu dapat menjadi luka.” ucap Alexander sembari memberikan buku yang susah payah Ree ambil. Untuk manusia setinggi Alexander, rak perpustakaan bukanlah masalah baginya.


Ree tidak menyangka akan bertemu Alexander di perpustakaan, terlebih ia membicarakan pria itu bersama Liliana belum lama ini.


“Terima kasih.” ucap Ree.


Tanpa membalas ucapan Ree, pria itu langsung pergi begitu saja dari hadapan Ree. Entah karena suara Ree yang pelan atau ada apa, gadis itu tidak tahu. Ia hanya menatap bingung ke punggung Alexander yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Hanya saja, pertolongan Alexander barusan jelas bertabrakan dengan bagaimana kesannya di kelas. Apa pria itu punya dua kepribadian atau kembaran?


“Hei.”


Ree yang tengah melamun menatap buku yang ia susah payah ambil tadi dikejutkan oleh teguran yang terdengar sangat tidak ramah dari arah belakangnya. Ketika ia memutar tubuhnya, Ree bisa melihat tiga orang murid perempuan sudah menghadangnya dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.


“Ada apa?” tanya Ree bingung.


“Hei, lain kali berhati-hatilah dan jangan merepotkan orang lain.” jawab gadis yang berdiri di tengah sembari berlalu dan sengaja menyenggol bahu Ree cukup keras.


Berhati-hati? Merepotkan orang lain? Ree mencoba mengoreksi apa yang salah dari dirinya hingga mendapat teguran seperti ini dari salah satu murid perempuan di akademi. Hingga ia mengingat apa yang pernah Liliana ucapkan padanya.


“Dia terkenal sangat terkenal di akademi ini karena kepintaran dan wajahnya.”


Dia di sini adalah Alexander itu sendiri, Ree ingat bahwa yang menolongnya barusan adalah Alexander. Jika disingkronkan dengan ucapan Liliana dan apa yang telah ia dapatkan barusan berarti, mereka adalah salah satu pengagum Alexander.


Orang yang terkenal berarti terdapat banyak pengagumnya dan bisa saja dari berbagai kalangan.


“Jujur saja, sebelum akademi ini menjadi akademi campuran. Aku banyak menemukan kasus seperti yang kamu alami barusan.”


Ree menghela napasnya, selama ia berada di akademi lamanya ia mungkin tidak pernah diperlakukan demikian. Namun arti dari helaan napasnya adalah untuk kemunculan seseorang yang sering Ree temui meski mereka jarang bertemu di kelas yang sama.


“Frigid, jika kamu selalu muncul dan berbicara tiba-tiba seperti ini. Aku bisa menganggapmu hantu.” ucap Ree jengah pada pria yang bersandar di rak buku tepat berada di sisi kanannya.


“Tidak, hari ini aku memang berada di perpustakaan.”


“Ucapanmu barusan seolah menampakkan bahwa kamu telah mengikutiku kemana-mana.” timpal Ree heran.


Ree lama-lama bisa menganggap Frigid adalah orang yang aneh karena ia tidak tahu apa yang pria itu pikirkan dan lakukan setiap saat. Ada saja dimana ia kebetulan bertemu dan mengobrol dengan tidak jelas seperti ini.


“Aku hanya ingin menawarimu untuk yang terakhir kali, apakah kamu mau bergabung menjadi pengurus senat akademi?”


“Bukankah kemarin aku dengan jelas sudah menolaknya. Itu terdengar merepotkan.”

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2