We And Problems

We And Problems
Chapter 21 : The Reason


__ADS_3

“Tuan Cali dan tuan Florence, karena ulah kalian semalam properti akademi rusak, menciptakan keributan pada jam malam asrama, serta membuat keresahan pada murid yang lain. Apa kalian tidak ada yang ingin dikatakan untuk masalah ini dan hanya saling berdiam diri hingga membuat saya terlihat bodoh?” tanya Jeremy yang merupakan kepala akademi pada dua orang pria yang sudah di anggap berandal di akademi akibat keributan yang mereka ciptakan semalam.


“Maafkan saya pak.” ucap Frigid.


Servio dan Frigid sama-sama berpenampilan berantakan di wajah keduanya. Luka yang diperoleh dari serpihan kaca serta bengkak di wajah karena memukul satu sama lain seolah nampak seperti skor bagi keduanya.


“Terutama kamu Frigid, selama ini kamu pasti sadar bahwa kamu adalah contoh bagi murid lain di akademi ini. Tindakanmu kali ini, apa bisa ditoleransi?” ucap Jeremy heran.


Tidak biasanya bagi Frigid akan menggunakan kekerasan fisik ketika menegur seseorang, terlebih masalahnya mereka tidak ada yang mau menjelaskan inti dari permasalahan.


“Servio, kamu juga seharusnya sadar karena kamu adalah anggota senat.”


Nampaknya ceramah Jeremy tidak akan berakhir cepat.


*


*


*


Namun di antara keduanya tidak ada yang lebih resah di banding dengan orang yang berdiri di depan ruangan kepala akademi.


“Apa tuan Jeremy akan mengeluarkan mereka dari akademi?” tanya Alexander resah pada Ree yang juga ada bersamanya kini.


Ree yang tidak tahu menahu tentang penyebab Servio dan Frigid bertengkar terseret begitu saja ke tempat ini karena Alexander. Bukannya mengajak Ree berpatroli, pria itu malah banyak beralasan hingga Ree berakhir juga di depan ruangan Jeremy.


“Tuan Jeremy tidak mungkin gegabah seperti itu, ini adalah Servio dan Frigid. Pengaruh keluarga keduanya tidak bisa di pandang sebelah mata.” ucap Yohan juga hadir di situ.


Alexander dan Yohan sama-sama cemas dan mondar-mandir seperti orang yang memiliki banyak masalah, sementara Ree dan Yohanna memandang kedua laki-laki itu heran.


“Aku tidak tahu jika kamu kenal dengan Servio juga, meski aku tahu kamu sering terlihat bersama dengan Frigid di kelas Berburu.” ucap Yohanna menyapa Ree.


Keduanya akhir-akhir ini sering bertemu karena Yohanna tak jarang berkunjung ke kamar Ree dan Ghea hanya untuk dibacakan kartu tarot atau diramal.


“Banyak yang terjadi akhir-akhir ini, kami hanya satu divisi di senat.” ucap Ree.


“Aku sangat yakin wajah mereka berdua di dalam datar seperti dinding es dan di depan kita malah orang-orang yang seolah menganggap dunia akan berakhir.” timpal Yohanna heran terhadap gelagat kembarannya dan Alexander.


Ree juga sempat kaget dengan sikap Alexander yang terlihat agak panik hari ini, biasanya ia ceria meski kadang rasa cemas tidak pernah lepas dari pria itu. Akhir-akhir ini, Ree seolah tahu wajah asli Alexander yang selalu memasang senyuman hangat di depan semua orang.


“Bagaimana ini? Keluarga mereka berdua tidak pernah terlibat konflik satu sama lain selama ini.” ucap Yohan tak kalah resah dengan Alexander.


“Kamu benar! Apa akan terjadi perpecahan politik di kerajaan kita?” sambut Alexander.


Ree dan Yohanna berharap seseorang menghentikan pembicaraan tidak berguna kedua pria panik itu.


“Nama keluarga tidak ada urusannya dengan apa yang terjadi.”


Harapan Ree dan Yohanna dengan cepat terkabul dengan munculnya Frigid dari dalam ruangan Jeremy diikuti Servio dari belakang.


“Frigid!! Kamu tidak apa-apa?!” kali ini Ree dan Yohanna benar-benar mengakui kekompakkan dari Alexander dan Yohan yang langsung menyerukan nama Frigid.


Sejujurnya Ree belum ada bertemu Servio dari semalam setelah mendengar kabar tersebut, oleh karena itu sedikit ia agak terkejut dengan penampilan Servio di hadapannya saat ini. luka gores nampak di pipi pucatnya dan lebam di sekitaran tulang pipi kanannya, belum lagi telapak kirinya yang diperban. Tidak hanya Servio seorang, Frigid juga bersama dengan luka di lengan kananya dan sedikit goresan di bagian dahi dan pipi. Bagaimana tidak, mereka melibatkan kaca jendela dalam perkelahian.


“Apa kamu datang menungguku disini?” tanya Servio cukup percaya diri.


Ree membelalakan matanya, mana mungkin ia sengaja datang pada orang-orang yang ia hindari. Namun, rasanya ia akan menyakiti perasaan Servio jika ia mengatakan kejujuran.


“Atau bukan ya?” tanya Servio lagi sembari melirik ke arah belakang tempat dimana Frigid sedang di perhatikan oleh ketiga temannya itu.


Ree bahkan tidak sadar kapan Yohanna pergi dari sisinya dan berlari mengejar Frigid yang berdiri tak jauh darinya dan Servio.


“Apa itu terlihat mungkin?” tanya Ree kesal kala Servio maksud adalah Frigid.


Sangat tidak mungkin ia menunggu Frigid.


“Ree? Apa kamu tidak ingin memulai patroli? Aku hanya ingin memastikan kondisi Frigid baik-baik saja setelah itu patroli.” ucap Alexander sembari menghampiri Ree dan Servio.


Frigid masih di tempat yang sama, menatap dua orang yang baru saja Alexander hampiri.


“Frigid, aku tidak tahu kamu kenapa. Namun apa kamu tidak bisa beritahu apa alasanmu dan Servio saling memukul satu sama lain?” tanya Yohanna setelah merasa ada yang salah dengan situasi saat ini.


Entah itu Servio, Frigid atau Ree. Yohanna tidak tahu menahu, namun merasa ada yang janggal di antara ketiganya. Ia bisa tahu dari sorot mata Frigid yang tidak bisa lepas memandang keberadaan Servio dan Ree bersama. Bukan sorot mata tidak suka ataupun benci, Yohanna sendiri tidak mengerti apa arti dari tatapan Frigid.


Sementara itu Ree masih bingung ingin menjawab apa meskipun jelas saja jawaban keberadaan Ree sudah jelas. Namun, rasanya sangat aneh jika ia melanjutkan tugasnya begitu saja. Sampai matanya tertuju pada sesuatu.


“Aku akan mengantar Servio ke ruang kesehatan terlebih dahulu untuk mengganti perban tangannya.” tunjuk Ree pada telapak tangan Servio yang berdarah-darah karena perbannya sudah terlalu lembab.


Servio sendiri tidak tahu jika lukanya bisa seburuk ini. Ia akui penglihatan Ree cukup jeli.


“Wah! Kamu benar Ree. Susul aku ya.”


Ree hanya mengangguk dan melambai kecil mengantar kepergian Alexander dalam melaksanakan tugas senat.


“Wah, perkembangan pesat.” cibir Servio sembari mereka mulai berjalan meninggalkan Frigid. Ia jelas menggoda inisiatif yang Ree putuskan barusan dan sedikit terkejut dengan aksi Ree tersebut.


“Apa yang kamu bicarakan? Terlebih, aku tidak tahu jika kamu bisa berbuat sebodoh ini. Berkelahi dan menghancurkan jendela asrama? Aku jadi ragu ingin bekerja sama denganmu yang bisa saja temperamental sewaktu bersamaku.” ucap Ree.

__ADS_1


Ree tidak tahu ia harus mulai dari mana, ia tidak ingin menekan Servio untuk menceritakan apa yang terjadi pada pria itu dan Frigid. Terlebih Ree pikir sama sekali dirinya tidak ada hubungan dalam pertengkaran keduanya, ia pikir begitu.


Namun ia sedikit keliru.


“Aku hanya membelamu dihadapan orang keras kepala itu.” jawab Servio membela dirinya.


Sama sekali tidak malu mengakui bahwa benar ia membela Ree di hadapan keputusan egois yang Frigid lontarkan. Servio juga tidak berniat mendapat pujian dan rasa terima kasih dari Ree karena perbuatannya.


“Pantas saja perasaanku tidak nyaman dari semalam ketika mendengar kalian berkelahi. Entah berapa kali namaku di sebut.”


Rasa resah Ree terbayar dengan pengakuan Servio yang jujur. Meski agak terkejut mendengarnya karena beribu kali Ree tidak ingin percaya diri bahwa dirinya menjadi topik perkelahian oleh dua orang laki-laki.


Tidak terhitung dan memang tidak Servio hitung berapa kali ia menyebut nama Ree dan mengaitkannya dengan masa lalu Frigid.


“Namun, hanya karena keputusannya egois, tidak mungkin kamu dengan mudah melayangkan tinjumu padanya, begitupun sebaliknya. Apa kamu ada melewati suatu batas?” tanya Ree penasaran.


“Ree, pertanyaanmu justru memojokkanku dan membuatku seperti aku yang memulai perkelahian.”


“Itu benar, karena aku bicara sesuai pengalaman.” ucap Ree mengingatkan bagaimana ia dan Servio pertama bertemu.


Memang kenangan yang pahit bagi Ree. Kini ia malah berdiri di sisi pemberi kenangan pahit tersebut.


Apa yang dikatakan Ree memang benar, Servio tidak akan mudah melayangkan pukulannya pada orang jika bukan tanpa alasan yang jelas, begitu pula Frigid. Namun yang memulai bukanlah dia.


*


*


*


Malam sebelumnya,


“Apanya untuk kepentingan akademi? Kamu hanya memikirkan masalahmu sendiri dan kehidupanmu sendiri.”


Kembali Frigid membalas menatap Servio yang sejak tadi bertubi-tubi menghujaninya dengan pertanyaan yang menekan.


“Justru kamu adalah yang teraneh di sini, sejak kapan kamu peduli dengan orang lain dibanding gedung B?”


Servio sempat tertegun karena Frigid mengangkat topik yang tidak terduga.


“Menyerangku dengan menggunakan gedung B? Setidaknya apa yang aku lakukan tidak merugikan pihak manapun. Tidak lebih buruk dari pikiranmu tentang Margaretha.”


‘Brak!’


‘Prang!’


Sorot mata yang biasanya kosong dan tanpa adanya gairah menjadi keseharian itu berubah seketika dengan amarah mengisinya. Cengkraman kuat pada kerah kemeja Servio seolah menahan antara melepaskan pria itu agar terjatuh atau tetap seperti ini.


“Jangan pernah sebut nama itu di depanku.” geram Frigid.


Tenaga Servio tidak selemah itu, mungkin ia hanya kaget di detik-detik sebelumnya. Namun dapat dengan mudah ia meraih cengkraman Frigid padanya dan langsung membanting ketua senat itu dengan mudah ke lantai yang berserakan serpihan kaca jendela.


“Jangan pikir kamu bisa seenaknya memutuskan kehidupan orang lain hanya karena luka lamamu. Apa kamu tidak pernah bisa mengerti kenapa Margaretha memilih kehidupan seperti itu meski ia membencinya? Apa kamu pernah bertanya padanya dibanding menangisi kepergiannya?” ucap Servio sembari menekan dada Frigid dengan lengan kanannya sementara ia tidak peduli bahwa telapak kirinya yang menjadi penumpu tubuhnya terkena serpihan kaca kecil di sekitar mereka.


“Jangan pernah menyebutnya! Apa kamu tidak mendengarku!?”


Kali ini Frigid membenturkan kepalanya dan mengenai wajah Servio cukup keras hingga mereka berdua saling terlepas.


“Aku tidak peduli dengan pilihan hidupnya, sejak dulu dan sampai sekarang. Jadi, berhenti menyebut nama itu!” Frigid merangkak dan kembali meraih kerah baju Servio yang masih menahan sakit di kepalanya akibat terbentur dengan kepala Frigid.


“Ucapan dan wajahmu benar-benar bertolak belakang. Aku tidak tahu apa yang kamu lihat dari Ree ketika kamu memutuskan untuk mengembalikannya. Hanya karena mereka memiliki kekurangan yang sama, jangan pernah anggap mereka juga sama!” protes Servio keras. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia bicarakan saat ini. kepalanya terasa begitu sakit dan kosong ketika memikirkan alasan ia membela nama Ree di hadapan Frigid.


Sepenting itukah Ree? Servio ingin menertawakan dirinya sendiri karena merasa jijik terhadap dirinya. Memikirkan betapa baik hatinya melakukan semua ini hingga terluka hanya untuk seorang wanita.


“Aku tidak akan mendengar ucapanmu kali ini.” ucap Servio sembari melepas cengkraman Frigid.


Sorot mata yang selalu malas itu menatap tajam pada arah sang ketua senat akademi. Menandakan protes atas keputusan yang sejak awal tidak ia sukai.


“Apapun keputusanmu, aku tidak akan membiarkan Ree kembali ke akademi lamanya.”


Brak!


“Apa-apaan ini!? kenapa kalian berdua berkelahi?!”


Servio dan Frigid sama-sama dikejutkan dengan kehadiran pengurus asrama dan Alexander untuk melerai keduanya meski Frigid dan Servio sudah menjauhi diri masing-masing. Tidak satupun jawaban yang mereka berikan ketika ditanyakan alasan atas pertengkaran mereka berdua. Hal itu membuat hukuman keduanya menjadi berat.


*


*


*


“Jadi, kamu berpikir bahwa alasan Frigid ingin mengembalikanku karena aku mirip dengan orang di masa lalunya?” tanya Ree sembari mengeluarkan sebuah kotak berisi perban dan peralatan untuk luka. Ree tidak tahu kenapa di setiap ia mengunjungi ruang kesehatan, pasti dokter yang menjaga tidak pernah ada di tempat.


“Apa orang di masa lalunya wanita?” tanya Ree sembari menggunting perban.


Servio menatap Ree heran, ia tidak bisa membohongi wanita di hadapannya ini ketika Ree terus menerus bertanya tentang alasan perkelahian mereka. Karena jika ia tidak memberitahukannya, Ree sendiri yang akan menebak dan entah mengapa Servio merasa jika Ree menebak, akan langsung benar.

__ADS_1


“Akan aneh jika laki-laki membenci sesama laki-laki. Meski dipikir-pikir aneh juga jika saling menyukai.” timpal Servio.


Ree terkekeh, menertawakan dirinya karena tidak peka.


“Pakailah, bersihkan lukamu dulu lalu lilit perbannya pada luka.” ucap Ree sembari memberikan seluruh alat dan bahan untuk luka tangan Servio.


Namun Servio mengulurkan tangannya yang terluka di hadapan Ree.


“Tidak bisakah kamu menahan diri untuk menyentuhku? Aku ini sedang terluka.”


Namun kali ini Ree langsung peka dengan maksud perkataan Servio.


“Apa kamu tidak tahu jantungku saat ini sudah sangat tidak tenang dan panik?” tanya Ree mulai terbuka dengan kondisi yang ia rasakan pada Servio.


“Bukankah ini bisa jadi bagian terapimu?” tanya Servio meyakini Ree untuk menyentuh tangannya.


Perkataan Servio sama sekali tidak salah. Alasan keberadaan Ree disini dan bersama Servio tidak lain adalah terapi ketakutannya. Prinsip Ree adalah mengobati dengan menghadapi apa yang ditakuti sesering mungkin agar menjadi terbiasa.


Menurut Ree, pria dengan surai hitam panjang di hadapannya ini adalah pilihan yang sempurna.


Mungkin dalam segi pemberi pengalaman terburuk.


“Tanganku bahkan berkeringat, aku tidak yakin itu steril untuk lukamu.” Alasan Ree.


Gadis itu menunjukkan kedua telapak tangannya pada Servio. Jarak keduanya tidaklah jauh, Ree duduk dihadapan Servio yang duduk di bangsal. Ree tidak berbohong dengan kondisinya. Telapak tangan yang basah dan bergetar itu masih ada bayangannya di bola mata Servio hingga sorot tatapannya naik pada wajah gadis yang juga menatapnya dengan pupil bergetar.


Ree jelas ketakutan dan resah.


Namun ia tidak bisa lari kemanapun, meski ingin tapi ia tidak bisa pergi.


‘Tap!’


‘Plak!’


Bersamaan dengan jemari kanan Servio naik ke telapak tangan kiri Ree, tangan kanan Ree refleks menampar pipi Servio yang terdapat lebam hingga membuat pemiliknya meringis kesakitan.


Semalam ia di hantam dengan kepala keras Frigid, hari ini telapak tangan basah menamparnya dan membuat sensasi pedas.


Servio langsung melepas genggamannya dan Ree terkejut dengan aksi yang ia perbuat.


“Ma-maaf.” ucap Ree memecah kesunyian yang canggung di antara dirinya dan Servio.


Di kepala Ree kini sudah terbayang bagaimana respon Servio selanjutnya, bisa saja pria itu langsung meraih leher Ree dan mencekiknya dan mengakhiri hidupnya saat itu juga.


“Apa aku mengejutkanmu?” tanya Servio nampak begitu cemas dan tidak mempedulikan lebamnya yang tambah bengkak akibat tamparan Ree. Nada suara yang rendah dan tenang ketika bertanya itu membuat Ree tidak pernah menyangka akan keluar dari mulut Servio hari ini.


“Aku terkejut, namun aku minta maaf.” Ree akan sangat kurang ajar ketika ia tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun meskipun ia tengah menghadapi ketakutannya.


Servio kembali mengulurkan telapak tangan kanannya di hadapan Ree.


“Lakukan perlahan saja. Coba sentuh saja satu jariku.”


Ree bahkan tidak tahu kemana perginya Servio yang selalu menggoda dan membuatnya kesal.


Ragu namun tetap Ree lakukan, ia tidak peduli bahwa jantungnya sudah berdegup sangat kencang dan batinnya berteriak ketakutan meski hanya menghadapi sebuah jari. Hampir mendekati telunjuk Servio, namun belum Ree maju untuk menyentuh ujung telunjuk pria itu.


Servio menunggu seniornya satu itu dengan senyuman tipis dan merasa geli dalam hati karena Ree benar-benar nampak kalut dengan dirinya sendiri saat ini. Hingga saat ujung telunjuknya dan milik Ree sudah saling bertemu dan perlahan Ree meraih seluruh jemari kanan Servio meski tangannya sudah bergetar dan sedikit lembab karena keringat.


“Apa jantungmu baik-baik saja?” tanya Servio pelan. Takutnya Ree jadi lupa bernapas.


Ree bahkan ingin berteriak ketakutan namun tidak dapat ia lakukan. Sangat ingin dalam hatinya langsung melepas genggamannya pada jemari Servio, namun ia sudah memantapkan hati untuk melawan keputusan Frigid dan memperbaiki dirinya.


“Sejujurnya aku sangat berdebar-debar saat ini dan ketakutan, bahkan khawatir.” ucap Ree hampir menangis dan tidak menyangka bahwa ia saat ini sudah menggenggam sebuah tangan lawan jenis untuk pertama kali dalam hidupnya selama 20 tahun lebih di dunia.


Ree sempat lupa bernapas.


Ree bahkan tidak tahu bagaimana tangan ayahnya menyentuh tangannya sendiri dan saat ini Servio yang pertama kali mengukir pengalaman yang luar biasa itu padanya. Ree ragu akan melupakan ini seumur hidupnya.


Servio ikut merangkum jemari Ree yang menggenggam tangannya, membagikan kehangatan yang ada pada jemari yang sedang bergetar ketakutan itu. mengisyaratkan bahwa semua baik-baik saja dan tidak ada niatan Servio untuk menyakiti Ree.


“Lihat, kamu masih baik-baik saja sampai saat ini. Kamu sudah memulai langkah besar.” ucap Servio senang.


Tidak dengan wajah tersipu malu, namun pucat pasi. Begitulah wajah Ree ketika mendengar ucapan motivasi dari Servio.


“Apa? Ah, biarkan aku memasang perban pada tanganmu.” ucap Ree langsung melepas genggamannya karena sudah tidak mampu menahan ketakutan.


Tak lama setelah memasang perban pada telapak tangan Servio dengan rapi, Ree langsung bergegas pergi untuk menyusul Alexander sembari mencari ruang untuk ia bernapas lega sebentar. Bayangan apa yang telah ia lakukan dengan Servio, meski bukanlah hal yang besar, namun itu cukup membuat Ree sudah seperti ingin mati ketakutan.


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang kesehatan yang sudah ia tutup dan meninggalkan Servio di dalam sana untuk beristirahat. Berulang kali menghela napas kasar dan mengatakan pada diri bahwa semua akan baik-baik saja karna ia sudah memulai langkah yang cukup besar.


Sementara itu, Servio memilih mengistirahatkan dirinya dengan berbaring di bangsal sembari menatap perban yang terlilit rapi di telapak kirinya. Mengingat bagaimana Ree membelakangi ketakutan untuk menuntaskan tugasnya dalam menangani luka Servio cukup luar biasa.


“Akan luar biasa jika jantungnya tidak berdegup karena ketakutan.”


 


 

__ADS_1


To Be Continued


__ADS_2