
Hari itu merubah segala pandangan Ree pada Servio. Tak lagi dapat dibicarakan dan dirundingkan dengan kepala dingin dan mata terbuka sebab meskipun mulut berbicara dan raut wajah menampakkan emosi yang sejujurnya, tetap saja lawan bicara tanpa berniat sedikitpun membuka mata serta telinga.
Berakhir? Hidup mungkin masih berlanjut dengan napas, namun tidak lagi dengan perasaan.
“Apa kamu sedang berkelahi dengan Ree?” tanya Alexander ketika Ree tidak menyapa Servio ataupun berada di dekatnya ketika rapat divisi keamanan dilaksanakan.
Frigid juga berada di ruangan itu hanya diam mendengar percakapan pelan antar Alexander dan Servio. Sementara itu Ree tampak duduk tak jauh darinya dan berada di sekitar anggota kelas satu.
“Bisakah kamu diam saja. Bukankah rapat ingin dimulai?” tanya Servio tampak acuh.
Alexander hanya terkekeh, karena dirinya yang menjadi pemimpin rapat.
“Haha baiklah…” Alexander tidak tahu masalah apa yang ada antara Ree dan Servio. Ia yang sudah menjadi korban didiamkan oleh Ree rasanya akan aneh melihat Servio ikut bergabung dengannya.
Servio hanya bisa berdiam sampai saat ini. ia menutup mata dan hatinya setelah ia membuat keputusan yang berat. Hari ini, tak seperti hari-hari yang sudah berlalu dimana ia dapat menatap wajah Ree dan berbicara dengan normal dengan wanita itu. Sikapnya yang selalu menerima orang-orang di sekitarnya tak lagi Servio rasakan. Ini menyakitkan, sungguh. Bayang-bayang wajah ibunya yang semakin menderita semenjak melahirkannya hingga kini tak ingin Servio menarik lagi keputusannya, terlebih itu bukan satu-satunya alasan bagi diri Servio. Ada dimana perasaan egoisnya tak ingin melepas Ree dan membiarkan wanita itu bersama orang lain.
Sadar tidak sadar, Servio ingin memiliki Ree seutuhnya meski tahu tindakannya bodoh dan malah menyakiti wanita itu.
*
*
*
Alexander dan Ree seperti biasa menghabiskan waktu senggangnya untuk berpatroli di sekitar akademi seusai rapat. Ree akhir-akhir ini jarang bicara dan Alexander cukup kepikiran, meski ia tahu bahwa Ree juga bukan orang yang sering bicara. Namun, rasanya ada saja yang berbeda.
“Ree, dimana kamu akan magang?” tanya Alexander basa-basi pada wanita yang berdiri di sampingnya saat ini.
Jika bukan berkat Ree, situasi Alexander saat ini masih akan sama seperti dulu. Selalu mendapat perlakuan berbeda dari orang sekitarnya dan tidak ada yang berani berjalan di sampingnya.
“Aku akan kembali ke Litore, tepatnya di pangkalan militer angkatan laut.”
“Eh!!?” Alexander berseru karena terkejut mendengar jawaban Ree yang sebenarnya terdengar sangat tenang.
Refleks, Ree langsung mundur beberapa langkah karena kaget dengan suara Alexander. Bahkan perhatian orang-orang di lorong tempat mereka sedang berjalan menuju ke arah Alexander.
“Alexander, ada apa? Kamu mengejutkanku.” ucap Ree tak habis pikir.
Sadar akan perbuatannya, Alexander kembali ke posisi asalnya. Bibirnya nampak tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya.
“Tidak, lupakan saja. Aku pikir aku salah dengar.”
Sebenarnya hal yang membuat Alexander kaget adalah lokasi tempat Ree magang sama dengan kota yang Frigid pilih. Entah itu kebetulan atau bagaimana, rasanya Alexander tidak perlu membahasnya dengan Ree. Ia tahu sendiri bahwa Frigid dan Ree kurang akur akhir-akhir ini.
“Benarkah? kamu yakin tidak ada yang ingin kamu tanyakan? Bagaimana denganmu, dimana kamu akan magang?”
Alexander menghentikan senyum canggungnya dan menatap Ree yang baru saja bertanya padanya.
“Aku akan berada di istana bagian administrasi. Maglina akan berada di satu tempat magang denganku.”
Ree mengerti jika dilihat dari kemampuan Alexander yang seimbang itu, ia tidak akan kesulitan ditempatkan dimana saja.
“Akhir-akhir ini aku banyak membawa masalah, baik untuk orang lain dan diriku sendiri. Terkait Frigid juga, aku merasa sudah melangkah terlalu jauh. Tapi, ketika memikirkan betapa kesalnya aku padanya aku tidak bisa berhenti begitu saja.” Entah mengapa Ree rasanya tidak bisa berdiam saja, Alexander tahu masalah obat Frigid dan Ree merasa ingin berbicara tentang apa yang sebenarnya ia rasakan ketika mencari tahu obat Frigid dan alternatifnya.
“Ree, dari ucapanmu barusan aku kurang mengerti, apa kamu membenci Frigid atau tidak.” timpal Alexander heran.
“Aku bahkan tidak ingin memikirkan aku membencinya atau tidak.” Dari ucapan Ree, Alexander bisa menyimpulkan betapa kesalnya Ree dengan Frigid.
“Tapi aku harap orang sepertinya tetap hidup. Aku tidak mengerti kenapa pandangannya tentang hidup itu sangat buruk.” Ree menatap kedua tangannya yang pernah menarik Frigid begitu saja ke dalam pelukannya saat pria itu tidak berniat untuk melanjutkan hidupnya dengan alasan sangat membenci hidup yang ia miliki.
__ADS_1
“Bahkan seburuk apapun keadaan, membenci hidup diri sendiri itu bukanlah hal yang masuk akal bagiku.” lanjut Ree.
Alexander mungkin bisa mengerti apa yang Ree maksud dan bagaimana perasaan Frigid dalam menjalani hidupnya. Ree yang belum mengetahui alasan terbesar kenapa Frigid membenci hidupnya mungkin lebih baik, atau pandangan Ree terhadap hidup Frigid mungkin akan berubah.
Apa ini, Ree berbicara seolah hidup itu sangat berharga dan seburuk apapun keadaan harus tetap mencintai diri sendiri. Padahal ia sadar bahwa hidupnya saat ini bukan berada di zona yang menyenangkan dan mudah. Meski begitu, Ree setidaknya ingin ia tetap mencintai hidupnya sepenuh hati.
“Nona Lumen? Alexander?”
Hampir saja Ree kembali larut dalam kesedihannya jika tidak seseorang yang familiar suaranya menyapanya dan juga mengenal Alexander. Matanya naik menatap pria jangkung berkulit pucat dengan mengenakan setelah jas serba abu-abu dan syal hitam melilit di lehernya.
“Tuan Smith, lama tidak berjumpa.” sapa Alexander.
“Tuan Smith, apa yang anda lakukan di sini?” tanya Ree heran sekaligus kaget karena tidak menyangka akan kembali bertemu dengan Smith sejak terakhir di pelabuhan.
“Beberapa hal harus aku selesaikan di sini. Apa kabarmu nona Lumen, saya sudah mendengar berita pertunanganmu dengan putra bungsu keluarga Florence.”
Ree dan Alexander kompak mengeluarkan ekspresi kaget yang berlainan artinya. Ree kaget karena Smith yang tahu tentang pertunangannya dan Alexander kaget dengan berita yang tak pernah disangka akan ia dengar.
“Tu-tuan Smith, kenapa anda bisa tahu?” tanya Ree tanpa ingin mengangkat wajahnya karena malu. Kabar ini sudah sejauh mana menyebar di sekitarnya.
“Hahaha, aku baru saja kembali dari Litore dan bertemu dengan kedua orang tuamu. Tentu saja aku mendapat kabar itu dari mereka. Sekali lagi selamat atas pertunangan kalian, aku akan mengirimmu hadiah dari toko antik langgananku.” ucap Smith tampak senang.
“Dari pada itu, lebih baik anda tidak mengatakan apa-apa. Saya tidak ingin berita ini menyebar luas.” Dari pada hadiah, Ree lebih ingin jika Smith menutup mulutnya terkait pertunangannya.
Rasanya sangat aneh dan canggung ketika orang tahu apa yang terjadi padanya dan Servio. Perasaan Ree yang sudah kecewa berat pada Servio, ketika mendengar hal-hal terkait pertunangan mereka membuat hati Ree terasa perih.
Tidak seperti mendapat kabar gembira.
“Benar juga, kalian masih berada di akademi. Kalau begitu aku akan diam. Sampai jumpal nona Lumen dan Alexander.”
Ree hanya membalas lambaian Smith dengan senyum tipisnya.
Sementara itu di waktu yang bersamaan Ree merasa ada tatapan yang cukup lama mengarah padanya dan tentu saja Ree tahu siapa pemilik tatapan itu jika bukan Alexander.
Ree terlihat memijat pelipisnya, kepalanya sudah sakit akhir-akhir ini penjelasannya tentang bagaimana status saat ini cukup rumit Ree lakukan. Ia tidak ingin orang-orang tahu bahwa ia bertunangan dengan Servio karena Ree tidak menganggap pertunangan itu ada.
“Alexander aku mohon untuk tidak peduli dengan apa yang kamu dengar barusan. Situasi lebih rumit dari yang aku bayangkan. Cukup tahu saja dan jangan beritahu siapa-siapa.” ucap Ree lalu melanjutkan patrolinya.
Alexander jadi mengerti, ketika situasinya rumit seperti yang Ree katakan, itu semakin jelas bahwa Ree yang mengabaikan Servio berkaitan dengan apa yang terjadi pada mereka berdua. Alexander mungkin tidak pernah terjadi bahwa ini dapat terjadi. Ree yang selalu saja terlihat mengurusi permasalahan orang lain, ketika ia mendapat masalahnya sendiri, Alexander menjadi sedikit merasa bersalah, di saat Ree terlihat sulit, tidak adakah cara untuk menghibur wanita itu?
Sementara itu, di sisi lain akademi. Tepatnya di gedung B yang selalu menjadi tempat Servio berdiam diri dan membuat tempat itu seolah daerah kekuasaannya sendiri. Untuk hari ini berbeda, karena Frigid datang menyelusuri lorong gedung yang terdapat ruangan para pengajar dan murid tingkat 3 seperti Servio salah satunya.
“Apa ini? Kenapa ada orang sepertimu masuk ke sini?”
Frigid belum jauh melangkah dari pintu masuk gedung, namun sudah dihampiri dan orang itu muncul dari belokan pertama koridor gedung seolah sudah berada di sana sejak lama. Frigid menatap pria yang selalu mengurai rambut panjangnya itu, meski mereka akademi khusus laki-laki, tidak ada larangan dalam gaya rambut. Hal itu banyak dimanfaatkan oleh para murid termasuk Servio.
“Aku datang hanya untuk menegurmu.” ucap Frigid tanpa basa-basi.
“Menegurku? Apa aku punya masalah denganmu dan akademi?” tanya Servio heran.
“Kamu mungkin tidak sadar, tapi ketidakhadiranmu beberapa hari ini cukup untuk menjadi masalah yang patut ditegur.”
Servio masih bertatapan muka dengan Frigid. Wajah Servio seakan ingin berkerut karena kesal dengan cara Frigid menatapnya tak memiliki ekspresi sama sekali.
“Terserah apa hukumannya. Bisakah kamu pergi dari sini?” tanya Servio sembari mengusir Frigid.
Frigid tidak bergeming dan berniat pergi, ia malah menoleh pada jendela koridor yang memasok banyak cahaya matahari agar menerangi koridor gedung B yang cenderung sepi.
“Jangan kamu pikir gedung B ini milikmu seorang sehingga kamu berhak mengusirku.”
__ADS_1
Servio tertegun, setelah sekian tahun ia berada di gedung B dan tak seorangpun mengatakan hal-hal yang dapat menyinggung perasaannya, kini datang hari dimana Frigid mengatakannya.
“Apa maksudmu?” tanya Servio curiga.
“Menurutmu? Apa kamu memiliki masalah lain selain gedung B?” tanya Frigid menyelip rasa ingin tahu akan sesuatu.
Tidak, Frigid belum mengetahui apa-apa. Hampir saja Servio lengah. Ia tidak akrab dengan Frigid, namun ia tahu bahwa di balik wajah seperti mayat itu, memiliki kepintaran akan membaca situasi seseorang dan Servio tidak ingin jatuh begitu saja ke dalam perangkapnya.
“Sejak awal aku sudah mencium bau yang aneh dari dirimu ketika menghampiri Ree dan akhir-akhir ini nampaknya sudah menyeruak keluar. Aku harap kamu menyelesaikannya dengan baik sebelum aku ikut campur tangan karena merugikan akademi.” teguran Frigid berakhir cukup panjang.
“Ahahaha!! Apa yang kamu bicarakan?! Nampaknya kepekaanmu terhadap masalah orang lain harus kamu hentikan. Jangan mengenduskan hidungmu terhadap urusanku, cukup orang lain saja. Asal kamu tahu, kamu tidak tahu apa-apa lebih baik diam saja.” Tawa Servio menggema ke seluruh lorong yang sunyi itu dan terdengar begitu renyah dan puas hingga ia memegangi perutnya selagi tertawa. Melihatnya, Frigid hanya terdiam.
“Aku tahu, sangat tahu bahwa ada yang tidak beres.” ucap Frigid setelah menunggu Servio menghentikan tawanya.
Servio nampak mengangkat wajahnya, membuka matanya lebih lebar, pupilnya bergetar seolah ada yang terusik dalam dirinya oleh Frigid yang sejak tadi hanya diam namun seolah melakukan sesuatu yang membuat Servio sendiri kesal.
“Jika kamu lengah dan malah merugikan orang lain, bisa saja aku yang menunggu di depan pintu keluar itu.”
Akhirnya Frigid membalikkan tubuhnya, pergi dari hadapan Servio setelah mengatakan apa yang ia ingin sampaikan pada Servio. Dalam kepala Frigid, ia ingat betul masa-masanya bersama Margaretha semasa kecil. Wanita itu sudah memperlakukannya dengan baik dan malah berakhir pergi begitu saja dari hidup dan berubah.
Dalam benak Frigid, ia berterima kasih dan merasa tidak enak dengan apa yang Ree lakukan padanya sampai saat ini. meski Frigid sendiri tidak mengerti kenapa Ree menyelidiki obat yang ia konsumsi, namun tindakan wanita itu terhadapnya membuat Frigid tidak bisa berdiam.
*
*
*
Litore merupakan kota pesisir yang besar seperti Crystallo, bahkan sebanding dengan ibu kota kerajaan Pulchra tersebut. Baik dalam masalah perdagangan serta kegiatan individu yang sibuk di sana. Hal yang membedakannya hanyalah Litore bukan merupakan pusat pemerintahaan kerajaan. Namun, Litore memiliki pelabuhan terbesar di kerajaan dan juga memiliki berbagai pusat pelayanan masyarakat khususnya dalam bidang pendidikan yang tidak akan kalah dengan La Priens.
Akademi Wanita Litore, di sekolah khusus wanita ini merupakan tempat Ree menempuh pendidikan selama hampir 4 tahun yang akan diselesaikannya sebentar lagi. Kini, di ruangan kepala akademi tepatnya milik Roche terdapat seorang tamu yang tak di sangka akan datang.
“Tuan Lumen, kehadiran anda sungguh mengejutkan. Apa yang anda ingin perbuat dengan informasi yang baru saja saya berikan?” tanya Roche setelah menyuguhkan teh untuk tamunya itu.
“Nyonya Roche, terima kasih sudah menyambut saya.”
Roche hanya tersenyum pada tamu pria muda yang berasal dari keluarga Lumen itu. Tak lain adalah Luceat Lumen.
“Kini Margaretha lebih fokus mengajar para murid tingkat satu yang baru masuk ke akademi. Dia baik-baik saja dan tinggal bersama suaminya di Litore. Tapi kenapa anda menanyakannya?” tanya Roche sedikit waspada.
Roche tahu bahwa dari nama belakangnya saja, bahwa pria di hadapannya ini merupakan kerabat Ree, muridnya. Namun kehadirannya tidak bertanya sedikitpun tentang Ree.
Luceat menatap Roche, ia tersenyum tanpa terlihat mencurigakan sedikitpun.
“Saya hanya melakukan apa yang teman saya pesankan pada saja. Saya tidak berniat melakukan sesuatu yang merugikan. Tolong rahasiakan topik yang saya bicarakan dengan anda saat ini.” ucap Luceat sembari bersiap pergi.
Roche juga mengangkat tubuhnya lalu mengantar Luceat ke depan gerbang akademi. Tak ada yang mencurigakan sampai saat ini, Luceat datang lalu menanyakan seorang staf pengajar bernama Margaretha lalu ingin pergi.
Tiba-tiba Luceat berhenti melangkah ketika ia ingin meninggalkan gerbang depan akademi. Tindakannya membuat Roche bertanya-tanya.
“Ada apa?” tanya Roche bingung.
“Ah, saya ingin bertanya… Bagaimana aktivitas murid yang bernama Ree Iunae Lumen di akademi?”
Roche terkejut, pikirnya Luceat tidak akan bertanya tentang Ree. Terlebih melihat wajah canggung Luceat saat bertanya membuat Roche bingung.
“Nona Lumen cukup aktif di akademi. Terlebih sebentar lagi adalah kelulusannya dan ia sudah melakukan yang terbaik di akademi.”
Luceat nampak lega mendengar laporan Roche terkait Ree. Mungkin ia tidak akan bisa bertemu muka dengan Ree karena kesalahannya. Setidaknya ia tahu, Ree punya cara lain untuk menjalani hidupnya.
__ADS_1
To Be Continued.