We And Problems

We And Problems
Chapter 20 : Bantuan Yang Tidak Terduga


__ADS_3

Lahir ke dunia dengan kekurangan bukanlah diinginkan semua orang namun semuanya mendapatkan jatahnya masing-masing. Namun apa yang ada pada diri seorang gadis muda seperti Ree bukanlah hal yang ia bawa dari lahir.


Rahasia penyebab munculnya rasa takut yang Ree rasakan hanya ia yang tahu tanpa ingin membagi kisah itu pada siapapun juga. Ia berjanji pada diri sendiri agar dapat menemukan jawaban dari ketakutannya dan dapat menghadapinya, agar bisa hidup lebih baik lagi.


Luka itu sudah sangat lama, bahkan sampai saat ini luka lama yang seharusnya bisa kering seiring berjalannya waktu tetap menyisahkan tempat yang terbuka agar darah dari luka itu terus mengalir membanjiri tubuh dan pikiran.


Frigid sudah lama meninggalkannya sejak beberapa saat lalu tanpa ingin membalas perkataan Ree tentang membunuhnya. Pria itu hanya perlahan melepas cengkramannya pada lengan Ree dan meninggalkan bekas merah di sana. Selepas itu Ree hanya bisa terduduk dan perlahan membaringkan tubuhnya yang lelah di atas rumput dengan air mata yang tidak kunjung berhenti meski sudah berapa kali ia usap dan memerintahkan untuk berhenti pada dirinya sendiri.


Perasaan marah dan sedih terus membuatnya tidak ingin beranjak dari tempat yang ia anggap nyaman itu, padahal hanya tanah dan rumput.


“Wah, jika kamu begini, kamu seperti di hajar Frigid habis-habisan. Apa ia menyerang titik terlemahmu?”


Mata Ree hanya menangkap ujung sepatu yang terbuat dari kulit itu di depan wajahnya. Tanpa menatap wajahnya pun Ree bisa tahu siapa yang datang lagi di saat kondisinya sedang sangat buruk. Siapa lagi jika bukan penguasa gedung B, Servio.


Servio bukan baru tiba, namun hampir keseluruhan yang terjadi ia melihatnya tanpa bisa Frigid sadari.


Servio pun memutuskan untuk berjongkok dan menatap wajah Ree yang menyamping dan jelas-jelas sangat berantakan dengan air mata dan kemerahan di sisi matanya.


“Kamu dan Frigid tidak akan pernah memahami satu sama lain, baik dalam kelebihan dan kekurangan.” timpal Servio.


“Pikirmu aku peduli?” tanya Ree dengan suaranya yang masih bergetar.


“Hahah… aku akan terkejut jika kamu peduli padanya. Baiklah, jika gadis lain pasti akan bersedia jika aku mengangkat tubuh mereka. Akan tetapi nampaknya kamu tidak akan membiarkanku menyentuhmu.” Niat hati Servio ingin membantu Ree bangun berdiri, namun ia tahu sendiri betapa keras kepalanya Ree dan sifat gadis itu jika laki-laki sengaja menyentuhnya.


Ree tidak menjawab, ia masih menatap kaki Servio sembari jemarinya meremas rerumputan yang terasa sejuk itu. Bisa dikatakan Ree sudah mendapat posisi nyaman untuk menenangkan hatinya saat ini.


“Aku tidak ingin pergi kemana-mana, kamu boleh meninggalkanku.” Sedikit lebih lama, Ree masih ingin merasakan angin sepoi-sepoi dan kesunyian di tempat ia berada saat ini.


Servio mengerutkan dahinya. Untuk orang yang sudah di serang titik lemahnya seperti tadi, Ree sedikit mengejutkan dan mengherankan dalam satu waktu menurut Servio. Gadis itu mungkin nampak takut, namun tidak berniat mundur sedikitpun.


“Jika kamu ingin, aku bisa membantumu.” Akhirnya Servio menduduki bokongnya di atas rumput dan masih berada di sisi Ree.


“Ketakutanmu itu, bukanlah hal yang mustahil untuk di sembuhkan, aku nampaknya bisa mengerti kenapa kamu berani datang kemari sementara memiliki keterbatasan dalam bersosialisasi.” ucap Servio tenang sembari menatap sinar matahari yang sesekali ditutupi oleh dedaunan pohon yang melindungi mereka berdua dari panas.


“Apa maumu? Kamu menawarkan sesuatu yang merepotkan itu dengan cuma-cuma kurasa mustahil.” ucap Ree tidak percaya.


“Uwah… kamu tajam sekali. Aku sedang merasa memiliki waktu luang yang cukup banyak saat ini.”


Ree masih menatap kosong sosok yang duduk di sampingnya. Meski begitu dalam kepalanya yang masih terasa sakit tetap tidak bisa menemukan alasannya harus percaya dengan tawaran Servio.


“Tidak. Aku tidak ingin melakukannya jika alasanmu terdengar dangkal seperti itu.” Ree perlahan bangkit untuk duduk dan memperlihatkan lengannya yang sedikit merah karena Frigid dan beberapa tanda rumput di lengannya. Bahkan di surai coklat wanita itu bertengger daun kering dan rumput di sana.


“Kamu benar terkait salah satu alasanku ingin datang ke sini. Tidak lain adalah belajar beradaptasi. Namun, aku tahu bahwa dunia dan orang-orang tidak senaif itu. Terlebih tawaran bantuan datang dari mulutmu.” ucap Ree sembari membersihkan lengannya dan merapikan sedikit rambutnya yang bisa dibilang berantakan sekali.


Wanita itu mengucapkan kata-kata sinis dengan wajah datarnya membuat Servio memikirkan bahwa Ree lebih menarik dari dugaannya.


“Jika kamu ingin, kamu bisa mengatakan apa yang kamu ingin lakukan sebagai balasan aku membantumu. Aku tidak sesulit yang kamu pikirkan, apa yang aku tampakkan itu adalah diriku, tidak seperti Frigid yang menyebalkan itu.”


Servio mungkin benar, pikir Ree. Dibanding Frigid yang penuh misteri, Ree masih bisa merasa bahwa Servio selalu mengatakannya terus terang meski kadang ada beberapa hal memalukan untuk ia akui.


Ree menarik napasnya dalam, mencerna semua perkataan dan mencoba menenangkan dirinya meski ada Servio di sisinya.


“Atau bagaimana jika seperti ini, pikirkan bayarannya ketika kamu sedang mencoba. Itu tidak akan mendesakmu.” saran Servio dengan tenang.


Ree bingung, pria di sampingnya itu tidak menyampaikan tawaran baik dengan suara lantang, intonasinya terlalu datar untuk sebuah motivasi dan ajakan.


*


*


*


“Kunjungannya akan dilakukan secara diam-diam ke akademi ini dalam dekat minggu ini. Kita masih menunggu informasi dari istana tentang waktu kedatangannya.” ucap Alexander sembari membaca surat resmi kerajaan yang ditujukan pada Frigid di ruang senat.


Hanya ada kedua pria itu di ruangan karena memang sudah waktunya pulang, bagi keduanya tidak mungkin membahas hal seperti ini di asrama yang banyak orang di sana.


“Kira-kira berapa hari ia akan tinggal?” tanya Frigid.


“Kurang lebih 5 hari di Crystallo dan mengunjungi La Priens satu hari. Selain mengunjungimu, ia memiliki urusan dengan istana.” jelas Alexander mantap, namun sedetik setelahnya raut wajahnya kembali ragu menatap Frigid yang duduk di depannya.


“Kamu yakin akan menemuinya?” tanya Alexander.


Tidak hanya Alexander, bahkan Yohan dan Yohanna sudah berkali-kali bertanya.


“Tentu saja, ia adalah orang yang akan bersamaku seumur hidupku setelah keluar dari La Priens.” dan selalu jawaban yang sama Frigid keluarkan.


Keduanya langsung terdiam ketika mendengar bunyi knop pintu yang diputar dan daun pintu yang di buka perlahan. Sontak langsung melihat siapa yang membuka membuat keduanya sedikit terkejut dengan pemandangan yang tidak biasa.


“Ree? Apa yang kamu lakukan disini selarut ini?” tanya Alexander sembari bangkit berdiri dan menghampiri Ree.


Ree tiba bersama dengan Servio di belakangnya. Memang pemandangan yang sangat mengejutkan mengingat apa yang telah terjadi di antara Ree dan Servio. Namun hari ini, Servio nampak santai di sisi Ree dan begitu juga sebaliknya. Berbeda dengan Frigid yang mengetahui masalah Ree, di matanya wanita itu sedang memaksakan diri.


“Jadi dimana bukumu?” tanya Servio mengingatkan tujuan Ree pergi ke ruang senat.


Benar adanya jika Ree meninggalkan buku pelajaran di ruang senat dan berniat mengambilnya. Servio yang kebetulan juga bersamanya bersedia mengantar hitung-hitung latihan untuk Ree memulai tentang apa yang mereka sepakati di belakang gedung B.


“Ketemu. Aku hanya mengambil buku yang tertinggal. Juga, jarang sekali melihat kalian berdua bersama.” ucap Ree menyindir interaksi Alexander dan Frigid yang tidak ia ketahui sebelumnya.


Servio hanya tersenyum tipis melihat wanita yang berjalan sambil menggerutu sesuatu disepanjang perjalanan mereka menuju asrama. Sambil memeluk buku yang ia lupakan di ruang senat, Ree juga melontarkan beberapa kata yang hampir tidak terdengar oleh Servio.


“Apa kamu sekesal itu pada Frigid?” tanya Servio.


“Jika dia menjelaskan secara logis permasalahan dia padaku, mungkin aku akan sedikit mengerti dibanding harus mendengar keputusan sepihak seperti itu.” ucap Ree geram.


“Hmm, ucapanmu memang tidak salah, Frigid memang tak jarang membuat keputusan sepihak, menyebalkannya keputusannya itu tidak pernah salah.” ujar Servio mengingat-ngingat masa-masa Frigid hadir di akademi.


“Apa itu yang membuat semua murid nampak segan padanya?” tanya Ree heran.


“Hahaha, segan ya. Jika itu aku, mungkin aku tidak segan, hanya saja aku malas jika harus berurusan dengan Frigid.” timpal Servio risih.

__ADS_1


“Dasar, itu terdengar bertolak belakang dengan tawaran yang kamu berikan padaku hari ini. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya ketika aku sudah memilih untuk menerima bantuanmu. Tapi aku rasa tidak ada salahnya. Selamat malam.” ucap Ree sembari masuk ke dalam gerbang asrama wanita dan meninggalkan Servio di depan gerbang.


Servio masih berdiri sembari menatap punggung Ree yang semakin tidak kelihatan dan menghilang di balik pintu dengan tatapan datarnya. Matanya berbelok ke arah langit malam yang dipenuhi bintang itu, meskipun begitu ia sama sekali tidak merasa takjub akan salah satu keindahan semesta dan tetap berkutat dalam diam.


“Apa yang telah aku pikirkan seharian ini?”


Servio bertanya pada dirinya, mengenai segala alasan tentang apa yang telah ia lakukan dan bicarakan, terlebih pada Ree. Sisi lain dirinya yang tidak pernah ia duga akan timbul begitu saja ke permukaan.


*


*


*


Selama ini apa yang telah keluar dari mulut Frigid terhadap murid-murid di La Priens tidak pernah dua kali ia mengucapkan peringatan yang sama pada satu murid yang sama pula. Ia selalu mengatakan teguran atau peringatan sudah pasti disadari oleh pendengar. Tentu saja Frigid yakin bahwa Ree juga mengerti maksudnya, hanya saja wanita itu tidak menyukai keputusan Frigid apapun alasannya.


“Nampaknya kamu juga jadi korban diabaikan oleh Ree.” ucap Alexander sembari meletakkan secangkir teh yang ia buat untuk dirinya dan Frigid ketika mereka sudah di kamar asrama.


“Aku tidak peduli jika diabaikan keberadaanku.”


Alexander tersenyum memaklumi dengan sikap ketidakpedulian Frigid hanya saja ucapan dan ekspresi kesal pria itu saling bertolang belakang membuat Alexander menganggap pemandangan saat ini lucu.


“Memangnya apa yang membuatmu ingin memindahkan Ree? Apa ia memiliki masalah berat? Atau jangan-jangan dia seorang mata-mata?!” ucap Alexander panik karena menerka sesuatu yang diluar dugaan semua orang.


Frigid tidak mungkin mengatakan kekurangan orang lain pada Alexander, sekalipun Alexander adalah orang terdekatnya.


“Jika Ree adalah mata-mata, tentu saja orang yang pertama mengetahuinya adalah diriku. Benarkan Frigid?”


Obrolan Alexander dan Frigid tiba-tiba saja di interupsi Servio yang muncul dari arah pintu. Masuk seenaknya ke dalam kamar dan duduk di kasur Alexander.


“Servio, tidak sopan masuk ke dalam kamar milik orang lain tanpa mengetuk.” ucap Frigid risih.


“Ah, benar juga. Servio pasti sudah tahu lebih dulu jika ada penyusup di akademi ini. Menurutku wajar saja jika Ree tidak setuju dengan keputusanmu kali ini Frigid. Kamu kurang bisa menjelaskan alasan yang bisa diterima.” jelas Alexander.


Alasan yang bisa diterima, bukan berarti alasan faktual yang ada, melainkan bagaimana alasan tersebut bisa diterima dengan baik oleh pendengar dengan cara penyampaian dan pemilihan kata-kata yang baik.


Frigid merenungkan kata-kata Alexander barusan.


“Meskipun begitu, aku merasa tidak enak jika Ree harus pergi dari akademi. Dia sudah berusaha keras untukku.” Alexander mengingat bagaimana Ree mengorbankan diri sendiri untuk Liliana dan bersedia menjadi teman Alexander meski banyak hal yang telah wanita itu alami selama bersama Alexander.


Servio dan Frigid sempat terdiam.


“Alexander, apa kamu bisa pergi sebentar? Aku ingin bicara berdua dengan Servio.”


Frigid tidak menatap Alexander langsung, namun Alexander tahu bahwa pria itu dalam mode sangat seriusnya. Meski ia tidak tahu sepenting apa pembicaraannya dengan Servio.


“Apa menyangkut Ree?”


Alexander tidak pergi begitu saja.


“Ah, masalahnya aku melihat Servio dan Ree bersama saat pulang. Bukankah itu hal yang aneh diantara mereka berdua?”


Alexander menghela napas dan memilih mengalah sebelum suasana kamar bertambah buruk. Meskipun itu pilihan Alexander, sampai diluar kamar ia tidak dapat tenang karena pertanyaannya belum di jawab oleh Frigid.


“Apa mereka membicarakan Ree? Kenapa aku penasaran sekali? Kenapa aku tidak terlibat? Padahal yang lebih dulu kenal Ree adalah aku dibanding Servio.” Guman Alexander sembari mondar-mandir di depan kamar hingga membuat seorang pria yang selalu mengenakan kacamata bulat itu heran.


“Ada apa dengan Ree?”


Alexander berhenti mondar-mandir setelah mendapat teguran dari Marco yang mendengar nama temannya disebutkan. Jika dipikir-pikir Marco yang lebih dulu mengenal Ree. Alexander pun langsung menaruh kedua tangannya pada bahu Marco hingga membuat pria yang baru selesai dari kamar mandi itu terkejut.


“Marco, aku ingin bicara sesuatu denganmu.” ucap Alexander serius dan sedikit menyeramkan di mata Marco.


“A-Apa itu?” tanya Marco panik.


Alexander masih memegang kedua bahu Marco dan melihat sekitar memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua.


“Ikut aku!” tiba-tiba saja Alexander menyeret Marco dan membuat pria berhati lembut itu panik dan ketakutan dalam satu waktu.


*


*


*


Berbeda dengan ketakutan dan panik yang Marco rasakan ketika Alexander menariknya ke antah berantah. Kamar yang ditinggali Alexander belum lama ini terasa lebih tegang dibanding waktu mereka mengadakan ujian praktek di kelas berburu.


“Jadi, katakan alasanmu mengusir Alexander dari kamar. Pasti tidak lain adalah Ree bukan?” tanya Servio jengah dengan kesunyian yang ada diantaranya dan Frigid.


Frigid menaruh cangkir teh yang sudah ia habiskan belum lama ini, lalu menatap lurus Servio di hadapannya.


“Aku tidak tahu apa yang kamu rencanakan pada Ree, lebih baik diam saja. Karena aku akan memulangkannya ke akademi lamanya.” ucap Frigid tidak goyah dengan keputusannya.


“Kenapa? Apa Ree adalah murid yang akan merugikanmu dan akademi?” tanya Servio malas.


“Begitulah.” jawab Frigid tidak ragu.


Tetap saja di mata Servio, jawaban dan wajah Frigid sama sekali tidak singkron. Ada yang mengganjal pada perasaan pria itu selain kepentingan akademi, yaitu kepentingannya sendiri.


“Mau sampai kapan kamu menganggap semuanya adalah tanggung jawabmu?” tanya Servio.


“…apa maksudmu?”


Dari jeda yang Frigid berikan, Servio sudah tahu kemana arah pikiran pria di hadapannya ini. Pria yang dikenal memiliki aura kepemimpinan dan dingin itu menghindari tatapan lurus Servio.


“Apa kamu menganggap mereka mirip? Ree dengan dia? Maka kamu membenci kehadirannya di akademi ini, bukan?” Servio mulai memancing.


“Sejauh mana kamu tahu tentang segala hal? Masa lalu tidak ada kaitannya dengan apa yang ada saat ini.”


Frigid meyakini bahwa tidak ada orang yang sama di dunia ini sekalipun sepasang saudara kembar.

__ADS_1


“Mulutmu memang berkata tidak, tapi apa yang kamu tampakkan tidak sesuai dengan kamu katakan. Kehidupan seseorang bukanlah tanggung jawabmu. Itu merupakan tanggung jawab masing-masing pribadi, mereka yang memilih jalan harus menjalani dan mengalaminya meskipun itu pilihan terburuk.”


Servio dapat melihat jelas bagaimana cara Frigid diam kali ini. Pria itu menahan geram di dalam hatinya. Rasa bersalah, benci, marah pada masa lalu masih jelas terbuka dalam pribadi Frigid dan sulit untuk disembuhkan.


Sejauh mana Servio memahami rasa sakit Frigid?


Ia cukup tahu bahwa Frigid pernah menyimpan rasa menyukai seseorang yang tidak untuk dirinya.


Lantas, bagaimana semuanya berakhir dan bisa sampai hari ini?


Luka, aliran darah, teriakan ketakutan, hingga trauma berat telah membuka matanya lebar-lebar dan memperlihatkan bahwa dunia tidak hanya di isi dengan canda tawa riang saja.


“Berhenti Servio, itu tidak ada kaitannya dengan keputusanku pada Ree.” suara Frigid memberat, dalam hati ia merasa geram dan hanya mengepal tinjunya keras.


Tidak sama sekali, tidak ada kaitannya dengan Ree tentang apa yang telah terjadi di masa lalunya. Masalah ia kehilangan dan terluka itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya.


“Padahal kamu dan aku sama-sama tahu apa yang ada pada diri Ree.” ucap Servio masih tenang.


“Apanya untuk kepentingan akademi? Kamu hanya memikirkan masalahmu sendiri dan kehidupanmu sendiri.”


*


*


*


Kini Marco berada di ujung koridor kamar dan hanya bersama Alexander. sejak ia dibawa oleh Alexander, Marco sendiri sudah kebingungan dengan gelagat orang yang hampir tidak pernah ia ajak bicara karena tahu status Alexander di akademi bagaimana.


“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan sampai membawa ke tempat sepi seperti ini?” tanya Marco membuka pembicaraan.


Alexander sudah memeriksa bahwa tidak ada seorangpun di sekitar mereka, lalu teringat dengan tujuan ia menarik Marco.


“Marco, aku ingin kamu menjawab dengan serius.” ucap Alexander tak kalah serius dengan ucapannya.


Marco menelan ludahnya dengan kasar. Ia cukup gugup dengan suasana yang Alexander ciptakan kini.


“Apa itu?” tanya Marco.


“Uhm, itu… apa kamu tahu sesuatu tentang Ree?” tanya Alexander sedikit berbisik ketika menyebut nama orang yang keduanya kenal.


“Ree? Sesuatu tentangnya?”


Alexander mengangguk. Seingat Marco tidak pernah ada yang aneh dengan Ree selama ia berteman dengan wanita itu.


“Ree tidak pernah terlihat aneh maupun menyembunyikan sesuatu. Aku rasa tidak ada, selain dia hanya murid tambahan di akademi ini.” timpal Marco yakin.


“Dia bahkan terlalu baik dan perhatian dengan orang-orang di sekitar.” tambah Marco.


Alexander tidak bisa menyangkal kalimat terakhir Marco dan mengangguk setuju.


“Kamu benar tuan Heittblood. Ree yang aku tahu adalah orang baik dan tidak membeda-bedakan orang.” Dan seharusnya Alexander tidak perlu securiga itu pada Ree. Hanya saja kenapa Frigid sangat ingin mengembalikan Ree pada akademi lamanya?


“Lantas, kenapa kamu bertanya padaku tentang apa yang ada pada Ree?” tanya Marco penasaran.


Alexander sempat melamun dan kemudian tersadar. Tidak mungkin ia membeberkan situasi Frigid dan Servio di kamar dan tentang pembicaraan mereka sebelumnya hingga ia keluar dari kamar. Menanggapi pertanyaan Marco, Alexander hanya bisa tersenyum ringan seperti biasa.


“Aku hanya penasaran saja, karena berkat Ree aku bisa mengobrol dengan Liliana akhir-akhir ini.”


Marco yang polos sama sekali tidak menaruh rasa curiga atau penasaran bahkan tidak untuk menanyakan pertanyaan selanjutnya.


“Syukurlah jika begitu.” ucap Marco senang, karena ia tidak perlu mendengar celotehan Liliana tentang kedekatan Ree dan Alexander. Hal itu, cukup Marco sendiri yang tahu.


Sementara itu, di kamar Ree menjadi sedikit ramai akhir-akhir ini. Bukan hanya karena kunjungan Liliana dan Maglina, kini di kasur Ghea sudah ada seorang gadis berambut blonde bergelombang sedang mengobrol dengan Ghea dan Maglina sementara Liliana sedang pergi ke kamarnya sebentar untuk mengambil barang.


Ia adalah Yohanna, seorang putri yang rela bersekolah di akademi umum seperti La Priens hanya untuk menjadi murid tambahan dalam masa percobaan La Priens menjadi akademi campuran.


Ree tidak tahu kelengkapan cerita kenapa seorang putri seperti Yohanna bisa menjalin komunikasi yang baik dengan Ghea.


“Ree, apa kamu tidak dingin berada di depan jendela?” tanya Ghea.


“Tidak dingin, malah merasa segar setelah seharian berada di akademi. Lagipula aku dapat melihat bintang-bintang dari sini dengan jelas.” ucap Ree yang masih tidak bosan memandang bintang dan ia sudah melakukannya tidak kurang dari setengah jam.


Perlakuan Frigid padanya, kesepakatan ia dan Servio juga, semuanya membuat pikiran dan tubuh Ree lelah secara bersamaan. Ia tidak ingin menghadap Ghea, karena teman sekamarnya itu terlalu peka dengan perasaan orang lain. itulah kenapa ada Yohanna yang sedang bercerita keluh kesahnya pada Ghea dan sedang dibacakan kartu tarot oleh Ghea saat ini.


Ree tidak tahu baiknya bagaimana kedepannya ia di La Priens, sejak awal Ree tidak menentang keputusan ia dikirim ke La Priens dan justru menantang diri sendiri.


Menantang dirinya untuk berubah dengan beradaptasi meskipun menyulitkan dirinya.


Brak!


Prang!


Lamunan Ree, permainan yang dilakukan Ghea dan Yohanna serta Maglina yang sedang membaca buku di kejutkan oleh suara pecahan kaca dari sebelah gedung yang sejajar dengan gedung asrama putri. Tidak lain adalah salah satu kamar di gedung asrama pria dan lantai yang sejajar dengan kamar Ree berada.


Suara gaduh itu menghasilkan kegaduhan di kamar lainnya karena ingin tahu dari mana sumber suara berasal.


“Ada apa?!” tanya Maglina panik dan langsung menghampiri jendela tempat Ree berada.


“Jendelanya pecah. Tapi aku tidak tahu kenapa dan terdapat suara teriakan dari arah sana.” ucap Ree menjelaskan sembari berusaha menangkap objek di ujung gedung yang membuat matanya memicing, namun usahanya sia-sia karena sudah di tutupi dengan seluruh siswa membuka jendelanya dan melihat apa yang terjadi.


Brak!


Kali ini Ree dan teman-temannya di dalam kamar dikejutkan dengan pintu kamar mereka yang terbuka secara tiba-tiba dan sedikit keras oleh Liliana. Raut wajah gadis mungil itu resah dan panik, ia tidak tahu harus menghadap siapa hingga Ree menjadi objek yang terakhir ia lihat.


“Servio dan Frigid berkelahi!”


Sejujurnya itu bukanlah hal yang baik untuk di dengar di penghujung hari.


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2