We And Problems

We And Problems
Chapter 31 : Pertemuan Kedua


__ADS_3

Saat ini Ree dan Frigid sudah berada di kereta kuda yang akan membawa mereka kembali ke La Priens. Belum lama kereta Ree dan Frigid meninggalkan kawasan pusat kota dengan membawa barang yang keduanya beli.


Namun, bukannya mengkhawatirkan kelengkapan barang yang dibeli, Ree lebih heran dengan tingkah laku Frigid yang tidak bisa ia perkirakan. Pria itu jelas saja seharusnya tahu jika Ree tidak bisa disentuh dan diseret begitu saja. Akibat pertemuan yang Ree tidak mengerti, ia juga malah diseret seperti barang belanjaan yang berat.


“Hey, apa kamu ini sedang diburu?” dari sekian banyak topik pertanyaan, yang muncul dari mulut Ree adalah kata-kata barusan.


“Apa?! Apa wajahku ini nampak seperti buronan?” Frigid melempar pertanyaan yang berkaitan dengan pertanyaan Ree.


Tunggu dulu, seharusnya disini Ree yang kesal. Namun, kenapa malah Frigid yang nampak demikian? Pria itu sudah menarik Ree untuk kembali ke kereta dan hampir saja jika Ree tidak memegang erat belanjaannya, ia bisa saja memecahkan mangkok antik yang Ree beli.


“Kejahatan memangnya memandang bulu? Mana mungkin.” sambut Ree.


Frigid tidak bisa menyalahkan kata-kata Ree, namun ia bukan seperti yang Ree tanyakan. Frigid terlalu sibuk dengan urusan hidupnya yang sudah porak poranda, mana sempat melakukan tindak kriminal.


“Apa kamu bertemu seseorang di toko barang antik?” pertanyaan ini daripada sekedar ingin tahu, tersisip interogasi di dalamnya dan Ree merasa ada yang janggal.


“Aku bertemu dengan nyonya pemilik yang sudah tua.” jawab Ree sekenanya.


Ia menyembunyikan satu fakta dan Frigid mampu mengendus hal itu.


“Jangan berbohong.”


Ree tidak sepenuhnya berbohong, hanya saja ia sedikit kesal dengan cara Frigid menyelidikinya saat ini.


“Tentu saja! Bagaimana bisa aku tidak bertemu pemilik? Bagaimana barang yang aku beli? Kepada siapa aku harus membayar?!”


Ree sampai menunjukkan bungkusan barang yang ia beli.


Frigid tidak mungkin menekan Ree dan memaksa wanita itu. Sebetulnya Frigid juga ingin menyangkal dan tidak mungkin Ree berinteraksi dengan orang yang ia maksudkan itu.


Ree menatap pria yang tidak merespon kalimat terakhirnya, meski kesal Ree tidak ingin membuka mulutnya lagi takutnya memancing rasa penasaran pria itu dan bertanya macam-macam tentang pria yang ia temui di toko barang antik. Ya, Ree lebih baik menutup mulutnya rapat-rapat, jangan sampai ia terseret ke dalam masalah yang bukan miliknya.


*


*


*


Pertemuan terakhir antar kepala akademi baru saja selesai, sampai saat ini program transisi berjalan dengan lancar. Henny yang menunggu Roche sudah mengantar kepala akademinya ke kamar tamu untuk istirahat dan karena ia memiliki waktu luang barulah Henny mencari keberadaan Ree. Namun tentu saja keberadaan wanita yang dicari itu tidak mudah, namun Henny menemukan seseorang yang juga tidak asing untuk beberapa hari ini.


Servio belum lama selesai membantu di aula, kali ini mereka diberi waktu istirahat sembari menunggu tim belanja. Maka untuk membunuh waktu, Servio hanya duduk bersantai di sebuah bangku taman yang ada di depan gedung B. Karena pepohonan yang ada di sekeliling dinding luar gedung membuat tempat yang diduduki Servio sejuk dan teduh karena dedaunan pohon menghalangi sinar matahari.


Ditengah sesi istirahatnya, nampaknya tidak hanya bayangan pohon saja yang menimpa Servio melainkan bayangan seseorang.


“Apa kamu melihat Ree?” tanya Henny.


Ia tanpa pikir panjang menghampiri pria yang sedang mengucir rambut panjangnya itu, terakhir kali Henny ingin menghajar Servio.


“Tidak, aku tidak bersamanya saat ini.” jawab Servio dingin.


Henny belum beranjak pergi, ia masih menatap pria yang sedang menutup mata di dan duduk di bangku itu, perbuatan Henny jelas saja membuat Servio risih.


“Kenapa kamu tidak pergi? Bukankah aku sudah menjawab?” tanya Servio kesal.


“Itu karena aku tidak tahu keberadaannya dan tidak bisa mencarinya sembarangan di tempat ini.” jawab Henny seadanya.


“Lantas, apa peduliku?”


Henny duduk di samping Servio tanpa diminta. Sifat seenaknya Henny membuat Servio tidak habis pikir. Bukankah ia sudah kentara menunjukkan ekspresinya yang risih tanpa perlu dipertanyakan lagi? Apa Henny semacam wanita yang tidak peka? Servio tidak habis pikir.


“Karena Ree sudah menceritakan apa yang ada diantara kalian berdua merupakan alasanku lainnya untuk menunggu Ree disini.” lanjut Henny menatap langit biru yang masih cerah.


Servio membuka kelopak matanya dan melirik sosok wanita yang duduk disampingnya saat ini.


“Apa kamu dan Ree sudah lama mengenal satu sama lain?” tanya Servio pelan.


Henny menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku sembari melipat kedua tangan di depan dada. Telinganya jelas mendengar pertanyaan Servio.


“Cukup lama, Ree sudah seperti saudara bagiku.” jawab Henny seadanya.


“Karena itu,” Henny melepas lipatan tangannya dan memutar tubuhnya menghadap Servio sembari tersenyum tipis atau lebih mirip seringaian?


“Aku tidak pernah segan pada mereka yang mengganggu Ree.” lanjut Henny.


Servio tidak mundur seinci pun, ia tahu Henny tidak bercanda.


“Sampai saat ini aku tidak tahu apa dibalik niatmu membantu Ree, namun Ree sama sekali tidak protes.”

__ADS_1


Servio tidak tahu sebesar dan sedalam apa hubungan Henny dan Ree. Masalah alasan ia ingin membantu Ree, itu hanya Servio yang tahu.


“Aku tidak berniat merugikan Ree. Memang tidak ada yang gratis di dunia ini, karena itu aku tahu apa yang aku lakukan dan Ree menyanggupinya. Aku tidak merasa saat-saat ini aku membutuhkan bantuannya. Namun, aku hanya merasa di masa yang akan datang.” jelas Servio.


“Itu terdengar kamu ingin memanfaatkan Ree.” timpal Henny.


Servio menyingkap helai-helai rambut panjangnnya yang tertiup angin hingga menutupi wajahnya.


“Tanpa kamu katakan, Ree sendiri sudah sadar. Selalu ada harga dalam segala tindakan.”


Henny menjadi diam, ia tidak menyangkal itu. Segala hal di dunia selalu ada yang namanya timbal balik, entah itu secara sadar atau tidak. Setiap perbuatan itu ada harganya dan tentu akan dibayar setimpal dengan perbuatan yang sudah dituai. Apa yang dilakukan saat ini, jasa dan apapun itu. Selalu ada balasan yang datang tidak pada hari yang sama. Balasan itu datang dengan harga yang sama dengan perbuatan yang telah dituai.


*


*


*


“Kita sudah tiba tuan, di Akademi La Priens.”


Smith yang hanya menghabiskan waktu diperjalanannya dengan tidur dan ketika ajudannya mengatakan bahwa ia telah tiba di akademi tempat ia pernah menempuh pendidikan itu membuat matanya terbuka dalam sekejap.


Tentu saja kedatangannya bukanlah disengaja melainkan untuk menghadiri malam perjamuan yang diadakan La Priens bersama dengan para kepala akademi karena Smith sendiri merupakan utusan dari Kementerian Pendidikan kerajaan.


“Selamat datang tuan Smith, anda pasti telah menempuh perjalanan cukup panjang.” ucap Jeremy menyambut kedatangan Smith yang muncul dari dalam bilik kereta kuda yang membawanya.


“Profesor Jeremy jangan terlalu formal dengan saya, saya juga pernah belajar disini.” Smith langsung bersalaman dengan Jeremy dan berjalan bersama menuju aula yang telah disiapkan.


“Hahaha, sikap santaimu tidak pernah berubah.” Gelak tawa Jeremy dan Smith mengisi seluruh koridor yang sepi karena La Priens diliburkan untuk satu hari ini saja.


“Nampaknya tidak banyak berubah dari akademi ini. Saya bahkan masih merasa hari-hari saya ketika belajar bersama anda.”


“Mulai tahun depan akademi ini akan menjadi akademi campuran, meski begitu tidak ada yang bisa merubah sistem di dalamnya. Karena masa percobaan untuk satu tahun ini nampaknya berjalan lancar.” jelas Jeremy.


*


*


*


Henny langsung menghamburkan pelukan begitu melihat Ree muncul dengan mengenakan seragam lamanya berupa kemeja biru dengan rok span pendek berwarna sepadan.


“Apa yang kamu katakan? Aku merasa sama saja.” ucap Ree membalas pelukan Henny. Ia dan Servio muncul bersamaan ke arah aula karena memiliki tugas mengawasi lancarnya acara perjamuan.


“Lalu kenapa kamu bersama dengan pria ini? bukankah aku sudah mengatakan bahwa ia mencurigakan.” ucap Henny terang-terangan menyindir kehadiran Servio.


“Ucapan tidak menyenangkanmu terdengar jelas, namun kamu tidak bisa melarang kehadiranku bersama dengan Ree. Kami berdua memiliki tugas yang sama.” balas Servio kesal karena Henny menarik Ree untuk menjauh dari Servio.


“Henny! Apa yang kamu lakukan! Cepat kemari dan jangan mengganggu Ree!”


Adu tatap antara Henny dan Servio berakhir begitu saja ketika Roche memanggil ajudan mudanya itu untuk masuk ke dalam aula menemaninya.


“Ree aku pergi dulu! Sampai jumpa!”


Ree hanya terkekeh melihat Henny buru-buru pergi.


“Maafkan Henny, dia pasti sering mengajakmu berkelahi.” timpal Ree geli pada pria yang hari ini mengucir rambutnya dengan rapi.


“Haa, aku tidak memiliki tenaga untuk meladeni wanita bersemangat seperti itu.” ujar Servio nampak lelah.


“Tapi kamu meluangkan waktu untuk membantuku.”


Ree benar, Servio dengan rela meluangkan tenaga dan waktunya untuk Ree.


“Itu karena kamu memang memerlukannya.” ujar Servio lalu kembali melanjutkan patrolinya bersama dengan Ree.


“Alasan macam apa itu?” Ree dengan cepat mengejar langkah Servio yang cukup lebar.


Berbeda dengan situasi santai patroli ala Servio dan Ree, di sisi lain koridor menuju gedung B terasa sangat tegang dan canggung bagi Alexander yang seolah berada di tengah-tengah arus listrik tatapan dua Cali bersaudara ini. Dimana Frigid secara kebetulan berpas-pasan dengan putra sulung dari keluarga Cali sekaligus merupakan kakak laki-lakinya yaitu Smith Kennie Cali.


“Kenapa kamu datang?” tanya Frigid seolah menyangkal kenyataan bahwa Smith adalah tamu penting dalam acara perjamuan kali ini.


Smith nampak menyeringai melihat adiknya dengan sangat tidak hangat menyambut dan menanyakan kehadirannya.


“Apa kamu lupa peranku di akademi? Apa itu perlakuanmu pada seorang tamu?”


Frigid nampak mengepal kedua tangannya geram karena melihat sosok kakak sulungnya satu ini.

__ADS_1


“Orang lemah sepertimu tidak ada pengaruh apa-apa padaku, jadi kamu boleh geram sesuka hatimu, lagipula hidupmu akan enak sebentar lagi. Iya kan?” Smith maju melewati Frigid begitu saja menuju aula tempat dimana semua orang berkumpul.


Frigid tidak bisa membalas kata-kata itu, kenyataannya memang ia lemah, tidak ada kekuatan yang ia miliki selain diri sendiri. Karena itulah ia marah pada dirinya karena terlalu lemah.


“Frigid? Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Alexander cemas karena sejak tadi Frigid hanya menatap lantai dan diam.


“Alexander kamu  kembali telusuri di sekitar halaman depan, aku ingin istirahat sebentar.”


Mau tidak mau Alexander menuruti ucapan Frigid dan membiarkan pria itu kembali ke ruang senat sendirian sementar Alexander melanjutkan tugasnya.


Meski tidak ada yang mengganggu jalannya perjamuan yang tengah diadakan saat ini, Frigid benar-benar terganggu dengan kehadiran Smith.


Bukan tanpa alasan atau iri tanpa alasan jelas. Rasa dengki ini sudah tertanam sejak dulu. Dibalik wajah ramah Smith pada semua orang, terdapat sifat yang mampu menghancurkan hidup seseorang yang tidak bersalah hanya karena keegoisannya semata.


*


*


*


Sekembalinya Frigid dari ruang senat, tak sengaja Frigid menangkap sosok yang ia kenal pergi menjauhi aula perjamuan. Tak salah lagi matanya melihat Ree yang mengikuti langkah seorang pria yang Frigid kenal. Tentang bagaimana ia bisa tahu itu Ree dari seragam yang wanita itu kenakan tampak asing karena. Meski tidak nampak seperti paksaan, tetap saja nampak mencurigakan.


Hingga semakin dekat dan ketiganya berpas-pasan.


Tentu saja Frigid mengenal pria yang bersama Ree di hadapannya saat ini.  belum lama ia mengistirahatkan pikirannya akibat kehadiran Smith, kali ini di depan matanya pelayan Smith tengah bersama Ree dan ingin pergi.


“Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah tugasmu berjaga di sekitar aula?” tanya Frigid tidak menggubris pelayan pribadi Smith yang menyapanya sebagai tuan muda.


Ree nampak bingung, meski Frigid menanyakan pertanyaan yang masuk akal, namun ekspresi pria itu terlihat tidak senang.


“Tuan Smith ingin bertemu dengan nona Ree.”


“Aku tidak minta jawaban darimu.” potong Frigid ketika pelayan pria itu menjawab pertanyaannya.


“Tuan Smith dari kementerian ingin bertemu. Aku juga tidak tahu kenapa, namun tidak sopan jika tidak menemuinya.” jawab Ree seadanya.


“Cih! Kali ini apa rencananya?!” cibir Frigid geram namun tidak terdengar jelas oleh dua orang di depannya.


“Ada apa tuan Frigid?” tanya si pelayan.


“Frigid kamu tidak apa-apa?” tanya Ree bingung.


“Jangan pergi.” ucap Frigid melarang Ree.


“Kenapa?” tanya Ree bingung.


“Kamu tidak perlu bertanya, lebih baik lanjutkan tugasmu.” ucap Frigid sembari langsung meraih lengan Ree untuk kembali ke aula.


“Akh!!tunggu!! Frigid! Kenapa kamu menarikku tiba-tiba!?” namun Ree tidak mudah ditarik begitu saja. Ia langsung menahan langkahnya untuk tidak mengikuti langkah Frigid. Hal tersebut membuat langkah Frigid terhenti karena Ree menahannya.


“Kenapa kamu menahanku?! Aku sudah mengatakan bahwa kamu harus pergi melanjutkan pekerjaanmu!”


Ree tersentak kaget karena suara Frigid cukup tinggi dan nampak marah. Kepalanya kini bingung karena mempertanyakan alasan terbesar Frigid marah. Ree tidak tahu dan heran, ia hanya bertemu dengan Smith yang notabene adalah bagian dari kementerian pendidikan, lantas apa yang salah dari hal tersebut?


“Aku pikir kenapa lama sekali kehadiran nona Lumen tidak kunjung muncul ke ruang tunggu, ternyata langkah nona Lumen terhenti disini karenamu Frigid.”


Akhirnya Ree perlahan melepas cengkraman Frigid pada lengannya yang meninggalkan bekas merah. Itu terasa perih dan menyebalkan dalam satu waktu.


“Smith, apa yang kamu rencanakan?” refleks Frigid langsung maju menarik Ree ke belakang punggungnya, berharap wanita itu tidak menatap wajah Smith.


Smith tertawa, ia cukup takjud dengan sikap Frigid yang selalu waspada seperti ini.


“Apa yang kamu curigai? Aku hanya mengajak nona Lumen bertemu dengan sedikit berdiskusi. Apa yang kami bicarakan sama sekali tidak ada kaitannya denganmu.” Smith semakin mendekati Frigid.


“Justru sikapmu ini yang tidak biasa. Lihat, temanmu sedang kebingungan karena tindakanmu yang sejujurnya sangat mengganggu. Bisakah kamu pergi dan biarkan aku serta nona Lumen bicara sebentar?” Smith meminta dengan baik-baik kesediaan Frigid untuk pergi dari hadapannya.


“Aku akan menemani Ree.” ucap Frigid sembari menatap wanita yang berdiri dibelakangnya itu.


“Haah??” tanya Smith kurang setuju.


“Tidak apa-apa. Biarkan Frigid menemani saya. Lagipula saya tidak bisa pergi sendirian dengan orang yang belum saya kenal.”


 


To Be Continued.


 

__ADS_1


__ADS_2