
Tidak, bukan begini maksud hati Servio. Membuat perasaan Ree terluka akan perkataan serta perbuatannya bukanlah maksud dari Servio. Meskipun apa yang telah ia perbuat terlanjut menghancurkan hati wanita itu dan membuatnya tidak akan bisa percaya lagi pada Servio.
Servio tidak tahan lagi, ia tidak ingin hidup bersama Ree ketika wanita itu malah menjadi rusak karena dirinya sendiri.
Pria yang lebih sering menguraikan surai panjangnya itu mulai melangkahnya, menyelusuri gedung akademi satu persatu mencari sosok wanita yang sebenarnya sudah ia abaikan selama beberapa hari ini. Servio ingin meluruskan semuanya, memperbaiki selagi masih awal. Tak ingin lagi ia melihat wajah kesulitan dari wanita yang akan menjadi pengantinnya itu.
Servio tidak bisa, jika ia terlambat, ia akan kehilangan semuanya yang berharga baginya.
Baik ibunya dan wanita yang ia cintai.
*
*
*
Langkah Servio akhirnya membawanya ke sebuah taman yang tak jauh dari akademi, dimana taman itu terdapat danau cukup besar di sana. keberhasilannya ini tak lain karena ada beberapa murid memberitahukan Ree pergi bersama seorang pria menuju taman yang banyak pohon rindang di sana.
Nafasnya yang awalnya terengah-engah sebelumnya mampu ia tutupi, wajahnya yang resah menyimpan kekhawatiran berubah menjadi dingin semula ketika menatap pria yang bersama dengan Ree.
Smith, pria itu entah kenapa bisa bertemu dan berbicara dengan Ree berdua seperti ini. Tampak Ree sangat nyaman berbicara dengan Smith tanpa tahu Servio cukup resah mencarinya.
“Apa ini, aku tidak tahu bahwa kalian berdua saling mengenal satu sama lain.”
Tubuh Ree menegang seketika, tak berani lagi mengangkat wajahnya menatap pemilik suara yang baru saja datang. Smith yang tahu situasinya langsung berdiri dan menghampiri Servio. Tentu saja mereka saling mengenal meskipun tidak akrab.
“Tuan muda Florence, saya hanya berbicara dengan Ree sebentar. Kira-kira seputar bisnis? Bukan begitu?” Smith memutar pandangannya menatap Ree yang hanya menunduk. Wanita itu menuruti saja dan mengangguk.
Benar, yang tidak ingin dilihat di sini adalah Servio. Ree sudah memutuskannya sejak terakhir mereka berbicara.
“Ahh… nampaknya saya harus pergi. Atasan di kantor akan sedikit menyebalkan.” Ucap Smith mulai melingkari syalnya ke lehernya dan menghampiri Servio. Menepuk bahu pria itu sembari tersenyum tipis.
“Sadarkah kamu, tatapanmu itu bisa menakuti orang dan membuat lukanya tambah dalam.” usai berbisik pada Servio, Smith langsung pergi begitu saja dan meninggalkan Servio bersama Ree di taman itu.
Ree tidak bergeming sedikitpun di tempatnya meskipun Smith sudah pergi lebih dulu. Ia ingin pergi, namun tubuhnya enggan untuk bergerak melewati pria yang tidak ingin ia lihat itu. Sementara Servio perlahan maju mendekati Ree, nampak kegelisahan Ree muncul ketika Servio semakin dekat dengannya. Wajah Ree tidak ia angkat dan hanya menatap ujung sepatunya di atas tanah.
Tidak, Servio tidak bisa membiarkannya seperti ini. ia sudah berdiri di hadapan Ree, bahkan bayangan tubuhnya sudah sepenuhnya menimpa wanita yang nampak seperti membatu. Pilu hati Servio menatapnya dan tidak bisa menyentuh wanita itu karena ia takut akan semakin melukai. Servio memutuskan menekuk kakinya, lalu berlutut tepat di hadapan wanita itu agar wajahnya dapat menatap langsung bagaimana ekspresi yang Ree keluarkan saat ini.
Benar, ekspresi penuh emosi ketakutan yang mendalam dan kekesalan yang sulit untuk padam.
“Ree, dengarkan aku.” Kata-kata Servio tak lagi dingin seperti hari-hari sebelumnya. Matanya mencoba membuat hubungan dengan pemilik mata lawan bicaranya, namun belum berhasil ia lakukan karena tatapan itu selalu lari darinya.
“Aku sadar akan tindakanku yang melukaimu akhir-akhir ini dan aku minta maaf.”
Ree nampak mengatupkan bibirnya, tak ingin membuka mulut untuk mengeluarkan kata-kata balasan. Ree sendiri paham, menahan kata seperti ini sangat sakit baginya, namun apalah yang harus ia keluarkan ketika sebelumnya ia tidak pernah didengarkan.
Kalaupun ia berbicara saat ini rasanya percuma.
“Ree, aku tidak bermaksud menyakitimu atas keputusan yang aku ambil. Sulitku mengolah kata hingga mengeluarkan kata-kata yang tak pantas. Aku mengerti, kamu pasti ketakutan… untuk itu Ree…”
“Servio,” Ree perlahan menyeret pandangannya pada pria yang berlutut di hadapannya saat ini. mata Servio terbelalak kaget melihat bagaimana cara Ree memandangnya. Sulit baginya menemukan apa yang sebenarnya wanita itu rasakan sebab kedua bola mata Ree seperti ruang hampa.
“Maaf? Servio aku tidak merasa kita harus membicarakannya lagi. Bukankah itu yang kamu inginkan?” tanya Ree.
Kesunyian di antara mereka berdua hanya ada semilir angin yang mengisi ruang itu. Ree masih menatap pria yang ada di hadapan lututnya saat ini. Ia tidak bisa lagi mengatakan kata-kata lain, rasa hati sudah lelah dan tak ingin Ree membuatnya semakin lelah lagi.
“Saat ini aku sedang tidak ingin bicara apa-apa denganmu. Seperti yang kamu katakan, aku ini naif dan mudah percaya pada orang lain, termasuk dirimu sebelumnya. Aku sedang dalam tahap mengoreksi diriku.”
Ree memutuskan untuk menyudahi pembicaraan yang tidak akan ada habisnya jika tetap dilanjutkan. Hal itu hanya akan menyakiti hatinya lebih dalam lagi dan Ree tidak ingin dirinya tertipu untuk kedua kalinya. Wajah Servio terlihat resah di hadapan matanya, Ree tidak ingin melihat lebih lama lagi. Meski nampak khawatir, Ree tidak mau terlalu percaya diri.
*
*
*
Sementara itu, Smith pikir setelah ia bertemu dengan Ree ia dapat langsung kembali ke tempat ia bekerja. Namun belum ia melangkah keluar dari gerbang La Priens, kembali ia berhadapan dengan orang yang nampaknya memiliki dendam pribadi padanya. Siapa lagi jika bukan Frigid.
“Aku dengar kamu pergi ke Litore untuk magang. Tumben sekali, padahal istana menawarkanmu tempat magang.” ucap Smith pada adiknya yang saat ini berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam seolah ingin menusuk Smith saat ini juga. Wajah kesal Frigid mungkin bukan hal asing bagi Smith dan membuatnya hanya tersenyum geli.
“Kenapa kamu menemui Ree?” tanya Frigid yang ternyata tahu bahwa Smith bertemu dengan Ree.
Smith awalnya terlihat bingung, pandangannya menoleh ke sekeliling halaman depan akademi yang mana jarang ada orang di sana. Saat ini ia hanya di cegat oleh adiknya sendiri tepat di depan gerbang sebelum ia pergi ke jalan.
__ADS_1
“Hey, hey, apa kamu lupa, kami memiliki semacam hubungan penyuka barang antik? Tidaklah aneh jika aku mengajaknya berbicara.” Masuk di akal jika itu merupakan alasan Smith bertemu dengan Ree, namun dipikir lagi Frigid tak mungkin nampak sekalut ini ketika tahu Smith bertemu dengan Ree.
“Jangan berbohong. Aku juga tahu hubunganmu dengan keluarganya tidak sedangkal itu.”
Smith nampak sedikit terkejut, ia pikir Frigid tidak akan terlalu peduli dengan urusannya.
“Apa yang kamu pikirkan? Aku hanyalah pelanggan keluarga Lumen.”
Frigid nampak geram, wajah Smith mengatakan semuanya terlihat santai dan tidak mempermasalahkan cara Frigid menginterogasinya.
“Aku sudah tahu jika Margaretha ada di Litore.” ungkap Frigid membuat Smith lebih terkejut dari sebelumnya.
Hey, bukankah hari ini bukan hari terkejut? Kenapa Smith malah beberapa kali dikejutkan dengan ulah adiknya sendiri? Menyampingkan bagaimana Frigid bisa tahu, Smith akui kelihaian adiknya mencari orang yang sudah ia sembunyikan.
“Heh, kamu nampak terkejut. Apa kamu tidak ingin ulahmu diketahui oleh orang lain?” sindir Frigid.
“Lantas,” Smith mengangkat telapak tangannya dan merapihkan syalnya yang sedikit longgar, hal itu membuat angin dingin musim gugur mengenai kulitnya yang pucat itu.
“Apa yang akan kamu lakukan padanya ketika sudah bertemu? Seolah kamu tahu apa yang terjadi padanya selama ini.” Smith menatap langsung mata adiknya yang terlihat sangat marah itu. Ah, sudah berapa tahun ia selalu menatap Smith selayaknya musuh di medan perang.
“Aku tidak tahu kenapa kamu terus-menerus mencarinya. Bukankah lebih baik kamu urus saja kehidupanmu yang lebih rumit itu? Sudahkah kamu siap untuk pergi meninggalkan Pulchra?”
Pertanyaan beruntun itu mampu membuat Frigid terdiam. Keluarganya tentu tahu bagaimana nasib hidupnya ditentukan, namun sebelum semua itu terjadi, setidaknya Frigid ingin bertemu dengan Margaretha sekali lagi.
“Jangan pikirkan hidup orang lain yang bisa saja lebih baik darimu. Pikirkan dirimu sendiri dulu.” ucap Smith mulai melangkah meninggalkan Frigid.
Bagi Smith, alaminya seharusnya setiap pribadi memikirkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Smith tak habis pikir dengan cara Frigid memikirkan orang lain, bisa saja mirip dengannya atau lebih parah lagi. Selama ini Frigid mungkin melampiaskan kekesalan atas hidupnya pergi ke La Priens, hal itu dilakukannya karena apa yang ada di dalam kediaman sudah direnggut, baik itu hidupnya sendiri maupun orang-orang yang ia sayangi.
Smith nampak menghela napasnya ketika melihat dedaunan mulai berguguran dan memenuhi jalanan, kunjungannya ke La Priens hari ini cukup banyak ragam cerita baginya.
*
*
*
Saat siang sudah berlalu, perlahan matahari akan semakin tenggelam dan membuat suhu udara semakin turun. Namun sore ini meskipun sedikit dingin, cahaya matahari yang sebentar lagi tenggelam masih masuk ke dalam kamar Ree dan Ghea.
Haah, mungkin sudah berapa kali ia menghela napas dan Ree tidak ingin menghitungnya. Lelah mungkin selalu ada dalam kepalanya saat ini. lamunannya tak lama dikejutkan oleh ketukan pintu kamar, Ree dan Ghea yang sedang membaca buku kompak saling memandang dan pada akhirnya Ghea yang bergerak dari kasurnya menuju pintu.
“Ree, ada surat untukmu.” ucap Ghea setelah membuka pintu dan ternyata seorang murid mengantar sebuah amplop surat.
Ree cukup penasaran tentang siapa pengirim surat itu. ia pun bangkit berdiri, meraih amplop yang masih tersegel rapi itu, ia balik amplop tersebut dan melihat nama pengirim di sudut kanan amplop. Melihat nama orang yang tak asing baginya, Ree langsung membukanya dengan perasaan yang berdebar-debar.
Surat itu tak salah lagi berasal dari Brina yang sedang berlayar.
*
*
*
Malam dimana Ree bertunangan dengan Servio,
“Brina, sebelum kamu pergi ada yang ingin aku mintai tolong.” ucap Ree ragu-ragu.
Brina bersiap untuk kembali ke keluarganya dan pulang dari kediaman Florence. Namun nampaknya pembicaraan mereka tidak inign Ree akhiri begitu saja.
“Ada apa kakak?” tanya Brina.
Ree tidak tahu, bagaimana ia ingin memulai dan cara ia mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. permasalahannya ada di topik pembicaraannya.
“Aku ingin kamu pergi mencari tahu kota di Pulchra yang menggunakan Antiaris toxicaria sebagai obat-obatan.”
Ree kurang mengerti, lagi-lagi ia mengangkat permasalahan Frigid dan mencari tahu lebih dalam. Rasa penasaran dalam hatinya tidak mudah padam begitu saja. Ketika memikirkan orang yang membenci kehidupannya sendiri dan bergantung pada obat-obatan yang berbahaya membuat Ree seperti orang bodoh yang terlalu peduli pada orang lain.
“Itu, bukankah racun yang digunakan untuk alat berburu?” tanya Brina.
“Kamu benar, kami biasa menggunakannya untuk berburu, tapi kali ini aku ingin kamu mencari tahu obat yang terbuat dari bahan itu.” Ree terlihat bersungguh-sungguh, hal itu membuat Brina memasang senyum simpulnya dan menampakkan lesung pipi di kedua belah pipinya.
“Aku senang melihat kakak bersemangat seperti ini. Baiklah! Aku akan melakukannya semampuku!” ucap Brina ikut bersemangat.
“Benarkah?! tapi Brina, cukup kamu dan aku yang tahu.” Ree memegang kedua bahu Brina dan mencoba mendapat pengertian dari sepupunya itu.
__ADS_1
Brina nampak mengangguk dan mengiyakan, mengatakan bahwa Ree dapat mempercayainya dan ia akan membantu Ree.
*
*
*
Benar saja, Ree tidak merasa ia sia-sia menaruh kepercayaan pada sepupunya satu itu. bahkan Brina meminta pada orang tuanya untuk memimpin armada sendirian dan pergi berlayar secara terpisah dari rombongan keluarga Lumen demi mencari kota dimana tanaman yang Ree maksud digunakan sebagai obat.
Awalnya kesulitan bagi Brina untuk mendapat ijin dari ayahnya dan pamannya. Terlebih memikirkan usianya masih muda untuk memimpin armada dan berlayar sendirian. Namun Luceat membantu meyakinkan dan mendampingi Brina untuk beberapa keberangkatan ke kota-kota. Semua cerita itu Brina tulis dalam beberapa lembar surat sehingga membuat amplop yang tiba ke tangan Ree terlihat gemuk.
Di lembaran terakhir barulah Ree mendapat apa yang ia mintai tolong itu. mata Ree semakin berbinar dan aura bersemangat mulai muncul dalam dirinya seperti biasa.
“Ghea! Aku akan pergi sebentar ke kamar Liliana!” seru Ree tanpa menunggu respon Ghea. Tentu saja kawan sekamarnya itu bingung melihat orang yang akhir-akhir ini selalu terlihat lesu tiba-tiba bersemangat hanya karena mendapat surat dari sepupunya.
Sesampai di depan pintu kamar Liliana dan Maglina, tanpa menunggu lama, Ree mengetuk daun pintu bersemangat hingga saat Liliana yang kebetulan ada di kamar membukanya dengan penasaran dan kaget.
“Ree! Apa yang terjadi?!” tanya Liliana tak menyangka Ree akan datang mengetuk pintu kamarnya dengan bersemangat.
Atau bisa di bilang hidup lagi??
Liliana pun menyeret masuk Ree ke dalam kamarnya sebelum perempuan itu malah ribut di lorong asrama. Kebetulan Maglina sedang latihan pedang, membuat Liliana sendirian di kamar.
“Ini!!” Ree menunjukkan lembar terakhir surat dari Brina pada wajah Liliana.
Karena kesulitan membaca terlalu dekat, Liliana meraih kertas berwarna coklat itu dan membaca kalimat per kalimat agar ia mendapat informasi yang jelas.
‘tumbuhan A. toxicaria digunakan secara tradisional di wilayah tenggara kerajaan oleh masyarakat awam di sana. namun sulitnya karena obat itu tidak diperjualbelikan karena belum mendapat sertifikasi layak konsumsi oleh lembaga setempat.’ Tulis Brina di suratnya.
Liliana dan Ree saling bertatapan, Liliana menatap Ree heran.
“Kamu masih mencari tahu?” tanya Liliana. Ree mengangguk.
“Aku tidak bisa setengah-setengah mencari informasi.” ucap Ree.
Liliana tak habis pikir dan hanya menghela napasnya. Perempuan di hadapannya saat ini belum lama terlihat seperti orang yang mau mati karena tidak memiliki semangat untuk hidup. Tiba-tiba saja karena topik yang seharusnya mereka lupakan saja, malah membuatnya bersemangat karena mendapat informasi baru terkait topik itu.
“Apa kamu pikir Frigid akan senang menerima informasi seperti ini?” tanya Liliana.
“Frigid? Aku tidak melakukannya untuk menyenangkan hati pria itu. Ini masalah tentang informasi baru.” ucap Ree acuh.
Liliana bisa mengerti itu, ia tahu Ree mungkin tidak memiliki alasan khusus pada Frigid.
“Namun, semuanya berawal dari Frigid. Bukan begitu?” tanya Liliana sekali lagi.
Wajah Ree yang bersemangat itu kembali datar seperti semula ketika memikirkan akar dari perbuatannya sejauh ini.
“Kamu benar Liliana. Kenapa aku malah seperti ini ya??”
Jika Ree bertanya pada Liliana tentang alasan yang tidak Liliana ketahui, lantas kemanakah Liliana bertanya untuk mendapat jawaban?
“Ree, simpatimu terhadap orang lain dan menjadi dasar segala perbuatanmu ini benar-benar akan menyusahkanmu sendiri. Meski tidak semua orang itu buruk, tapi aku khawatir jika pria itu tidak menghargai usahamu. Ada lebih baiknya kita menyerahkan informasi ini pada orang yang mungkin memiliki pengaruh padanya.” Liliana bukannya tidak ingin mendukung penemuan Ree. Justru menurut Liliana apa yang ditemukannya merupakan hal menarik untuk diteliti lebih lanjut. Namun bagaimanapun juga setelah akhir-akhir ini melihat keadaan Ree yang selalu tertekan tanpa tahu penyebabnya membuat Liliana ingin marah.
Marah kepada siapa? Entah itu Ree ataupun dirinya yang tak sanggup membantu Ree. Liliana mengatakan kata-kata yang seakan untuk mengajak Ree merasa pesimis itu bukan karena ia mengejar keuntungan pribadi. Namun ia memikirkan perasaan lelah yang Ree alami.
Anehnya ucapan Liliana barusan tidak menyakiti hari Ree sama sekali. Ia mungkin bersemangat mendapat informasi baru, namun setelah ia pikir lagi, ucapan Liliana ada benarnya.
Ree seharusnya sudah lelah dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini padanya dan kali ini ada baiknya ia melempar masalah obat alternatif itu pada orang lain yang mungkin memiliki wewenang lebih tinggi dalam mengekspoitasi benda itu.
Ree tersenyum ringan, tanda ia juga setuju dengan pendapat Liliana.
“Kamu benar Liliana, nampaknya aku tahu kemana kita akan menindaklanjuti hal ini.”
“Hah? Siapa itu? profesor?” tanya Liliana penasaran.
Ree menggeleng.
“Ia mungkin bukan seorang yang ahli, namun dalam masalah kekuasaan ia sudah jelas memilikinya… yaitu putri Yohanna.”
To Be Continued.
__ADS_1