We And Problems

We And Problems
Chapter 92 : Pergi Jalan-jalan


__ADS_3

Padahal hari itu kabutnya cukup lebat, hingga pandangan mata tidak mudah lagi untuk mengenali sekitarnya. Bahkan suhu udara sangat dingin dan suasana pagi buta itu cukup mencekam untuk terjadinya sebuah perpisahan yang seharusnya dapat menghancurkan seseorang. Seolah tak percaya dengan apa yang matanya lihat, berkali-kali mengeratkan genggamannya ingin memastikan bahwa yang digenggam erat adalah sebuah tangan. Bahkan permukaan kulitnya terasa hangat dan nyata.


“Haruskah sampai sejauh ini?”


Sejauh ini harus mengejarnya?


Dimana saat terakhir kali Frigid sudah yakin dengan perbuatannya yang menghancurkan kepercayaan diri perempuan dihadapannya saat ini.


Sudah cukup lama Yohan pergi dari rumahnya dan membuat Frigid bosan di ruangannya, ia membutuhkan waktu untuk tenang. Hari-hari tenang seperti ini tidak akan pernah lagi ia rasakan kelak ketika ia pergi ke negeri seberang.


Awalnya menolak menerima, menegaskan bahwa itu hanya siluet salah satu pelayan rumahnya, mungkin karena terlalu merasa bersalah hingga bayang-bayangnya terngiang dikepala Frigid. Akan tetapi semakin langkahnya mendekat, semakin jelas itu bukan bayangan semu semata. Sosok tak asing itu mendapat tanda tanya besar kenapa berada di kediamannya.


“Tinggalkan kami sendiri.”


Perintah dingin itu langsung dituruti oleh pelayan yang menemani Ree sejak tadi. Ia pergi menuruni tangga dan memberikan ruang seluas-luasnya untuk Ree dan Frigid yang saat ini berada dalam situasi yang sangat canggung.


Pupil coklat Ree nampak bergetar, bergerak kesana-kemari menatap wajah Frigid yang nampak memerah karena geram. Namun yang menjadi ketakutan Ree adalah cara pria itu menatap Ree dengan sangat tajam dan seakan-akan ledakan kemarahan akan keluar dari kedua bola mata hitam yang selalu nampak seperti ikan mati itu. Sorot mata yang biasanya sangat kosong dan membingungkan, kini terlihat penuh dengan emosi.


Genggaman, tidak lebih disebut cengkraman di pergelangan kiri Ree terasa sakit hingga masuk ke dalam hatinya. Namun Ree tidak berniat menepisnya dan terus menjaga kontak mata intens antara mereka berdua.


“Apa yang kamu bicarakan? Aku adalah tamu ibumu dan Smith saat ini.” Ree perlahan menarik jemari Frigid untuk lepas dari pergelangannya, hingga saat terlepas meninggalkan jejak jemari Frigid memerah disana dan tidak perlu Ree hiraukan hal itu karena tak penting. Ia hanya tidak ingin membuat keributan besar dan melibatkan orang-orang yang tidak ia kenali untuk masalah seperti ini.


“Omong kosong, aku tahu kamu berbohong.”


Meskipun berbohong, Ree tidak akan mengakuinya begitu saja dihadapan Frigid saat ini.


“Kenapa kamu percaya diri sekali?” Ree melipat kedua tangannya di depan dada, menatap angkuh pada Frigid dan sekaligus merasa heran.


“Kenapa kamu percaya diri sekali bahwa kehadiranku di sini karena dirimu? Itu terdengar seperti kamu yang berharap demikian.”


Pernyataan menusuk itu tepat masuk ke dalam jantung Frigid dan hampir tak bisa ia elakkan.


“Melihatku di sini, apa yang pertama kali kamu pikirkan? Bukankah kamu sendiri yang memintaku untuk berhenti? Aku- sudahlah, aku tidak ingin membuat keributan dan merepotkan tuan Smith yang sudah bersedia mengundangku datang.” Ree tidak bisa berdebat dengan Frigid saat ini. Lingkungan kediaman Frigid adalah tempat asing baginya, terlebih mereka berbicara tepat di tepi kolam buaya. Dari pada menjadi makan malam buaya, lebih baik Ree memilih diam.


Ree memutuskan untuk pergi, meninggalkan Frigid tanpa ingin menanti jawaban seperti sebelumnya. Ia sudah terbiasa dan dijawab maupun direspon dengan jawaban yang semestinya.


Frigid memutar tubuhnya mengikuti pergerakan Ree yang berlalu dihadapannya hingga saat dimana wanita itu tak lagi nampak dimatanya.


Belum genap seminggu Frigid rasa tak melihat Ree. Tapi dengan cepat waktu kembali mempertemukan mereka ditengah situasi yang cukup sulit seperti ini.


*


*


*


Tebakan Ree benar-benar terjadi.


Sungguh Ree ingin memendam dirinya dalam-dalam ke dasar bumi saja karena rasa canggung itu masih bisa ia rasakan sangat jelas hingga malam. Bahkan Ree ragu apa ia bisa tidur malam ini. matanya menatap gelisah pada koper barang-barangnya. Di sana terdapat botol obat Wizzle yang ia bawakan untuk Frigid. Ree sangat ingin memberikannya, namun tentu saja Frigid tidak akan mudah menerimanya begitu saja.


Di saat Ree sedang merasa canggung dan gelisah, ia dikejutkan dengan ketukan pelan daun pintu kamarnya. Malam memang belum terlalu larut, namun Ree bisa menebak siapa yang melakukannya.


“Tuan Smith?” tanya Ree sembari membuka pintu kamarnya dan melihat Smith di depan kamarnya mengenakan kemeja putih yang longgar dan celana kain yang terlihat nyaman seolah menunjukkan bahwa busana itu yang biasanya Smith kenakan saat berada di rumah.


“Aku membeli kue saat pulang kerja, ayo minum teh bersama.”


Ree yang awalnya agak canggung merasa cukup nyaman ketika Smith mengajaknya dengan lembut untuk menikmati teh bersama. Tentu saja Ree bersedia, setelah kejadian yang tak terduga ia alami, ia merasa pikirannya perlu relaksasi untuk mengeluarkan tekanan pikirannya.


Smith mengajak Ree ke ruang baca miliknya, di sana rak buku memiliki tingkatan yang banyak bahkan dalam hati Ree menghitung ada sekitar belasan atau puluhan jika dari bawah rak buku tersebut hingga harus menggunakan tangga jika ingin mengambil buku di rak yang paling atas.


“Duduklah.” Smith mempersilahkan Ree untuk mengisi kekosongan pada sisi sofa yang langsung berhadapan dengan miliknya. Di atas meja seperti yang sudah Smith katakan bahwa ia membeli beberapa kue dan sudah disediakan teh sebagai teman yang pas untuk kue itu.


“Aku tidak tahu selera nona Ree seperti apa. Jadi aku membeli beberapa kue yang populer di kalangan wanita muda.”


Jujur saja jika Ree tidak memiliki kelainan karena takut dengan lawan jenis, ia mungkin sangat mudah untuk jatuh cinta dengan orang seperti ini. tapi Ree masih ada kewaspadaannya tersendiri dan tersenyum canggung ketika diperlakukan dengan sangat baik oleh Smith.


“Aku sudah banyak merepotkanmu tuan Smith.”


“Apa yang kamu bicarakan nona Ree? aku hanya memperlakukanmu seperti ini agar kamu betah berada di kediaman kami.” ucap Smith sembari menuangkan teh hitam yang sudah terseduh itu ke cangkir kosong milik Ree. merasa lucu dengan ucapan Smith barusan, Ree tersenyum kecil dan beriringan dengan kekehan pelannya.


“Itu terdengar kamu ingin aku berlama-lama di sini.”


Smith juga ikut tersenyum mendengar celetukan Ree barusan.

__ADS_1


“Jika kamu berkenan aku tidak mempermasalahkannya sama sekali.”


“Tidak, aku tidak bisa berlama-lama tuan Smith. Terlalu canggung untuk terus berada di sini.” Ree nampak terkekeh, tapi matanya nampak kesulitan.


“Jika boleh aku tebak, apa kamu bertemu dengan Frigid hari ini?” seolah tahu isi pikiran Ree, Smith langsung melempar pertanyaan frontal itu.


“Heh, itu benar dan terasa sangat canggung. Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata bagus untuk menyapanya. Bukannya menyapa malah memberikan perkataan sarkas,” Ree berbisik diujung kalimatnya namun masih bisa Smith dengar dan membuat putra sulung Cali itu terkekeh cukup panjang. Merasa sangat lucu mendengar kisah interaksi antara kedua adiknya.


“Dia juga pasti terkejut melihatmu. Aku jadi penasaran bagaimana wajahnya ketika tahu kamu ada di sini.” Smith menyeruput pelan tehnya sembari melihat Ree yang baru saja mengambil sepotong kue dengan stroberi diatasnya dan memakan sesuap kue itu.


“Wajahnya memang pucat, tapi sorot matanya nampaknya marah sekali denganku. Ya, bisa dikatakan Frigid terlihat sangat marah, aku tidak mengerti poin mana yang membuatnya ingin murka itu.”


Kedua adiknya ini sama-sama tidak peka dan tidak bisa mengerti satu sama lain.


“Bagaimanapun Frigid adalah manusia keras kepala dan tak jarang keras juga hatinya, niatmu baik untuk datang ke sini. Aku akan mengatur pertemuan antara kalian berdua, jadi jangan terlalu khawatir.”


“Apa dia mau seperti itu?” tanya Ree yang agak ragu dengan tindakan Smith. Memangnya seseorang yang membenci Smith itu mau saja mengikuti perkataan dari Smith?


“Dari pada itu, aku memerlukan bantuanmu Ree.” tiba-tiba Smith dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan.


“Apa itu?” tanya Ree penasaran.


“Bisakah kamu mengirim suratku pada Luceat?” Smith mengeluarkan sebuah amplop, menyodorkannya di hadapan Ree. 


Ree menatap Smith bingung.


“Dibanding aku, kamu lebih akrab dengan kakakku, bukan begitu tuan Smith?”


Seharusnya begitu, karena sebelum mengenal Ree, putra sulung Cali itu sudah berteman akrab dengan kakak sepupunya yaitu Luceat.


“Inginku begitu, namun saat ini terlalu banyak mata mengikuti pergerakanku. Karena itu nona Lumen, permintaan ini sebenarnya juga berisiko.”


Ree tidak tahu bahwa sebenarnya pergerakan Smith sangat terbatas dibanding dirinya. Cukup lama Ree menatap amplop berwarna coklat itu dan terdapat lilin cap sebagai perekat tutup amplop itu berlambang inisial Smith.


“Mengirim surat bukanlah sesuatu yang sulit, apa sebenarnya kamu mau menutupinya dengan cap pribadi milikku?” Ree bahkan menawarkan bantuan sejauh itu agar Smith tidak dicurigai.


“Nona Ree! aku tidak bermaksud untuk seperti itu.” Kini Smith yang tidak merasa nyaman dengan tawaran yang Ree berikan.


“Aku hanya mengantisipasinya tuan Smith, kita tidak tahu siapa saja yang berada dipihakmu atau ayahmu. Jika menggunakan cap pribadiku itu lebih baik menjaga kerahasiaannya terlebih tujuannya pada keluargaku.” Ree tidak tahu sepenting apa isi surat dari Smith, tapi mendengar keterbatasan yang Smith alami membuat Ree juga ikut mengantisipasi.


*


*


*


Kehadiran Ree di rumahnya membuat Frigid tidak bisa tidur dari malamnya. Alasan keberadaan wanita itu masih menjadi pertanyaan besar bagi Frigid. Bahkan Frigid tak begitu mengerti kenapa Ree bisa sangat akrab dengan ibunya, keheranan itu semakin menjadi ketika Ree dan ibunya pagi-pagi sudah pergi ke kota untuk jalan-jalan bersama. Kehadiran Ree begitu terlihat alami saja di sekitar Bianca. Frigid semakin tidak mengerti arah tujuan seseorang Ree saat ini. Ia juga tidak bisa mendekati mereka karena menjaga jarak dan hanya melihat dari jendela kamarnya ke halaman depan rumah.


“Tuan muda, anda dipanggil tuan ke ruangannya.”


Tak lama setelah Frigid memandangi kepergian ibunya dan Ree dari kamar, seorang pelayan muda memanggil dari balik pintu.


Hari-hari Frigid memang seperti ini. ia akan dipanggil ke ruangan kerja ayahnya, membahas hal yang hampir sama berulang-ulang atau sedikit membantu pekerjaan ayahnya. Lebih baik seperti itu, daripada Frigid berdiam diri dengan bahasan yang sama.


“Apa kamu tahu tentang Dekrit Tiga Permata?”


Dekrit yang berisi perjanjian kuno antara dua kerajaan yang ditengahi oleh satu keluarga kuno.


“Saat ini naskah aslinya masih dipegang oleh keluarga kita. Namun kunci untuk membuka peti itu berada ditangan Smith.”


Tak menduga dengan pernyataan ayahnya membuat tangan Frigid yang sedang memilah dokumen berhenti sebentar lalu kembali berlanjut.


“Kenapa harus ada di Smith? Apa ayah dilangkahi oleh Smith?” pertanyaan Frigid yang acuh itu tentu saja memancing emosi dari ayahnya namun tidak bisa ia apa-apakan anaknya satu ini karena keadaannya sangat beharga.


Setahu Frigid saat ia masih remaja awal, dimana kakeknya masih memimpin keluarga dan belum diserahkan gelarnya pada ayahnya, kakeknya lebih akrab dengan cucu pertamanya yaitu Smith. Entah bagaimana bisa berakhir di Smith kunci untuk dokumen sepenting itu, dan bagaimana bisa kakeknya lebih memercayai Smith dari pada ayahnya, Frigid tidak begitu mengerti serta tak berminat untuk mengerti.


“Untuk saat ini ayah akan mendapatkan kunci itu dari Smith, meski ada sedikit keributan yang akan ditimbulkan.”


Dalam benak Frigid, persetan dengan segala rencana itu. Ia tidak akan ikut campur dan mengotori tangannya untuk kegiatan-kegiatan seperti itu.


“Lakukan saja semau kalian,” ucap saat sudah selesai dan ingin kembali ke ruangan pribadinya.


“Juga untuk saat ini sementara jangan ke area belakang, ibumu nampaknya memiliki tamu pribadinya dan kudengar ia adalah seorang gadis muda,”

__ADS_1


Frigid bahkan sudah bertemu dengan orang yang disebut gadis muda itu.


“Tidak tahu apa yang dipikirkan ibumu, aku hanya tidak ingin terjadi keributan. Aku biarkan dia melakukan apa yang ia inginkan saja.”


Entah apa maksud dari semua perkataan itu, seolah ingin menunjukkan diri sedang menebus kesalahan masa lalu, namun tidak terdengar mengharukan ditelinga Frigid sama sekali.


“Aku sudah selesai dengan hari ini, aku pergi dulu.”


*


*


*


“Terima kasih.” Setelah mengambil tanda terima, Ree langsung melenggang pergi keluar kantor pos. Baru saja ia selesai mengirim surat yang Smith tujukan pada Luceat dan Bianca yang pergi bersamanya tengah berada di sebuah toko pakaian tak jauh dari kantor pos. Bianca mengatakan bahwa ia menunggu Ree di sana.


“Apa kamu sudah selesai mengirim suratnya Ree?” tanya Bianca saat masih melihat-lihat beberapa pasang pakaian yang ada ditubuh manekin.


“Begitulah,”


“Bagaimana menurutmu?” tanya Bianca menunjuk sebuah setelan kemeja dan rok pada Ree di tubuh manekin.


“Aku tadi meminta pelayan toko untuk memasang model ini, akhir-akhir ini model pakaian seperti ini cukup populer dikalangan wanita muda.”


Ree bisa melihat kemeja dengan warna biru muda yang menenangkan serta diimbangi oleh rok panjang yang memiliki garis kotak-kotak, belum lagi antara kerah kemeja itu terdapat juntaian mutiara berwarna putih yang seolah menjadi jembatan pada kerahnya.


“Wah, nampak cantik nyonya Cali.” Puji Ree tanpa berbasa-basi karena menurutnya gaya pakaian yang diperlihatkan oleh Bianca cukup mengikuti tren saat ini.


“Baguslah! Kalau begitu tolong bungkuskan ini,” ucap Bianca pada pelayan toko lalu kembali menghadap Ree yang masih berdiri di sampingnya.


“Kamu harus memakainya sebelum kembali ke akademi.” ucapan itu ditujukan jelas pada Ree dan membuatnya terkejut.


“Eh? Anda tidak perlu,”


“Apa maksudmu? Itu sebagai hadiah karena sudah mau menemani saya pergi berbelanja. Sehabis ini kita ke toko kue untuk membeli kue sebagai teman minum teh sore.”


Ajakan menarik itu membuat Ree merasa lebih akrab dengan Bianca dan cukup nyaman berada di kediaman Cali untuk sementara waktu.


Sepulang dari kota, seperti yang Bianca bicarakan, mereka langsung ke sebuah rumah kaca tempat dimana berbagai bunga yang menjadi kesukaan Bianca ditanam di sana. Di dalam situ juga sesuatu yang menarik perhatian Ree tertuju saat ia baru memasuki rumah kaca seluas 50 meter persegi itu. Memandang objek yang sama dengan Ree saat mengetahui ada sesuatu yang menarik perhatian wanita muda itu membuat Bianca tersenyum kecil.


“Seperti yang kamu tahu, itu adalah makam putra keduaku.”


Sekujur tubuh Ree langsung merinding ketika mendengar ucapan Bianca yang nampaknya sangat santai menunjukkan sebuah nisan bertuliskan nama lengkap seorang pria yang ia kenal, yaitu Frigid Ventfons Cali atau Frigid itu sendiri.


“Ventfons adalah nama panggilannya dariku, sejak kecil ia selalu sakit-sakitan aku memberikannya nama tengah Ventfons agar penyakitnya cepat berlalu seperti angin, tapi malah banyak hal yang terjadi.”


Pikiran Bianca seolah tertinggal pada masa dimana Frigid pertama kali menerima obat dari Agnesia. Lantas bagaimana ia melihat sosok putranya yang sudah dewasa saat ini? Bertahun-tahun menghapus sendiri memori tentang anak keduanya dan menolak untuk melihatnya karena kebencian pada suaminya dan Agnesia, membuat Bianca mengasingkan dirinya sendiri di keluarga ini.


“Bukankah anda membicarakannya dengan saya sewaktu di kereta?” Ree mengingat tentang pengakuan Bianca yang mengatakan bahwa dirinya sendiri yang menolak keberadaan Frigid, itu berarti Bianca tahu bahwa Frigid masih hidup.


“Sebagai putraku tentu saja ia sudah lama mati, ia sudah pergi jauh meninggalkan ibunya sendiri.”


Entah itu Bianca atau Frigid, Ree tidak tahu siapa yang harus salah dalam hal ini. Sang ibu yang menganggap keputusan itu adalah pembunuh anaknya dan dirinya, sementara Frigid yang tidak memiliki kekuatan apa-apa hanya bisa pasrah dan menerima keadaan, terlebih pria itu sangat tidak menghargai hidupnya sendiri.


“Tapi nyonya Cali, jika keputusan itu digagalkan, apa anda akan bersedia menemui putramu lagi?” tanya Ree penasaran. Diluar segala rencana yang akan dijalankan dan bagaimana menghentikannya, Ree ingin sekali mendengar jawaban Bianca.


“Nona Ree, apa menurutmu orang yang sudah mati bertahun-tahun yang lalu bisa hidup kembali?”


Meski tidak menjadi jawaban yang sangat ingin Ree dengarkan, satu sisi Ree bisa melihat kemiripan antara Bianca dan Frigid dalam menjawab pertanyaan. Kebanyakan jawaban mereka terdengar ingin membungkam lawan bicaranya.


*


*


*


“Frigid kamu bisa kembali ke kamarmu, ini sudah sangat larut.”


Tidak hanya pada pagi hari, kadang Frigid harus menjalani pelatihan tentang Agnus sampai malam oleh tutor yang langsung dipekerjakan oleh ayahnya sendiri. Hanya mengucapkan kata terima kasih dengan pelan, Frigid langsung melenggang pergi dari ruangan tempat ia belajar dan berniat kembali ke kamarnya. Saat ia berjalan di koridor yang menghubungkan ruang belajarnya dan kamarnya, entah mengapa napasnya terasa sangat berat dan sulit baginya untuk melanjutkan jalannya. Tangan Frigid langsung memegang dada kirinya yang terasa sangat berat dan sakit. Tidak, ia tidak melewatkan obatnya. Bukan obat dari Wizzle yang ia konsumsi melainkan tetap dengan obat dari Agnesia. Tapi biasanya efek sampingnya tak sampai seperti ini.


Disaat ia masih terhenti dan mencoba mengatur napasnya dengan bersandar di dinding, bayangan seseorang terlihat menghampirinya dan memanggil beberapa kali namanya namun tak terdengar jelas ditelinga Frigid.


“Frigid!!”

__ADS_1


Semakin dekat baru bisa Frigid lihat bahwa orang itu adalah Smith yang terlihat panik sebelum ia jatuh pingsan.


To Be Continued.


__ADS_2