
Karena dunia ini luas, jadi banyak hal yang akan terjadi di dalamnya.
Karena manusia yang memiliki kehendak bebas merupakan salah satu penghuninya, tidak akan pernah lepas dari mereka-mereka yang melakukan sesuatu dengan kekuatannya.
Kekuatan manusia itu berbeda-beda.
Salah satu yang mengerikan adalah kekuatan yang berasal dari orang-orang yang cukup keras pola pikirnya hingga mengakibatkan orang lain menderita.
Kebijakan keras itu tak hanya berasal dari sifat jahat alami manusia.
Namun sebagai seseorang yang sudah banyak melihat kekejian di dunia yang lebih parah membuatnya menciptakan suatu pertahanan keras.
Pertahanan keras itu dirasakan oleh sebagian besar rakyat kerajaan Agnus akan kebijakan yang dibuat oleh Agnesia tentang sumber daya kerajaannya.
Perang yang berlangsung puluhan tahun silam membuat banyak wilayah Agnus hampir dikuasai oleh kerajaan asing. Agnesia sendiri sudah sangat menentang pengelolaan sumber daya oleh orang lain dan membuat kebijakan dimana tidak diperbolehkan orang luar mengambil dengan mudah apa yang di wilayah Agnus dan saat mereka menginginkan sesuatu di Agnus harga bayarannya setimpal dengan nyawa orang paling penting di kerajaan itu.
“Semua pemuda yang memiliki keahlian sudah dipanggil ke ibu kota karena Yang Mulia. Apa yang tersisa di desa hanya mereka yang tidak memiliki kemampuan seperti seorang dokter…” wanita berkepang itu menjelaskan kenapa ia bisa sampai nekat pergi menerobos hutan ke wilayah Pulchra secara diam-diam.
Wanita bernama Asteria itu hanya ingin pergi ke sebuah kota yang ada di ujung hutan bagian Pulchra ini dan membeli obat. Ia hanya berbekal ingatan gejala yang dialami oleh ibunya lalu menjelaskan pada tabit di sana.
“Setidaknya satupun tenaga medis harus ada di sekitar desa dan apa kota yang paling dekat tidak ada?” tanya Luceat masih bingung.
Ia cukup resah ketika menemukan orang asing di wilayah mereka. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ketika para prajurit Agnus atau Pulchra mengetahuinya.
“Kota itu terletak sangat jauh dan butuh berminggu-minggu untuk keluar dengan berjalan kaki. Sementara jika ke kota yang ada di dekat perbatasan lebih dekat dan memakan waktu yang sebentar. Tolong tuan!! Jangan tangkap saya! Saya hanya ingin menyembuhkan orang-orang di desa saya.”
Sedikitpun tidak ada niatan hati Luceat untuk berbuat sesuatu terhadap Asteria. Ia hanya tidak mengerti, kenapa kerajaan sebelah yang memiliki kekayaan alam kesulitan dalam mencari orang yang bisa menyembuhkan seperti ini.
“Baiklah, kamu ingat gejalanya, bukan begitu?”
Wanita yang berkulit hitam manis itu tengadah menatap wajah Luceat dan mengangguk.
“Saya masih ingat… sekujur tubuh ibu saya memiliki banyak ruam kemerahan bahkan sampai gusinya berdarah, dan ia demam dalam beberapa hari sekali… kepalanya terasa nyeri, mual hingga muntah…” jelas Asteria pada Luceat.
“Dokter, dari penjelasannya apa kamu tahu apa yang terjadi?” tanya Luceat langsung mengarah pada seorang dokter yang ada di dalam rombongannya.
“Itu bisa jadi adalah demam berdarah tuan, meski tidak saya lihat secara langsung pasiennya, bisa jadi karena kondisi lingkungan desa mereka lembab sehingga banyak nyamuk dan salah satu spesies yang bisa menyebabkan penyakit itu.”
Tentu saja itu bukan hal yang menyenangkan di telinga Luceat. Situasi serius ini bahkan dapat menjatuhkan banyak korban nyawa.
“Itu merupakan penyakit yang menular…”
“Ja-jadi… saya harus bagaimana tuan… di desa kami tidak memiliki satupun dokter yang mengetahui hal seperti itu…” wajah Asteria nampak lebih pucat dan arah pikirannya tak dapat ditentukan ketika tahu kondisi ibunya dan orang-orang desanya sangat parah.
“Tenang dulu… biarkan dokterku yang menjelaskan bagaimana cara menangani penyakit itu… kamu harus tenang. Sejauh ini kamu nekat berjalan, seharusnya kamu harus tetap tenang agar kembali tidak dengan tangan kosong.” Luceat memegang bahu Asteria dengan erat agar tak goyah perasaan wanita itu yang sudah nekat membahayakan nyawanya hanya untuk menyelamatkan orang-orang di desanya.
Meski merasa sangat takut dan asing, apa yang Luceat katakan tidak salah. Asteria sudah seperti orang gila dengan memutuskan untuk pergi dari desanya. Tidak ada harapan jika ia tetap diam dan ketakutan seperti ini.
Tidak ada yang berubah.
Mungkin seluruh orang yang berbakat hampir diambil oleh istana, namun bukan berarti Asteria merasa dirinya tidak berguna.
Sedikit tidaknya ia ingin berguna untuk orang tuanya dan desanya.
Meski ia harus hidup di bawah kekuasaan yang menetapkan hukum yang keras dan hampir tidak masuk akal. Tidak ada yang bisa berubah jika harus berdiam.
*
*
*
Agnesia jelas mengincar sumber daya manusia yang lebih maju. Menarik orang-orang hebat dari seluruh pelosok kerajaan Agnus dan berbagai kerajaan untuk pergi ke istana.
Banyaknya selir merupakan simbol pembayaran yang cukup besar. Dimana seluruh selir milik ratu merupakan orang-orang yang hanya tampan saja, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan penting di kerajaannya atau memiliki keahlian yang luar biasa.
Syricie hingga Frigid, mata Agnesia tidak akan melepas orang-orang seperti itu.
Alasan itu sebenarnya membuat Ree bertanya-tanya.
Dari seseorang yang memiliki penyakit cukup serius seperti Frigid, kenapa ia diminta untuk menjadi selir?
Apa yang ratu Agnesia lihat dari pria yang sering kali mencampuri urusan orang lain itu?
Jika hanya sebagai pertukaran nyawa dan obat, bukankah itu terlalu kejam?
“Apa yang kamu lamunkan?” sejak tadi Servio hanya menatap Ree yang masih belum menyentuh makanannya saat mereka sedang makan malam bersama.
__ADS_1
“Tidak… aku hanya menunggunya dingin.” Ree tersenyum canggung pada pria yang duduk di hadapannya saat ini.
Perselisihan antara ia dan Frigid hari ini tidak menyenangkan dan membuat perasaan Ree merasa ada yang ganjal.
“Bagaimana bisa,”
“Hah?” Servio masih menunggu ucapan Ree selanjutnya.
“Bagaimana bisa… bagaimana bisa…. Telur ayam dan telur ikan tidak bisa digabungkan dipanci yang sama…??”
Baiklah, Ree benar-benar keluar dari karakternya yang biasa hingga Servio hampir saja menjatuhkan sendok makannya.
“Ree… kamu baik-baik saja?” tanya Servio cemas akan kenormalan orang yang ia sukai itu.
“Ini bukan masalah aku normal atau tidak, ini masalah kenapa sesuatu yang berbeda tidak bisa disatukan dengan mudah…” guman Ree yang masih heran.
“Tentu saja tidak cocok karena berbeda tempat mereka berasal…”
Ree tiba-tiba tersentak karena sadar akan jawaban Servio.
“Tapi berbeda lagi dengan kasus ayam satu dan ayam dua.”
“Kenapa ayam lagi…” timpal Servio.
“Ini membuatku berpikir, beberapa orang memilik perbedaan yang hampir tidak bisa dibicarakan baik-baik…”
Servio menaikkan alisnya sebelah dan merasa masih bingung.
“Setiap orang berbeda, kamu tahu itu.”
Ucapan Servio memang benar.
“Perselisihan bisa terjadi karena adanya perbedaan pendapat, tapi pasti ada alasan disetiap alasan itu.” lanjut Servio.
Memang ada alasan dimana terdapat perbedaan pendapat. Bukan mempermasalahkan pendapat yang berbeda tapi ada di alasan di baliknya.
Masing-masing seperti menyimpan maksud tersendiri dan tidak berminat untuk menyampaikannya.
Servio tidak tahu apa yang sebenarnya Ree pikirkan saat ini. Wanita itu terlihat tidak berselera makan dan hanya diam lalu berguman-guman.
“Kamu tahu, aku jadi sedikit sedih.” Servio tersenyum lembut sembari menopang dagunya dengan tangan menatap wanita yang sedang diluar karakter di hadapannya ini.
Ree mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti.
“Kenapa? Apa kamu memiliki masalah di tempat magangmu?” tanya Ree tak peka.
Tentu saja mendengar ketidakpekaan lantas membuat Servio tertawa cukup keras. Bagaimana mungkin orang sepertinya memiliki masalah di tempat magang sementara ia lebih banyak disukai oleh pekerja wanita di sana karena wajahnya.
Servio cukup percaya diri akan itu.
“Tidak aku tidak memiliki masalah di sana, aku justru cukup menikmatinya…” ucap Servio. Mendengarnya membuat Ree merasa lega.
“Baguslah… ah iya, aku ingat…”
Ree pergi mengambil sesuatu di kamarnya dan membuat Servio menunggu di meja makan. Namun tak lama bagi Ree untuk pergi dan membawa sebuah amplop surat.
“Kakak Luceat mengirim hasil ekspedisi sementara belum lama ini.” timpal Ree sembari membuka amplop yang ia bawa di depan Servio.
“Apa? Luceat? Dia menghubungimu langsung?!” Bagaimana bisa Servio lupa bahwa Luceat adalah orang yang paling bermasalah dalam hidup Ree.
Ree hanya tersenyum ketika Servio tak ragu menampakkan kekhawatirannya.
“Tidak, aku mendapatkannya dari ibuku karena aku juga bertanya beberapa hal dengan ibuku, jadi kami bertukar surat akhir-akhir ini.”
Servio pun langsung bersandar di kursinya dan merasa lega.
“Aku tidak ingin kamu terlalu memaksakan diri untuk berhubungan dengannya.” timpal Servio.
Bagaimana bisa? Ree saja sudah memasukkan Luceat ke dalam daftar hitam hidupnya.
“Ini terkait tumbuhan itu yang berada di dalam wilayah Agnus,” tiba-tiba suasana pembicaraan menjadi sedikit lebih serius.
“Seperti yang kita ketahui bahwa kakak Luceat tidak dapat mendapatkannya dengan mudah. Bahkan untuk menerobos atau iseng-iseng malah membuat orang-orang dari kedua keluarga dalam bahaya…”
Baik Servio dan Ree tentu tidak ingin hal itu terjadi.
“Karena kakak Luceat berada di perbatasan yang mana hanya dikelilingi oleh hutan dari kedua kerajaan membuatnya tidak bisa sering mengabarkan keadaannya. Tapi aku tahu bahwa dia pasti baik-baik saja…”
__ADS_1
“Tapi itu cukup hebat bagi kalian bisa masuk kemana saja bahwa ke wilayah perbatasan Agnus dan Pulchra.” ucap Servio cukup takjub dengan jalur yang keluarga Lumen miliki.
Ree juga tidak menyangkalnya, beberapa saudaranya sudah memimpin armada sendiri sampai ke berbagai sisi kerajaan yang bahkan Ree sendiri tidak percaya bahwa beberapa wilayah itu ada.
Ia yang seperti anak burung yang tidak pergi keluar sarang hanya bisa berbangga dengan pencapaian para saudaranya.
“Tapi aku sepertinya menemukan celah yang kecil.” Ree tiba-tiba tersenyum ringan.
“Apa itu?” tanya Servio penasaran.
“Baik… info yang sudah aku dapatkan adalah keluarga kami terdapat beberapa kali mengunjungi Agnus, tapi sayangnya itu mengambil jalan memutar yang mana melintasi kerajaan lain.”
Jalur perdagangan keluarga Lumen tidak bisa menembus secara langsung ke Agnus melalui Pulchra, mereka harus pergi memutar melalui kerajaan kecil di antara Agnus dan Pulchra barulah mereka bisa masuk ke dalam pasar Agnus.
Karena itu, kadang barang keluarga Lumen tidak pernah sampai ke Agnus dengan jumlah banyak karena mereka lebih banyak menjualnya di kerajaan yang ada ditengah. Sementara barang Agnus sangat dibatasi untuk dibeli dalam jumlah besar.
“Terlebih pajak pembelian barang di Agnus sangat tinggi.” lanjut Ree.
“Itu akan memakan waktu yang lama…” sambut Servio sedikit kecewa bahwa jalur yang terbuka sangat jauh.
“Tapi!!!” seru Ree dengan cepat.
“Kita bisa berlibur ke sana!!”
Mungkin terlalu jauh untuk berdagang tapi, sebagai seorang wisatawan akan diberi akses yang lebih mudah dan nyaman.
Servio langsung terperangah. Ia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
“Seperti yang pernah Frigid katakan bahwa tanaman obat itu menjadi barang dagangan untuk masyarakat umum di sana. Tapi jika kita mendapatkannya sebagai oleh-oleh dan tidak membeli dalam jumlah besar bukanlah masalah.” Ree menatap langit-langit dapur dan mengepal kedua tangannya karena ia tahu selalu ada banyak jalan untuk menuju ke suatu tempat.
Karena ia paham bahwa dunia tidaklah kecil. Untuk menuju ke suatu tempat bukan berarti harus melalui satu-satunya gua gelap, tapi pasti ada celah untuk ke sana meski medan yang dilalui tidak diketahui.
“Ree!!!”
Rasa optimisme itu juga mengangkat semangat dan rasa kagum pada seseorang hingga tanpa Ree sadari bahwa pria yang duduk di hadapannya sudah tidak ada lagi di sana dan sudah berpindah ke sisinya.
Tiba-tiba memeluknya sembari menyerukan namanya.
Rasa bersalah Servio kembali muncul ketika ia sempat membuat Ree depresi dan kesulitan untuk bernapas karena sifat dinginnya beberapa waktu lalu. Tanpa ingin mendengar satupun pendapat yang sebenarnya tidak masalah untuk didengarkan.
“Se-servio??!” Ree hampir saja kehilangan jantungnya sesaat.
Tapi ia ingat ini adalah Servio.
Meskipun ia pernah menghindari pria itu namun pelukan Servio ini tidak sepnuhnya membuat Ree merasa takut. Karena ia tahu, bahwa arti pelukan ini adalah rasa terima kasih dan dengan berani Servio menyampaikannya dengan caranya sendiri.
“Ah!! Maaf!! Kamu pasti ketakutan!” Servio dengan cepat menyadari perbuatannya karena sejak tadi Ree hanya diam saja.
Itu benar, Ree ketakutan. Ketakutannya ini tidak seperti biasanya dimana ia akan refleks menghindar karena tahu akan disentuh.
Tapi, ketakutannya sama seperti dimana ia menjadi relawan di posko umum. Ia takut namun ia harus menahan rasa takut itu agar tidak keluar dan membuat orang lain terluka akibat penolakan yang ia lakukan.
“Apa yang kamu katakan? Aku tidak setakut ini… bukankah kamu pernah memintaku untuk terbiasa denganmu juga?”
“Terlebih, ini masih terlalu awal jika kamu harus senang… bagaimanapun juga kita harus punya rencana ke sana secepatnya tanpa membuat nyonya Dandelia menunggu lebih lama.”
Servio mengangguk paham.
Aroma tubuh Ree sempat membuatnya terlena untuk sesaat, perasaan senang saat ini bercampur-campur. Sebenarnya Servio sangat ingin memeluk Ree lebih lama lagi, namun ia tidak ingin rasa terlenanya akan sesuatu itu malah membuat rasa takut yang besar dalam Ree lagi.
“Kamu benar, aku tidak akan mengulur banyak waktu untuk bersantai.”
Ree juga bangkit berdiri dan menghadap Servio.
Mungkin sudah lama ia tidak melihat wajah Servio yang terlihat cerah seperti ini. meskipun sering menampakkan wajah malasnya.
Namun apa yang ada di depan matanya adalah pria yang tidak selalu mengantuk dan terlihat ‘hidup’.
“Ka-kalian berdua… apa yang kalian lakukan??”
“Liliana!!”
Liliana tidak ingin memikirkan bahwa Ree dan Servio sedang menjalin hubungan sekarang.
To Be Continued.
__ADS_1