
Langit cerah kota pesisir bernama Leafa membuat cahaya matahari tembus begitu saja ke dalam kamar Brina yang ada di dalam dek kapal miliknya tepat ke arah wajahnya.
Situasi politik dan hukum di kota Leafa memang sedang tidak aman, namun tidak membuat tidurnya terganggu sedikitpun.
Samar-samar dari luar langkah kaki orang-orang Brina sepertinya sudah sibuk sementara kapten kapal masih sibuk mengomeli sinar matahari yang membasuh wajahnya. Hingga terdengar pintu kayu kamarnya digedor cukup kuat dan kedua mata Brina langsung terbuka lebar karena namanya juga dipanggil dalam selingan pintu yang digedor keras itu.
“Sudah aku katakan bahwa jangan membangunkanku saat tidur…” sungut Brina sembari membuka pintu dan menatap malas awak kapal yang membangunkannya.
Semua awak kapal memang tahu aturan yang Brina buat sendiri di atas kapalnya.
“Tapi kapten, ada kabar buruk dari kelompok ekspedisi tuan Luceat!”
Jantung Brina terasa ingin jatuh ke lantai dek saat itu juga ketika tangannya bergetar menerima surat dari anak buah Luceat yang ikut. Seketika suasana pelabuhan terasa begitu sunyi meski deru ombak begitu keras menghantam lambung kapal.
Matanya mengikuti baris demi baris tulisan yang menjelaskan situasi Luceat sampai harus dibawa ke Agnus.
“Aku harus menemui Yohanna.”
*
*
*
Kabar buruk tentang Luceat cepat menyebar di seluruh anggota keluarga Lumen termasuk kolega bisnis mereka saat ini yaitu keluarga Florence.
Saat ini Ree dan Servio tak pergi ke rumah dinas mereka melainkan ke kediaman utama keluarga Lumen untuk bertemu dengan anggota yang lain.
Pikiran Ree dan Servio sama-sama penuh, meski Ree membenci Luceat namun berita buruk ini tak bisa ia abaikan begitu saja. Sepanjang perjalanan Ree hanya diam dan dalam bola mata wanita itu terlihat bahwa ia sedang penuh pikirannya.
Tentu saja Servio sangat peka.
“Ternyata kamu masih memikirkannya…”
Ree tersentak sadar dan cukup dibuat bingung dengan pria bersurai panjang di sampingnya itu.
“Memikirkan apa? Tentangnya hanya sebatas saudara…dibanding aku, Brina yang pasti lebih terpukul…”
Langkah kaki keduanya membawa mereka ke sebuah kediaman yang cukup megah tak jauh dari pesisir pantai. Seperti rumah keluarga besar pada umumnya dimana dipagari oleh pagar batu yang tinggi berwarna putih dan di dalam pagar itu bangunan cukup besar berdiri yang mana merupakan kediaman keluarga utama Lumen dan saat ini ditempati oleh pihak dari keluarga Luceat dan Brina.
“Jadi kalian tak satu rumah?” tanya Servio.
“Karena aku tidak bisa melihat ombak terus-menerus dan mabuk laut dengan mudah, jadi orang tuaku membeli rumah di sekitar gunung dan jauh dari pantai.”
“Orang tuamu luar biasa.” Timpal Servio tak menyangka akan seperti itu cerita dimana keluarga dari Ree tidak tinggal di kediaman utama.
“Yaa… maka dari itu, hanya aku yang tinggal di rumah itu sementara semua orang pergi berlayar.”
Bayang-bayang dimana Ree sering kali ditinggalkan di kediamannya karena ketidakmampuannya dan selalu dititipkan di kediaman utama saat tak ada yang menjaganya.
“Masa lalu memang bermacam-macam…” timpal Ree.
Saat masuk ke dalam kediaman, Ree dan Servio di sambut beberapa orang-orang yang melayani keluarga Lumen dan mengantarkan mereka ke ruang makan dimana seluruh keluarga Lumen dan Florence disitu yaitu ayah Servio,
“Ree! Servio! Kalian sudah tiba.” ucap Brina.
“Tentu saja, dibanding itu, aku lebih mengkhawatirkanmu.” ucap Ree langsung mengambil tempat duduk yang sudah disediakan untuknya tepat di sisi Brina.
“Aku langsung berlayar dengan kecepatan penuh sesaat setelah menerima pesan itu.” dari wajah pucat Brina yang tak sempat berbenah diri membuat Ree tahu betapa besar kecemasan yang Brina rasakan untuk kakak laki-lakinya.
“Karena itu aku mengumpulkan kalian semua di sini.” ucap ayah Brina, Avou Lumen.
“Situasi tak terduga didapatkan oleh rombongan Luceat saat pergi ke perbatasan. Dari laporan yang dikirimkan, nampaknya ada kesalahpahaman antara prajurit Agnus dan Luceat. Karena tak ingin menciptakan keributan besar, Luceat bersedia di bawa ke Agnus untuk bertemu dengan ratu Agnesia.”
Hening di sekeliling meja makan itu dan sibuk memikirkan salah satu anggota keluarga yang berada dalam situasi rumit.
Perlahan Ree meraih jemari Brina di bawah meja dan menggenggam erat jemari itu.
__ADS_1
“Luceat… anak itu… benar-benar…” Ree menoleh pada ibu Luceat yang sudah sembab matanya karena tak tidur dan terus menangis memikirkan anak sulungnya.
“Aku sangat menyesal dengan kejadian ini…” timpal ayah Servio yang duduk dihadapan Ree dan Brina.
Wajah pria tua itu nampak sangat murung dan mengungkapkan rasa penyesalan serta bersalahnya. Wajar saja, hal ini terjadi karena permintaannya untuk menemukan obat istrinya.
Selalu saja ada yang berkorban.
Bahkan jika Ree membenci Luceat sekalipun, tak menutup bahwa perasaannya cukup bersedih.
Ketakutan, kebencian, dan rasa sedih itu bercampur jadi satu dan tak mampu membuat mulutnya mengatakan sesuatu yang bisa menghibur.
“Kita harus pergi ke Agnus.” ucap Brina setelah lama berdiam dan menahan rasa geram.
“Kita tidak bisa berdiam saja di sini sementara kakak mungkin akan diperlakukan tidak adil di sana. bagaimana bisa orang-orang melemparkan tuduhan palsu ke padanya? Apanya yang memaksa dan mencuri? Aku bahkan tidak percaya yang dikatakan dalam surat itu. kakak ikut ke sana pasti ada sesuatu yang tidak ingin ia ributkan.” Brina jujur mengatakan bahwa ia tidak memercayai yang dituliskan oleh pengikut Luceat dimana dikatakan bahwa Luceat dituduh mencuri tumbuhan obat dari Agnus dan memaksa penduduk setempat untuk memberikan pada Luceat tumbuhan itu.
“Para pengikut kakak pasti juga ketakutan dan cemas, untungnya mereka bisa lolos dan mengirimkan berita ini pada kita… karena itu, ada baiknya kita langsung pergi ke Agnus dan membela kakak…”
“Kunjungan keluarga kali ini mungkin tidak bisa dikatakan aman-aman saja… tapi demi keselamatan Luceat, tentu harus dilakukan.” timpal ayah Ree.
“Juga, mungkin akan berpengaruh dengan bisnis kita tuan Florence… kami sungguh minta maaf dengan apa yang terjadi.”
Di lain pihak, kasus Luceat uga memberatkan pihak keluarga Florence. Tujuan untuk mendapatkan obat ibunya harus terhalang dan Ree sendiri juga bingung, apa setelah makan malam ini ia bisa menghibur Servio.
*
*
*
Servio dan Ree tidak kembali ke rumah dinas dan memutuskan untuk menginap di kediaman utama keluarga Lumen karena esok subuh rombongan keluarga besar mereka akan pergi ke Agnus, termasuk ibu dan ayah Ree serta Brina juga ikut.
Setelah makan malam, situasi rumah begitu sunyi seolah satu keluarga besar tidak ada di rumah itu karena pikiran dan hati masih tertimpa beban yang cukup berat.
Servio berada di kamar tamu bersama ayahnya yang juga ikut menginap di kediaman Lumen, kedua ayah-anak itu masih terdiam sementara lampu di ruangan itu belum dimatikan.
Servio tak bisa tertidur, meski ia sudah merebahkan diri dan membiarkan ayahnya masih duduk sembari menatap pemandangan malam pantai di Litore, sama sekali tak ada rasa kantuk yang datang dan mampu membawa Servio ke ruang mimpi.
Pikirannya penuh dengan ibunya yang semakin sekarat, sementara egonya diredamkan dengan musibah yang menimpa keluarga Lumen.
Rasa geram di hatinya menjalar, mempertanyakan kemampuan dirinya sebagai seorang anak.
Tak mampukah ia yang berangkat mencari obat ibunya?
Selemah inikah dirinya?
“Dasar lemah.” Gerutu Servio mengutuk dirinya sendiri.
Kakinya terus berjalan menyusuri gelapnya lorong kediaman Lumen.
Jika tak salah, di sebelah barat kediaman ini terdapat balkon yang langsung menghadap ke arah pantai dan pelabuhan Litore. Menikmati angin laut dari situ mungkin akan membuat Servio mengantuk.
Dan benar, Ree mengatakan bahkan balkon tersebut tak jauh dari kamar tamu di lantai dua dan terlebih tak dikunci membuat Servio langsung membuka dan angin laut langsung menyerbu wajahnya.
Dingin, ya angin malam ini sangat dingin, namun tak mampu membuat Servio kedinginan. Padahal saat ini sedang musim gugur.
“Oh!”
Betapa terkejutnya Brina saat ia kembali dari toilet dan melihat bayangan yang sedang berdiri di balkon rumahnya gelap-gelap tanpa berminat menghidupkan lampu balkon. Dari bayangannya saja Brina sudah tahu siapa.
“Kenapa kamu ada di sini? Apa kamu tidak istirahat?” tanya Brina sembari membuka pintu ke arah balkon dan menghampiri Servio.
Adik sepupu Ree itu nampaknya juga punya masalah dengan tidurnya membuat ia harus beberapa kali bolak-balik toilet karena ingin buang air terus. Sementara Ree sudah terlelap di kamar Brina.
Servio tentu ingat Brina, wanita yang awalnya ingin ditunangkan dengannya dan malah Servio hancurkan pertunangan itu dengan membawa Ree.
Ya, situasi masa lalu yang cukup rumit.
__ADS_1
“Apa pada akhirnya kamu akan membenciku?” tanya Servio pada Brina.
Seharusnya demikian, jika dipikirkan kenapa hal ini bisa terjadi.
“Kenapa kamu bertanya demikian? Bukankah sudah jelas?”
Jadi benar anggapan Servio?
Brina melipat kedua lengannya dan menatap Servio cukup intens.
“Ini adalah risiko yang harus dihadapi oleh kami sebagai seorang pedagang. Bukan cuma menjual barang, ada harga yang harus dibayar saat mendapatkan sebuah barang. Risiko ini sudah dipertimbangkan oleh kami dan tentunya kakak juga. Justru kami yang harus meminta maaf karena keteledoran kami.” Bagi Brina, anggapan Servio tentang rasa benci itu salah.
Tanggung jawab mereka sebagai seorang pedagang dan pelanggan yang sudah saling bersepakat dan memikirkan matang-matang tentang risiko pencarian obat sudah dibicarakan.
“Kami menyepakati bisnis ini bukan berarti tak memikirkan risiko yang ada, bahkan sampai diluar kendali sekalipun, pasti sudah diantisipasi… sejak awal, bisnis ini memang tidak mudah… pihak kalian bahkan ingin mengikat diri dengan keluarga kami saking tingginya harga penawaran…”
Pertunangan dadakan yang direncanakan kedua pihak, membuat semuanya terlihat jelas bahwa harga barang itu sangat tinggi.
“Hmm, semuanya berjalan sangat rumit dan tidak terduga…” sampai-sampai Servio harus membawa perasaan pribadinya, walau pada akhirnya ia tetap ditolak.
Brina bisa mengerti tentang perasaan Servio yang pasti mengkhawatirkan kesehatan ibunya yang terus-menerus menurun, dalam hati ia merasa bersalah akan hal itu.
“Tapi aku percaya akan baik-baik saja, kami pasti bisa mendapatkannya, baik itu Luceat maupun obat ibumu.” Sebenarnya tanggung jawab setelah mengatakan itu sangatlah besar untuk ditanggung oleh punggung kecil Brina.
Brina sendiri sadar bahwa ia bukanlah Ree, seorang wanita yang selama ini diperhatikan oleh Servio. Kata-katanya mungkin tak akan berefek besar karena bukan keluar dari mulut Ree, tapi sebagai seorang pedagang, Brina tidak ingin membuat kliennya khawatir.
Ikatan antara klien dan pedagang, hanya itu yang bisa Brina kuatkan.
Kesan pertama Brina terhadap Servio mungkin sedikit mengejutkan karena Brina masih bingung dengan situasi kala itu, tiba-tiba saja ia diminta untuk bertemu seseorang yang akan menjadi calon tunangannya. Untuk pertama kali ketika ia selalu sibuk berpenampilan seperti laki-laki di kapal harus berdandan pertama kali dan menata rambutnya yang selalu saja ia gerai atau diberi topi ketika berlayar.
Tapi, malam itu bukan rasa canggung dan malu yang dirasakan. Melainkan terkejut ketika orang yang seharusnya dikenalkan dengannya membawa wanita lain yang merupakan sepupunya sendiri.
Kecewa? Mungkin saja.
Brina merasakan rasa kecewa itu, namun juga terkejut ketika Ree yang di bawa ke hadapan keluarga oleh Servio.
Apa yang terjadi? Kenapa bisa? Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepala Brina.
Namun, satu hal yang ia tahu adalah… Ree tidak mungkin berniat jahat padanya.
Brina tak bisa marah akan hal itu atau justru lega jika ia digantikan? Karena itu ia bisa pergi berlayar lebih jauh dan bertemu dengan orang yang lebih baik lagi.
“Kembalilah ke kamarmu, malam musim gugur Litore bisa membuatmu sakit.” Ucap Brina lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
*
*
*
Seperti yang direncanakan bahwa rombongan keluarga Lumen akan berangkat pagi-pagi buta saat matahari belum terbit sama sekali. Begitu pula Ree dan Servio ikut mengantar keberangkatan para rombongan yang pergi dengan menggunakan kereta api yang langsung menuju ibu kota Agnus.
“Hati-hati di jalan… kamu belum tidur sama sekali…” ucap Ree khawatir ketika mengingat Brina sama sekali tidak terlelap dari malam hingga keberangkatan.
“Aku baik-baik saja… kami pasti bisa menjemput kakak.” Timpal Brina.
Iya, Ree percaya akan hal itu. rombongan keluarganya pasti bisa membawa kembali Luceat.
“Brina… ada hal yang ingin aku beritahukan padamu.” Sebenarnya Ree juga ikut mencari tahu tentang obat-obatan Dandelia meski ia tidak mencari secara langsung keberadaan benda itu. tetapi selama ini, mungkin tak diketahui orang-orang disekitarnya bahwa ia menggali info tentang itu bahkan sampai bertanya pada kakak Frigid, Smith.
“Ini tentang tumbuhan itu. Mungkin Agnus tidak membiarkan pedagang membeli dalam jumlah banyak untuk dijual di luar negeri, tetapi jika membeli dalam jumlah sedikit dan terbatas, itu masih legal dilakukan. Tumbuhan itu, diketahui dijual cukup bebas di Agnus dan dalam bentuk yang sudah digiling kering.”
Servio yang berdiri di belakang Ree juga ikut mendengar dari apa yang Ree katakan terhadap Brina.
“Ku rasa aku juga pernah mendengar hal itu karena di sana mereka dengan mudah mendapat sumber daya alam mereka sementara untuk ekspor sangat sedikit.” sambut Servio.
“Aku pikir bisa demikian, hanya saja mungkin tidak cukup…” Brina langsung memandang Servio bahwa kemungkinan besar mereka membawa tanaman obat itu dalam jumlah yang tak banyak.
__ADS_1
To Be Continued.