
“Apa kamu yakin tidak ingin diantar sampai stasiun?” ucap Henny resah. Ia khawatir jika Ree tidak bisa pergi ke stasiun sendirian karena ramai.
“Apa yang kamu pikirkan tentangku sebenarnya?! Aku bukan anak kecil Henny.” Ree tidak habis pikir dengan temannya satu ini, wajah Henny seperti seorang ibu yang melepas anak perempuannya untuk pergi jauh, antara khawatir dan tak rela untuk melepaskan.
Ree melambaikan tangannya ketika Henny sudah ingin masuk pagar tempat ia magang. Setelah tubuh Henny tak nampak lagi, barulah Ree membalikkan badannya menghadapi jalanan ramai pelabuhan yang sudah sore. Tak henti-henti kapal datang dan pergi membawa pertemuan serta perpisahan secara serentak. Sebentar lagi hari akan gelap, Ree berniat segera kembali ke asrama sebelum jam makan malam. Ia pun memulai langkahnya menyusuri jalan menuju stasiun kereta jurusan La Priens.
Tak jauh stasiun itu, hanya berjarak 100 meter dari bibir dermaga, Ree bahkan bisa melihat papan nama stasiun kereta kota itu dari kejauhan sebelum matanya bertemu sosok yang tak asing.
“Ree!? Bukankah itu Ree!!”
Tubuhnya bergidik ketika seruan lengking seseorang memanggilnya dan langsung menghampirinya. Seorang gadis muda langsung menariknya dan menghampiri kerumunan tempat ia berasal. Gadis muda yang memiliki warna rambut coklat sama sepertinya dan bola mata yang mirip dengan Ree itu tak lain adalah sepupunya sendiri yaitu Brina. Gadis yang ditunangkan dengan Servio. Tidak hanya Brina, Ree juga bertemu dengan kedua orang tuanya yang jelas terkejut melihat anak perempuan mereka di tengah pelabuhan seperti ini.
“Ree!? Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Leona kaget dan langsung menghampiri salah satu putrinya itu, memegang kedua pipinya dan memastikan bahwa orang yang di depan matanya adalah putrinya. Tentu saja bukan Leona seorang yang kaget, Ree juga merasa demikian sampai tak mampu berkata.
“I-ibu… aku baru saja mengunjungi Henny dan ingin kembali ke asrama.”
“Benarkah? Benar juga!! Henny! Ibu juga bertemu dengannya beberapa hari yang lalu di pelabuhan.”
Hal itu ada Henny ceritakan, bagaimana Henny bisa bertemu kedua orang tua Ree yang mana adalah sumber tindakan gila Henny.
“Ibu, apa yang ibu lakukan disini?” tanya Ree pura-pura tidak tahu.
“Ibu sedang membantu paman dan bibimu mengurus pertunangan Brina dengan keluarga Florence.”
Ree nampak terkejut dan menutupi kenyataan bahwa ia juga tahu hal itu sejak awal.
“Benarkah, semoga lancar.” ucap Ree sembari tersenyum lembut pada sepupunya yang muda setahun darinya.
“Waah, tidak terduga. Ternyata kamu salah satu putri dari keluarga Lumen, nona.”
Pupil mata Ree sedikit membesar ketika mendengar seorang pria berbicara dari belakang ibunya dan menampakkan dirinya di depan Ree. Pria tak asing itu, karena baru beberapa kali Ree bertemu, ia menjadi sedikit bermasalah dengan Frigid.
“Tuan muda Cali, anda mengenal putri saya?” tanya Angues terkejut ketika Smith muncul dan menampakkan senyum ramahnya menatap Ree yang masih di pelukan Leona.
Ree berusaha lepas dari pelukan ibunya dan masih tidak dapat mencerna tentang kehadiran Smith di tengah keluarganya. Putra sulung keluarga Cali itu, sejak kapan mengenal kedua orang tua Ree?
“Tentu saja, itu karena saya pernah bertemu dengan Ree di akademi dan ia adalah salah satu murid dari program La Priens.”
“Benar juga, Ree pernah mengirim surat bahwa ia akan pergi ke Crystallo untuk pertukaran pelajar.”
Smith mengiyakan ucapan Leona, sejujurnya Smith juga tidak tahu akan kebetulan bertemu dengan Ree di tengah pelabuhan. Akan tetapi yang mencurigakan adalah kenapa Smith mengenal keluarga Ree. Efek ketidakpedulian Ree pada bisnis keluarganya membuat Ree sedikit mendapat informasi dan malah banyak tidak tahu.
“Awalnya saya merekomendasikan lokasi magang untuk Ree, namun nampaknya masih Ree pikirkan. Bukan begitu nona Ree?”
Ree tidak tahu arti dari senyuman ramah Smith padanya, dalam benaknya ia jelas merasa tidak nyaman. Tatapan ramah itu seolah menyimpan sesuatu di baliknya dan membuat Ree sedikit mundur.
“Benarkah? Ree, apa kamu sudah memutuskan tempat magang?” tanya Leona.
Ree menggeleng, keputusan tempat magang memang menyulitkan Ree akhir-akhir ini, banyak tempat menjadi pertimbangan.
“Di Kementerian kami akan menerimamu kapan saja.” Smith.
Kementerian Pendidikan, tempat Smith bekerja saat ini. program pertukaran pelajar ini juga merupakan bagian dari pekerjaannya. Ree tidak mempermasalahkan tentang kementerian yang akan jadi tempat ia magang.
“Namun, nampaknya saya akan kembali ke kota Litore.”
Keputusan Ree belum sepenuhnya bulat untuk magang di Litore, ia mengatakan hal itu hanya karena tidak ingin berlama-lama berada di pelabuhan dan harus kembali ke asrama secepatnya.
*
*
*
__ADS_1
“Kamu yakin akan kembali ke kota mu? Tidak ingin menyelusuri kota lain?” tanya Maglina ketika ia, Ree, dan Liliana ingin mengumpulkan lembar pengajuan magang pada akademi.
“Tidak ada tempat lain yang aku pikirkan cocok dengan bidangku, jika aku harus berada di ibu kota aku hanya bisa berada di markas militer sama seperti Henny temanku. Jika di Litore, terdapat beberapa lembaga keamanan besar dan aku cukup tertarik dengan itu.” jelas Ree.
“Lalu bagaimana denganmu Liliana? Kenapa kamu memilih Litore?” tanya Maglina bingung.
“Tentu saja karena Litore kota yang ramai dan banyak alamnya yang belum aku telusuri. Wilayah pesisir dan lautnya itu banyak menyimpan hal-hal yang mungkin akan menarik ketika aku bedah.”
Ree dan Maglina hanya bisa tersenyum satu sama lain ketika mendengar alasan Liliana terkait lokasi magang. Bagi Liliana, tidak ada yang lebih menarik selain membedah makhluk hidup dan memasukkannya ke dalam jurnal.
“Lalu,, apa kalian akan pergi ke kafetaria sehabis ini?” tanya Maglina menunjuk arah kafetaria menggunakan jempolnya.
“Ah, aku ingat sesuatu!” seru Liliana tiba-tiba lalu menatap Ree.
“Ada apa?” tanya Ree bingung.
Liliana menoleh ke Maglina.
“Nampaknya kami tidak dapat ikut ke kafetaria, aku dan Ree ada sesuatu yang harus di urus.” ucap Liliana.
“Benarkah?” tanya Maglina. Ree sendiri tidak tahu kenapa Liliana memiliki urusan dengannya, namun Liliana hanya menyikut kecil lengan Ree untuk mau di ajak kerja sama.
“Iya, itu benar. Kita makan bersama lain waktu Maglina, sampai jumpa.” Tanpa menunggu lama, Ree mau ikut Liliana dan melambai mengantar kepergian Maglina ke kafetaria.
Setelah punggung Maglina ditelan kerumunan, barulah Ree menatap Liliana dengan tatapan bingungnya.
“Ada apa Liliana?” tanya Ree penasaran.
“Aku ada janji dengan Profesor kelas Kimia kita, kamu boleh ikut.”
Ree dapat memastikan bahwa ia tidak memiliki masalah apapun di kelas Kimia, namun Liliana mengajak tiba-tiba seperti ini merupakan sesuatu yang tidak biasa. Apa yang sebenarnya Liliana rencanakan?
*
*
*
“Hati-hati melangkah, bisa saja kamu menginjak HCl murni.” Liliana menunjuk beberapa lantai yang meleleh karena terkena kadar asam tinggi.
Ree jadi beranggapan bahwa ia sedang berada di medan ranjau.
“Jangan berlebihan nona Flown, itu bisa kita netralkan dengan natrium hidroksida.” Wanita paruh baya muncul dengan menggunakan jas putih selutut dan terusan berwarna biru muda dengan membawa wadah berisi bubuk putih lalu memasukkan bubuk putih ke dalam lantai yang meleleh tadi untuk melihat reaksi yang terjadi.
“Apa anda ingin merusak marmer akademi lagi profesor?” tanya Liliana.
Sebenarnya sudah profesor itu lakukan namun tidak ia pedulikan, meskipun perbuatannya sudah sering kali di tegur oleh pihak kerumahtanggaan akademi yang mengurus properti akademi.
“Dari pada itu, bawa saja nona Lumen ke hadapan tamuku.”
Tamu profesor Asley? Ree dan Liliana menatap satu sama lain, saling melempar pertanyaan dalam batin tentang siapa yang di maksud profesor mereka itu. Barulah kedua wanita muda mengarah padangannya pada punggung seorang wanita yang mengenakan gaun hitam sedang duduk membelakangi mereka, rambut hitamnya dapat dilihat sudah sedikit beruban namun masih lurus dan nampak lembut. Perlahan langkah Ree dan Liliana pun mendekati meja tamu di ruangan itu, melihat tamu yang sedang menikmati teh hitamnya sembari menatap lembar hasil uji milik Liliana dan profesor kelas Kimia.
“Kalian berdua sudah datang, duduklah.”
Ree dan Liliana tersentak terkejut mendengar suara tegas dan berat dari tamu misterius itu, mata hitamnya langsung menatap sosok Ree dan Liliana lurus sembari menaruh kembali cangkir teh berisi setengah lagi.
“Apa lagi yang kalian berdua tunggu, duduk saja.” sambut profesor dari belakang dan duduk di sofa tunggal sebelah tamu.
Menurut saja, Ree dan Liliana mengambil tempat kosong di hadapan tamu wanita itu dan masih menyimpan rasa penasaran tentang siapa yang ada di depannya saat ini. Untuk ukuran orang biasa, itu terlalu berbeda dengan kesan wibawa yang ada di sekitarnya. Paling tidak Ree merasa wanita paruh baya di hadapannya ini merupakan orang penting atau semacamnya.
“Beliau adalah teman saya sewaktu masih di akademi. Beliau adalah Elleina Whitterdern, seorang Duchess dari kerajaan Emerald.”
Persis seperti dugaan Ree, wanita yang dikenalkan oleh Asley bukan orang sembarangan. Ia bahkan seorang bangsawan besar.
__ADS_1
“Saya tidak akan berlama-lama lagi, apa yang telah nona Flown dan Profesor Asley temukan.” ucap Elleina sembari menatap Ree serius.
Jemari yang bersarung tangan hitam itu meraih kertas yang berisi hasil penelitian Liliana dan Asley kemudian matanya menangkap sosok Ree sembari menyeringai tipis.
“Nona Lumen, Digitalis purpurea, terdengar indah namun mematikan. Apa yang kamu ketahui tentang tanaman beracun ini?” Elleina langsung melempar pertanyaannya pada Ree tepat setelah mata mereka bertemu.
Ree hampir tercekat dan lupa bernapas, ia terlalu segan dengan Elleina hingga saat Liliana menyikut lengannya, barulah Ree tersadar dan segera mempersiapkan jawaban di kepalanya.
“Saya mengetahuinya saat Liliana memberikan saya hasil uji mereka, dikenal dengan tumbuhan beracun yang dapat menyebabkan kematian jika dikonsumsi berlebihan.”
Elleina mengangguk setuju dengan penjelasan Ree barusan.
“Setidaknya kamu memahami garis besar itu. Saat ini, beberapa kerajaan melarang pemakaiannya karena sifat racunya itu terutama. Namun, Digitalis purpurea ini juga bisa digunakan sebagai obat khususnya pada penyakit jantung, bisa saja temanmu yang mengonsumsi ini memiliki riwayat penyakit yang berkaitan dengan jantungnya.” jelas Elleina.
Mendengar penjelasan Elleina, pikiran Ree terasa terbuka. Ia menjadi berpikir bahwa selama ini apa pikirannya terlalu sempit sehingga menyimpulkan begitu saja tentang Frigid. Jika telinganya barusan mendengar bahwa tumbuhan itu dapat menjadi obat untuk penyakit jantung.
“Ree, kamu tidak perlu ragu dengan pendapat dari Duchess Whitterdern, beliau ahli dalam tanaman beracun dan obat herbal. Saya mengundang beliau kesini karena untuk dirimu dan temanmu itu.” jelas Asley, karena melihat wajah Ree nampak terkejut.
“Saya tidak meragukan beliau, saya hanya takjub dan sedikit merenung bahwa saya masih banyak hal yang tidak saya ketahui.” ucap Ree sembari tersenyum pada Asley dan Elleina bergantian.
“Bagus, kamu memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar,”
“Lalu, Duchess. Apa yang membuat racun ini bisa menjadi obat?” tanya Ree penasaran.
“Namanya digoksin, ekstrak dari tanaman ini. Hanya beberapa kerajaan yang diperbolehkan memproduksi ekstraknya, itupun dalam jumlah terbatas dan pengawasan yang ketat. Contoh salah satu kerajaan yang berwewenang memproduksinya adalah kerajaan Agnus yang dipimpin oleh ratu Agnesia.”
Ree ingat, ia pernah mengiring rombongan kerajaan Agnus saat mengunjungi La Priens beberapa bulan yang lalu.
“Nona Lumen, mungkin efeknya sebagai obat cukup kuat, namun bagaimanapun juga Digitalis purpurea merupakan racun alami. Banyak kasus terjadi karena salah penggunaannya yang mana dapat menyebabkan kematian. Hal itu terjadi karena sifat ekstraknya meningkatkan kekuatan kontraksi jantung, namun jika dikonsumsi secara berlebihan malah dapat menyebabkan gangguan irama jantung yang mematikan.”
Itu seperti pedang dengan dua mata. Ree mengingat bagaimana Frigid terus mencengkram dada kirinya menahan sakit dan tergantung dengan racun semacam ini untuk bertahan hidup. Pria gila satu itu, Ree tidak habis pikir.
“Apa tidak ada yang lebih aman? Duchess, apa hanya tumbuhan ini satu-satunya?” Ree ingin sekali mendapatkan jawaban bahwa tumbuhan itu bukan satu-satunya bisa menjadi benda untuk bergantung hidup seseorang. Setidaknya, apa ada yang lebih aman atau semacamnya?
“Sejauh ini, saya tahu beberapa tumbuhan dengan fungsi yang sama. Namun seperti Digitalis. purpurea, mereka memiliki racun. Namun, setidaknya tumbuh di tanah kerajaan kalian. Nama tumbuhan itu Antiaris toxicaria.”
Ree dan Liliana terbelalak kaget, siapa yang menyangka Elleina akan menyebut nama tumbuhan yang sebenarnya tak asing bagi keduanya yang mengikuti kelas berburu.
“Itu merupakan pohon beracun yang mana racunnya kami gunakan untuk melumuri anak panah.” ujar Ree tak habis pikir.
“Pohon itu memiliki getah yang menghasilkan antiarin yang seperti digoksin pada Digitalis purpurea. Berpengaruh pada otot jantung.”
“Pohon itu banyak tumbuh di kota ku, saat ini racunnya secara legal di perdagangkan untuk kebutuhan senjata. Namun obatnya belum ada yang berani meneliti untuk kebutuhan manusia.” jelas Liliana.
Elleina tiba-tiba beranjak dari tempat ia duduk, nampaknya waktu berkunjungnya sudah habis dan siap kembali ke kediamannya di Elemento. Hal itu dapat Ree mengerti ketika seorang pria paruh baya muncul memanggilnya ‘nyonya’.
“Sekiranya dari pertemuan kita hari ini, kalian dapat mendapat ilmu yang berguna.”
Ree langsung beranjak, menyusul langkah Elleina. Dalam hatinya masih terasa ada yang janggal dan ingin sekali ia tanyakan lagi.
“Duchess!”
Langkah Elleina terhenti, seorang wanita muda dengan penuh semangat mengejar dan memanggilnya. Tak sulit bagi Ree untuk berlari dengan rok pendek yang ia kenakan, hingga kedua sepatu kulit berwarna coklatnya menghampiri dan berhenti di hadapan ujung sepasang sepatu hitam milik Elleina.
“Ada apa nona Lumen?” tanya Elleina tenang.
“Ini bukanlah pertanyaan panjang, saya hanya ingin tahu, apa ada kesempatan untuk membuatnya berfungsi pada manusia?” tanya Ree.
Elleina dapat melihat, di hadapannya saat ini seorang wanita muda bukan terlihat berambisi, namun sedang kebingungan dan ingin mencari jalan keluar. Elleina tidak tahu apa masalah yang sedang Ree hadapi, namun tidak ada salahnya untuk peduli.
“Di dunia ini, bagi saya tidak ada yang satu-satunya, selalu ada jalan lain. Tersedianya jalan itu tergantung pada mereka yang mau membuatnya. Tetaplah pada aturan dan bersama pengawas yang memadai, semoga kamu bisa menemukan solusi yang kamu inginkan.”
Ree terdiam, kepergian Elleina tak lagi ia tahan. Selalu demikian, selalu ada jalan lain, sesulit apapun, selalu ada pilihan.
__ADS_1
To Be Continued.