
Karena ulahnya, Ree dipindahkan ke unit umum dari unit ibu hamil. Alasan dipindahkan Ree adalah di unit umum akan lebih banyak masalah karena terdapat berbagai kalangan masyarakat di dalamnya. Sebagai sesama rekan, Ree akan diawasi kerjanya oleh Frigid. Oleh karena itu mengapa Ree memberi Frigid senyum terbodohnya pada pria itu.
Mau tidak mau Frigid pun mengawasi Ree, karena ia tidak mau dikatakan sedang berkelahi dengan Ree karena tak ingin mengawasi wanita itu dalam bekerja. Dari awal Ree tidak ada halangan di unit umum, karena ia lebih mengarah pada bagian dapur yang mana di dominasi oleh wanita yang memasak makanan untuk para korban. Adanya Ree di bagian dapur tak lain karena Frigid yang meminta Ree untuk bekerja di bagian itu karena melihat Ree bagian perawatan luka, tampaknya lebih banyak wanita itu berinteraksi dengan pria dan nampak kesulitan.
Frigid yang tahu keadaan Ree, namun tak mungkin ia memberitahu pada semua orang agar mengerti, mau tidak mau bertindak dan membatasi interaksi Ree dengan para laki-laki di kawasan itu.
Hingga timbul gosip Frigid dan Ree adalah sepasang kekasih.
Baik Ree dan Frigid sama-sama tak habis pikir.
“Tak bisakah kamu memperlakukanku dengan normal? Semua orang jadi berpikir aneh tentang kamu dan aku.”
Protes Ree ketika mereka makan siang di meja yang sama.
Hanya berdua.
“Apa tidak lebih baik jika kamu jujur pada dirimu sendiri yang sebenarnya merasa susah?” tanya Frigid.
Ree menatap pria dingin di hadapannya saat ini, siapa yang menyangka Frigid malah terlihat peduli seperti itu.
“Aku memiliki tanggung jawab mengawasimu, tentu saja apa yang terjadi padamu bisa menjadi tanggung jawabku. Sebelum hal buruk terjadi, aku setidaknya harus mencegahnya.” lanjut Frigid lalu mulai menyantap makan siangnya.
Ree tak habis pikir, kenapa Frigid itu sangat aneh dan tidak dapat dipahami. Rasa pedulinya pada orang disekitarnya sangat-sangat abstrak.
Kadang kala ada waktu ia muncul di saat Ree tengah berada di situasi yang kacau.
Ada pula, muncul sifat dingin dan tak berperasaannya lalu malah menyakiti orang lain dengan prinsip serta pola pikirnya itu.
“Kamu itu aneh sekali.” timpal Ree tak habis pikir.
Menanggapi ucapan Ree, Frigid hanya menatap wanita di hadapannya sebentar lalu melanjutkan acara makannya.
“Jika kamu aneh seperti ini, tidak ada wanita yang bertahan di sampingmu. Mungkin hanya bertahan karena wajahmu yang tampan itu, namun untuk sifat… aku bahkan sulit menggambarkannya seperti apa.” lanjut Ree.
Wajah tampan, tubuh yang memiliki proposional yang bagus dengan bahu lebar dan punggung tegak sudah menjadi hal yang lebih dari fisik Frigid itu sendiri. Belum lagi latar keluarganya yang tidaklah biasa itu, membuat semua pemburu materi tentu akan membelalakan matanya pada Frigid maupun Smith.
Sayangnya, pikiran Ree mungkin keliru tentang Frigid.
“Aku tidak perlu memusingkan hal itu karena tidak akan pernah terjadi.” ucap Frigid acuh.
Semua yang ada padanya saat ini bukanlah hal yang memang sudah ada pada dirinya sejak awal. Frigid yang sudah lama tidak merasa bahwa hidupnya adalah milik sendiri tentu tidak pernah memusingkan ucapan Ree. Mau itu wajah atau latar keluarganya, tidak ada yang berguna.
Semuanya hanya bertahan karena menjadi sebuah jaminan.
Hidup sebagai seorang jaminan seperti ini, tak dapat membuat Frigid bersyukur ataupun memikirkan tentang dirinya.
“Waah… apa orang tuamu menjodohkanmu di pernikahan politik?” tanya Ree penasaran.
“Bisa dikatakan demikian.” Sebenarnya tidak.
Rasanya bukan dijodohkan, namun ‘dijual’.
“Pernikahan seperti itu sebenarnya memuakkan.” ucap Ree jengah mengingat ia juga berada di situasi yang mungkin mirip dengan Frigid, pikir Ree.
“Bukankah itu mempermudahmu untuk mendapat pasangan tanpa perlu mencarinya?” tanya Frigid terdengar logis, namun tentu tidak dapat diterima semudah itu.
“Pemaksaan seperti itu adalah hal yang aku tidak sukai di dunia ini setelah kelemahan yang aku miliki.” Ree jujur dalam mengatakan apa yang tidak ia sukai di dunia ini selain berinteraksi dengan laki-laki.
“Mungkin terdengar sepele, jika kita tidak perlu lelah untuk mencari pasangan hidup. Meski aku tidak mengerti cinta, tapi orang yang dipasangkan belumlah tentu dengan apa yang kita tetapkan sebagai standar itu. bisa saja ia sudah memiliki orang yang ia cintai, atau seorang yang milik orang lain? aku tidak akan mau hidup sebagai yang kedua dan seterusnya…”
Jelas saja demikian, Ree tidak jarang mendengar banyak gadis muda yang dijual ke keluarga bangsawan untuk dijadikan selir atau istri kedua. Itu merupakan perampokan jati diri gadis itu.
Tidak semua keluarga buruk maupun sebaliknya.
Namun, ketika hidup masih memiliki opsi lain, apa Ree harus mau mengikuti arus yang memaksa seperti itu?
Bahkan dengan arus yang Servio buat dalam hidupnya, Ree tidak mau menyerah sampai saat ini.
Jadi, saat Ree mengatakan protes itu pada Frigid, matanya terlihat menyala menyatakan protesnya. Mata itu terus terang sangat menentang hak kebahagiaan diri dirampas oleh hubungan dalam pernikahan politik.
“Setidaknya aku memahami hal ini… ibu dan ayahku menikah dengan cara yang normal dan saling mencintai satu sama lain, kenapa aku harus berbeda?” tanya Ree heran.
__ADS_1
“Kamu benar-benar menentangnya… Meski kamu tidak tahu bahwa dunia kalangan atas itu sangat gila.”
Ree mengernyitkan dahinya heran. Meski ia sudah mengeluarkan protesnya dari pernyataan Frigid, kenapa Ree tidak suka dengan wajah yang nampak pesimis di hadapannya saat ini?
Memang ada yang salah dari Frigid.
“Memangnya apa yang bisa kamu tangkap dari kehidupan pernikahan politik di kalangan atas?” tanya Ree penasaran.
“Tentu saja, keserakahan yang tidak pernah ada batasnya.”
Mulut Ree membulat ketika mendengar jawaban yang menurutnya terdengar mutlak itu. jika sudah bicara tentang hasrat manusia tidak akan pernah habisnya. Tanpa terasa, keduanya sudah menghabiskan makanan mereka.
“Berkatmu aku cukup banyak bicara saat makan, seharusnya kamu tidak melakukan itu.” ucap Frigid mulai bangkit untuk menyimpan nampan makanannya.
“Apa yang kamu bicarakan? Kita tidak pernah mengobrol satu sama lain karena selalu bersitegang.” timpal Ree heran.
Sebelum pergi Frigid menatap Ree terlebih dulu dalam diamnya.
“Aku tidak pernah merasa memiliki hal yang perlu diperdebatkan denganmu.” ucapnya dengan wajah yang sangat menyebalkan itu.
*
*
*
“Jadi mereka menjadi relawan selama seminggu…” ucap Smith ketika ia sudah berada di Litore dan menanyakan pada Liliana di rumah dinas La Priens.
“Itu benar, karena Ree dan Frigid berada di unit yang sama maka mereka ikut tim yang berangkat.” jelas Liliana sembari menyuguhkan secangkir teh untuk tamu mereka.
Rasanya Liliana tidak merasa aneh sedikitpun ketika Smith datang karena selain dari kementrian pendidikan, meski tibanya di malam hari, mungkin Smith datang sebagai seorang saudara.
“Terima kasih, padahal kamu tidak perlu repot nona.” ucap Smith merasa tidak enak ketika Liliana menyempatkan diri membuatkan teh untuknya.
“Tidak masalah, saya tidak bisa melakukan hal lebih selain ini untuk menyambut keluarga salah satu teman yang tinggal di sini. Apa ada pesan yang ingin anda sampaikan pada Frigid?” tanya Liliana sembari duduk di hadapan Smith.
“Ahaha… lebih baik anda tidak mengatakan saya datang ke sini pada Frigid, ia akan marah besar. Meskipun ia terlihat tenang namun kadang ia juga suka meledak-ledak. Nona Liliana dan nona Ree bisa kerepotan.” jawab Smith.
“Tapi yang memang sedikit mengejutkan saya ternyata nona Ree juga berada di tempat yang sama dengan Frigid, kebetulan yang lucu.” ucap Smith yang sejujurnya tak menyangka kebetulan ada pada Ree dan Frigid.
Mungkin Smith bisa menebak dengan mudah alasan Frigid memilih Litore.
Cepat atau lambat jika di cari dan memang tidak Smith sembunyikan pun pasti akan ditemui, si Margaretha itu.
“Nampaknya saya harus pergi nona Liliana, saya minta maaf telah mengganggu waktu istirahat nona.” ucap Smith yang sudah bersiap pergi dari rumah dinas La Priens.
Liliana sendiri bersedia mengantar Smith sampai ke depan pagar, setelah banyak berbincang ringan dengan Smith, Liliana malah merasa bahwa kakaknya Frigid memiliki karakter yang nyaman untuk di ajak bicara.
“Tidak apa-apa tuan Smith, seperti yang saya katakan, mereka akan kembali seminggu lebih lagi tergantung situasi di sana.” ucap Liliana kembali mengingatkan Smith perihal kedatangan Ree dan Frigid.
“Saya senang Frigid di kelilingi orang-orang seperti kamu dan nona Ree, sampai sebelum La Priens menjadi akademi campuran, Frigid pasti terlihat kaku sekali, setidaknya mungkin akhir-akhir ini ia banyak mengeluarkan ekspresi yang berbeda.” ucap Smith.
Liliana tidak bisa menyangkal, selain wajah temboknya, Liliana menangkap watak Frigid sedikit cerewet di mulut meski ia sangat dingin. Tapi, lebih anehnya pada Ree yang terlihat selalu santai berinteraksi dengan Frigid.
Setelah Smith keluar dari pagar, barulah Liliana menutup pintu dan melanjutkan masa istirahatnya. Sebelum masuk ke dalam kamar, Liliana sempat melihat pintu kamar Servio yang terletak di depan kamarnya. Penghuni kamar itu sudah mengurung diri sejak kembali dari tempat magang.
Meskipun begitu Liliana bukanlah orang yang peduli pada orang lain kecuali teman-teman perempuannya. Terlebih mengingat kesalahan Servio pada Ree membuat Liliana memilih untuk tidak memikirkannya.
Setelah mengobrol dengan Liliana perihan Frigid, setidaknya Smith sudah tahu dimana keberadaan adiknya itu dan merasa lega. Mendengar adiknya menjadi relawan di daerah yang terkena bencana, membuat Smith senang karena mengetahui bahwa setidaknya masih ada yang ingin Frigid lakukan. Memiliki hidup seperti Frigid pasti sangat berat, merasa tak bebas dan selalu tergantung dengan sebuah obat yang membahayakan tubuh hanya dengan alasan bertahan hidup.
Di dunia ini, apa ada orang seperti Frigid? Memikirkannya saja sudah membuat hati Smith teriris.
Setidaknya perasaan teriris itu mungkin belum bisa Smith atasi karena masih berusaha menemukan solusinya. Berbeda dengan apa yang ia kini rasakan saat melewati jalanan malam yang sepi di pinggiran kota Litore.
Smith sendiri bukan orang yang bodoh, ia tahu bahwa ada yang tidak beres dengan suasana sunyi di sekitarnya.
Ada orang yang mengikutinya, namun Smith tidak tahu jelas itu siapa.
Orang yang hanya memasang mata dan tidak berniat bertindak itu ada di belakangnya.
Tapi, bisa Smith simpulkan siapa yang memiliki ulah ini jika bukan orang-orang Agnus, sudah pasti ayahnya.
__ADS_1
Mata yang melihat segala tindakan Smith yang dikira mencurigakan dan takut akan Smith yang bisa saja bermain di belakang rencana besar mereka.
Hal ini juga mungkin akan menyulitkannya ketika ia sedang mencari informasi tentang obat alternatif Frigid di kota Leafa.
*
*
*
Mungkin yang sedang diharapkan Smith lebih dari apa yang diperkirakan. Brina dan Yohanna nyatanya berhasil melobi Wizzle untuk membantu penelitian tentang getah pohon Antiaris toxicaria itu dan perintah untuk menggulingkan sistem pemerintahan di kota Leafa masih di proses karena Yohanna meminta Yohan untuk mengurus hal tersebut.
“Kita bisa menggunakan laboratorium kota, meski akan ada peralatan yang tak lengkap, aku akan meminta orang-orangku untuk mencari ke pulau sebelah. Jadi bagaimana dengan urusanmu?” tanya Brina pada Yohanna.
Saat ini keduanya kembali bertemu di café tempat pertama kali mereka mengobrol satu sama lain, nampaknya café ini sudah menjadi langganan keduanya di kota Leafa.
Seperti yang Brina laporkan pada Yohanna, ia sudah berhasil melobi Wizzle dan menyediakan tempat penelitian, semuanya tergantung pada Yohanna yang memegang kunci untuk melegalkan kegiatan yang mereka lakukan.
Namun, nampaknya wajah Yohanna tidak seperti akan melaporkan kelancaran pekerjaan mereka. Wajahnya nampak seperti awan mendung dan berkerut sembari memandang surat dari saudara kembarnya, Yohan.
“Nampaknya sedikit kendala yang dihadapi oleh Yohan di istana.” timpal Yohanna murung.
“Itu terdengar serius, apa aku bisa tahu kendala yang dihadapi oleh saudaramu?” tanya Brina.
“Kita berdua tahu bahwa kota Leafa memiliki tuan tanah yang buruk, aku nampaknya harus memeriksa catatan penting terkait pemerintah di sini. Seperti yang kamu tahu, ayahanda meminta beberapa catatan penting dan alasan kuat terkait itu. aku tidak akan mau mengatakan untuk obat Frigid karena bukan hanya istana kerajaan yang terlibat jika begitu…” jelas Yohanna.
Brina nampaknya bisa mengerti, situasi istana mungkin lebih rumit dari apa yang ia pikirkan.
“Meski dalam situasi rumit seperti ini, aku tidak akan menyerah untuk membantu Frigid. Brina, aku serahkan apa yang ada dalam lapangan padamu, masalah administrasi, aku pasti bisa membereskannya.” ucap Yohanna mantap.
Yohanna hanya memikirkan, selama ini mulutnya hanya protes dan protes ketika mendengar situasi Frigid. Ia tidak ingin mulutnya saja yang aktif dan tidak ada tindakan untuk benar-benar merealisasikan protesnya. Ketika kesempatan saat ini ada di hadapannya, Yohanna tidak akan melepaskannya.
*
*
*
“Apa semuanya sudah siap?” tanya komandan yang akan memimpin kelompok Ree dan Frigid ketika mereka akan bekerja bakti di desa yang sudah surut banjirnya.
Setelah berada di Fiume selama hampir 5 hari dengan cuaca yang sulit ditebak, akhirnya volume air dapat menyusut sehingga satuan penyelamat dapat memperbaiki tanggul dan waduk yang ada di sekitar sungai serta bendungan. Ree dan Frigid juga ikut dengan kelompok yang memperbaiki tanggul bersama para warga lainnya.
“Ternyata setelah melihat desa saat air surut seperti ini terlihat sangat mengerikan.” Timpal Ree menyinggung desa yang masih sangat sepi dan penuh dengan lumpur dimana-mana. Bahkan segala perabotan rumah milik masyarakat tidak lagi beraturan dan tidak semua rumah dalam keadaan baik-baik saja.
“Lebih anehnya ketika ada orang yang nekat menyelusuri desa yang sedang kebanjiran seorang diri.” singgung Frigid yang ikut berjalan di samping Ree.
Ree menyengir.
“Itu kesalahan yang sudah berlalu, kenapa masih kamu bahas? Apa kamu segitu kesalnya karena aku berada di unit yang sama denganmu hampir setiap saat?” tanya Ree.
Bagaimana tidak, apapun kegiatan Ree pasti akan diawasi oleh Frigid sebagai penanggung jawab. Karena Frigid yang notabenenya malas memperhatikan Ree, ia mau tidak mau mengikuti saja daripada wanita itu bertindak yang diluar batas lagi.
“Jika saja kamu tidak bertindak bodoh dan ceroboh, mungkin kamu masih bersama para ibu hamil…” ucap Frigid.
“Karena itu berterima kasihlah, berkat kecerobohanku, kamu jadi lebih aktif berbicara meski selalu menyebalkan.” timpal Ree tak mau kalah dan tak ingin sepenuhnya disalahkan.
Mungkin itu perubahan yang Frigid alami, juga pada Ree yang semakin terbiasa berinteraksi dengan berbagai kalangan masyarakat tanpa memandang jenis kelamin dan menghindar secara kentara.
Bukannya Frigid membenci keberadaan Ree di sekitarnya, namun apa yang tidak semua orang lihat malah menjadi apa yang Frigid seorang ketahui.
Hal itu tentang bagaimana Ree saat ia sudah mencapai batas.
Wanita itu hanya akan berlari ke belakang tenda penyimpanan dan terduduk sembari terus *******-***** jemarinya yang sudah bergetar dan berkeringat. Belum lagi ketika Ree selalu memukul dadanya dan berusaha mengatur napasnya agar tidak sesak.
Hal itu, diam-diam Ree lakukan dan tak seorangpun tahu batas yang ada pada wanita itu, kecuali Frigid.
Karena itu, kadang membuat Frigid sendiri merasa tak nyaman jika Ree harus muncul dengan wajah ceria dan bersemangat di sekitarnya untuk orang lain, sementara untuk diri sendiri malah jatuhnya menderita.
Bagaimanapun, pemaksaan diri itu ada batasnya, pikir Frigid.
__ADS_1
To Be Continued.