We And Problems

We And Problems
Chapter 15 : Who Is Servio?


__ADS_3

Kelas mungkin sudah lama usai dan hanya tersisa kegiatan klub yang masih mengisi akademi. Namun itu tidak ada artinya di mata Ree saat ini ketika seluruh tubuhnya masih berusaha menenangkan diri dari ulah Servio. Sementara Liliana yang menunggu Ree di samping gadis itu, ia menatap resah temannya yang sedang membasuh seluruh tangan, kaki, hingga berulang kali membasuh wajahnya seolah dari tempat yang sangat kotor.


Seperti yang masih ia lakukan, meski sudah berulang kali Ree membasuh mukanya hingga atasan seragamnya menjadi basah, tetap saja bayangan Servio masih melekat di kepalanya dan membuatnya kembali merasa geli dan merinding. Hal tersebut seolah beriringan dengan memori lama yang selalu ia tutupi agar tidak pernah lagi keluar. Bayang-bayang ketakutan dari orang-orang yang tidak ia kenali, tubuh yang penuh dengan luka serta darah, dan seorang anak kecil meringkuk bergetar di dalam lemari.


“Haah!!”


“Ree?! Kamu tidak apa-apa?” tanya Liliana cemas ketika Ree tiba-tiba terlihat kaget.


Ree menoleh pada Liliana sembari tersenyum kecil menyembunyikan bekas luka besar di dalam hatinya yang kembali terbuka itu.


“Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit kaget ketika mengingat hal tadi.” jawab Ree setengah jujur.


Liliana mendekat, memeriksa seluruh tubuh Ree dan memperhatikan wajah wanita itu untuk memastikan apa benar ia sudah baik-baik saja.


“Sudah aku katakan, bukan? Untuk tidak terlibat dengan Alexander. Kenapa kamu begitu keras kepala? Aku tidak bisa mengatakan apa keburukan manusia itu, namun setidaknya aku sedikit tahu apa yang akan terjadi ketika kamu terlibat dengannya. Lantas, seharusnya kamu sudah tahu akan terjadi hal buruk seperti ini, kenapa? Apa tujuanmu yang sebenarnya?” tanya Liliana tanpa berminat memberi jeda pada ucapannya. Hatinya sejak lama sudah geram karena tingkah Ree dan Alexander. Dirinya sudah memperingati Alexander untuk tidak terlibat dengan hidupnya dan teman-teman di sekitarnya, namun di sisi Ree ada hal yang Liliana tidak bisa mengerti, alasan Ree terlalu buram untuk dipahami. Tujuannya mau saja diperlakukan seperti ini membuat Liliana frustasi.


Jika berdasarkan rasa simpati yang besar, apa harus Ree menjadi ‘pengganti’ Liliana untuk merasakan pengaruh dari berhubungan dengan Alexander?


“Aku mohon apapun alasannya Ree, berhentilah.”


Jika Ree hanya memikirkan kondisinya sendiri, ia pasti tidak akan mau terlibat dengan hal-hal merepotkan.


“Aku tidak melakukan hal aneh Liliana, aku tidak apa-apa.”


Ree tidak memiliki maksud tertentu sejauh ini, kepalanya terasa kosong ketika mempertanyakan alasannya tidak berhenti berada di sekitar Alexander. Justru dibanding alasan, Ree lebih mempertanyakan kenapa. Kenapa Servio menyerangnya tiba-tiba dan menyeret nama Alexander?


“Apa itu artinya kamu tidak ingin berhenti?” tanya Liliana.


Ree menarik napas dalam.


“Aku tidak memiliki hal khusus ketika melakukannya, semua berjalan begitu saja terlebih aku adalah bagian senat.”


“Berhentilah dari senat.” pinta Liliana.


Kali ini Ree terkekeh, namun arti dari kekehannya bukan karena ia merasa lucu melain menggambarkan kesulitan yang sedang ia alami.


“Aku rasa tidak mudah.”


*


*


*


Ada langkah kaki yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, tempo langkah itu terlihat sedang dan teratur menyusuri koridor akademi yang semakin sepi karena kegiatan para penghuninya pada hari ini sudah berakhir. Karena angin sore yang cukup kencang itu meniup dedaunan pohon dan mampu menembus jendela lebar sepanjang koridor hingga membuat rok selutut itu sedikit terkibas.


Terlihat dari ujung lengan kemeja coklatnya yang sedikit gelap dan lembab karena basah, juga ujung helai rambut sebahu itu masih meneteskan air setetes demi setetes hingga membasahi jubah coklatnya yang hanya sepinggang itu. Hingga langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah daun pintu yang memiliki tulisan ‘ruang senat’.


“Ree.”


Siapa yang terlihat di mata Ree untuk pertama kali ketika ia masuk ke dalam ruang senat adalah Alexander seorang diri. Mungkin tumben sekali ketika keberadaan Frigid dipertanyakan Ree di dalam hati, karena hanya ada ia dan Alexander yang mengisi ruang senat sore ini.


Kedatangan Ree ke ruang senat, tidak lain dan tidak bukan karena Alexander ingin bertemu dengannya setelah semua kegiatan para murid selesai.


“Ada apa? Kenapa kamu ingin bertemu denganku?” tanya Ree masih di dekat pintu dan tidak berminat untuk melangkah maju mendekati Alexander.


Ree masih merasa tidak nyaman.


Alexander menegakkan wajahnya dan menatap Ree lurus.


“Aku mendekatimu karena aku merasa yakin bahwa Liliana akan sedikit melembutkan perasaannya dan menerimaku.”


Ree merasa tidak nyaman, bukan karena kejujuran Alexander tentang alasan pria itu mendekati Ree. Namun karena masih terdapat sedikit sisa rasa takutnya terhadap Servio siang tadi.


Di sisi lain Ree juga memikirkan ucapan Alexander barusan.


“Tidak ada hal lain? bukannya itu sudah jelas sejak awal?” tanya Ree.


Alexander kembali memalingkan pandangannya dan terdiam sementara Ree masih menunggu jawaban dari pertanyaannya.


“Tidak, ada hal lain yang sulitku katakan dengan jujur.”


Ree yang awalnya hanya menatap lantai perlahan menaikkan tatapannya menatap lawan bicaranya.


Rasanya pembicaraan ini akan menarik dan Ree mungkin akan bertahan sedikit lama.


“Apa itu?” tanya Ree tanpa basa-basi.


“Bukankah aku sudah mengatakannya bahwa sulit untuk dibicarakan.” jawab Alexander heran.


Ree mengangguk, ia penasaran sekaligus tidak bisa memaksa kehendak orang lain.


“Tapi kamu  mengingkari janjimu.” timpal Ree.


Janji yang terdengar sepele namun penting.


“Kamu benar, aku gagal melindungimu. Bahkan sampai Servio menyentuhmu.” ucap Alexander frustasi.


Mengesampingkan soal siapa Servio itu sebenarnya, Ree juga merasa frustasi dengan ‘hubungan’ antara ia dan Alexander.


“Haah, kamu tidak perlu melakukan hal yang akan merepotkanmu. Jika ingin aku bisa menjauhimu dan semuanya mungkin akan kembali pada awalnya.” ucap Ree.


Sejujurnya Ree juga merasa frustasi dan sudah jelas apa penyebabnya.


Alexander kembali tertegun, meski bukan yang pertama setidaknya Ree juga memperlakukan dirinya seperti orang biasa setelah apa yang telah Liliana lakukan. Jika Ree juga menjauhinya bukannya apa yang telah Alexander lakukan semuanya sia-sia sampai saat ini.


“Bahkan kamu tidak perlu merasa terbebani untuk melindungi seseorang dan membuat janji sedemikian rupa.”


“Ree, ucapanmu terdengar kejam sekali.” ucap Alexander tiba-tiba setelah sekian lama berdiam. Pria itu menatap miris perempuan yang akhir-akhir ini sering bersamanya.


Menanggapinya Ree hanya tersenyum tipis.


“Maaf, mungkin terdengar demikian namun aku bicara jujur padamu. Aku permisi, jangan lupa kembali ke asrama sebelum makan malam.”


Baik Ree maupun Alexander hanya manusia biasa, tidak mudah mengubah seseorang meski sering bersama. Ree tidak ingin memaksakan dirinya dan Alexander juga terlihat demikian. Niat Alexander memang sudah Ree ketahui yaitu Liliana dan untuk alasan selanjutnya tidak begitu Ree ingin ketahui.


Jika saja Alexander memperlihatkan dengan jelas tujuannya mungkin Ree akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan kata-kata kejam tadi di depan Alexander.


Ree tidak menyukai seseorang yang tidak menepati janjinya.


*


*


*


Minggu ini kelas Berburu yang Ree ikuti membuat suatu hal yang sebenarnya tidak ingin Ree lihat, yaitu kelas gabungan.


Dalam hati Ree berpikir bahwa semua orang adalah peran utama dalam hidupnya dan orang lain adalah pemeran sampingan. Namun, sebagai pemeran utama dalam hidupnya Ree merasa terlalu banyak mengalami masalah sebagai seorang protagonis.


“Pekan ini kelas kita akan bergabung dengan murid tahun kedua, tujuannya adalah memperkenalkan adik kelas kalian tentang bagaimana sistem kelas campuran.” Jelas Millesimun ketika memperlihatkan beberapa murid tahun kedua yang bergabung.


Termasuk Servio di dalamnya yang membuat Liliana dan Ree kompak menatap satu sama lain.

__ADS_1


“Eh, jika ingin memperlihatkan sistem kelas campuran bukannya lebih nyaman di kelas seni atau lainnya karena lebih banyak murid perempuan?” tanya Antonio heran.


Liliana dan Ree kompak menatap Antonio yang berdiri di samping mereka.


“Kamu benar Antonio, kali ini aku mendukungmu.” ujar Liliana.


“Beberapa faktor yang membuat kelas Berburu terpilih.” timpal Maglina yang berdiri di belakang Liliana.


“Apa itu?” tanya Ree.


“Hal itu tergatung pada pilihan kelas mereka. Meski kelas seni memiliki banyak murid perempuan, namun jika keahlian dan pilihan kelas mereka tidak di sana mau tidak mau mereka mengikuti kelas yang seadanya. Sebaliknya juga para murid yang memilih kelas lain.” jelas Maglina panjang lebar.


“Seperti yang sudah dijelaskan Maglina, bahwa beberapa dari mereka memang tidak memiliki keahlian di bidang lain selain di bidang ini.” sambung Marco.


Marco dan Maglina sudah cukup memperjelas kenyataan yang ada.


“Baiklah, sebelum mulai kalian harus berada di kelompok kalian masing-masing.”


Kyle pun membagi beberapa kelompok yang mana tergabung antara murid tahun kedua dan ketiga menjadi satu tim.


*


*


*


Ini lucu, Ree ingin tertawa sekaligus menangis dalam satu waktu ketika melihat dengan siapa saja ia harus bersama dalam seharian ini sampai esok. Di sisi lain, Liliana yang menatap Ree dari kejauhan juga merasa resah dengan orang-orang di sekeliling gadis itu.


“Liliana, kenapa kamu terlihat resah?” tanya Marco yang kebetulan sekelompok dengan Liliana di minggu ini.


“Haa, Marco kamu bahkan satu tim denganku. Aku hanya khawatir jika Ree akan merasa kesepian.” ucap Liliana sembari masih menatap punggung Ree yang sedang berembuk dengan anggota timnya yang terdiri dari Frigid, Alexander, Servio, dan satu murid dari tahun kedua hingga berjumlah lima orang jika ditotalkan.


“Aku rasa aman saja karena ada Alexander dan Frigid di sana.” ucap Marco.


“Justru karena mereka berdua membuatku mengkhawatirkan Ree.” timpal Liliana.


Sebelum setiap kelompok masuk ke dalam hutan, mereka harus mempersiapkan beberapa barang yang harus dibawa dan memastikan apa yang akan mereka tangkap.


Kali ini karena Ree sudah terlalu sering berkelompok dengan Frigid, ia tidak ingin pria itu menangkap buaya lagi.


“Kenapa?” tanya Frigid polos ketika Ree melarang untuk menangkap buaya.


“Aku ingin kita pergi ke gunung bukan rawa.”


“Ehh? Apa senior ingin menangkap singa gunung? Kambing gunung? Ataukah elang?” tanya Servio sembari menghampiri Ree.


Lucunya, ketika Servio ingin menepis jarak dengan Ree, gadis itu otomatis mundur dan pergi ke belakang Frigid. Ia tidak ingin, namun lebih baik daripada harus dekat  dengan Servio.


Tidak ingin memperpanjang masalah, untuk minggu ini pertama kalinya dalam semester Frigid mengalah dan menyetujui lokasi tempat mereka akan berburu. Alexander yang melihat tingkat laku Ree terhadap Servio hanya diam seolah tidak ingin memperkeruh suasana.


Ree tidak dapat menjawab jika ditanya bagaimana keadaan timnya minggu ini ketika sedang berburu, karena yang hanya ada dipikirannya adalah diam. Karena orang-orang yang ada di kelompoknya hanya mereka yang akan bicara ketika perlu. Perjalanan sunyi itu hanya ada suara dari dedaunan dan ranting yang berbunyi ketika diinjak dan suara angin.


Hingga langkah mereka telah tiba di kaki gunung yang penuh dengan batu. Tidak jauh hingga terdengar oleh telinga suara deru air yang jatuh dalam jumlah banyak, itu berarti mereka berdekatan dengan sungai bearus deras dan air terjun. Namun seperti yang sudah Ree sarankan, mereka hanya fokus berburu di gunung.


“Jadi Ree, apa kamu ingin memasang perangkap?” tanya Frigid.


Ree tersentak kecil karena hanya melamun sepanjang perjalanan, namun bukan berarti ia tidak memikirkan langkah apa yang ia harus lakukan ketika tiba di lokasi.


“Aku ingin menangkap rusa.” jawab Ree mantap.


“Baiklah, ayo lakukan dengan benar.” ujar Frigid sembari menarik anak panah dari tempatnya dan memposisikan pada busur.


*


*


*


Teguran Yohanna terhadap saudara kembarnya itu benar-benar terdengar pedas dan tidak tanggung. Itu karena Yohan hanya terdiam di lorong dengan memandang lapangan tengah akademi tanpa tahu apa yang dipikirkan pria itu.


“Aku hanya memikirkan, apa aku terlalu lemah?” tanya Yohan tiba-tiba.


“Atas dasar apa kamu memikirkan hal seperti itu?” tanya Yohanna heran.


“Hmm, hari ini aku kembali melihat murid kelas Berburu pergi. Di antara para murid dapat aku lihat beberapa yang berasal dari akademi wanita.”


“Lalu kamu ingin mengatakan bahwa kamu sebaiknya mengikuti kelas Berburu, begitu?” potong Yohanna seolah tahu apa yang akan dikeluarkan oleh mulut Yohan selanjutnya.


“Kamu mengenalku dengan baik, jadi bagaimana?”


Yohanna tidak pernah habis pikir dengan saudara kembarnya satu itu.


“Dibanding itu, lebih baik kamu membantu gadis di sana yang sepertinya nampak susah payah mengambil sesuatu di ranting pohon dan bisa saja dia menjatuhkan tubuhnya dari lantai dua akibat kecerobohannya sendiri.” jawab Yohanna cepat sembari menatap lurus seorang gadis bersurai coklat bergelombang dengan banyak aksesoris aneh di rambutnya sedang mencoba meraih sesuatu bahkan ketika Yohan dan Yohanna menghampiri.


“Hei apa ada yang bisa dibantu?” tanya Yohan.


Gadis itu menghentikan aktifitasnya dan langsung memutar tubuhnya menatap sepasang saudara kembar yang menegurnya, gadis itu adalah Ghea.


*


*


*


“Di saat seperti ini, kenapa kita bertiga malah bersama dan Ree sendirian?!”


Marco mungkin sudah berulang kali mendengar protes Liliana sepanjang perjalanan mereka mulai dari menyulusuri hutan dan saat gadis itu sedang memasang perangkap untuk hewan buruan yang mereka targetkan.


“Tunggu Liliana, jika kamu membuat simpulnya seperti itu akan membuat putus kaki hewan yang terkena.” ujar Marco ketika melihat simpul mati yang sedang dibuat oleh Liliana yang dilakukan sambil mengomel.


Tidak biasa bagi Liliana untuk melakukan kesalahan dalam beberapa minggu selama kelas Berburu yang telah ia lalui dan minggu ini Liliana memecah rekornya.


“Aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang.”


“Bukankah di kelompoknya ada Frigid yang terlalu sering bersamanya, untuk apa kamu khawatir?” tanya Marco.


Liliana menatap Marco heran dan penuh tanda tanya.


“Seberapa percayanya kamu dengan ketua senat itu? Aku sama sekali tidak bisa memercayai manusia bernama Frigid itu.” timpal Liliana blak-blakan.


“Wow, Liliana aku tidak bisa membayangkan wajah Frigid ketika mendengar ucapanmu barusan.” timpal Marco.


Sementara itu,


“Hattchi!”


Tiba-tiba Frigid bersin dan langsung membuat rusa betina yang tengah mereka intai menjadi waspada dan lari. Otomatis membuat Ree yang sudah menanti-nantikannya sejak lama harus menahan emosi untuk tidak membentak rekan satu kelompoknya.


“Maafkan aku.” ucap Frigid polos.


Ree yang sedang mengepal kuat kedua tangannya dan sedang menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengumpat.


“Hihihihi, senior bisa memarahi Frigid jika ingin.” timpal Servio memanasi Ree.

__ADS_1


“Servio.” panggil Alexander mencegah suasana menjadi buruk.


“Lagi pula kenapa kamu hanya memanggil Ree dengan senior sementara kami tidak.” protes Frigid.


Tiba-tiba Servio berdiri dan hanya tersenyum penuh misteri, karena tidak tahu apa arti dari senyum itu.


“Sepertinya kita harus berpindah tempat, untuk mencari buruan lain karena target barusan sudah kabur.” ujar Servio sembari melirik Frigid yang belum lama bersin.


“Apa kamu masih ingin dengan target buruan yang sama?” tanya Frigid pada Ree.


“Haah, nampaknya minggu ini aku juga tidak bisa menangkapnya. Ayo kita berpindah.” ujar Ree sembari lebih dulu mengambil langkah pergi.


Punggung gadis itu nampak murung namun tidak terdengar gerutuannya.


Tiba-tiba Servio menyikut pinggang Frigid.


“Ini semua karenamu.” ucap Servio.


Jelas-jelas pria bersurai panjang itu menyinggung Frigid yang mengacau suasana untuk menangkap rusa yang sudah kabur tadi.


“Servio.” Alexander yang berada di belakang hanya bisa menghela napas melihat tingkah adik kelasnya yang sangat usil itu.


“Senior!! Tunggu!” tanpa peduli dengan teguran Alexander, Servio mulai menyusul langkah Ree yang sudah cukup jauh dan menuju ke arah air terjun yang tidak jauh dari tebing tempat mereka berada.


Meski cahaya matahari sangat terik, karena mereka sedang berada di bawah banyak pepohonan rimbun membuat tanah yang dipijaki sedikit lembab dan berlumut.


“Jika kamu teriak dengan ceroboh seperti itu, semua hewan buruan sekalipun kelinci kecil akan lari ketakutan dan kita akan pulang dengan tangan kosong.” timpal Ree sembari meletakkan seluruh peralatannya ke atas tanah dan menatap Servio heran.


Rekannya yang lain menyusul langkah Ree dan Servio hingga mereka tiba di tebing yang memiliki air terjun di sisinya. Cukup indah dan menyejukkan sehingga emosi Ree yang sempat ingin memuncak itu kembali tenang.


“Ehh?! Benarkah? Senior, apa kamu sangat pandai dalam berburu?” tanya Servio sembari menghampiri Ree yang sedang mengelap tombak.


“Apa aku kesini hanya untuk piknik lalu mendapat nilai? Berhentilah memanggilku ‘senior’ itu terdengar aneh.” Ree bangkit berdiri dan langsung menatap kedatangan Frigid beserta teman sekelompoknya.


“Apa kamu masih ingin menangkap rusa?” tanya Frigid.


Ree tengadah menatap langit yang masih cerah, namun tidak menutup fakta bahwa sudah lewat tengah hari dan tidak lama matahari akan segera terbenam. Hutan saat malam adalah yang paling berbahaya, jika Ree masih dengan keegoisan pribadinya, maka bisa saja mereka akan datang terlambat ke perkemahan.


“Aku bisa mendapatkannya minggu depan.” timpal Ree yang masih tidak ingin menyerah.


“Tunggu dulu, nampaknya senior sangat ingin menangkap rusa. Apa senior bisa katakan alasan terkuatmu tentang kenapa harus rusa? Padahal jika ingin, kita bisa mudah mendapat hewan buruan lain.” ucap Servio.


Ree menatap Servio dalam diamnya, pria yang memiliki rambut terurai panjang itu balik menatap Ree untuk mendapat jawaban atas pertanyaannya barusan.


“Hmm,” Ree memikirkan alasan kenapa dengan menaruh jempol dan telunjuknya di dagu.


“Aku melihat kandang hewan peliharaan di belakang gedung B nampak kosong, oleh karena itu aku ingin mengisi beberapa hewan memamah biak seperti rusa atau kelinci. Minggu kemarin aku sudah menangkap kelinci.” jelas Ree setelah cukup lama untuk diam.


Jawaban yang terdengar polos itu membuat Servio terkekeh karena merasa geli. Jemarinya menyapu poni yang panjang yang sempat menutup wajahnya karena tersapu oleh angin. Mungkin di mata orang lain penuh pesona, sementara di mata Ree dan teman-teman sekelompoknya saat ini, Servio benar-benar terlihat menggelikan.


“Baiklah! Aku akan menangkapnya untuk senior!”


Frigid dan Alexander kompak terkejut besertaan dengan Ree yang mengeluarkan ekspresi mirip dengan kedua pria itu ketika mendengar keputusan sepihak Servio yang sangat tiba-tiba.


“Hei! Ayo ikut bersamaku! Senior dan lainnya tunggu saja di sini.” ujar Servio sembari mengikat rambutnya dan langsung menarik satu rekan yang sama-sama murid tahun kedua kembali ke dalam hutan meninggalkan ketiga seniornya yang kaget karena ulah pria itu.


“He-!” sebelum suara Ree mencapai telinga Servio, kedua adik tingkat mereka sudah tenggelam ke dalam hutan.


“Dasar Servio, maafkan aku Ree, ia memang seperti ini dan sering sekali tidak jelas.” ucap Alexander.


Ree juga bingung bagaimana menyikapinya, ia sedang meminimalisir komunikasinya dengan Alexander dan tidak ingin terlibat lebih jauh dengan Servio, namun semuanya seolah berantakan dengan sifat orang yang tidak bisa Ree mengerti. Ketika di dalam hutan seperti ini Ree tidak ingin terlalu banyak bertingkah dan menyusahkan rekan sekelompoknya.


“Kita mencari makan malam saja.” Ree kembali memutuskan apa yang harus mereka perbuat sembari menunggu Servio dan temannya kembali dari dalam hutan. Semoga saja kedua pria itu baik-baik saja dan tidak menyusahkan.


“Ree, apa kamu marah?” tanya Alexander.


Pria itu perlahan mendekati Ree yang sedang mencari ikan di tengah sungai yang dangkal dan banyak bebatuan itu. Karena deru air terjun yang tidak jauh berada di hulu mereka membuat suara Alexander sedikit keras sehingga Frigid yang berada sedikit di hilir dapat mendengarnya.


Ree menggeleng dan diam. Ia tidak marah, namun ia tidak ingin berbicara banyak dengan Alexander. Rasanya, trauma saat Servio memperlakukannya beberapa hari lalu masih membekas dan membuatnya ingin muntah ketika mengingat kejadian itu.


Bukan Alexander yang membuatnya menjadi demikian, namun pria itu sudah merusak kepercayaan Ree yang pada awalnya memang sangat rapuh. Akan sangat sulit bagi Ree untuk kembali menaruh kepercayaannya.


Alexander juga ikut diam karena tidak ada satupun kata yang berminat keluar dari mulut Ree. Gadis itu hanya sibuk membidik bayangan ikan di dalam air dan bersiap menombaknya meskipun beberapa kali gagal walau tidak sepenuhnya karena terbukti dengan jaring yang dibawa Alexander terisi beberapa ekor ikan untuk makan malam kelompok mereka.


Konsentrasi Ree terpecah, ia benci mengakuinya namun hal itu adalah kenyataan yang tidak bisa Ree abaikan. Butuh waktu lama untuk Ree memperbaiki suasana hatinya agar bisa merespon ucapan Alexander.


“Alexander, apa kamu bisa mengambil jaring lagi?” pinta Frigid tiba-tiba dari kejauhan sembari mengangkat jaringnya yang sudah penuh dengan ikan-ikan segar hingga membuat Ree dan Alexander takjub dengan kerja keras pria itu.


Nampaknya mereka akan makan besar malam ini.


“Baiklah!” ucap Alexander lalu pergi ke daratan untuk mengambil barang yang diminta oleh Frigid.


Sembari menunggu kedatangan Alexander ke tengah sungai, Frigid menghampiri Ree yang kembali sibuk dan fokus mencari ikan.


“Kamu yakin akan terus mendiaminya?” tanya Frigid sembari membagi ikan yang ada di jaringnya ke dalam jaring Ree agar miliknya tidak terlalu berat.


“Sejujurnya aku lelah jika terus menerus diajak membicarakan hal yang sama. Tolong biarkan aku berdiam diri dulu sendiri.” pinta Ree sembari kesal karena kehilangan seekor ikan yang cukup besar tiba-tiba saja kabur karena gelombang yang datang tiba-tiba akibat kedatangan Frigid.


“Lalu bagaimana dengan Servio, anak itu seolah sudah menargetkanmu untuk selalu digoda.”


“Aku berterima kasih dengan rasa simpatimu itu, namun aku tidak ingin banyak berkomentar. Jika aku terlalu memusingkannya, hanya akan membuatnya senang menggodaku.”


“Namun nampaknya Servio tahu apa yang sedang kamu sembunyikan.”


Ree terdiam menatap bayangan dirinya di atas permukaan air. Ree tidak memberitahu siapa-siapa di akademi La Priens tentang keterbatasannya, hanyalah Henny teman di akademi lamanya yang tahu masalah Ree.


“Ree! Frigid! Nampaknya mereka sudah kembali!” seru Alexander dari atas tebing.


Kompak kedua manusia yang sedang berada di tengah aliran sungai setinggi betis itu menoleh ke arah sumber suara dan memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan mereka.


“Nampaknya mereka berhasil menangkap hewan yang kamu inginkan.” Ucap Frigid ketika melihat seekor rusa betina yang sudah terbaring tidak berdaya akibat diikat seluruh kakinya dengan luka panah yang cukup dalam di bagian paha rusa itu.


Wajah kedua junior mereka nampak sangat sumringah terutama Servio yang tidak bisa berhenti menyeringai ketika melihat Ree sedang memastikan rusa yang mereka tangkap.


“Lihat, aku sudah mengatakannya bahwa aku pasti bisa menangkapnya. Aku hebat bukan?” tanya Servio membanggakan dirinya.


Ree tidak bisa menyangkalnya, untuk luka yang dilihat tidak fatal hingga dapat membunuh rusa tersebut. Mungkin perlu beberapa hari pemulihan luka bagi rusa itu untuk bisa sembuh akibat panah dari Servio.


“Hm, bagus. Ayo kita kembali, sebentar lagi hutan ini akan gelap. Sebelum itu kita harus sudah sampai di perkemahan.” ujar Ree sembari mengambil barang-barangnya untuk bersiap kembali ke perkemahan.


Melihat sikap Ree yang sedikit tidak bisa memuaskan perasaan Servio, pria itu hanya tersenyum hambar ketika melihat rekan sekelompoknya bersiap untuk kembali ke perkemahan.


Hanya itu saja? Tidak ada tambahan lain? respon Ree sangat datar dan biasa saja, jika diingat kembali betapa seriusnya wanita itu ketika ingin memburu rusa tadi siang.


Saat semuanya sudah beres, ada satu hal yang membuat Ree sedikit merasa belum selesai. Mata perempuan itu mengikuti pergerakan Servio yang sedang membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk mengangkat rusa yang sudah terikat di sebuah batang kayu.


“Ada apa senior?” tanya Servio heran karena Ree hanya menatapnya dan tidak mengucapkan apa-apa.


“Aku ingin kamu lompat sepuluh kali.”


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2