
Perubahan itu bisa berasal dari berbagai cara, salah satunya tekanan dari sekitar. Namun tidak semua tekanan itu mampu dihadapi, seperti dimana Ree diminta untuk menerima begitu saja pertunangannya dan Servio berjalan dengan lancar.
Ree bukannya membenci Servio, meski hatinya sudah terlanjur dilukai karena pengkhiatan yang tak terduga dari pria itu. Namun perasaan diri sendiri juga merupakan hal utama. Percuma jika memaksakan diri dan membuat diri semakin terluka hanya untuk mengikuti kehendak orang lain.
Tanpa sadar malah membuat kebencian itu muncul.
Mungkin maksud tekanan Servio itu ingin Ree menerimanya dan mulai melangkah bersamanya demi perubahan sekaligus kesembuhan ibunya. Namun, bukannya malah semakin terbuka pintu hati, yang ada kebalikannya.
Ree kembali mengunci rapat-rapat pintu kepercayaannya pada seorang pria.
“Ree, tolong ambil beberapa perban dari gudang penyimpanan.”
Sebenarnya Ree mungkin bisa mengerti maksud hati Servio seperti apa. Namun ada hal membuat Ree merasa tak nyaman akan tingkah Servio.
Mungkin karena tekanan yang dirasakannya membuatnya sulit untuk berbagi rasa kebingungan dan kesedihan yang mana terpupuk menjadi rasa frustasi itu sendiri.
Suasana di kota kecil bernama Fiume ini mungkin menjadi mimpi buruk orang-orang yang tinggal di sini, hal tersebuh membuat semua emosi tercampur aduk dan terasa sangat menyedihkan.
Tekanan sebesar ini, sanggupkah orang-orang melewatinya bersama dengan rasa sakit atas kehilangan?
Setidaknya, meskipun Ree merasa buruk akhir-akhir ini akan ada hal dimana yang juga memberikan tekanan positif untuk berubah.
“Kamu benar-benar tenang.” Frigid menyinggung rekannya yang belum lama ini terkena mabuk laut sepanjang perjalanan.
Luas lokasi evakuasi memang dikatakan cukup besar karena menampung berbagai macam kebutuhan dalam bencana dan para korban. Namun tidak pernah menyangka akan secepat ini saling bertatap muka kembali.
“Apa maksudmu? Bagaimana mungkin panik di saat orang lain kesusahan?” jawab Ree yang sibuk mengambil beberap kota berisi perban.
Frigid tahu itu, pengendalian emosi saat menjadi relawan seperti ini setidaknya yang paling utama adalah ketenangan. Ia sendiri ditugaskan di bagian tenda umum dimana lebih banyak macam-macam orang yang sedang sakit saat ini.
“Frigid!! Kotak obatnya mana??”
Seruan panggilan pekerjaan membuat Ree dan Frigid kompak terkejut, keduanya langsung dengan cepat mengambil barang yang ingin mereka bawa.
“Terlebih anehnya aku, meskipun aku memiliki ketakutan yang aneh, namun saat melihat orang yang sakit ataupun memerlukan bantuan, uniknya aku bisa menanganinya dengan baik. Karena aku tahu, orang sakit tidak akan mampu menyakiti orang lain.” ucap Ree lalu langsung bergegas pergi ke tempat ia bertugas.
Ree berlari cukup kencang dan tetap memperhatikan langkahnya agar tak menjadi penghambat orang lain di lokasi. Ia pikir, saat-saat seperti ini ia meminta kepada dirinya untuk melupakan sejenak rasa takutnya agar ia bisa melakukan yang terbaik dalam membantu orang yang sedang kesusahan.
Terlebih saat-saat dimana ia sedang berada di dalam ikatan yang tidak ia kehendaki, setidaknya sebelum semua hidupnya terbatasi, ia ingin melakukan apa yang ia sukai.
Setelah mengantar perban luka di tenda ibu hamil, Ree diperbolehkan untuk istirahat sejenak. Ree keluar dari tenda tersebut untuk menghirup udara. Meskipun terjadi bencana yang tidak menyenangkan di lokasi, Ree cukup kagum dengan udara segarnya karena tempat ia berada saat ini juga seperti Crystallo yang dikelilingi oleh pegunungan.
“Ahh… longsornya nampak dari sini.” guman Ree ketika melihat salah satu bukit yang mana merupakan lokasi bencana yang ada di barat lokasi pengungsian.
Hingga matanya seolah nampak akan sesuatu yang mencurigakan.
Tidak salah lagi, Ree tahu siapa wanita muda yang sedang mengendap diam-diam menuju keluar lokasi pengungsian dan berniat menuju ke lokasi bencana.
Ini memang tidak dibenarkan, terlebih keadaannya terlihat sedang hamil tua.
*
*
*
Di saat seperti ini kenapa tidak ada satupun yang menjaga? Apa karena sedang proses pergantian penjaga pintu masuk?
Mau tak mau Ree yang melangkah sendiri mengejar ibu hamil yang pergi itu.
“Permisi!! Nyonya!! Anda mau kemana!?” seru Ree sembari mengejarnya.
Orang yang dipanggil itu menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Betapa terkejutnya karena ia pikir tidak ada orang yang berhasil mengikutinya untuk keluar dari tempat pengungsian.
Tak lama bagi Ree untuk mengejar seseorang yang tengah berbadan dua itu. Meski ia belum makan, setidaknya tenaganya masih tersisa untuk berlari.
“Nyonya, keluar dari pagar pengungsian itu berbahaya. Apa yang anda cari sampai keluar seperti ini?” tanya Ree heran.
Wanita yang mungkin sedikit lebih tua darinya itu terlihat tidak ingin mengatakan maksud dari perbuatannya pada Ree.
“Saya tidak akan lama. Saya hanya ingin kembali ke rumah saya.” ucapnya pada Ree.
Jika Ree bertanya pada semua penghuni posko pengungsi, jawabannya bisa sama persis dengan ibu hamil di depannya saat ini.
“Meskipun begitu nyonya, ini bukanlah waktu yang tepat. Tunggu dulu di tenda sampai informasi untuk kembali diperbolehkan.” Ree mengajak ibu muda itu untuk kembali ke dalam pagar. Terlebih saat ini keduanya sudah cukup jauh dari tempat pengungsian.
__ADS_1
“Tidak, saya harus kembali ke rumah saya sebentar. Rumah saya sudah tertimpa longsor dan cukup parah, namun saya harus mengambil sesuatu dari sana.”
Ree cukup bingung dengan jenis manusia seperti ini. mana mungkin dengan mudah Ree membiarkannya pergi dengan keadaan hamil tua? Bahkan menurut Ree, bisa saja sudah dekat dengan waktu melahirkannya.
Pandangannya Ree beralih pada situasi daerah bencana yang ada di depannya saat ini. benar-benar cukup parah. Selain tanah longsor, juga terdapat banjir karena tanggul yang menahan bendungan terdapat retakan membuat debit air yang mengalir semakin besar terlebih didukung cuaca yang selalu hujan hampir sepanjang hari.
“Tidak, saya tidak akan membiarkan anda pergi ke sana.” ucap Ree yang ingin meraih lengan ibu hamil itu untuk di bawa kembali ke tenda.
“Meskipun begitu saya tidak peduli!! Saya hanya ingin mengambil abu suami saya di sana!!”
Alasan itu, bisa antara Ree percayai atau tidak adalah urusan belakang. Namun ada yang harus lebih di prioritaskan saat ini.
Yaitu keselamatan ibu serta bayi yang ada di dalam perutnya.
“Jangan bertindak gegabah nyonya! Situasi alam sedang tidak stabil. Jika anda nekat, apa anda ingin anak anda berada dalam masalah?” tanya Ree sekali lagi.
Ibu hamil itu berhenti memberontak, ia terdiam di hadapan Ree dan mengelus perutnya sembari menunduk.
“Bagaimana bisa saya meninggalkannya sendirian di sana?? Saya sudah memutuskan akan bersalin bersama abu itu disamping saya.”
Terdengar konyol bagi Ree, namun kata-kata konyol itu merupakan suatu janji ibu hamil di depannya saat ini yang tengah menangis.
“Saya pikir saya akan bersalin di rumah dan tiba-tiba saja bencana besar seperti ini datang melanda tempat saya tinggal. Bagaimana bisa saja biarkan dia sendirian dalam runtuhan rumah kami?”
Saat ini Ree terdiam, melihat seseorang yang pernah kehilangan merupakan sesuatu yang sangat menyakitkan.
Apa saat ini Ree benar-benar seseorang yang bisa berguna bagi orang lain? Ree bahkan tidak merasakan apa perannya di saat-saat seperti ini.
*
*
*
Di lain sisi, Frigid nampak sudah selesai membantu beberapa orang di tenda umum dimana ia melakukan banyak jenis pekerjaan yang mungkin sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Namun ia tidak menyesal, entah mengapa Frigid lebih merasa bebas di sini dari pada ia hidup di Crystallo dengan segala kenyamanan yang ada.
Tentu saja itu karena kenyamanan di sana hanya menutupi kepahitan hidup yang sebenarnya.
“Frigid, apa kamu melihat Ree?” tanya wanita itu.
“Ree? Bukankah ia ada di tenda tempat ibu hamil?” tanya Frigid bingung dan setahunya memang demikian.
Namun, wajah perawat itu tidak terlihat yakin dengan jawaban Frigid.
“Aku baru saja dari tenda, karena sudah waktu istirahatnya selesai, aku ingin memanggilnya. Aku pikir ia istirahat bersamamu.” ucapnya bingung.
“Apa anda sudah mencari ke segala tempat?” tanya Frigid.
Ya, meskipun Frigid dan Ree berasal dari akademi yang sama, tidak selalu mereka akan menghabiskan waktu istirahat bersama. Terlebih keduanya tidak terlalu akrab satu sama lain. Frigid sendiri sampai heran kenapa si perawat itu terpikirkan dengan Ree yang istirahat bersama dengan Frigid.
“Hey!! Kamu!” tiba-tiba seorang perawat yang lain muncul menghampiri Frigid dan wanita yang mencari Ree.
“Apa kalian melihat nyonya Lie?”
Kali ini siapa lagi? Frigid sendiri tidak tahu siapa itu nyonya Lie.
“Ada apa?” tanya perawat yang sejak tadi bersama Frigid.
“Ia tidak ada di tenda, padahal perkiraan dokter kemungkinan besok atau lusa ia akan bersalin.”
Frigid dan perawat itu saling bertatapan.
Rasanya sangat tidak nyaman jika mereka memikirkan hal yang sama dimana terdapat kemungkinan terburuknya.
“Tenang… kita tidak harus panik dalam situasi seperti ini. ada lebih baiknya kita tanya pada penjaga gerbang, siapa tahu mereka pergi ke pasar atau bagaimana.” ucap sang perawat yang mencari Ree itu.
Frigid tidak habis pikir, di saat situasi seperti ini, bisa-bisanya Ree malah dicari. Wanita itu, Frigid bahkan sudah menegur dan menyindirnya beberapa kali sebelum mereka tiba di lokasi, belum genap seminggu ia sudah membuat orang-orang mencarinya.
Sebenarnya kemana anak itu? geram Frigid dalam hati.
*
*
__ADS_1
*
Aliran air yang tergenang tak deras dan cenderung sangat tenang, membuat Ree yang tengah mendayung sebuah perahu kayu menyelusuri sebuah desa yang banjir itu menjadi mudah mengendalikannya.
Nyatanya orang yang dicari dua-duanya saat ini berada di tengah-tengah desa yang sedang terkena banjir kurang lebih 2 meter itu. Apa yang Ree lihat sampai saat ini hanyalah atap-atap rumah yang terendam banjir dan tertimpa tanah longsor. Sejujurnya, Ree baru pertama kali menatap langsung bencana alam sebesar ini dan itu berhasil membuatnya bungkam tak mampu berkomentar apa-apa tentang kejadian alam yang luar biasa ini.
“Nyonya Lie, kita harus pulang begitu anda menemukan guci itu. meskipun begitu saya hanya memberi waktu setengah jam saja.” ucap Ree pada ibu muda yang ada di hadapannya saat ini.
“Nona muda… seharusnya anda membiarkan saya pergi sendiri.” ucap Lie merasa tak nyaman karena ia harus merepotkan Ree.
“Apa maksud anda? Saya tidak bisa membiarkan anda pergi sendiri. Terlebih cuaca akan kembali hujan sebentar lagi. Kita harus bergegas.” ucap Ree menuju ke arah dimana sebuah rumah yang terletak di dataran cukup tinggi hingga tidak terkena banjir, namun malah tertimpa tanah longsor hampir seluruh rumah itu.
Itu adalah rumah Lie.
Ree mengikat perahu tersebut dan langsung menyusul Lie menuju ke rumahnya.
“Nyonya, biarkan saya yang masuk. Katakan saja ciri-ciri bendanya.” ucap Ree bersiap untuk masuk ke dalam rumah meskipun ia merasa sedikit takut karena kondisi bangunan yang tak sempurna lagi.
“Tidak perlu nona Ree…” Lie terlihat celingak-celinguk menatap kesekeliling rumah dan langsung menuju salah satu sisi rumahnya yang masih sempurna, meskipun hanya dinding dan sebagian atapnya saja.
“Syukurlah… dia ada di sana.” tunjuk Lie pada lemari yang ada di dalam ruangan itu dari jendela.
Ree menatap kondisi dalam ruangan yang sudah penuh dengan tanah dan barang-barang yang hancur, bahkan lemari yang Lie tunjuk itu sudah hampir roboh.
Namun nampaknya masih bisa Ree jangkau dengan masuk dari jendela yang tak terlalu tinggi itu.
Sementara itu di lokasi pengungsian.
“Nampaknya aku melihat dua bayangan wanita berjalan ke arah desa. Tapi aku kurang yakin karena setelah aku mengedipkan mata, bayangan itu menghilang atau termakan tikungan??” jawab penjaga pintu masuk pada Frigid dan dua perawat lainnya.
Ketiga orang yang bertanya itu langsung terlihat pucat wajahnya. Bagaimana bisa malah terjadi hal rumit seperti ini.
“Meski begitu, kenapa anda tidak memanggilnya? Jelas sekali itu nyonya Lie yang sebentar lagi akan melahirkan!?” tanya sang perawat panik.
“Tentu saja aku berniat demikian, namun aku menunggu dan jika sampai 30 menit lagi mereka tak kembali aku akan menyusul dengan beberapa orang yang ingin patroli.” ucap si penjaga.
Saat keempat manusia itu tengah terdiam, suara guntur dari arah barat memecah hening keempatnya dan membuat saling menatap satu sama lain.
Tak salah lagi, akan turun hujan sebentar lagi mengguyur desa dan lokasi pengungsian.
Mungkin perasaan cemas itu tak hanya dirasakan oleh orang-orang yang berada di tempat evakuasi. Perasaan campur aduk itu juga dirasakan oleh Ree ketika ia melihat awan hitam yang semakin mendekat ke arah desa tempatnya berada. Meskipun mereka sudah di perjalanan pulang namun, lokasi pengungsian itu memerlukan beberapa menit untuk mendayung ke sana.
Syukurnya Ree bisa mendapatkan guci abu mediang suami Lie yang selama ini dicari ibu hamil satu itu. kini guci yang sudah dibungkuskan kain itu tengah berada di pelukan Lie.
“Sebenarnya sejak awal, aku tidak pernah bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa suamiku.” ucap Lie pada Ree yang tengah asik mendayung perahu itu.
Ya, Ree tahu betapa besarnya cinta Lie pada mediang suaminya sampai-sampai nekat seperti ini.
“Anda pasti sudah melewati masa-masa berat itu…” ujar Ree sembari tersenyum.
“Kamu benar, aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan atas keinginan itu aku akan bersalin saat ia bersamaku.”
Bukankah itu seolah memaksa kehendak? Ree bahkan sampai berpikir, apa janin yang ada di dalam kandungan baik-baik saja ketika melihat ibunya yang agak bar-bar seperti ini.
“Dia meninggalkan kami selamanya karena pekerjaannya yang merupakan seorang angkatan laut, dimana ia juga merupakan korban bencana. Mengingat hidupnya yang selalu ada untuk orang lain, rasanya sangat menyakitkan ketika aku tidak bisa menempatkannya dengan baik dalam situasi seperti ini. Karena itu, nona Ree atas segala keegoisanku, maafkan aku dan terima kasih telah menemaniku.”
Kadang cinta itu bisa mengerikan juga. Meski tak bisa Ree salahkan perasaan wanita di hadapannya ini terhadap suaminya sendiri. Karena Ree tidak akan bisa memahami luka yang ada pada dirinya hingga ia berperilaku seperti ini.
“Anda wanita yang kuat nyonya Lie, namun saya harap anda juga tetap memprioritaskan keselamatan anda sendiri di masa depan.” tutur Ree.
Ree terus mendayung karena awan mendung semakin mendekat dengan bantuan angin kencang. Ree khawatir keadaan cuaca buruk seperti itu akan membuat gelombang di perairan yang tenang seperti ini.
“Nyonya Lie, pakailah ini. nampaknya di perahu ada beberapa mantel.” ucap Ree sembari menyerahkan jas hujan pada Lie karena rintik kecil hujan sudah mulai turun secara perlahan.
“Terima kasih Ree…akh!!” saat ingin mengambil jas hujan dari tangan Ree, tiba-tiba saja Lie merasa sakit di perutnya dan tak lama cairan ketuban keluar begitu saja membasahi bajunya dan perahu yang masih terombang-ambing di desa yang kebanjiran saat ini.
“Nyonya Lie, jangan-jangan anda mau bersalin!??” serangan panik menghujani Ree saat ini ketika Lie terlihat merasa sakit.
Tanpa perlu ditanyakan lagi, wajah Ree yang melihat situasi akan tambah kacau ini sudah seperti mayat hidup.
Kini apa yang harus Ree lakukan??
To Be Continued.
__ADS_1