
Hari libur akhir pekan memang adalah yang terbaik menurut beberapa murid akademi karena dapat melakukan kegiatan bebas meski hanya di dalam pagar kokoh La Priens. Meski demikian, setidaknya Yohanna bersama dengan Ghea yang sedang mengocok kartu biasa dapat menikmati teh di taman asrama bersama Yohan yang sibuk berlatih pedang dengan rekannya tak jauh dari mereka.
“Akan sangat menyenangkan jika bisa menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di kota.”
Yohanna sangat menyayangkan cuaca yang cerah saat ini ketika ia hanya bisa berdiam di asrama.
“Kamu benar, tidak ada yang lebih menyenangkan ketika menghirup udara di luar gedung ini. Baiklah, aku tidak akan kalah hari ini.” ujar Ghea ketika ia sudah membagi kartu pada Yohanna dan dirinya.
Yohanna menyeringai, ia menarik tumpukkan kartu yang diberikan Ghea padanya.
“Aku juga tidak berniat untuk mengalah Ghea.”
Namun bukannya memulai permainan, arah mata Ghea menatap ke langit di belakang Yohanna yang nampak gelap.
“Nampaknya hari cerah tidak bertahan lama di akhir pekan ini.” ucap Ghea lalu mengeluarkan kartunya untuk membuka permainan.
“Apa kamu mengkhawatirkan teman sekamarmu?” tanya Yohanna menebak.
Wajah Ghea sama sekali tidak menampakkan bahwa ia khawatir.
“Aku tidak khawatir karena Ree pasti sudah terbiasa dengan kelasnya, hanya saja aku tidak merasa nyaman hari ini ketika melihat ia pergi keluar pagar akademi.”
Yohanna kurang bisa mengartikan maksud perkataan Ghea, wanita itu mengatakannya tidak dengan intonasi yang menggambarkan kekhawatiran ataupun semacamnya. Meski Ghea mengatakan ia tidak nyaman.
“Aku kurang mengerti maksud ucapanmu, namun Ree disana memiliki banyak orang yang bisa diandalkan. Terlebih ada Profesor Millesium disana.” timpal Yohanna melihat kartu yang akan ia keluarkan selanjutnya.
“Wah!! Kalian bermain kartu kenapa tidak mengajakku?!” tanya Yohan dengan suaranya yang cukup nyaring menghampiri kembarannya dan Ghea.
Nampaknya latihan pedang Yohan telah selesai dan cukup menguras tenaganya hingga banyak menghasilkan keringat.
“Kamu akan menangis ketika kalah, tidak menyenangkan mengajakmu bermain, lebih baik kamu pergi bersama dengan pedang dan bajumu yang bau itu.” Yohanna tidak pernah setengah-setengah mencibir kembarannya hingga membuat Yohan menahan kekesalannya, namun tidak ia ledakkan mengingat ada Ghea yang sibuk menatap kartu yang telah di keluarkan Yohanna, karena Yohan ingin menjaga martabatnya.
Sejujurnya Ghea tidak peduli dengan Yohan.
“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal sekejam itu padaku. Hey, rambut bergelombang, apa aku boleh ikut bermain?” Yohan bertanya pada Ghea. Sejujurnya ia belum pernah mengobrol dan berkenalan dengan Ghea karena wanita itu sangat pendiam dan misterius, hanya karena beberapa minggu lalu Yohan membantunya, Ghea hanya mengucapkan terima kasih dan pergi. Sementara Yohanna yang tahu kemampuan misterius Ghea langsung tertarik dengan wanita itu dan sering bermain bersama.
“Sopankah kamu dengan menyebutnya seperti itu? Bagaimana bisa kamu tidak tahu nama teman bermainku?” tanya Yohanna heran bahkan sempat menampar lengan kembarannya untuk segera meminta maaf pada Ghea.
“Hahaha!! Maafkan aku, boleh aku tahu namamu?” tiba-tiba saja Yohan langsung berlutut menghadap Ghea dan membuat perhatian wanita itu pada kartunya teralihkan dan membuat Yohanna ingin sedikit mengintip.
Perlahan Ghea mengulurkan tangannya pada telapak tangan Yohan yang sudah menunggunya.
“Ghea Friesesia Jackwood, salam kenal pangeran Yohan Benignus Solistella.” Ucap Ghea yang sudah tahu nama lengkap Yohan.
“Wah, kamu mengetahui nama lengkapku.” ujar Yohan takjub dan langsung duduk di kursi kosong antara Ghea dan Yohanna hingga punggungya menghalangi Yohanna yang sedang berusaha mengintip kartu Ghea.
Ghea mengangguk dan kembali menatap kartunya lalu tiba-tiba menatap Yohan dengan tatapan kosongnya.
Yohanna nampak menyadari mode lain dari Ghea dan hanya menanti apa yang akan Ghea ucapkan.
“Jangan khawatir, kamu tidak akan kehilangan yang berharga bagimu.” ucap Ghea masih menatap lurus Yohan.
“Maksudmu?” tanya Yohan heran.
“Ah! Apa aku ada mengatakan sesuatu?” tanya Ghea bingung dalam hitungan detik.
“A-apa!?”
Yohanna hanya tertawa lepas ketika melihat ekspresi Yohan yang bingung dengan sisi Ghea yang mendadak berubah itu.
*
*
*
“Haahh~”
Sudah kesekian kalinya dan malas bagi Maglina untuk menghitung helaan napas yang sudah Alexander keluarkan ketika mereka sedang membuat jebakan di sekitar ladang para penduduk untuk bagian kelompok Maglina dan Alexander.
“Aku tahu kita menginap selama tiga hari di luar asrama, apa kamu harus secepat ini merindukan kamar hangat di asramamu?” tanya Maglina heran.
Alexander yang akhirnya ditegur oleh Maglina dengan cepat mengelak.
__ADS_1
“Aku tidak berpikir seperti itu.” elak Alexander.
“Lantas, apa yang terus membebani pikiranmu saat ini? lagi-lagi khawatir dengan Ree? Apa kamu menyukainya?” tanya Maglina tanpa jeda.
“A-apa?! Bukan seperti yang kamu pikirkan! Aku tidak ada memikirkan Ree, hanya sedikit kesulitan bernapas.”
Alexander bohong, namun tidak ingin ia nampakkan. Bukan masalah ia menyukai Ree atau tidak, jika khawatir yang dibicarakan itu ada benarnya.
“Jika begitu, lebih baik pikirkan tentang kelompok kita. Tentang apapun yang kamu pikirkan, aku rasa akan baik-baik saja.” timpal Maglina dengan pikiran sederhananya.
Iya, Ree sedang baik-baik saja.
Baik-baik saja ketika ia hanya diam membuntuti belakang Frigid tanpa ucapan dan diskusi sejak mereka masuk ke dalam hutan belantara.
Tentang apa yang akan mereka lakukan, bagaimana, apa yang mereka targetkan untuk ditangkap dan bahkan apa yang harus mereka makan pada malamnya. Sejak digabungkan, Ree dan Frigid hanya diam dan menyusun peralatan yang dibutuhkan lalu pergi ke lokasi perburuan.
Terasa sangat canggung dan tidak nyaman.
Ree bisa bertahan dalam diam dan mengabaikan, namun beda cerita jika sudah di alam liar. Ia tidak bisa mengabaikan orang yang bersamanya begitu saja.
Di tengah-tengah perdebatan Ree dan pikirannya tiba-tiba Frigid berhenti berjalan hingga membuat Ree menabrak tas punggung yang dibawa Frigid.
“Maaf.” ucap Ree membuka suara setelah sekian lama namun tidak di jawab Frigid.
Ya, Ree pun tidak berharap di respon, namun alasan kenapa Frigid tiba-tiba berhenti itu harus di jelaskan.
“Hmmph! Bau apa ini? kenapa busuk sekali. Haah!!” Ree mengomentari bau busuk yang tiba-tiba saja menyeruak dan masuk ke dalam hidungnya dan ketika ia ingin maju melihat objek yang membuat mata tenang Frigid terbelalak tiba-tiba saja dengan lengannya dan punggung Frigid langsung menghadang Ree untuk tidak melihat apa yang ia lihat.
“Ada apa?” tanya Ree sedikit panik dan penasaran sekaligus.
“Mayat seorang pria, aku tidak yakin kamu sanggup melihatnya karena keadaannya sangat buruk.” jawab Frigid mendeskripsikan objek yang membuatnya berhenti berjalan.
Ree kaget dan sedikit mengintip melalui punggung Frigid, hanya melihat kaki yang tergeletak dan belum seluruh tubuhnya yang Ree lihat sudah membuat wanita itu merinding. Namun apa yang dilihat Frigid lebih buruk lagi.
“Jika dilihat dari baju dan beberapa peralatannya ia adalah pemburu, namun nampaknya ia diserang hewan liar di dalam hutan ini dan kehabisan darah serta tenaga.” jelas Frigid.
Inilah kenyataan alam liar, Ree sudah menduganya sebelum ia memutuskan untuk bergabung dalam kelas Berburu di La Priens. Apa yang mereka hadapi adalah hutan dan isi dalamnya yang tidak mengenal hukum manusia karena mereka memiliki hukum tersendiri.
Yang kuat, yang akan bertahan.
“Apa kamu tahu hewan apa yang menyerang? Itu bisa jadi perhitungan kita dalam menyusuri hutan.” timpal Ree sembari memperhatikan sekeliling.
Hutan bagian mereka merupakan hutan yang penuh dengan pepohonan pinus tinggi dan beberapa bukit batu dan terdapat sungai berbatu kecil serta tekstur tanah yang keras. Dari kondisi geografisnya bukanlah habitat buaya yang mana terdapat di banyak rawa-rawa dan muara. Jelas sekali itu bukan target tangkapan Frigid dan Ree.
“Ada satu-dua hal kemungkinan, apa kamu mendengar sesuatu?” tanya Frigid.
“Sesuatu?”
Frigid kembali melangkah mengambil jalan lain dan membawa Ree menjauhi mayat yang menghalangi jalan mereka. Keduanya memutuskan untuk kembali sunyi untuk mendengar situasi hutan yang sebenarnya cukup ribut karena bermacam-macam suara terdapat disana.
Frigid kembali berhenti di pinggir sungai yang terdapat banyak bebatuan di dalamnya.
“Jadi apa kamu sudah bisa menebak binatang atau penyebab kematian orang tadi?” tanya Ree.
Jujur saja, cukup mengerikan menemukan hal seperti tadi. Terlebih ia dan Frigid hanya melewati saja dan tidak menguburnya. Ree harap arwahnya dapat tenang di alam sana dan dikuatkan para keluarga yang ditinggalkan.
“Aku kurang yakin, bagaimana menurutmu?” tanya Frigid.
Ree menatap pria di hadapannya itu heran.
“Bagaimana aku bisa mendiagnosa jika aku tidak melihat kondisi fisik mayatnya. Kamu bahkan menutup seluruh arah pandanganku untuk tidak melihatnya.” timpal Ree mengingat bagaimana sikap Frigid ketika mereka melaluinya belum lama ini. Pria itu menutup segala titik pandangan Ree.
“Memang tidak biasa dilihat, namun bukan hal yang mengejutkan juga mengingat tempat ini adalah alam liar.”
Kedua manusia itu kembali sunyi sambil menebak apa penyebab dan bahaya yang menunggu mereka di dalam belantara.
“Oi!! Kalian berdua!!”
Frigid dan Ree sama-sama terkejut ketika di sapa oleh seseorang pria paruh baya yang muncul dengan membawa keranjang berisi buah-buahan dan hasil panen. Pria paruh baya itu bertubuh besar dan tinggi, cukup kekar dengan kumis serta janggut beruban yang menyelimuti sekitaran mulutnya.
“Apa kalian murid La Priens yang diutus?” dari arah belakang pria paruh baya itu muncul seorang wanita yang sebaya dengannya. Mengenakan topi jerami dan menggendong keranjang berisi buah-buahan dan hasil panen juga.
“Itu benar, saya Ree dan ini rekan saya Frigid. Kami sedang menjalankan tugas akademi.” jelas Ree memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
“Saya adalah Mildes ini istri saya Irea. Kami baru saja pulang dari kebun untuk mengantar hasil panen ke desa.” jelas Mildes.
“Maaf, apa kalian akan melewati jalan ini?” tanya Ree sedikit ragu karena jalan yang barusan mereka lewati terdapat hal yang mengerikan.
“Iya, itu benar. Ini satu-satunya jalan yang biasa digunakan kami ke desa. Berbeda lagi dengan para pemburu. Mereka biasanya akan membuat jalan pintas sendiri.” jelas Mildes.
Tiba-tiba Frigid yang hanya berdiam di belakang Ree tersadar akan sesuatu.
“Kalian, kesini sebentar!”
Tanpa perhitungan Frigid langsung menyeret Ree dengan menarik ransel wanita itu dan diikuti oleh Mildes serta Irea pergi ke sebuah batu besar dan bersembunyi dibaliknya.
“Ada apa?” tanya Ree panik.
“Pelankan suaramu.” ucap Frigid sembari mengintip ke arah seberang sungai.
Semakin dekat dan semakin jelas suaranya, suara langkah kaki yang cukup besar dan berat serta diikuti erangan.
“Itu adalah beruang coklat.” ujar Mildes.
Bukan hanya satu, melainkan dua beruang sedang mencari ikan di pinggir sungai.
“Dia memang tidak menyerang kebun, namun kehadirannya juga cukup berbahaya. Sudah sering para pemburu menjadi korbannya.” jelas Irea.
“Apa itu bersangkutan dengan mayat di pinggir jalan tadi?” tanya Ree.
“Mayat?! Lagi-lagi… ini sudah kedua kalinya dalam bulan ini. Nampaknya beruang itu semakin mendekati permukiman.”
Frigid dan Ree langsung menatap satu sama lain, korban di jalan tadi jelas siapa yang melakukannya kini.
“Karena kami sudah seminggu berada di pondok kebun, kami tidak tahu apa yang terjadi di luar kebun. Hari ini kami memutuskan untuk kembali dan menjual hasil kebun. Kalian berdua berhati-hatilah dan kalau bisa jangan keluar dari kawasan kebun serta kembalilah sebelum hari gelap. Masalah apa yang kalian lihat di perjalanan tadi, kami akan mengurusnya. Sampai jumpa.”
Ree melambai kecil mengantar kepergian Mildes dan Irea yang kembali ke pedesaan. Setelah hampir setengah jam menunggu para beruang itu pergi kembali ke dalam hutan, mereka berempat baru bisa keluar dari persembunyian.
“Ini memang tidak terduga, jadi apa kamu masih sanggup?” tanya Frigid ketika mereka ingin melanjutkan perjalanan.
“Apa kamu lupa dengan siapa kamu menangkap buaya hidup-hidup pada hari pertama kelas berburu kita?” tanya Ree sedikit kesal.
*
*
*
“Baiklah, jebakan monyetnya selesai. Aku harap mereka tidak dapat pergi ke kebun dengan leluasa.” ujar Liliana saat ia sudah selesai dengan jebakan yang ia buat di seluruh sisi pagar kebun yang terdapat di kaki sebuah bukit yang berjarak 10 km dari lokasi Frigid dan Ree.
“Bagaimana denganmu Marco?” tanya Liliana memeriksa rekan satu timnya yang sedang sibuk itu.
“Hampir dan selesai! Aku rasa kita bisa beristirahat makan siang di pondok kayu itu sembari menunggu waktu pulang ke perkemahan.” ujar Marco yang sudah selesai.
Liliana mengangguk setuju dan melihat sekeliling kebun sayur mayur serta buah-buahan yang terdapat di tengah hutan ini, meski dikelilingi oleh pagar kayu namun para hewan liar biasanya sering merusak pagar dengan menabraknya atau menggigit sisi pagar, oleh karena itu Liliana memasang beberapa kawat berduri dan jebakan di sekeliling kebun seluas 1000 m2 itu.
“Apa kabar teman-teman yang lain ya?” ucap Liliana saat ia dan Marco sudah duduk di teras pondok kayu sembari makan siang dan menatap ke arah sebuah bukit yang tidak jauh dari mereka.
“Alexander bersama Maglina aku rasa tidak ada masalah karena mereka banyak mengambil kelas yang sama. Juga Frigid dan Ree, bukannya mereka sering bersama di kelas berburu?” jelas Marco.
“Tapi ya, aku sedikit kurang mengerti dengan alasan Profesor Millesium dalam memilih kelompok. Frigid dan Ree, aku saja yang pernah bersama Frigid merasa tidak cocok satu sama lain, tapi bagaimana dengan Ree, ya?” Liliana bukannya membenci Frigid dengan alasan tidak cocoknya mereka, hanya saja secara halus, prinsip mereka sangat berbeda dan sadar tidak sadar saling bertentangan.
“Sejak dulu Frigid memang suka menangkap buaya sebagai target buruannya. Ia menjadi cukup hebat dalam menangani hewan buas di hutan. Juga Ree, nampaknya aku tidak perlu menjelaskan lagi betapa mudahnya Ree beradaptasi.”
‘Dorr!!’
“Gyaaaa!!!!”
‘Kwak!’
‘Kwak!’
Liliana dan Marco kompak menatap objek yang sama yaitu keributan dari puluhan kilometer di depan mereka, suara tembakan, teriakan melengking, gemerisik angin yang menabrak dedaunan pohon serta suara ribut burung-burung yang tiba-tiba saja berterbangan dalam jumlah banyak seolah mereka terkejut dengan adanya aktifitas di sekitar.
“Wah, kelompok di depan agresif juga. Apa itu kelompok Maglina dan Alexander?” tanya Liliana takjub.
“Itu adalah arah barat Liliana. Maglina dan Alexander di bagian timur dari lokasi kita. Itu adalah lokasi Frigid dan Ree.” jawab Marco sedikit resah dan pucat mengingat telinganya tidak salah menangkap suara teriakan yang cukup lengking dan hal itu membuat Liliana sadar di detik berikutnya.
__ADS_1
To Be Continued.