
“Aku sebenarnya tidak ingin membiarkanmu pergi sendiri, namun aku belum ada waktu libur. Terlebih situasi keluarga Florence tidak ingin melihat aku berada di sekitar kediaman. Jadi aku bisa mengantarmu sampai sini Ree.” ucap Henny penuh dengan rasa bersalahnya. Mendengar keputusan Ree untuk pergi mengunjungi kediaman Florence membuat perasaan Henny campur aduk. Setelah malam itu, sama sekali ia tidak mengetahui bagaimana hubungan kedua keluarga. Henny khawatir jika Ree juga diperlakukan dengan tidak baik.
“Aku baik-baik saja. Aku akan bertemu dengan Servio dan berbicara dengannya.” ucap Ree sembari bersiap untuk keluar dari stasiun.
“Ikuti saja arahan alamat yang sudah aku berikan, kamu tidak akan sulit mencari kediamannya yang besar itu.”
“Terima kasih untuk bantuannya Henny.” Ree melambaikan kertas berisi alamat pada Henny yang terlah bersedia memberikannya.
Tak lama, Henny akan kembali ke pelabuhan dengan menaiki kereta selanjutnya. Sementara Ree sudah keluar dari stasiun kereta yang membawanya ke daerah pinggiran kota. Namun berbeda dengan pinggiran kota pada umumnya, tata letak rumah orang-orang di sini sangat rapi dan nampak jika keluarga yang tinggal adalah mereka orang-orang berada seperti halnya keluarga Florence.
Henny menjelaskan pada Ree bahwa jarak kediaman Florence dan stasiun setidaknya memerlukan 20 menit jalan kaki. Tidak masalah bagi Ree, karena setidaknya medan perjalanan tidak sesulit ketika ia berburu di hutan. Mengikuti alamat dan arahan dari Henny sebelumnya, langkah kaki Ree dan matanya terbawa ke arah pagar rumah yang sangat tinggi dan luas.
“Taman bunganya luas…” ucap Ree takjud ketika ia sampai ke depan gerbang kediaman Florence.
Ree mengamati seluruh taman dan bentuk bangunan dengan 3 lantai itu seksama. Persis seperti yang Henny jelaskan padanya dan di sudut paling kanan lantai dua dimana terdapat tirai berwarna merah marun adalah kamar tuan muda yang tinggal di sana, yaitu Servio.
Setelah mengetuk gerbang, seorang dengan memakai seragam pelayan datang menghampiri pintu gerbang.
“Ada yang bisa saya bantu nona?” tanyanya sopan.
Ree tersenyum menanggapi cara pelayan itu bertanya padanya.
“Saya ingin bertemu dengan Servio. Apa ia ada di rumah?” tanya Ree langsung pada topik.
Pelayan yang awalnya menunduk itu, perlahan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Wajah wanita muda yang tidak sama dengan yang datang beberapa hari yang lalu, melainkan seseorang wanita asing.
“Maaf, apa saya boleh tahu hubungan anda dengan tuan?” tanyanya lagi.
“Saya adalah temannya.”
“Maaf nona, saat ini tuan muda tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan seseorang termasuk temannya. Sekali lagi saya minta maaf dan silahkan anda kembali saja.”
Wajar saja jika Ree terkejut, ternyata mereka menolak setegas ini dan seketat ini membatasi interaksi Servio dengan orang lain.
“Tapi saya tidak akan lama, nona tidak bisakah memanggil Servio saja ke sini barang sebentar atau tolong beritahukan kehadiran saya.” Ree masih ingin mencoba sebisanya.
“Tidak bisa nona. Tuan tidak memperbolehkan siapapun masuk menemui tuan muda. Jika anda tetap kukuh, terpaksa saya memaksa anda untuk pergi.”
Sesulit ini untuk menemui tuan muda mereka, membuat Ree merasa geram sendiri. Ia tidak segila Henny dalam bertindak. Ree sudah bisa membayangkan bagaimana Henny pergi ke kediaman Florence membawa diri yang cukup aktif itu. Henny setidaknya pasti mampu membuat keributan hingga Servio keluar dari sangkarnya. Namun Ree tidak yakin ia bisa seperti Henny.
“Saya tidak akan lama, lagipula kamu tidak tahu apa yang mau saya sampaikan dengan Servio. Saya tidak tahu kenapa ia tidak bisa menemui saya, namun saya tetap harus bicara dengannya barang sebentar.” Tidak ingin menuruti begitu saja, Ree tidak ingin melangkah pergi dari depan gerbang.
“N-nona, saya mohon pergilah atau saya akan memanggil seorang penjaga untuk menyeret anda.”
Ree menatap pelayan yang nampak lebih tua darinya itu tanpa ekspresi. Setelah ditolak, ia malah ingin diseret pergi?
“Tega sekali kalian menyeret wanita sepertiku. Meski tidak diundang, aku tetaplah tamu. Setidaknya biarkan aku masuk atau panggil tuan mudamu kemari.” ucap Ree heran dan masih kukuh dengan pendiriannya hadir ke kediaman Florence.
“Ada apa ini? bukankah tuan sudah mengatakan untuk tidak menerima satupun tamu yang ingin bertemu dengan tuan muda?”
Di tengah perdebatan Ree dan seorang pelayan itu, seorang lagi muncul dari arah pintu masuk utama kediaman yang jaraknya sekitar 50 meter dari gerbang. Pria paruh baya dengan setelan jas formal berwarna hitam, nampak seperti bukan tuan rumah di mata Ree. Belum lagi caranya berbicara dengan formal dan caranya berjalan terlihat sangat kaku.
“Kepala pelayan! Maafkan saya. Saya sudah ingin memanggil penjaga untuk mengusirnya.” Seketika pelayan wanita tadi menyingkirkan dirinya dan membuat Ree yang masih berada di luar pagar menghadap seseorang yang memiliki otoritas cukup tinggi di kediaman.
Ree perlahan mundur dan menelan ludahnya perlahan. Henny, bagaimana bisa kamu menembus pertahanan kediaman yang tegang seperti ini, pikir Ree. Namun langkah kaki Ree tidak bisa mundur lebih dari ini.
Sementara itu, Servio yang masih berdiam di kamarnya mendapat laporan dari salah satu pelayan rumahnya bahwa ada seorang wanita kembali ingin bertemu dengan Servio. Tak mudah bagi Servio melihat situasi di depan gerbang karena jarak yang cukup jauh dan tubuh tamu itu tertutupi oleh tinggi kepala pelayan. Pikir Servio, itu pasti Henny. Meski demikian, Servio tidak bisa menemuinya. Saat ini selain dari perintah ayahnya, dari diri Servio juga tidak bisa bertemu dengan orang lain. pikirannya sedang kacau dan sulit untuk Servio tenangkan. Jika sudah kepala pelayan yang turun tangan, Henny pasti tidak bisa masuk.
__ADS_1
Servio kembali ke sofa dalam kamarnya, merebahkan diri demi mencoba mengosongkan pikiran. Telinganya yang hanya mendengar ketenangan kediaman, tiba-tiba terinterupsi oleh suara langkah kaki yang cukup terburu-buru hingga berhenti di depan pintu kamarnya.
“Tuan muda. Apa anda di dalam?” tanya pelayan muda itu dari luar.
Apa lagi ini? Servio bahkan belum lama merebahkan dirinya. Namun mau tidak mau Servio bangun dan membuka pintu. Melihat wajah pelayan yang sudah menunduk dan tak menatapnya.
“Ada apa?” tanya Servio dingin.
“Saya menyampaikan bahwa salah satu putri dari keluarga Lumen datang untuk menemui anda dan dibawa masuk oleh kepala pelayan ke rumah kaca.”
Wajah Servio yang semula dingin berubah menjadi terkejut. Tak pernah terpikirkan olehnya jika akan datang seorang putri keluarga Lumen. Padahal setahunya undangannya pada keluarga Lumen adalah nanti sore. Satu-satunya yang tidak tahu hal tersebut adalah satu wanita yang ada dipikiran Servio saat ini, yaitu Ree.
*
*
*
Mata Ree terbuka lebar bukan karena terkejut melainkan rasa kagumnya melihat sebuah rumah kata yang luas dengan berbagai macam bunga di dalam rumah kaca itu. Ia berjalan dituntun oleh kepala pelayan untuk masuk ke dalam ruangan itu.
“Boleh saya tahu siapa nona?” tanya kepala pelayan ketika datang ke pintu gerbang menghadap Ree.
Ah, Ree baru sadar. Ia datang tidak memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Tentu saja kehadiran orang yang tidak dikenal akan diusir.
“Maaf, saya lupa memperkalkan diri. Saya adalah Ree Iunae Lumen, teman Servio.”
Ree tidak mengerti, ketika ia sudah mengatakan namanya. Tiba-tiba saja kepala pelayan meminta pintu gerbang dibuka dan mempersilahkan Ree masuk dengan mudah tanpa menanyakan atau mengatakan hal-hal yang berkaitan dengan membatasi Ree untuk masuk ke dalam kediaman.
“Aneh sekali.” Tutur Ree.
“Apa ada yang bisa saya bantu nona?” tanya kepala pelayan yang ternyata mendengar ucapan pelan Ree.
“Tidak ada. Saya hanya kembali memikirkan betapa sulitnya saya untuk masuk sebelumnya. Karena itu terima kasih sudah memperbolehkan saya masuk.” ucap Ree.
“Saya minta maaf atas perlakuan bawahan saya yang teledor pada tamu seperti anda. Jika anda ingin menghukumnya saya bisa melakukannya.”
Apa-apaan ini? tidak mungkin Ree mudah menghukum orang begitu saja. Lalu arti kata ‘ tamu seperti anda’ itu membuat Ree bingung. Apa yang sebenarnya terjadi selama ini, dari perkataan kepala pelayan di depannya saat ini membuat Ree sedikit bisa mendapat jawaban kenapa Henny diperlakukan tidak baik oleh kediaman Florence, sementara ia sendiri setelah mengatakan namanya, sikap semua orang langsung berubah drastis.
“Anda bisa menunggu sebentar disini. Saya akan memanggil tuan muda.”
Ree langsung duduk di kursi taman yang sudah disediakan di dalam rumah kaca itu. di depannya terdapat meja bundar yang terbuat dari kaca dimana di atas meja itu sebuah vas kecil berisi bermacam-macam bunga menjadi hiasannya. Aroma yang menyeruak masuk ke dalam hidung Ree bermacam-macam dan terasa segar.
Dapat Ree simpulkan tempat seperti ini cocok untuk tidur siang.
Ree tidak sendirian, terdapat seorang pelayan wanita paruh baya yang menemaninya berdiri di samping kanannya.
“Permisi apa saya boleh bertanya?” tanya Ree pada pelayan yang berdiri di sampingnya.
“Silahkan nona.”
“Saya lihat banyak sekali bunga yang jarang terlihat di kerajaan, bagaimana kalian bisa merawat tanaman yang memiliki tempat berbeda-beda asalnya?” tanya Ree penasaran. Karena apa yang ia lihat tidak hanya tumbuhan hias lokal, melainkan dari berbagai negara. Ree sendiri tahu karena sering melihat keluarganya membawa barang dagangan berupa tanaman langka dan untuk bunga seperti di dalam rumah kaca ini bukanlah hal sulit bagi kedua orang tuanya mendapatkannya.
“Tentu saja perawatannya akan berbeda sesuai dengan sifat dari tumbuhan itu sendiri. Karena berasal dari berbagai tempat, tidak semua bunga ataupun tanaman itu digabungkan tempatnya.”
Baru saja pelayan yang bersama Ree menjawab pertanyaan mudah itu, sudah ada yang menyambut dari arah pintu masuk. Seorang wanita paruh baya mengenakan gaun panjang berwarna ungu muda, syal sutra mengitari bahunya, tatanan rambut yang sudah beruban itu juga sangat rapi dan elegan. Dari semua ciri itu dan wajahnya, Ree sendiri sudah tahu siapa dia.
“Nyonya…”
__ADS_1
Nyonya rumah kediaman Florence, Dandelia Florence.
Pelayan yang ada di samping Ree menunduk memberi sapaan, diikuti oleh Ree dengan tenang berdiri lalu menghampiri Dandelia.
“Salam kenal, saya Ree Iunae Lumen. Maafkan atas kehadiran saya yang mendadak seperti ini membuat semua orang repot.” Meskipun sudah diperlakukan berbeda, tetap saja Ree merasa tidak nyaman hatinya telah membuat sedikit keributan di awal.
Dandelia hanya tersenyum memaklumi, karena masalah akhir-akhir ini memang sedikit membuat keluarganya terguncang. Namun sekali lagi, Dandelia tidak bisa menyalahkan anak-anaknya karena keegoisan orang dewasa yang membuat keputusan terlebih dahulu.
“Itu pasti sulit bagimu.” ucap Dandelia.
Sulit? Tentu saja akhir-akhir ini Ree dihadapkan dengan kesulitan yang tidak pernah ia terka sebelumnya.
“Saya tidak apa-apa, saya datang hanya ingin bicara dengan Servio sebentar.” Ree tidak terlalu mengerti apa yang dimaksud dengan sulit itu dari Dandelia. Ia datang hanya ingin menanyakan kabar berita dari Servio itu sendiri.
“Tapi, nona Ree… ada yang ingin saya utarakan padamu.” ucap Dandelia serius. Ree menatap raut wajah ibu Servio itu terlihat sedikit pucat meski sudah ditutupi oleh riasan. Caranya jalan dan berbicara juga cukup lemah.
“Silahkan nyonya, lebih baik anda duduk terlebih dahulu.” setelah ucapan Ree, pelayan yang bersamanya sejak tadi langsung menarik kursi di depan tempat Ree duduk.
“Terima kasih nona.” ucap Dandelia ketika Ree bersedia membantunya untuk duduk. Ree membalasnya hanya dengan tersenyum lalu ikut duduk di kursinya tadi.
“Silahkan nyonya, saya akan mendengar.”
Dandelia terlihat ragu, mulutnya sulit untuk membuka mengatakan perkataannya. Wajah Ree nampak tenang dimatanya.
Bukannya Dandelia tidak tahu alasan terbesar adanya pertunangan putranya Servio dengan salah satu putri keluarga Lumen. Bukan sekedar dasar bisnis dan uang semata, melainkan ada dirinya juga di dalamnya. Dandelia sudah berkali-kali mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan apapun untuk penyakitnya saat ini. namun suaminya tidak mendengar perkataannya. Terlebih ketika melihat wajah Servio yang tidak bisa menerima pertunangan, membuat perasaan Dandelia sedih. Bukan karena tidak bisa mendapatkan obat yang membuatnya sedih, melainkan kebahagiaan putranya yang ia renggut.
“Nona muda Lumen, saya tahu perkataan saya seperti ini tidaklah sopan. Namun, saya tidak ingin adanya konflik lebih lanjut antar keluarga yang seharusnya bisa berhubungan baik-baik.” Dandelia sudah memulai ucapannya. Melihat ketegangan antara suami dan putranya membuat hati Dandelia sakit. Setiap kali memikirkannya membuat Dandelia merasa ingin menangis.
“Semua ini bukanlah keputusan yang sudah di diskusikan dengan baik dalam keluarga kami lalu keluarga Lumen pun dengan baik hati ikut menerima permintaan kami meski dengan syarat menikahkan putra kami dengan putri mereka. Semua berjalan begitu cepat dan saya sendiri sebenarnya tidak ingin memaksakan keadaan seperti itu pada putra saya.”
Ree mendengar dengan baik ungkapan hati ibu Servio yang baru ia temui hari ini. keluarganya tidak ada mengatakan apapun terkait alasan kenapa pertunangan itu diadakan, Ree sendiri tahu bahwa keluarganya memiliki banyak relasi dengan beberapa keluarga besar orang-orang yang penting, namun baru ini ia mendengar keluarga Florence memiliki relasi dengan keluarganya.
“Nyonya Florence…” sulit untuk berkomentar lebih lanjut ketika Ree mendengar penjelasan Dandelia. Ia tak pernah tahu bahwa dari satu pihak terdapat alasan yang penting seperti ini. Servio hanya mengatakan tidak ingin menikah padanya beberapa minggu yang lalu. Namun, jika dipikirkan ulang. Tidak ada tindakan sepenting ini tanpa alasan. Kemarin karena mereka tidak mengetahui alasan di balik tindakan masing-masing keluarga sehingga dengan mudah memutuskan apa yang harus dilakukan.
“Oleh karena itu nona Lumen, tidak apa-apa pertunangan ini dibatalkan, tidak perlu mengambil Servio sebagai menantu keluarga Lumen karena saya tidak membutuhkan obat apapun itu.” tiba-tiba Dandelia berdiri dan menghampiri Ree, meraih jemari Ree dan menggenggam eratnya sembari memohon agar tak perlu adanya pengorbanan hanya untuk kelangsungan hidupnya.
“Nyo-nyonya… anda tidak perlu begini…”
“Ibu, ibu seharusnya istirahat saja di kamar. Kenapa ibu ada di sini dan berbicara tentang pernikahanku?”
Kedua wanita yang saling melempar rasa tidak enak itu terdiam dan kompak memusatkan pandangannya pada seorang pemuda yang baru saja tiba bersama kepala pelayan yang memanggilnya untuk datang menemui Ree.
Rasanya seperti sudah sangat lama Ree tidak melihat wajah Servio. Terakhir kali ia pergi tanpa melihat bagaimana raut wajah pria yang terlihat sangat dingin hari ini. berbeda dari dulu, dimana meskipun Servio selalu nampak mengantuk namun sorot matanya tak pernah kosong dan membuat menggigil orang saat menatap wajahnya.
Lantas, kenapa dengan hari ini? apa yang Ree temui adalah orang yang pernah membantunya menyembuhkan ketakutannya dulu?
“Servio…” mulut Ree dan Dandelia kompak menyebut nama pemuda yang datang itu, namun berbeda intonasi ucapannya. Ree yang akhirnya bisa bertemu sementara Dandelia yang tidak menyangka Servio datang ke tengah-tengah pembicaraannya dengan Ree.
"Tapi Servio, dengarkan ibumu dulu.” Kini Dandelia berbalik dan menghampiri putra bungsunya. Lebam akibat pukulan ayahnya di sudut bibir itu masih berbekas, wajahnya terlihat tidak baik-baik saja di mata Ree karena terlihat dari kantung mata yang agak berat nampaknya. Meskipun tampil dengan wujud rupawan seolah baik-baik saja, namun Ree tidak tahu apa yang sebenarnya Servio pikirkan dan rasakan saat ini.
“Ibu, aku sudah bicara dengan ayah dan aku sudah mengerti. Keputusan ini bukan hanya menguntungkan sebelah pihak.” Saat berbicara dengan ibunya lantunan suara Servio terdengar lembut dan hangat, namun Dandelia terus-menerus menggeleng dan memanggil nama Servio berulang kali.
Servio mengalihkan pandangannya pada wanita yang menjadi tamunya hari ini, berdiri hanya 2 meter di hadapannya. Terdiam dan sulit mengatakan satu patah kata pun. Sorot mata kegelisahan dan bibir yang bergetar karena geram. Servio sudah perkirakan berapa besar rasa bersalah yang wanita itu pendam terhadap dirinya. Setidaknya setelah hari itu, Servio dapat melihat bahwa Ree datang ke hadapannya dalam keadaan yang baik-baik saja.
“Keputusan pernikahan dengan salah satu putri keluarga Lumen aku terima dan orang yang akan aku nikahi adalah Ree Iunae Lumen.” Ucap Servio terdengar lembut namun terasa begitu dingin ketika masuk ke dalam hati Ree.
Tentang siapa orang di hadapannya, Ree sendiri tidak tahu harus bertanya kepada siapa.
__ADS_1
To Be Continued.