
Seperti hal umumnya, bahwa tidak ada masalah tanpa solusi. Namun bukan berarti solusi untuk memecahkan masalah itu dapat dilakukan dengan mudah. Rasanya semakin dewasa, masalah yang dihadapi tidak akan sederhana seperti yang dihadapi oleh anak-anak pada umumnya. Akan banyak hal yang harus dikorbankan, jika pun tidak banyak, nilainya pengorbanan juga cukup besar.
Mungkin itulah yang Servio tengah rasakan saat ini.
Kabar terbaru terkait pencarian obat ibunya dari Luceat sudah sampai pada dirinya.
Rasanya tidak percaya akan sampai serumit ini ketika Servio ingin memperbaiki hubungannya dengan Ree. Ia malah dihadapkan dengan pilihan yang sangat berat.
Ayahnya memberi kabar bahwa tanaman itu berada di wilayah Agnus yang mana kerajaan Agnus memiliki hubungan dengan keluarga Cali terkhususnya adalah Frigid.
Tentu saja ini tidak akan mudah karena Servio sendiri tidak akur dengan Frigid.
Pria bersurai panjang hitam itu masih terdiam di ruang tamu sendirian, ketika ia belum lama kembali dari tempat ia magang. Surat yang sampai hari itu juga masih ada di telapak tangannya dan sudah terbuka.
“Haah…” untuk kesekian kalinya Servio menghela napasnya untuk menenangkan pikirannya agar tidak lagi salah langkah seperti apa yang ia lakukan pada Ree.
“Haaa… aku tidak sanggup lagi…!!?”
“!!?”
Baik orang yang berada di rumah dan yang baru datang sama-sama tertegun satu sama lain dan terkejut. Bahkan Frigid yang ada dibelakang Ree juga ikut terkejut dengan apa yang ia lihat ketika Ree sudah membuka pintu rumah untuk mereka meski membawa cukup banyak barang.
“Servio…” guman Frigid yang tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan matanya saat ini.
Jangan tanyakan Ree, wajahnya masih pucat dari sisa-sisa mabuk laut dan rasa kesalnya juga masih ada ketika mengingat apa yang Frigid lakukan belum lama ini. saat ini dimana ia hanya ingin menenangkan pikirannya dan langsung tidur, ia malah datang dan terasa disambut oleh hal yang paling berat dan tidak ingin dilihat.
Tak terasa, tas jinjing dan ransel yang ingin Ree bawa itu terlepas begitu saja dari tubuhnya dan langsung ia membalikkan tubuhnya lalu berlari kencang meninggalkan kediaman.
“??!”
“Ree!!?”
Frigid dan Servio kompak menyerukan nama perempuan yang sudah berlari meninggalkan rumah dinas. Bahkan Frigid juga langsung melempar barang-barangnya dan mengejar Ree.
*
*
*
“Apa ini!!? kenapa manusia itu ada di rumah dinas!? Apa ia sudah gila??” Ree puas bertanya-tanya dengan keberadaan Servio yang tidak pernah ia harapkan itu.
Tentu saja Ree tidak membenci Servio hanya saja, komunikasi mereka sangat buruk akhir-akhir ini. Ree belum bisa menghadapi orang itu dan hanya akan menambah frustasi saja.
Kaki Ree tak tahu kemana akan membawanya dan ia hanya berlari begitu saja seolah merupakan reaksi alami untuk menghindari Servio.
“Ree!!” seru Frigid yang ternyata berhasil menyusul. Pria itu nampak terengah-engah ketika harus berlari sesampai mereka di rumah. Sebenarnya yang menjadi pertanyaan Frigid saat ini selain ketakutan Ree pada Servio adalah kenapa perempuan itu masih saja sanggup berlari padahal mereka sudah sama-sama lelah?
Ree berhenti ketika tahu bahwa Frigid yang mengejarnya di belakang Frigid dapat Ree lihat jika Servio juga ikut berlari mengejar.
Apa ini? kenapa Ree merasa seperti estafet?!
“Kamu kenapa?!” tanya Frigid heran. Jaraknya dengan Ree sekitar satu meter karena ketika Frigid ingin lebih dekat, Ree mundur secara otomatis. Itulah mengapa jarak mereka tidak berubah sama sekali.
“Apa?? Aku tidak kenapa-kenapa! Jauh-jauh sana!” ucap Ree tak ingin diinterogasi saat ini terlebih melihat Servio mendekat ia sudah bersiap-siap untuk lari ronde kedua.
“Dari jawabanmu barusan tentu saja kamu kenapa-kenapa.” ucap Frigid tak akan percaya dengan perkataan yang tak singkron dengan ekspresi itu.
“Ree…” guman Servio tak menyangka jika Ree akan benar-benar menjaga jaraknya dari Servio meskipun matanya masih melihat cincin tunangan yang dipakai wanita itu.
Ia tak melepasnya dengan tujuan ingin menghilangkannya secara tidak sengaja, itulah pikiran konyol Ree.
“Frigid… aku ingin bicara padamu…” ucap Servio mengutarakan maksud kenapa ia menyusul mereka berdua.
__ADS_1
Ree langsung terkejut. Awalnya ia pikir pria itu ikut menyusulnya dan ketika merenungkannya hanya membuat malu. Tapi kenapa Servio ingin bicara dengan Frigid sampai-sampai menyusul seperti ini?! Bukankah itu sangat ambigu??
Takutnya keduanya malah saling bertengkar lagi dan membuat Ree kebingungan bagaimana cara melerainya terlebih mereka saat ini berada di jalanan yang sepi karena mengejar Ree, ia malah berlari ke sebuah taman pinggir kota yang selalu sepi ketika malam.
“Aa… tapi… Ree…” Servio langsung sadar bahwa tindakannya saat ini mungkin membingungkan. Ia mengejar Frigid yang sedang mengejar Ree.
Baru ingin melanjutkan ucapannya, Servio sudah melihat Ree kembali pergi meninggalkan mereka berdua dengan berlari dan bukannya kembali mengejar, Frigid merentangkan sebelah tangannya untuk menghalangi Servio mengejar.
“Kamu mengejar sampai ke sini hanya untuk bicara padaku, apa yang kamu ingin bicarakan?” Frigid tak lagi khawatir pada Ree, karena ia sudah paham bahwa wanita itu pasti memiliki tempat lain untuk kembali. Lagipula Ree berasal dari kota ini.
Nampaknya ada yang lebih penting dari mengejar Ree saat ini, yaitu pembicaraan dengan Servio.
*
*
*
Bukannya menemukan jalan keluar, Ree malah terjebak di pikiran kacaunya. Saat ini ia sudah berlari cukup jauh dari rumah dinas dan terlihat tidak ada satupun pria yang mengejarnya. Untuk kembali ke rumah dinas saat ini merupakan pilihan terburuk dan Ree tidak ingin masuk ke dalam rumah itu dulu.
Pikirannya masih kacau, saking kacaunya ia saja belum beristirahat meski sudah melalui perjalanan jauh.
Namun nampaknya lingkungan yang tempat ia berada ini tidak asing, karena Ree sendiri sadar bahwa ia berlari ke arah kawasan akademinya berada.
Ia mungkin tidak bisa mundur, tapi langkah majunya sama sekali bukan hal yang buruk. Hal tersebut membuat Ree melangkah masuk ke dalam kawasan akademi khusus putri di Litore itu. bagaimanapun juga, Ree masih memiliki hak untuk keluar-masuk kawasan itu.
Tidak perlu ditanyakan betapa terkejutnya Henny ketika seseorang datang mengetuk pintu kamar asramanya dan yang nampak di depan pintu adalah salah satu penghuni kamar itu dengan penampilan yang sangat berantakan.
Mulut Henny hampir saja terjatuh karena tak menyangka Ree malah memunculkan dirinya di depan matanya. Ia sendiri bahkan tidak tahu jika mereka akan kembali hari ini.
“Kenapa kamu melihatku seperti melihat hantu?” tanya Ree heran sembari masuk ke dalam kamarnya dan Henny.
Henny berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa yang masuk itu adalah manusia asli bernama Ree.
“Ahh… itu karena Servio ada di rumah itu. tanpa pikir panjang aku lari begitu saja dari rumah.” Jawab Ree yang sudah sembarangan mengambil handuk Henny untuknya mandi.
“Aku paham ketakutanmu, memangnya kamu anak kecil dengan kabur begitu saja??” tanya Henny heran.
“Akan lebih baik aku adalah anak kecil… jika melakukan di usia seperti ini rasanya malu.” timpal Ree setelah beberapa detik memikirkan kembali perbuatannya pada Servio.
Henny ingin heran, namun ia sedang berhadapan dengan Ree yang tak selalu tenang.
“Saat melihat wajahnya entah mengapa apa yang aku pikirkan hanyalah berlari agar aku bisa berjauhan dengannya tanpa tahu apa maksud kedatangannya.” Ree masih mengingat rasa kagetnya melihat Servio yang juga berada di rumah dinas. Tubuhnya seolah terpaku dalam beberapa detik, lalu refleks begitu saja kakinya berlari dengan kencang.
“Nampaknya ia sudah masuk daftar hitam dalam hidupmu.” ucap Henny pada temannya yang masih terduduk di atas ranjang.
“Tapi Ree, aku sudah bertemu dengan ibu Servio.” lanjut Henny.
Ree langsung menoleh pada Henny dengan wajah terkejutnya.
“Apa? Kamu baik-baik saja bukan? Tidak ada yang menyakiti ataupun mengancammu, bukan?”
Nampaknya Henny harus menutup telinganya karena rentetan pertanyaan Ree itu cukup kacau.
“Hidupku tidak sedramatis itu Ree. Kami baik-baik saja, aku dan ibu Servio memiliki hubungan yang baik. Tidak seperti pikiran berlebihanmu itu.” timpal Henny heran.
“Tapi kenapa nyonya Dandelia dan kamu bertemu?” tanya Ree penasaran, bahkan ia tidak jadi pergi ke kamar mandi karena penasaran.
“Kami bertemu untuk bekerja sama agar bisa berbicara dengan Servio tentang caranya yang salah dan menyakitimu itu. nyonya Dandelia mendatangi tempat magangku dan mengatakan bahwa ia tidak ingin Servio menjadi orang jahat, karena itu aku dan nyonya Dandelia pergi ke La Priens untuk berbicara dengan Servio.”
Henny mungkin sempat kebingungan ketika Dandelia mendatanginya sekaligus merasa lega juga karena berkat itu ia bisa mengetahui keadaan sebenarnya.
“Nyonya Dandelia sepenuhnya sadar bahwa tindakan Servio itu menyakitimu, karena itu beliau tidak ingin Servio terlihat menekanmu. Kedatangan Servio ke Litore sebenarnya selain magang di luar program akademi, ia juga ingin bertemu denganmu.”
__ADS_1
Bertemu dengan Ree? Bagaimana Ree bisa yakin ketika tadi jelas-jelas Servio ingin berbicara dengan Frigid dibanding dirinya. Karena mengingat hal memalukan itu, Ree tidak terlihat senang mendengar ucapan Henny.
“Henny, kamu pasti sudah melewati banyak hal karenaku. Padahal ini masalahku dan keluargaku, sampai kamu terlibat sejauh ini… aku bahkan tidak tahu apa aku berterima kasih atau meminta maaf.” timpal Ree tidak enak. Bagaimanapun Henny sudah banyak melakukan perbuatan baik untuk Ree, sampai-sampai sempat menjadi kekasih palsu Servio hanya untuk membantu Ree.
“Apa yang kamu bicarakan? Selama itu membantumu dan aku tidak merasa rugi, aku tidak mempermasalahkannya.” jawab Henny santai.
“Jadi, apa kamu mau bertemu dengannya?” tanya Henny sekali lagi.
Raut wajah Ree dengan sekejap berubah dari memelas menjadi datar tanpa terlihat ada minat untuk topik yang satu ini.
Sejujurnya Ree masih tidak ingin bertemu dengan Servio.
Mungkin banyak yang harus dibicarakan, namun sejak awal pria itu sudah menolak untuk berbicara dengan Ree.
Justru saat ia sampai di Litore, Ree tahu alasan kedatangan pria itu ke Litore dari Henny pun tidak membuat Ree ingin berbicara lagi.
Terlebih saat ini yang ia cari bukan Ree, melainkan Frigid.
*
*
*
“Aku akan membatalkannya… pertunanganku dan Ree.” ucap Servio pada Frigid di tempat yang sama sejak tadi karena Servio tidak berminat mengajak Frigid untuk pindah tempat.
Karena Frigid sudah mendengar cerita dari Ree membuatnya tidak nampak terkejut, namun yang membuat penasaran adalah kenapa Servio setelah sekian lama keras kepala sampai Ree tidak ingin lagi bicara dengan pria itu tiba-tiba saja ingin membatalkan pertunangannya?
“Karena itu… kenalkan aku dengan orang-orang Agnus.”
Mendengar kata-kata yang berkaitan dengan kerajaan tetangga mereka itu langsung membuat mata Frigid terbuka lebar. Jelas saja kenapa menjadi lebih buruk dari pada pertunangan.
“Kamu harusnya mengerti apa yang kamu bicarakan.” ucap Frigid.
“Bukan rahasia lagi di kalangan atas tentang dirimu Frigid. Aku tahu keadaanmu dan tidak sembarangan juga orang yang tahu akan siapa dirimu sebenarnya. Tapi, aku berbicara denganmu saat ini selain pembatalan pertunanganku adalah diriku sendiri yang berniat untuk menggantikanmu menjadi selir.”
Mata Frigid turun ke arah kedua tangan Servio, terlihat bergetar di sana menunjukkan bahwa pria itu sedang mengambil keputusan yang sangat besar untuk hidupnya.
Jelas saja pria itu tidak ingin.
Lagipula, siapa yang mau hidupnya menjadi alat oleh orang lain? Bahkan Frigid yang tidak bisa kabur saja sangat membenci hidupnya.
“Jangan berbicara sembarangan Servio… berhubungan dengan orang-orang Agnus merupakan pilihan terburuk.” Itu terbukti dengan adanya Frigid saat ini.
Mungkin tidak terlihat di mata orang lain, karena hanya Frigid saja yang merasa menderita ketika hidupnya bukan milik diri sendiri.
“Aku tidak peduli saat ini dengan hidupku, aku hanya ingin menyembuhkan ibuku. Wilayah mereka memiliki obat itu dan jika aku harus membayar dengan hidupku, aku tidak mempermasalahkannya.” Mungkin tak banyak waktu untuk Servio merenungi perbuatan dan perkataannya saat ini karena berita yang sebenarnya baru ia terima sore ini.
“Apa ini? Apa yang kamu maksud?”
Betapa kecerobohan Servio ketika ia tidak mengajak Frigid mengobrol ke suatu tempat yang aman, melainkan hanya di pinggir taman yang memang sepi tanpa peduli jika ada orang yang mendengar.
Sebenarnya taman itu sangat jarang dilalui oleh orang lain, hanya saja jika kemunculan orang ketiga dari arah yang sama tempat mereka tinggal di Litore tidak bisa dipungkiri setelah mengingat sedikit keributan yang ada di rumah.
Liliana tidak akan menyangka dengan apa yang ia dengar saat menyusul ketiga orang yang saling berlarian dari rumah entah karena apa masalahnya, namun yang Liliana tahu salah satunya adalah Ree, tapi nampaknya langkahnya sudah terlalu jauh dan tidak lagi melihat Ree di pinggir taman itu melainkan kedua pria yang sama-sama tidak ia minati untuk temui berada di satu tempat dan berbicara tentang suatu topik yang bisa dikatakan sangat berat.
Baik Frigid maupun Servio sama-sama terkejut, Liliana muncul dari arah belakang Servio dengan sweater rajut hitam yang menyelimuti tubuh mungilnya menampakkan wajah yang sangat bingung ketika merespon ucapan yang hampir seluruhnya ia dengar itu.
“Liliana??”
To Be Continued.
__ADS_1