We And Problems

We And Problems
Chapter 86 : Kembali ke Litore


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Liliana nampak sudah mengemas barang-barangnya dan memastikan tidak ada yang tertinggal. Tiga hari yang lalu ia dan Servio juga mendapatkan surat dari akademi untuk kembali dari tempat magang mereka dan terlebih Servio juga mendapat surat undangan dari kerajaan untuk ikut ke pesta ulang tahun Agnesia.


Di sore itu, Ree dan Frigid akan kembali ke Litore dari Leafa.


“Mereka pasti lelah.” ucap Liliana saat menatap suasana kota Litore dari jendela kamarnya.


Liliana kembali melanjutkan pekerjaannya mengemas barang-barangnya.


*


*


“Rasanya sudah lama tidak ke sini.” ucap Ree saat ia dan Frigid sampai di rumah dinas.


Perjalanan mereka  terhitung cepat karena tiga hari diperjalanan tidak ada badai dan hal yang mengganggu lainnya.


“Hm… sama saja.” ucap Frigid acuh dan masuk ke dalam rumah dinas meninggalkan Ree yang masih di halaman.


Ree hanya bisa menghela napas saat ucapan dingin Frigid itu keluar dan ikut masuk ke dalam. Di dalam rumah sudah ada Liliana dan Servio menunggu kedatangan Ree di ruang tamu.


“Liliana!! Servio! Lama tidak bertemu!” ucap Ree senang karena melihat dua orang yang ia kenal muncul di depannya saat ia masuk.


“Ree!! kamu baik-baik saja!!” seru Liliana menghampiri Ree.


“Heeyy, aku bukan dari medan perang. Tentu saja aku baik-baik saja.” ucap Ree merasa geli dengan ucapan Liliana.


“Mengingat keadaan di sana sama saja dengan medan perang.” timpal Servio yang sejak tadi hanya diam.


“Intinya aku baik-baik saja, kalian bagaimana? Sudah berkemas?” tanya Ree.


“Tentu saja, aku sudah lama berkemas.” ucap Liliana.


“Kalian perempuan memerlukan waktu lama berkemas, sementara aku tidak perlu terburu-buru.” jawab Servio.


Itu memang wajar karena Liliana dan Ree sendiri mengakui bahwa barang bawaan mereka sangat banyak.


“Ah!! aku hampir lupa, sebentar,” ucap Liliana kembali ke kamarnya untuk  mengambil sesuatu.


“Apa kamu tahu, saat ini Smith ada di Litore.” bisik Servio pada Ree, saat ini Frigid sedang berada di dapur dan tidak mendengar. Meski begitu, Servio lebih memilih untuk berbisik saja.


“Benarkah??” tanya Ree tak menyangka.


Tak lama, Liliana datang membawa sebuah amplop surat.


“Ini untukmu.” ucap Liliana sembari memberikan amplop itu pada Ree.


Ree mengambil surat itu dengan perasaan bingungnya. Segera ia sedikit memberi jarak antara dirinya dan teman-temannya untuk membuka surat itu.


Dari pengirimnya tertulis Smith di sana.


“Liliana, Servio! Aku pergi sebentar,” ucap Ree sembari langsung pergi keluar rumah dinas tanpa mengemas barang-barangnya terlebih dahulu.


Tentu saja tindakan Ree menarik perhatian seluruh penghuni rumah itu termasuk Frigid yang baru saja keluar dari dapur.


“Dia kemana?” tanya Frigid.


“Aahh! entahlah, setelah membaca surat ia langsung pergi begitu saja.” Liliana tak bisa mengatakan bahwa yang mengirim surat itu adalah Smith dan memilih langsung pergi begitu saja.


Frigid juga tidak bisa menemukan jawaban dari Servio yang memilih tidak memandang Frigid sama sekali.


“Kamu juga tidak akan mau tahu urusan Ree, bukan begitu?” tanya Servio sebelum ia juga pergi ke kamarnya.


Mungkin terlihat seperti itu, tapi sebenarnya Frigid adalah orang yang selalu saja penasaran dengan apa yang selalu Ree lakukan.

__ADS_1


Perasaannya mengajaknya untuk pergi menyusul Ree.


Keputusan itu begitu cepat ia lakukan agar tak kehilangan jejak Ree, terlebih wanita itu pergi sangat terburu-buru. Kadang tidak bisa ditebak akan kelakuannya, hanya saja wanita itu lebih sering terlibat dengan sesuatu yang membahayakan.


*


*


Entah beruntung atau bagaimana, Frigid tak kehilangan jejak Ree saat melihat wanita itu berdiri di terminal kereta kota untuk menunggu kereta yang akan membawanya pergi ke tempat yang ada di surat.


Frigid berada di posisi yang sejauh mungkin untuk tidak terlalu dekat dengan Ree. meski ia tahu wanita itu bukan orang yang peka dengan sekelilingnya. Frigid lebih mewaspadai orang yang akan ditemui Ree.


Seperti dugaan Frigid, Ree sama sekali tidak sadar tengah diikuti. Apa yang ia pikirkan sekarang adalah isi surat yang Smith berikan padanya. Bagaimanapun juga Ree tidak menyangka Smith akan berkunjung ke Litore lagi dan ingin bertemu dengan Ree, terlebih surat ini sudah lebih dari empat hari di Liliana saat Ree berada di Leafa. Perasaan tidak enak itu memenuhi Ree, ia tidak tahu harus mengatakan apa ketika bertemu Smith.


Kereta kota yang ia tumpangi membawanya ke stasiun pinggir kota Litore. Cukup asing karena Ree tidak pernah menginjakkan kakinya di sudut kota ini, karena bukan lingkungan tempat tinggalnya. Ree mengikuti arahan di surat tentang alamat yang ia tuju dan mengarahkannya pada sebuah vila cukup besar berada di tepi laut yang lebih tepatnya bersebelahan dengan jurang yang langsung mengarah ke lautan lepas.


Sesaat Ree takjub dengan kemegahan tempat tinggal Smith itu, tapi ia memiliki kepentingan lain dan tak menunggu lama Smith tiba menghampiri Ree di depan pagar saat Ree membunyikan bel pagar itu.


“Tuan Smith, maafkan aku… aku baru saja tiba…” ucap Ree terengah-engah karena sejujurnya ia berjalan cukup cepat dan hampir berlari.


Namun ia tidak berlari karena takut dikira orang yang sedang dikejar dan malah menarik perhatian orang-orang.


“Hey, nona Ree. kamu tidak perlu minta maaf. Aku diberitahu oleh Liliana bahwa kamu pergi ke Leafa bersama Frigid. Karena itu, aku meninggalkan surat.” Suara tenang Smith perlahan membuat Ree melupakan rasa paniknya.


“Bagaimana jika kamu masuk saja dan istirahat sebentar?” tawar Smith saat melihat penampilan Ree yang cukup kacau.


Ree juga tidak bisa menyangkal bahwa penampilannya cukup buruk untuk bertemu Smith. Ia bahwa tidak sempat menaruh barang-barangnya ke kamar tadi dan langsung berlari ke sini.


“Aku tidak bisa berlama-lama, aku ke sini karena suratmu yang ingin bicara denganku terkait Frigid dan obatnya di Leafa. Seperti yang kamu tahu, semuanya tak terduga berjalan dengan lancar di sana.” Ree menceritakan apa yang terjadi di Leafa dan tentang bagaimana Frigid akhirnya memutuskan untuk menjalani pengobatan.


“Jadi, ia sudah lepas dari obat itu?” tanya Smith seolah tak percaya dengan yang Ree beritahu padanya.


“Aku tidak bisa mengatakan sepenuhnya, namun perkembangan dalam peralihan obat menampakkan hasil yang bagus, meski sebenarnya kami kembali cukup cepat ini mengganggu proses pengobatan. Bagaimanapun juga, kami tidak bisa bertindak sembarangan dan mencolok.” Ree menyesali keputusan untuk kembali dari Leafa lebih awal dari yang direncanakan.


Smith tersenyum, niatan Ree untuk membantu adiknya benar-benar luar biasa. Smith tidak bisa melakukan apa-apa tanpa Ree dan kabar yang Ree berikan adalah kabar yang paling baik ia dengar akhir-akhir ini.


“Anda terlalu melebih-lebihkan tuan Smith, aku tidak berbuat banyak.”


“Smith?”


Di ujung pembicaraan Ree dan Smith tak terduga Bianca muncul dari arah dalam vila memanggil Smith karena sejak tadi Bianca melihat Smith begitu terburu-buru pergi ke gerbang depan dan menemui seorang anak perempuan di sana. Di mata Bianca yang melihat interaksi itu melalui jendela cukup dibuat penasaran karena Smith nampak membicarakan sesuatu yang serius.


“Ah, ibu…”


Smith sendiri tidak menyadari bahwa ibunya akan datang menghampirinya dan Ree saat tengah berbicara.


Mata Bianca sekilas melihat Ree dan kembali ke Smith untuk bertanya siapa yang ia temui. Melihat Ree dari ujung ke ujung dengan rasa penasaran sembari menempel ke putra sulungnya.


“Apa ia kekasihmu?” bisik Bianca dan sedikit terdengar oleh Ree.


Bianca sendiri juga tak menyangka bahwa Smith menjalin hubungan dengan seorang wanita yang nampak ‘cukup’ berantakan saat ini.


Ya, Ree juga merasa canggung dengan situasi dimana ia terlihat cukup berantakan saat ini, kemeja coklatnya nampak lusuh dan anak-anak rambutnya berdiri terlebih wajah tanpa riasan yang cukup kusam itu menambah poin plus.


“Aahh… dia, bukan begitu ibu… perkenalkan ia adalah salah satu putri dari keluarga Lumen.” Smith memperkenalkan Ree pada Bianca yang masih penasaran tentang siapa Ree sebenarnya.


“Perkenalkan saya adalah Ree Iunae Lumen.” Akhirnya Ree membuka suaranya.


“Beliau adalah ibuku.”


Jangankan Ree, apa yang dilihat mata Frigid saat ini meski ia berada di jarak yang cukup jauh untuk mengintip juga terasa mengejutkan. Tidak pernah Frigid menyangka akan pertemuan Ree dengan ibunya.


“Lumen? Apa ia adik Luceat?” setahu Bianca, Smith berteman baik dengan Luceat dan sering terlibat dengan keluarga Lumen.


“Lebih tepatnya adik sepupu.”

__ADS_1


“Oh? Benarkah? apa kamu tidak ingin masuk dan makan malam bersama saja?” tawar Bianca pada Ree.


Ajakan itu mendadak, Ree juga tidak menyangka jika ibu Smith adalah orang yang cukup santai.


“Saya mengapresiasikan ajakan anda nyonya, namun saat ini sudah ada yang menunggu saya untuk segera kembali.” ujar Ree yang sebenarnya berbohong.


Ree sendiri juga tidak enak diajak makan malam saat penampilannya cukup berantakan.


“Sayang sekali… kalau begitu aku akan meminta Smith mengajakmu berkunjung lain kali. Aku kembali dulu…” Bianca pun berpamitan dengan Ree, meninggalkan Smith dan Ree berdua di depan gerbang.


“Kamu benar-benar terburu-buru?” tanya Smith penasaran.


Ree tersenyum.


“Seperti itulah, setidaknya aku sudah menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Sampai jumpa tuan, aku pamit dulu.”


Awalnya Smith menawarkan dirinya untuk mengantar Ree, setidaknya sampai stasiun. Namun perempuan itu menolak dan lebih baik Smith segera kembali ke kediaman untuk tidak menimbulkan kecurigaan berbagai pihak.


Tak lama setelah Ree pergi dari vila keluarga Cali, Smith masih berdiri di depan gerbang sampai melihat punggung perempuan itu tidak lagi nampak di matanya, barulah Smith berniat untuk kembali ke dalam.


Namun, sebelum ia masuk ke dalam vila. Suara sepatu yang berjalan mendekat begitu menarik perhatiannya. Tidak mengejutkannya karena Smith merasa mengikuti Ree adalah hobi baru yang dimiliki Frigid saat ini.


“Apa kamu menikmati hobi barumu ini?” tanya Smith sembari tersenyum tipis seolah mengejek perbuatan adiknya yang dalam satu waktu lucu juga menyebalkan.


“Jangan bertele-tele, apa hubunganmu dengan Ree? Hubungan kalian berdua sama sekali bukan sesuatu yang dilihat baik.” Begitu juga anggapan Frigid tentang Smith dan Ree, dalam satu waktu mencurigakan dan akrab untuk ukuran baru mengenal.


“Pertanyaanmu seolah mengatakan tidak ada yang boleh menjalin hubungan baik dengan Ree. apa kamu semacam kekasihnya? Ahh!! Iya aku hampir lupa. Kamu tidak bisa memiliki hubungan semacam itu.” sifat usil Smith secara naluriah keluar begitu saja untuk menggoda Frigid. Membuat adiknya kesal adalah suatu kesenangan tersendiri.


Benar saja, wajah Frigid langsung berubah. Wajah yang selalu minim emosi itu, menjadi berkerut dan cukup merah, seolah semua darahnya naik ke atas kepala.


“Kamu terus-menerus seperti ini, menjadi tunduk dengan perbuatan ayah. Apa kamu berniat menyakitinya?”


Meski Frigid tahu bahwa Smith juga mencari tahu tentang obat alternatif Frigid, sepenuhnya Frigid belum bisa memercayai orang seperti Smith. Karena setahunya Smith juga tidak bisa melawan kehendak ayah mereka.


Smith terkekeh, nampaknya sosok dirinya di mata Frigid tidak pernah berubah.


“Matamu itu… seberapa kecil dunia dan orang-orang yang kamu lihat? Kenapa pandanganmu terhadapku sebatas itu? Aku hanya melakukan sesuatu yang menguntungkanku saja. Sesuatu yang menguntungkan itu, belum tentu membuat senang orang-orang disekitarku.”


Smith tidak peduli bila tindakannya terlihat tidak menguntungkan untuk orang disekitarnya terlebih pada seseorang yang selalu melihat dunia dengan sangat kecil seolah dunia ini cukup buruk untuk dirinya sendiri itu.


Sore itu Frigid kembali ke rumah dinas dengan perasaan yang campur aduk. Anehnya ada titik emosinya yang membuatnya enggan mengakui bahwa ia cukup dibuat marah ketika melihat interaksi antara Ree dan ibunya. Dirinya sendiri sudah cukup lama tidak bertemu muka dengan ibunya, sementara seseorang asing seperti Ree, meski dengan ketidaksengajaan pertemuan itu terjadi, tetap saja titik emosi itu malu diakui bahwa Frigid cemburu dengan Ree yang bertemu dengan ibunya.


*


*


Rasa mendesak tak hanya dirasakan Frigid seorang, dengan memiliki kepentingan lain pihak ayah Smith juga terdesak. Tanpa mengetahui niatan kepergian istrinya dan Smith Leonard pergi menemui seseorang yang cukup penting dalam negeri mereka, yaitu putra mahkota Joan.


“Akhir-akhir ini saya jarang melihat Smith mondar-mandir di ibukota.”


Pertemuan itu dilaksanakan keduanya di sebuah restoran mewah yang menyediakan tempat privat untuk para pengunjungnya. Tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan, pangeran Joan hanya melaksanakannya sewaktu kegiatan makan malam rata-rata dilakukan oleh orang-orang hingga membuat restoran yang mereka pesan ini cukup ramai namun keramaian itu tidak mengusik kesunyian ruangan yang menjadi tempat pertemuan keduanya bersama masing-masing sekretaris mereka.


“Ada beberapa tindakannya tidak selaras dengan kita. Saat ini saya hanya membiarkannya pergi bersama ibunya saja.” ucap Leonard saat ia sudah duduk di hadapan putra mahkota.


“Tentang tempat itu, saat perayaan ulang tahun ratu Agnesia. Ia akan segera menandatangani surat-suratnya dan melimpahkan kekuasaan tempat itu padamu. Begitulah kesepakatan yang ia bicarakan padaku.” ucap Joan pada Leonard terkait sebuah lokasi tambang permata di kerajaan Agnus sembari menyerahkan selembar denah lokasi pada Leonard.


“Dengan kekuasaan itu, otomatis tambang itu akan banyak menghasilkan. Bahkan lebih dari yang dibayangkan. Hanya saja, satu syarat yang sebenarnya sederhana. Asal putra bungsumu tidak bertingkah dan membuat ratu marah.”


Leonard juga tahu itu. untuk menggapai sesuatu yang besar, juga dibutuhkan sebuah pengorbanan yang setimpal.


Bahkan tidak ragu untuk mengorbankan putranya.


Semua tak lain hanya untuk memperkuat keluarga Cali dengan berbagai kekuasaan dan materi.


“Anda tak perlu khawatir, Frigid tahu apa yang sudah menjadi tugasnya. Saya hanya sebagai salah satu pendukung takhta anda saja.”

__ADS_1


Mungkin tidak dalam waktu dekat dimana Joan menggantikan posisi ayahnya sebagai seorang raja. Dalam benaknya, banyak sekali yang harus dipersiapkan. Tak semata menjadi penengah antara konflik yang pernah terjadi dengan kerajaan Agnus di masa lampau, Joan memiliki prinsipnya sendiri dalam memimpin dikemudian hari.


To Be Continued


__ADS_2