We And Problems

We And Problems
Chapter 41 : Hancurnya Pertunangan


__ADS_3

Ini seperti suatu langkah besar bagi Henny, ia merasa apa yang sedang ia lakukan adalah sebuah kenakalan terbesar yang ia lakukan selama ia hidup sampai saat ini.


“Kamu tahu, kita tidak bisa mundur lagi.”


Pria yang ada di sampingnya mengatakan tanpa menatap wajah Henny. Tanpa ragu Henny mengalungkan lengannya pada lengan Servio. Tindakan berani Henny cukup mengejutkan Servio namun ini adalah Henny, bukan Ree yang akan takut dan ragu untuk menyentuh dirinya.


Malam ini, kembali di adakan pertemuan keluarga Florence dan Lumen untuk merencanakan pernikahan Servio dan salah satu sepupu Ree lebih matang lagi. Namun Servio tetap pada pendiriannya yang tidak ingin diatur begitu saja terutama dalam hal pernikahan yang menurutnya sangat konyol seperti ini.


“Aku sadar dengan apa yang akan aku hadapi. Percayalah, setelah kita masuk. Ini tidak akan mudah.” ucap Henny.


Beribu kali dalam hati, Henny mengucapkan maaf karena merusak rencana pertunangan keluarga sahabatnya, namun bantuan ini bukan semata tanpa alasan Henny memberikannya begitu saja pada Servio. Ia tahu, Ree tidak akan tega merusak kebahagiaan keluarganya, namun tidak bisa juga mengelak untuk memberi bantuan pada Servio setelah apa yang Servio berikan pada Ree.


Keduanya kompak melangkahkan kaki masuk ke dalam restoran. Semua rencana sudah tersusun rapi di kepala, sisanya hanya perlu bertindak. Masalah lancar atau tidak itu menjadi urusan belakang. Servio dan Henny sama-sama tidak berniat untuk mundur.


“Servio kamu sudah tiba!” ucap tuan Florence atau ayah Servio.


Awalnya semua orang di dalam meja yang sama senang melihat kehadiran Servio yang sudah mereka tunggu. Namun, menjadi berubah air muka dengan kompak ketika sadar bahwa ada sosok di belakang yang mengikuti Servio masuk.


“Servio? Siapa dia?” tanya seorang wanita paruh baya yang duduk di samping ayah Servio tak lain merupakan ibunya.


Ia menanyakan kehadiran Henny di hadapan mereka. Siapa dia? Kenapa ia datang di acara keluarga yang bersifat privat seperti ini?


“Dia adalah Henny. Kekasihku.”


Tanpa ragu bahkan untuk diam sejenak. Servio menjawab dengan lancar. Ia tidak peduli bagaimana perasaan orang-orang dihadapannya bahkan pada calon yang akan ditunangkan dengannya, yaitu Brina.


Gebrakan meja tak dapat dihentikan dan itu berasal dari kemurkaan kepala keluarga Florence ketika harus menghadapi salah satu putranya yang bertingkah seperti ini. membuat seluruh orang di ruang pribadi itu terkejut dan terdiam. Servio menghadapi dengan wajah datarnya seolah ia tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Henny tersentak kaget namun ia tidak nampak gentar.


“Wanita mana yang kamu bawa untuk ikut kegilaanmu?!” naik turun dada tuan besar Florence melihat tingkah Servio hingga istrinya meraih lengan suaminya agar tidak melempar gelas anggur ke wajah Servio di depan semua orang.


“Sayang!! Te-tenanglah…”


“Bagaimana aku bisa tenang jika putraku datang dengan mempermalukan wajah keluarganya seperti ini!!?”


Henny tahu perbuatannya dan Servio semacam hal gila, ia melihat wajah merah ayah Servio. Tangannya hanya menggenggam erat lengan Servio yang diam sedari tadi tanpa sedikitpun ekspresinya menunjukkan ketakutan ataupun semacamnya.


“Tu-tuan Florence, saya tahu ini mengejutkan namun tenanglah dulu.” sambut Angues ikut menahan ayah Servio.


Tiba-tiba Leona, ibu Ree bangkit berdiri dan menghampiri Henny. Wajahnya bingung sekaligus terkejut, belum lama ini mereka bertemu dan Henny mengaku tidak terlalu mengenal Servio, namun malam ini hadir sebagai kekasih Servio.


“Apa yang sebenarnya terjadi Henny?” tanya Leona.


Baru saja Henny ingin menjawab, mulutnya sudah di halangi oleh lengan Servio.


“Nyonya Lumen, ini mungkin mengejutkan semua orang. Namun seperti yang anda lihat, saya tidak bisa mengikuti pertunangan ini karena saya sudah memiliki kekasih yang ingin saya nikahi. Terlepas dari saya mengenal Henny, sudah sejak lama. Namun situasi akhir-akhir ini membuatnya tertekan.” ucap Servio sembari melempar tatapan lembut pada Henny yang awalnya tersentak akibat bingung karena yang ia hadapi adalah ibu dari sahabatnya, Ree. Akan tetapi, kembali ke awal. Kehadiran Henny bukan semata menghancurkan acara pertunangan Servio dengan Brina, melainkan membalas perbuatan Servio dan ia mewakili Ree untuk melakukannya.


Dalam hati, Henny beribu kali mengulang kata maaf untuk Ree karena membuat kedua orang tuanya terkejut akan kehadirannya dengan cara seperti ini.


“Bibi, sudah ku duga ada yang aneh.” Tiba-tiba Luceat bangkit berdiri.


Melempar tatapan tajam pada Servio dan Henny. Seringaian tipis terukir di bibirnya seolah mengetahui sesuatu di balik hubungan Servio dan Henny.


“Kakak!?” Brina ikut bangkit berdiri menahan kakaknya agar jangan memperkeruh suasana dan malah menghancurkan restoran akibat kemarahan yang tidak diperlukan.


“Brina, lepaskan. Biar aku bicara pada mereka berdua.” ucap Luceat melepaskan genggaman adiknya di lengan kirinya lalu maju menghampiri Servio dan Henny.

__ADS_1


Henny yang sudah mengetahui cerita dari Servio mengenai Luceat tidak akan membiarkan pria itu menghancurkan rencana yang sudah Henny dan Servio lakukan.


*


*


*


Sempat terpikirkan bahwa akan ada hari dimana ia akan diperlakukan seperti ini. Ree ingin menangis dengan alasan bahwa ia sedang ketakutan saat ini. Namun ia tidak dapat menarik tangannya menjauh dari jari-jari yang sibuk melilitkan perban bersih di tangannya. Bukan menahan sakit karena tak diperlakukan baik, melainkan karena kelemahan diri yang terus menghalanginya selama hidup.


“Berhentilah menghadap ke sana, kamu ingin membuat perbannya berantakan?”


Bagaimana mungkin Ree dapat menerima dimana ia diomeli Frigid seperti ini. seperti yang dikatakan Frigid, bahwa posisi Ree adalah hampir membelakangi Frigid dan tidak ingin melihat pria itu menyentuh tangannya. Belum lama mereka saling bersitegang dengan kegeraman Ree terhadap tingkah seenaknya Frigid.


“Diam dan cepat selesaikan atau aku yang akan menyelesaikannya sendiri.”


Tidak akan berjalan bagus jika satupun dari mereka tak mau mengalah.


Hanya butuh waktu singkat bagi Frigid menyelesaikan pekerjaannya. Kini Ree sudah duduk dalam posisi normal dan menghadap pria yang sedang menyusun peralatan yang sudah ia gunakan untuk mengganti perban Ree.


“Apa kamu benar-benar tidak ingin mengatakan alasannya? Aku tahu kamu bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan kuat.” Ree tidak dapat membiarkan dirinya seperti orang bodoh yang mau saja diperlakukan seenaknya oleh pria seperti Frigid.


“Aku hanya memastikan melakukan tanggung jawab dengan baik. Di antara semua murid hanya kamu yang terluka dan terkena racun.” jawab Frigid.


“Kamu pikir aku akan puas dengan jawaban tidak berakar seperti itu?” ucap Ree curiga. Mata Ree takut berani mencari jawaban dengan melihat wajah Frigid yang jarang mengeluarkan ekspresi selain wajah sedatar dinding es itu.


“Aku yang menyarankan untuk menggunakan racun itu.” ucap Frigid setelah lama Ree menatap wajahnya untuk mencari jawaban.


Apa Ree harus terkejut, rasanya bingung mencurigai tindakan Frigid karena racun yang mereka gunakan wajar-wajar saja karena memang itu salah satu fungsinya.


Ada alasan lain yang tidak dapat Frigid katakan. Seperti yang Ree nilai dari Frigid, ia bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Meski harus membuat dirinya menjadi manusia terkesan plin-plan seperti ini.


Frigid tidak akan membiarkan orang-orang Agnus bahkan Smith untuk menyentuh Ree yang mana tidak ada masalah yang berkaitan dengan mereka.


“Bahkan jika bukan kamu, aku akan tetap melakukan ini.” timpal Frigid dengan dinginnya.


Ree terdiam, ia protes bukan karena terlalu percaya diri. Namun merasa aneh jika orang seperti Frigid mau datang padanya seperti ini.


“Apa-apaan itu…”


Kini perasaan Ree sedikit malu. Tindakan ambigu penuh tanya Frigid membuatnya sedikit lengah.


“Lalu, apa kamu sudah menentukan tempat magang?” tanya Ree lagi.


Kembali lagi, apa-apaan pertanyaan basa-basi yang tidak perlu itu.


Frigid tidak menjawab dan memilih bangkit berdiri berniat pergi dari tenda setelah ia mengembalikan kotak peralatan ke tempat yang semula.


“Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu itu.”


Bagaimana mana bisa tercetak pria dengan watak seperti ini, acuh tak acuh dengan sifat yang bisa saja membekukan mulut orang-orang sekitar. Apa sekedar ingin tahu menjadi hal yang tidak bisa ia katakan pada Ree?


“Jika begitu ada satu lagi yang akan aku katakan padamu.” Sekali lagi Ree menghentikan langkah Frigid.


“Apa itu?” tanya Frigid.

__ADS_1


Entah mengapa Ree tidak bisa membiarkan dirinya diam ketika tahu ada sesuatu yang bisa ia katakan pada orang-orang di sekitarnya jika menyangkut mereka.


“Racun Antiaris toxicaria yang kita gunakan hari ini, memiliki sesuatu yang berkaitan denganmu.”


Frigid masih diam menyimak Ree untuk melanjutkan perkataan perempuan itu selanjutnya.


“M-mungkin kamu tidak peduli, aku hanya memberi informasi yang aku ketahui. Bahwa racun yang ada di pohon itu juga sama dengan apa yang kamu konsumsi selama ini.”


Suasana tak lain adalah canggung dan senyap, Ree masih merangkai kata dan ingin kembali melanjutkan penjelasan yang ia ketahui.


“Ka-kamu tahu, itu dapat menjadi alternatif untukmu.” Akhirnya Ree menyelesaikan keseluruhan kalimat panjangnya dengan kaku dan canggung. Ekspresi Frigid yang datar itu hanya menatap lurus ke arah Ree tanpa merespon.


Meski begitu, ada secercah rasa lega menghujani perasaan Ree ketika rasanya tuntas menyelesaikan permasalahan terkait Frigid dan obatnya. Jadi setelah ini tak perlu lagi baginya untuk memikirkan hal itu di hari-hari selanjutnya.


Tentang keputusan yang akan di ambil Frigid, itu merupakan kehendaknya bebas memilih. Ree tidak bisa mengganggu gugat hal itu.


“Ree!! Bagaimana keadaanmu- tunggu dulu, Frigid?!”


Kesunyian Frigid dan Ree tak lama dipecahkan suara cukup nyaring dari luar yang tiba-tiba saja menyibak pintu masuk dan memperlihatkan beberapa orang hadir ke tenda kesehatan.


“Liliana! Maglina! Marco?!”


Terperanjat kaget Ree melihat siapa-siapa saja yang datang menjenguknya.


“Kami hanya bicara sebentar.” jawab Frigid singkat lalu pergi meninggalkan tenda tanpa merespon kata-kata Ree sebelumnya.


Memaklumi, hanya itu yang dapat Ree lakukan. Ia tidak punya hak lebih lanjut dan hanya membagi apa yang ia ketahui.


“Benarkah? Tumben sekali melihatnya berbicara denganmu berdua.” Liliana rasanya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Sebenarnya bukan lagi tumben bagi Ree, ia cukup sering bicara dengan Frigid hanya saja tidak ada yang tahu dimana dan kapan mereka melakukannya. Semuanya seolah tertutup dan memang sengaja demikian. Terlalu banyak masalah dirinya dan Frigid hingga membuat Ree tak jarang sakit kepala.


“Daripada itu, Ree apa kamu baik-baik saja? Perbanmu sudah di ganti?” tanya Marco khawatir.


Ree dengan senyum ringannya menunjukkan telapak tangannya sudah dililit perban yang baru dan bersih.


“Aku sudah menggantinya. Tenanglah kalian, aku tidak apa-apa.”


“Syukurlah, akan infeksi jika kamu tidak mengganti perban. Siapa yang membantumu?” tanya Maglina mengambil duduk di depan Ree, sementara Liliana dan Marco kompak mengambil tempat di sisi kanan-kiri Ree.


“Hahaa, tidak ada. Aku sendiri yang melakukannya.” Ree tentu tidak akan mengatakan siapa yang melilitkan perban baru di tangannya karena tidak penting baginya untuk memberitahu siapa.


“Namun jika tidak ada tuan Syricie yang memberikan pertolongan pertama pada Ree, kamu tentu saja akan dalam kondisi kritis.”


Marco mengangguk setuju, ia tahu Syricie seorang dokter karena telah menolong Ree di tengah hutan. Berkat jasanya karena mengetahui cara pertolongan pertama terhadap racun, Ree dapat melewati masa kritisnya di dalam hutan dan di bawa ke perkemahan dalam kondisi yang cukup stabil hingga tidak perlu bagi Ree untuk kembali ke asrama di malam hari.


“Kamu benar, aku akan berterima kasih padanya sebelum ia kembali ke Agnus.” timpal Ree.


Menyampingkan perasaan yang tidak nyaman tadi, Ree tidak bisa membiarkan Syricie pergi tanpa ia mengucapkan rasa terima kasih karena telah menolongnya di dalam hutan tadi.


Mungkin bagi orang lain, Syricie adalah dokter yang baik. Seorang tamu yang bersedia membantu seorang murid perempuan yang sedang terluka. Namun berbeda lagi dengan pandangan Frigid yang baru saja beberapa langkah keluar dari tenda kesehatan. Dua orang tak asing baginya berdiri seolah menunggunya.


Angin dingin menghujam area perkemahan persis seperti wajah Frigid ketika berhadapan dengan Smith dan Syricie. Seringaian tipis Smith menyambut kedatangan Frigid, seolah bertanya apa yang baru saja ia lakukan di dalam tenda sama sekali bukan seperti dirinya yang mempedulikan orang-orang di sekitar.


 

__ADS_1


To Be Continued.


__ADS_2