
Chapter 25 Hidup yang bukan milik diri sendiri
Malam yang sangat sunyi.
Ketika hanya ada suara-suara alam yang mengisi. Sedikit terang karena bulan sabit sedang ada di atas langit membuat sedikit cahaya bulan menembus jendela yang terbuat dari kaca itu menembus sampai ke dalam dan menimpa wajah Ree yang tidak bisa tertidur sejak tadi.
Penyebabnya adalah kecemasan yang berlebihan ketika sadar bahwa ia tidak sendiri di dalam pondok di tengah-tengah hutan itu. Seseorang bersamanya, sedang terlelap dengan tenang di seberang ruangan dan dekat dengan perapian, sementara Ree benar-benar menjauhi semampunya memilih sisi ruangan yang lebih dingin di dekat jendela.
Perdebatan antara dirinya dan Frigid tidak berlangsung lama karena keduanya sama-sama lelah.
Sampai detik ini, Ree tidak mengerti apa yang dipikiran Frigid.
*
*
*
Jauh dari hutan dimana Ree dan Frigid berada, tepatnya di satu titik wilayah yang berdekatan dengan ibu kota. Sebuah kota makmur yang dipimpin oleh suatu keluarga kuat dalam banyak aspek. Mansion yang kokoh berdiri di lahan yang cukup luas dan dikelilingi pagar besi tinggi di sekitar mansion itu.
“Surat pemberitahuan kunjungan sudah tiba.”
Seorang kepala pelayan pria masuk ke suatu ruangan besar berisi berbagai rak buku, meja serta kursi dari pemilik ruangan itu yang membelakangi jendela ruangan.
Surat yang dimaksud langsung di letakkan pada meja dimana pemiliknya sedang mengerjakan beberapa dokumen yang harus ia selesaikan.
Pria pemilik ruangan itu adalah Leonard Cali yang tak lain merupakan kepala keluarga Cali berstatus Duke dan ayah kandung dari Frigid.
“Nampaknya mereka diantara tidak sabar dan tidak percaya. Apa keluarga Northway sudah diberitahu?” tanya Leonard ketika membaca surat dari luar kerajaan itu. jelas sekali terlihat dari simbol stempel kerajaan Agnus.
“Akan segera saya kirim pemberitahuannya dan pada tuan muda di akademi.” ucap sang pelayan.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk. Rambut hitamnya nampak sudah hampir tertutup uban namun tidak menambah wibawanya sebagai seorang pemimpin dan kepala keluarga.
Keputusannya terkait Frigid bukanlah semata diambil dalam waktu singkat. Sejak kecil, Frigid berbeda dengan para saudaranya di rumah. Tubuhnya lemah sejak lahir dan seringkali sakit-sakitan.
Hingga datang hari itu.
Hari dimana pertemuan pertama Frigid dengan seseorang.
Seseorang yang tiba-tiba saja mengubah alur hidup seorang Frigid.
*
*
*
“Aku akan memberinya pengobatan agar dia sehat, namun syaratnya berikan putramu padaku.” Leonard bahkan tidak tahu apa itu bentuk kemurahan hati seseorang bangsawan.
“Ayah, aku tidak mau pergi dari rumah. Uhuk! Uhuk!.”
Bagaimana bisa Leonard membiarkan seorang anak berumur 10 tahun menjadi selir.
“Sayang! Apa kamu tega membiarkan Frigid diambil olehnya?! Ia bahkan lebih tua dari ibunya sendiri!”
Berapapun protes yang dikeluarkan oleh istrinya terpaksa Leonard tidak mendengarnya sedikitpun.
“Mohon tunggulah ia sampai cukup dewasa.”
Agnesia Dio Elevern seorang kaisar wanita dari sebuah kerajaan luas bernama Agnus. Wilayah kerajaan Agnus yang bersebelahan dengan Pulchra seiring dengan berjalannya waktu membuat hubungan kedua kerajaan cukup akrab dengan banyak persyaratan dan bayaran.
Agnus memiliki banyak sumber alam yang melimpah, sementara Pulchra memiliki teknologi dan sumber daya manusia yang berkualitas. Lalu tiba pada saat pemerintahan Agnus berubah pada masa seorang kaisar wanita bernama Agnesia yang sudah muak dengan sistem pemerintahan lama Agnus dimana korupsi merajalela membuat ia merombak seluruh awak dalam kapal pemerintahannya. Bahkan hasil sumber daya Agnus yang awalnya mudah di dapatkan oleh kerajaan lain berhasil ia kontrol penuh pengeluarannya dengan biaya yang setimpal.
Kaisar Agnesia mulai mencari orang-orang di penjuru kerajaan bahkan sampai ke luar wilayah kekuasaannya untuk bekerja di bawah kekuasaannya. Orang-orang pintar, berkualitas, tidak memikirkan diri sendiri ia kumpulkan sejak awal pemerintahannya.
Bahkan termasuk pria pendampingnya.
Karena Agnesia memutuskan untuk tidak menikah dengan siapapun dari negerinya. Keputusannya bukan semata ia ambil begitu saja karena mempertimbangkan aliran darah yang lebih kental dari air.
Agnesia mengumpulkan beragam pemuda dari luar kerajaan tentu saja dengan syarat yang sangat menguntungkan bagi kerajaan luar yang bisa mengirimkan pria. Dengan sumber daya alam yang Agnus miliki, tidak ada yang bisa mengalahkan mereka kecuali satu kerajaan yaitu Pulchra.
Pulchra merupakan kerajaan seimbang, mulai dari sistem pemerintahan sampai pada sumber daya manusia. Kerajaan Pulchra memiliki bentang alam yang luas dimana banyak ragam hayati dapat dimanfaatkan.
Kaisar Agnesia tidak tertarik dengan sumber alamnya, melainkan manusia di dalamnya. Kerajaan luar seringkali mengirim para anak-anak muda untuk menempuh pendidikan di Pulchra, mulai dari bangsawan kecil hingga tak jarang keluarga kerajaan termasuk Agnus.
Hingga suatu hari dimana Agnesia tengah mengunjungi Pulchra, tepatnya di kota Crystallo. Ia bertemu dengan Frigid muda yang masih berusia 10 tahun. Berada di tengah taman bunga sembari dipayungi oleh pelayannya di sekitar. Bocah laki-laki itu tengah membaca buku yang cukup rumit dipahami untuk anak seusianya, yaitu strategi perang.
“Aku tahu obatnya, asalkan anda memberikannya padaku ketika ia sudah sembuh.”
“Frigid, dengar ayah baik-baik. Mulai saat ini kamu akan bersiap untuk menjadi selir kaisar Agnesia.”
Tepat usianya menginjak 14 tahun, Frigid mengetahui jalan hidupnya akan seperti apa. Hal itu lebih mengejutkan dari pada ia menebak bagaimana masa depannya. Semua orang di dunia mungkin bertanya-tanya akan jadi apa mereka kelak dan menanti-nantikannya, namun hati Frigid muda nampaknya lebih dulu hancur lebur ketika mengetahui fakta kenapa ia dibiarkan hidup.
*
*
*
Ree membuka matanya tiba-tiba. Melihat sekeliling langit pondok tempat ia tidur malam ini dan menatap jendela kayu yang menampakkan suasana diluar masih sangat gelap.
Jelas, Ree mendapat mimpi buruk membuatnya terbangun. Mungkin karena tempat tidurnya tidak senyaman di asrama atau tenda kemah. Perlahan wanita itu bangun dari tidurnya dan menduduki diri sembari meregangkan tubuh. Ia perlu air untuk membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering. Ree pun memutuskan untuk keluar dari selimutnya dan berjalan menuju meja tempat teko keramik berisi air.
Ree menuangkan air pada gelas stainless dan menegak habis air itu. matanya melihat lilin yang ia hidupkan di atas meja semakin pendek dan sebentar lagi habis membuatnya memutuskan untuk menghidupkan lilin baru. Ree bergegas menuju ransel yang ia letakkan di samping tempat tidurnya, merogoh ransel itu perlahan agar tidak menimbulkan suara gangguan karena ada seseorang yang terlelap nyenyak bersamanya di pondok ini.
Lilin di atas meja itu, ia turunkan ke lantai membuat seluruh lantai pondok sedikit terang dan menampakkan tubuh seorang pria di sisi lain pondok sedang terbaring dan mendengkur halus.
__ADS_1
Frigid tidur dengan tenang, pikir Ree.
Tidak seperti dirinya, Ree merasa iri dengan Frigid yang dapat tidur nyenyak. Mimpi buruknya adalah dikejar beruang tadi siang, membuat Ree sulit memejamkan matanya kembali karena degup jantungnya masih di atas normal.
Mungkin ia bisa menunggu sedikit lebih lama dalam menenangkan pikirannya.
“Maa..maa.”
Jantung Ree kembali dikejutkan oleh suara rendah yang mana berasal dari seorang pria yang tengah tertidur saat ini.
Apa Frigid mengigau? Pikir Ree.
“Ughh…”
Wah! Nampaknya bukan Ree sendiri yang mendapat mimpi buruk. Pikir Ree setelah melihat Frigid dengan suara-suaranya saat pria itu sepenuhnya sedang tertidur. Perlahan langkah Ree mendekat pada sisi dimana Frigid berbaring.
Samar-samar Ree dapat melihat kulit pucat Frigid yang mengeluarkan banyak keringat hingga membuat baju dan rambut pria itu basah.
Apa Ree harus bangunkan?
Jangankan menyentuh, melihat dalam jarak normal seperti ini saja Ree sudah was-was setengah mati.
Tetapi Ree sedikit penasaran, pria keras kepala ini kira-kira sedang memimpikan apa sampai-sampai terlihat sangat tidak nyaman.
“Fi-.”
“Mm..maa…pergi…”
Hampir saja jantung Ree jatuh dari tempatnya karena terkejut mendengar suara Frigid tiba-tiba, terlebih pria itu berbicara ketika ia tidur. Ree bahkan sempat mundur dan mengusap dadanya serta menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Tanpa diduga, Frigid seolah tertarik kembali ke dunia nyata dan melirik seorang wanita yang duduk di samping kepalanya dengan wajah pucat dan sedang sibuk menenangkan diri.
“Kenapa kamu ada di sini?”
“Huaa!!! Aghh!!”
Dua kali Ree terkejut malam ini dan mendapat benjolan di kepalanya karena menabrak sudut meja karena mundur mendadak akibat terlalu terkejut dengan suara serak Frigid yang tersadar dari tidurnya.
Ree ingin menangis saat ini, benar-benar ingin menangis menahan sakit dan jantungnya yang belum tenang sama sekali. Ia tidak ingin mengatakan bahwa semuanya adalah salah Frigid, namun jika tidak karena memastikan keadaan rekannya itu, tidak mungkin Ree bisa mendapatkan rasa sakit.
“He-hei, apa kamu baik-baik saja?” sontak Frigid langsung terbangun.
“Aku mendengarmu mengigau, aku pikir akan membangunkanmu, Huhu.” Ree rasa ada sedikit goresan di kulit kepalanya dan membuat luka itu terasa sangat perih.
Seperti yang Frigid tahu, Ree pasti tidak berani menyentuhnya karena ketakutan wanita itu dan malah diam memperhatikan Frigid tidur.
Entah kenapa Frigid merasa harus minta maaf meski ia tidak tahu letak kesalahannya dimana.
“Ta-tapi syukurlah jika kamu bisa bangun. Tadinya aku akan menggunakan gagang sapu tapi aku rasa tidak sopan. Aku tidur dulu, selamat malam Shh.” Ree berdiri perlahan sembari mengusap kepalanya yang terkena benturan dan kembali ke tempat ia tidur semula.
Tujuan awalnya menghampiri Frigid memang untuk membangunkan pria itu agar tidak mengigau, karena tujuannya sudah terpenuhi secara tidak sengaja, Ree pikir selesai sudah dan ia bisa melanjutkan tidurnya karena besok adalah hari sibuk mereka.
Suasana hatinya sedang buruk dan tidak ingin memikirkan hal lain. perlahan ia merogoh saku tasnya dan mengambil sebotol kecil berisi bubuk berwarna putih. Lama ia menatap botol dengan bubuk putih yang sudah setengah di dalam botol kaca seukuran jengkalnya.
‘Mulai hari ini minumlah obat ini sekali sehari agar kamu tidak jatuh sakit.’ Ucapan itu berasal dari ayahnya ketika pertama kalinya Frigid menerima pemberian wanita itu untuk mempertahankan dirinya agar tetap hidup. Sejujurnya Frigid amat membenci kehidupannya yang bergantung pada suatu benda.
Kini, kehidupan Frigid terasa bukan lagi miliknya melainkan orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Makna Cali di belakang namanya terasa bukanlah seperti keluarga, ia merasa seperti dijual untuk orang lain setelah keluar dari rumah itu. lagipula mereka tidak akan memusingkan penerus karena ada kakaknya dan saudara-saudaranya yang lain.
Setidaknya, pelariannya ke La Priens tidak ingin Frigid kacaukan tentang kehidupan damai sementaranya.
Iya, hanya di La Priens Frigid sedikit merasa bebas dari tekanan yang ia rasakan, tidak peduli persiapannya menjadi seorang selir untuk kaisar di negeri lain, pengobatan dan hal-hal yang sebenarnya adalah kepentingan hidup orang lain. Setidaknya La Priens tidak menyediakan semua itu. Ruang senat yang luas, bermacam-macam kelas dan orang-orang, serta berburu buaya pada setiap kelas Berburu, Frigid merasa semua itu damai dan membuatnya nyaman.
Di sisi lain, ada Ree yang mengintip pria di seberang dinding tengah terduduk menatap kosong botol kaca di genggamannya dengan serius. Ree tidak tahu apa yang tengah Frigid renungkan, ia juga tidak berminat menaruh perhatian pada rekannya satu ini. Setidaknya Ree berharap ia dapat melanjutkan tidurnya dengan nyaman.
*
*
*
Seluruh kegiatan murid di hutan tidak ada hambatan sama sekali, bahkan Ree dan Frigid dapat kembali dengan selamat ke perkemahan sebelum tengah hari. Tentu saja lokasi perkemahan sepi karena kebanyakan murid yang tidak menginap kembali pergi ke hutan dan melanjutkan pekerjaan mereka.
“Kalian merupakan murid yang tiba lebih dulu. Karena itu, ada tugas khusus untuk kalian.” ucap Kyle menyambut kedatangan Ree dan Frigid.
Sebenarnya dalam lubuk hati yang paling dalam, Ree dan Frigid kompak menginginkan istirahat lebih dengan tidur setibanya di perkemahan. Saat malam mereka sulit tidur karena kondisi pondok yang banyak nyamuk serta rasa tidak biasa antara keduanya untuk dapat lelap kembali. Jadi, pagi-pagi sekali keduanya kompak bangun dan memasang perangkap di sekitar pagar kebun lalu memutuskan kembali.
Nampaknya harapan itu pupus seketika ketika melihat deretan bahan-bahan mentah berupa sayur-mayur dan daging berjejeran di atas meja yang disediakan di lapangan perkemahan.
“Yo! Kalian berdua! Apa tidur nyenyak semalam?” Frigid dan Ree sekali lagi kompak menoleh pada sumber suara yang menegurnya tak lain adalah Mildes beserta Irea.
“Maaf jika tempatnya kurang nyaman.” ucap Irea tidak enak hati ketika melihat wajah lesu dari Frigid dan Ree.
“Kami tidak apa-apa dan berterima kasih karena dipinjamkan pondoknya.” timpal Ree tidak enak.
Menginap di tengah hutan memang tidak nyaman, jika sudah dipinjamkan sebuah pondok untuk berlindung, itu rasa sudah lebih dari cukup.
“Lalu ini apa?” tanya Frigid menunjuk deretan bahan makanan di depan mereka.
“Para penduduk desa berterima kasih dengan akademi, maka mereka berencana menjamu kalian makan malam dengan mengirim banyak makanan ke perkemahan.” jelas Millesium.
“Itu benar! Kami berterima kasih karena sudah membantu menangkap hama di kebun, jadi hanya ini yang bisa kami berikan sebagai tanda terima kasih!” jelas Mildes sembari merangkul Frigid dan menarik pria itu pergi ke bagian para pria untuk mengerjakan hewan ternak yang akan disembelih.
Hanya kali ini Ree bisa setuju dengan Frigid yang sudah terseret itu. Wajah pria itu jelas nampak lelah namun sulit untuk menolak ajakan Mildes yang cukup kuat. Mau tidak mau Ree memutar tubuhnya menghadap para wanita desa dan ibu-ibu yang sedang mempersiapkan sayur-mayur serta peralatan masak.
“Jadi, apa yang bisa saya bantu?” tanya Ree dan disambut dengan hangat oleh para wanita yang akan memasak.
Mau itu Ree dan Frigid juga para murid yang baru datang dari hutan tetap akan di seret untuk membantu mempersiapkan pesta jamuan yang cukup besar itu. Suasana perkemahan yang selalu tenang dan hanya di isi oleh orang-orang dewasa untuk hari ini ramai dengan suara tawa para pria desa dan murid-murid, juga obrolan para wanita serta anak-anak yang bermain dengan para murid.
__ADS_1
“Hey! Apa kakak bisa menunjukkan cara mainnya!?” tanya seorang bocah laki-laki pada Antonio yang sedang membersihkan anak panahnya.
“Tentu saja! Tapi tidak di sini memakainya! Kita harus mencari tempat yang aman dan jauh dari orang-orang.” jelas Antonio.
“Apa itu beracun? Kenapa disimpan dalam toples kaca?” tanya seorang anak perempuan pada Liliana yang membawa seekor serangga penuh dengan penampilan warna-warni.
“Dia adalah ulat beracun, jangan pernah menyentuhnya dengan tangan kosong atau tanganmu akan mati rasa karena racunnya.” Penjelasan Liliana cukup membuat anak-anak yang mendengarnya bergidik ngeri.
Persis dengan anak-anak yang sibuk melihat benda temuan Liliana, Alexander yang menonton juga ikut bergidik ngeri karena sisi Liliana yang cukup berani seperti ini belum pernah ia lihat.
“Apa Liliana selalu mengambil hewan berbahaya seperti itu di setiap kelas Berburu?” tanya Alexander.
“Ha? Tentu saja, ia akan membedahnya sesampai di asrama.” jelas Maglina yang sedang mencicipi makanan yang sudah jadi.
“Itu karena Liliana rajin membuat jurnal, ia akan menggambar dan menulis jurnal di setiap kelas Berburu.” sambut Marco.
“Ah! Aku lupa, apa Ree sudah tiba di perkemahan?” tanya Liliana baru sadar. Karena ia dan Marco berangkat pagi-pagi sekali, Liliana tidak sempat melihat kedatangan Ree dan Frigid untuk memastikan keadaan wanita itu baik-baik saja setelah menginap diluar area perkemahan.
“Ree? Dia disana dengan seorang anak bayi. Nampaknya ia sedang membantu ibu si bayi yang sedang sibuk memasak.” Maglina menunjuk seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi dan tengah bermain dengan setangkai bunga di sisi lain area perkemahan.
“Waa…waa…”
“Tidak, kamu tidak boleh menginjaknya. Semut itu akan menggigitmu.” Ree sedang mencegah bayi berusia 10 bulan di tangannya untuk turun ke arah semut hitam yang sedang berbaris.
Karena salah satu rekan Irea sibuk memasak, Ree mengajukan diri untuk menjaga bayinya sebentar. Lagipula Ree tidak diperbolehkan masuk ke area memasak karena disuruh istirahat oleh ibu-ibu.
“Apa kamu tidak menyadarinya?”
Karena ramainya suasana di perkemahan, Ree hampir tidak mendengar dan menyadari bahwa ada langkah kaki yang menghampirinya.
Langkah kaki itu adalah milik Frigid yang datang membawa secangkir minuman hangat untuk Ree yang diminta oleh ibu si bayi mengantarkannya pada Ree.
Tidak ada alasan Frigid untuk menolak, maka ia turuti saja.
Ree pun berdiri dan memperbaiki gendongannya pada bayi itu sembari menghadap Frigid.
“Menyadari apanya?” tanya Ree bingung.
“Bukankah bayi itu laki-laki?” tanya Frigid membuat mata Ree terbelalak kaget.
“Ssst!! Apa kamu berencana membongkar kekuranganku di tempat umum?”
Memang benar bayi yang Ree gendong adalah berjenis kelamin laki-laki.
“Untuk seorang bayi, aku tidak mempunyai masalah dengan mereka.” Lanjut Ree sembari melihat dua bola mata yang sangat bersinar di hadapannya saat ini.
Frigid masih kurang paham seberapa dalam kekurangan Ree tentang tidak menyukai lawan jenis itu.
“Bukannya kelak ia akan menjadi seorang pria?” tanya Frigid lagi.
“Itu benar, ia akan menjadi seorang pria. Namun untuk saat ini, aku sama sekali tidak merasa bahaya ada padanya, karena ia hanya seorang bayi, aduh!” jawab Ree sembari mencoba melepas tangan si bayi yang sedang mencoba meraih rambutnya.
“Saat ini kita tidak tahu apa yang ia pikirkan dan ia pun masih belum mengerti apa-apa.” ucap Ree lalu menatap Frigid yang masih berdiri di depannya.
“Lalu, ada apa?” barulah Ree bertanya tentang kedatangan Frigid padanya.
Sebagai jawaban, Frigid pun menyodorkan sebuah cangkir berisi coklat hangat pada Ree.
“Ibu si bayi memintaku memberikannya padamu.” Jawab Frigid santai.
“Waa… waa…” namun bukan Ree yang menyambut dan ingin meraih cangkir itu, melainkan bayi yang ada di kedua lengan Ree.
Ree hanya menahan tawa melihat tingkah polos manusia mungil yang ada dipelukannya saat ini.
“Maaf, kamu bisa menyimpannya dulu di suatu tempat karena aku tidak bisa melepas salah satu tanganku.”
Ree mungkin bisa memeluk si bayi dengan satu tangan, namun saat ini kedua tangan si bayi lebih aktif dan bisa saja menjatuhkan cangkir berisi coklat panas itu lalu melukai mereka berdua.
“Haah, berikan aku dia.” ucap Frigid sembari meletakkan cangkir berisi coklat panas itu di atas meja yang tak jauh dari mereka.
Coklat panas tidak akan enak dinikmati ketika dingin, pikir Frigid.
Namun, opsi Frigid nampaknya tidak disukai oleh Ree. Otomatis ia akan menyentuh Frigid ketika memberikan bayi di tangannya.
Menyadari hal itu, membuat Frigid tidak habis pikir dengan betapa sensitifnya wanita satu ini ketika berurusan dengan pria dewasa.
“Hanya sebentar, apa itu akan membekas dan menjadi luka juga?” tanya Frigid heran.
Memang tidak akan menjadi luka, namun Ree tidak suka jika harus bersentuhan.
“Baiklah, ini terlihat seolah aku tidak ingin memberikannya padamu karena tidak ingin mengambil seluruh perhatian si bayi padaku.” ucap Ree sedikit tidak rela melepas bayi sembari mengalihkan si bayi dari lengannya perlahan pada Frigid.
“Aku tidak mengerti maksudmu.” timpal Frigid ketika si bayi sudah berada di kedua lengan kekarnya dan nampak langsung nyaman.
“Apa ini, kenapa mereka nampak seperti pasangan muda?” tanya Liliana sedikit tidak suka dengan pemandangan agak jauh di depannya.
Frigid yang sedang menggendong seorang bayi dan nampak menikmati pelukan pria itu, sementara Ree yang memperhatikan keduanya sembari menyesap coklat panas.
“Pemandangan apa ini??” tanya Liliana sekali lagi dan tidak dapat menerimanya.
“Aku tidak tahu maksudmu Liliana, tapi bukankah bagus jika mereka berdua baik-baik saja? Bukan begitu Alexander? nampaknya kekhawatiranmu dapat berkurang.” ucap Maglina menyikut Alexander yang sedang terdiam menatap pemandangan di depannya.
Seorang Frigid dengan hangat menggendong seorang bayi dan berbicara santai dengan seorang wanita? Apa ini mimpi? Bukankah ia pria yang ingin mengeluarkan Ree dari La Priens? Di balik kekhawatiran akan hubungan buruk Ree dan Frigid, ada kebingungan menyikapi pemandangan yang seperti fatamorgana ini.
Alexander tiba-tiba saja terkekeh geli hingga membuat Maglina di sebelahnya bingung.
Ia sudah melayani dan menemani Frigid bertahun-tahun dan ternyata masih banyak yang tidak ia ketahui tentang Frigid.
__ADS_1
To Be Continued.