
Lelah yang menumpuk dan terabaikan itu berangsur-angsur mencapai puncaknya saat Ree telah kembali ke rumah dinas. Sejak obrolannya dengan Smith berakhir belum lama ini, sepanjang perjalanan pulang, Ree lebih banyak termenung. Bahkan saat ini, ia tidak bisa menyelesaikan kegiatannya untuk mengeringkan rambutnya setelah dikeramas dengan handuk di tangan karena matanya menatap kosong kamarnya.
“Haa,” Ree terlalu banyak memikirkan masalah orang lain dari pada dirinya sendiri, itulah yang membuatnya kelelahan.
Meski semuanya terasa lancar, Ree dan Smith sempat terdiam kala itu. mereka memikirkan bagaimana kelanjutan Frigid untuk hidup karena hari dimana Frigid akan pergi meninggalkan Pulchra tak terasa semakin mendekati harinya. Proses berobat tak bisa selesai begitu saja, efek samping dari obat yang dikonsumsi selama bertahun-tahun tak hilang meski sudah tak lagi dipergunakan.
“Ree?”
Ree sedikit terkejut ketika mendengar Liliana mengetuk pintu dan memanggil namanya dari luar kamarnya. Tak berpikir lama, Ree beranjak dan memutar knop pintu untuk mempersilahkan Liliana masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu sudah selesai berkemas?” tanya Liliana.
“Begitula, ada apa?” Mata Liliana juga bisa melihat bahwa Ree dan barang-barangnya sudah dikemas dengan rapi sebelum mereka pergi dari rumah dinas.
“Apa kamu sudah makan malam? ayo pergi cari makan, kamu tahu bahwa besok kita sudah harus pergi dari kota ini.”
Itu benar, besok siang mereka akan kembali ke ibu kota dan akademi. Kegiatan magang mereka sudah usai dan saatnya bersiap untuk laporan.
“Apa Frigid sudah tidur?” tanya Ree penasaran karena ia benar-benar tak sadar bahwa diikuti.
“Aku kurang tahu, ia pergi juga tadi saat kamu pergi. Aku tidak tahu tujuan kalian ternyata berbeda setelah mendengar pertanyaanmu ini.”
Ree mengernyitkan dahinya.
“Benarkah? Ya, dia punya urusannya sendiri.”
Meski Ree tidak yakin jika Frigid pergi ke tempat yang berbeda tujuan darinya. Anehnya Ree begitu yakin bahwa Frigid mengikutinya meski sama sekali ia tidak sadar saat itu.
Liliana tidak tahu apa yang akhir-akhir ini terjadi antara Ree dan Frigid, ia tidak bisa memaksa Ree untuk berbicara.
“Bagaimana? Mau ikut?” tanya Liliana sekali lagi.
Kali ini dengan cepat Ree mengangguk.
“Tentu saja! Aku juga merasa lapar. Sebentar! Aku mengambil jaketku terlebih dahulu.” Ree bergegas mengambil jaketnya yang ia gantung di belakang pintu lalu berjalan bersama Liliana untuk keluar dari rumah dinas.
Sesampai di depan pintu masuk, tak terduga orang yang mereka bicarakan muncul di depan kedua wanita itu dengan penampilan yang cukup berantakan karena raut wajah lelah Frigid tidak bisa berbohong.
Baik Liliana dan Ree sama-sama melempar pandangan satu sama lain, namun tak berani menyapa Frigid karena air muka pria itu nampak sekali sedang tidak bersahabat. Wajahnya nampak sedang menyimpan suatu beban dan terlihat tegang sekaligus kecewa. Apa karena kelelahan hingga matanya juga terlihat sayu?
*
*
*
“Semua ini terkesan begitu terburu-buru, bukan begitu kakak?” bukan Yohan yang membuka pembicaraan antara dirinya dengan putra Mahkota, melainkan kembarannya Yohanna.
Setiba di istana dalam waktu yang cukup singkat dan terburu-buru dari Leafa, Yohanna langsung menyeret Yohan untuk pergi menemui Joan di ruangan pria itu.
Tak lain adalah karena semua kegiatan yang terburu-buru ini.
“Tentu saja ini sudah direncanakan sejak lama, kamu tahu sendiri bahwa ulang tahun Yang Mulia Agnesia selalu sama setiap tahun.” Jelas Joan.
Ya, hari kelahiran seseorang memang tidak bisa dirubah.
“Tapi kenapa harus kegiatan magang akademi dipersingkat?” tanya Yohanna masih tidak terima dengan keputusan kerajaan.
“Politik kerajaan tidak bisa dicampur dengan urusan akademi. Kakak seharusnya tahu itu.” sambut Yohan yang sejak tadi diam.
Joan juga tahu apa yang dimaksud.
Hanya karena ingin mengambil Frigid, semua kegiatan yang berkaitan dengan pria itu harus menjadi urusan campur tangan politik kerajaan.
“Ini merupakan rencana kerajaan untuk tak membuatnya menjadi mencolok. Yang Mulia Agnesia sudah meminta Frigid untuk pergi ke Agnus. Membiarkan dia pergi sementara kalian masih menjalani magang, apa itu sopan? Terlebih kalian adalah keluarga kerajaan.”
“Dan juga, jika hanya segelintir orang yang mendapat perlakuan khusus dapat menyelesaikan magangnya dalam waktu singkat, apa kalian masih memikirkan pihak luar yang tidak ada kaitannya dan masih menjalankan magang? Yohan, kamu tahu sendiri bagaimana akademi La Priens terhadap muridnya, mereka tak memandang orang dengan perbedaan. Alasan mempersingkat waktu magang berkaitan dengan skala besar kegiatan kerajaan, melibatkan banyak orang penting seperti kalian dan terutama Frigid.”
Yohanna bahkan tak sempat memotong ucapan Joan yang panjang itu karena penjelasan Joan cukup masuk akal.
“Tapi haruskah Frigid benar-benar pergi?” tanya Yohanna sekali lagi.
Yohanna benar-benar tidak bisa membiarkan Frigid pergi.
“Apa yang kamu maksud? Perjanjian keluarga Cali dan kerajaan Agnus sudah sangat lama. tentu saja ia harus pergi.” ucap Joan mengernyitkan dahinya karena bingung.
“Meski Frigid bisa tetap bertahan hidup di sini?”
Awalnya Yohan menahan tangan Yohanna agar tak dulu membicarakan tentang peralihan pengobatan Frigid, mengerti yang dimaksud oleh kembarannya membuat Yohanna nampak tersenyum tipis, mengartikan bahwa semuanya baik-baik saja, karena kabar baik tidaklah harus disembunyikan.
“Kami menemukan cara dan obat alternatif untuk Frigid, bahkan dia sudah mencobanya. Dengan kata lain, tak ada alasan Frigid untuk pergi ke Agnus. Dimana sebenarnya ia bisa berada di Pulchra dengan obat yang berasal dari Pulchra, kakak tahu sendiri bukan? Selama ini, Frigid hanya menerima obat dari Agnus, karena dari sana berasal obat yang diberikan oleh ratu.”
Joan tertegun, di luar ekspetasinya adik-adiknya nyatanya lebih berani. Melakukan perlawanan yang halus tanpa dirinya tahu. Memang selalu ada rumput liar yang mengusik ketika ia harus membangun sebuah jalanan batu menuju tujuannya.
“Tetap saja Yohanna, tak semudah itu membatalkan janji dan kesepakatan sebesar ini. kamu tak mengerti betapa pentingnya peran Frigid sebagai seorang selir sekaligus sebagai seorang diplomasi antara kerajaan untuk menjalani hubungan baik setelah kedua orang tua kita menikah dan mengingkari dekrit Tiga Permata setelah ratusan tahun.”
__ADS_1
Kali ini tenggorokan Yohanna seolah seperti menelan sebuah batu yang besar.
Ia begitu sadar, ketika ayahnya yang merupakan putra mahkota Pulchra dan ibunya merupakan putri kedua dari keluarga Cali.
Fakta yang dikatakan kakaknya adalah benar, tentang bagaimana ketegangan politik ketika kedua orang tuanya menikah beberapa tahun lalu. Yohanna dan Yohan mungkin tak begitu merasakannya, namun Joan yang merasakan kemurkaan Agnesia waktu ia masih kecil.
Dimusuhi oleh pihak kerajaan Agnus membuat Joan beberapa kali merasakan teror dan ancaman perang oleh pihak Agnus.
“Perjanjian itu bukan sekedar balas budi untuk obat yang dikonsumsi Frigid, namun untuk memperbaiki ketegangan politik antar kerajaan. Aku harap kalian berdua mengerti.”
Tapi, tetap saja dalam benak Yohanna dan Yohan seperti masih terganjal.
*
*
*
“Sejujurnya Yohan, bagaimana pendapatmu?” tanya Yohanna setelah keduanya keluar dari ruangan Joan dan berjalan di koridor untuk menuju ruangan mereka masing-masing.
“Kamu tahu, kita lahir dari hubungan yang cukup menegangkan seperti itu. tentu saja aku cukup lelah ketika memikirkan hidup kita harus nyaman dengan mengorbankan teman sekaligus saudara kita.”
Peran Frigid cukup besar, mencegah perpecahan antara kerajaan untuk tetap berdamai.
“Jika akan menyebabkan perang, aku rasa tindakan Frigid selama ini benar-benar ia lakukan dengan baik. Ia memikirkan hal yang akan terjadi seperti apa dan hanya pasrah mengorbankan dirinya sendiri untuk hidup orang lain.” lanjut Yohan sembari menghela napasnya
Skala perang itu sendiri cukup besar.
“Tapi, dipikir-pikir konyol juga ketika dekrit penting dua kerajaan yang ditengahi oleh satu keluarga berisi larangan cinta.” Yohanna hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Ia tidak mengerti apa yang dilakukan leluhur mereka dulu.
Larangan jatuh cinta itu cukup konyol untuk dimasuki di dalam sebuah keputusan dan perjanjian perdamaian.
*
*
*
Banyak yang mengatakan bahwa hidup itu merupakan suatu pilihan. Ketika tidak dapat mendapatkan semua yang diinginkan, setidaknya harus memilih salah satu jalan untuk menjadi penentu tentang apa yang harus kita lakukan.
Kini di hadapan Frigid yang baru saja selesai mandi, dideretkannya dua buah botol kaca dengan warna yang berbeda. Satu botol berisi serbuk putih yang biasa ia gunakan, dan satu botol merupakan cairan kental berwarna coklat yang menjadi obat penggantinya akhir-akhir ini.
Pikirannya penuh dengan percakapannya bersama Smith tadi sore.
Awalnya Frigid ingin berpamitan dengan ibunya untuk terakhir kali sebelum ia benar-benar pergi ke Agnus. Namun semua itu nampaknya tak ada harapan sedikitpun. Ibunya sejak lama sudah melupakannya, menganggap dirinya mati dan jika Frigid bertemu muka dengan ibunya, entah apa ibunya bisa mengingatnya.
Mengingat kenyataan pahit itu membuat dada Frigid serasa dihujani oleh ribuan paku, sangat menyakitkan dan sulit membuatnya untuk menarik napas. Ketika napasnnya tertahan dan hanya bisa menggigit bibir karena harus menahan rindu pada ibunya.
Bahkan air matanya yang selalu kering itu, nampaknya harus meluap di malam ini.
*
*
*
Ree cukup menyesali perbuatannya bersama Liliana yang terlalu banyak makan dan minum saat makan malam, karena itu ia harus bangun pagi-pagi buta untuk turun ke lantai dasar pergi ke kamar mandi karena panggilan alam yang tidak bisa lagi Ree tunda.
Pelan-pelan kakinya menuruni tangga dan sambil memegang ujung gaun tidur tipisnya. Mata Ree awalnya hanya membuka sedikit untuk memperhatikan pijakannya agar tak terjatuh, namun matanya dengan cepat terbuka lebar ketika mendengar derit pintu depan yang terbuka dan terlihat bayang-bayang seseorang yang keluar.
“Frigid?” tidak salah lagi mata setengah mengantuk Ree dalam mengenal orang yang ingin pergi dengan membawa banyak barangnya.
“Hey! Frigid, kamu mau kemana? Kereta kita bukankah nanti siang?” tanya Ree heran dan otomatis menghentikan langkah Frigid yang ingin keluar dari rumah dinas.
“Tentu saja kembali ke Crystallo. Untuk apa menunda terlalu lama.” jawabnya dingin tanpa menatap wajah Ree sedikitpun.
Ree benar-benar sepenuhnya sadar ketika angin subuh mengenai wajahnya, ia tidak bisa melihat wajah Frigid karena pria itu membelakanginya.
“Apa karena undangan itu? kamu harus terburu-buru seperti ini?” Ree kembali bertanya.
Frigid tak juga membalikkan tubuhnya dan diam di hadapan Ree. pria yang mengenakan mantel hitamnya dan syal coklatnya itu nampak menggenggam erat pegangan kopernya.
“Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud, kepulangan siswa tak harus bersama. Aku harus pergi karena kereta pagi akan segera berangkat.”
Omong kosong macam apa itu.
“Kereta pagi masih lama, aku hapal dengan jadwal kereta di kotaku.”
Tapi Ree tidak begitu peduli dengan kebohongan serta omong kosong Frigid.
“Tapi setidaknya kamu membawanya bukan? Tentang pilihan bagaimana kamu akan bertahan dan melanjutkan kehidupanmu.” maksud Ree adalah obat dari Wizzle.
Setidaknya, Ree tidak ingin Frigid terlalu tersiksa meski akan sulit untuk mereka berdua bertemu kembali.
__ADS_1
“Aku pergi dulu.” bukannya menjawa pertanyaan Ree, Frigid malah berpamitan dan membuat Ree memanyunkan bibirnya karena pria itu kelewatan dinginnya.
“Bahkan dia tidak mau menoleh dan menampakkan wajahnya, padahal aku tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi.” kalimat itu membuat Ree tiba-tiba merasa kesepian. Setelah punggung Frigid hilang ditelan oleh kabut pagi, barulah Ree menutup pintu dan memutar tubuhnya.
“Eh?” saat memutar tubuhnya, matanya tertarik dengan benda tak asing di atas meja ruang tamu.
Sebuah botol kaca bening berisi cairan kental berwarna coklat. Cepat-cepat Ree meraihnya dan membuka kembali daun pintu keluar rumah dan ikut ditelan oleh kabut pagi yang dingin.
Bahkan ia tidak peduli dengan pakaian tidurnya dan terus berlari hingga matanya menangkap punggung tak asing yang sedang berjalan santai setelah meninggalkan rumah dinas tak lama ini.
“Frigid! Hey orang gila!” Ree benar-benar berseru di pagi-pagi buta hingga memancing gonggongan anjing dari kejauhan dan mengejutkan orang yang ia panggil itu.
Hanya mengenakan sandal tidurnya, masuk ke dalam kabut pagi mengejar siluet tak jelas dan mencapainya dalam waktu singkat. Membuat orang yang ia panggil kembali berhenti dan akhirnya menolehkan wajahnya ke belakang menatap penampilan berantakan Ree yang sedang terengah-engah itu.
Ree merasa kepanasan di pagi buta.
“Kenapa kamu meninggalkan ini? setidaknya kamu membawanya.” Ree menunjukkan botol kaca itu dihadapan Frigid.
Botol itu sengaja Frigid tinggalkan di ruang tamu sebagai pemberitahuan pada orang rumah bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi.
“Apa kamu tidak mengerti kenapa aku tinggalkan barang itu?” tanya Frigid lirih.
Ree langsung bisa menangkap maksud dari pertanyaan Frigid. Ucapan Frigid membuat perasaan kecewa terpantik dalam benak Ree, namun tangannya tak melepas botol itu dan masih menggenggam erat.
“Apa kamu benar-benar akan pergi dan memisahkan diri seperti ini? seperti ini caramu pergi?”
Setelah semua yang dilakukan? Pada akhirnya sia-sia saja? Ree menatap Frigid dengan sorot mata yang mampu mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan itu.
“Inilah keputusan yang paling baik bagiku, tidak ada perbuatan kalian yang sia-sia. Aku benar-benar menghargainya tapi! nyatanya semua ada batas Ree. nyatanya aku tidak bisa tinggal.”
Terlalu banyak hal yang menyesakkan meski kadang kebahagian datang menyelipkan dirinya pada kehidupan Frigid.
Bahkan hadirnya Ree dalam kehidupan Frigid juga sesuatu yang pria itu syukuri.
Ree mengepal kedua tangannya geram, seolah pembicaraan mereka tidak akan bertemu dengan titik terang. Solusi apa lagi yang harus Ree keluarkan.
“Setidaknya Ree meski sulit, aku sudah bertemu dengan orang yang sangat ingin kutemui berkatmu. Aku merasa cukup hingga aku berani untuk pergi.”
Frigid tidak bisa berlama-lama lagi, melihat Ree seperti orang yang kehilangan harapan dan kecewa, membuat Frigid bisa saja tidak bisa melangkah pergi.
“Aku tidak bisa berlama-lama di sini Ree, kehidupanku seolah sudah direnggut sepenuhnya oleh Smith. Setidaknya dengan pergi aku bisa lepas dari semua rasa iri ini.”
“Apa yang harus kamu irikan dari Smith, dia tulus ingin membantumu keluar dari belenggu yang mengekangmu selama ini. tidakkah kamu bisa melihat jelas apa yang sudah ia lakukan?” tanya Ree heran.
Setelah Ree bekerja sama dengan Smith, Ree bisa tahu sebenarnya Smith sangat menyayangi Frigid lebih dari yang pria itu tahu.
“Karena itu semua sudah terasa sia-sia! Dia berbohong ketika mengatakan seolah peduli padaku. Karenanya, bahkan untuk bertemu dengan ibuku saja sulit dan kamu! Kamu orang asing dan bisa bertemu dengan ibuku! Apanya yang menyayangi?! Berhentilah membuatku mengerti. Pada akhirnya aku malah meluap-luap seperti ini.”
Frigid sebenarnya tidak ingin mengatakan isi hatinya tentang rasa iri pada Ree yang bisa bertemu dengan ibunya. Dirinya sudah lama menahan rindu dan tidak diperbolehkan untuk melihat lebih dekat ibunya membuat Frigid merasa sangat hancur.
Mendengar ucapan Frigid, Ree seolah tersadar bahwa sepenuhnya ia masih belum mengerti Frigid. Ada satu titik dimana sudut hati pria itu sulit untuk dimasuki dan diketahui apa isinya.
“Bukan, bukan seperti itu maksudku Frigid.” Ree bahkan mengabaikan tentang bagaimana blak-blakannya Frigid seolah mengakui bahwa pria itu mengikuti Ree kemarin.
“Ree, berhentilah. Aku tidak ingin meluapkan emosi tidak pentingku padamu dan membebanimu. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku, benar begitu? Berhentilah dan lanjutkan saja hidupmu. Aku tidak akan mengusikmu dan memintamu untuk keluar dari akademi lagi. Kamu bebas melakukan apa yang kamu inginkan di akademi.”
Kalimat itu benar-benar menggambarkan perpisahan dan berhasil membungkam mulut Ree untuk berkomentar. Perempuan itu tak berani maju melangkah mendekati Frigid, karena merasa bahwa jarak yang mereka alami ini menahan untuk saling menjauh.
“Kamu mengatakan itu setelah semua yang terjadi?”
Bukan masalah tentang pengorbanan waktu dan tenaga Ree.
“Tentang hidupmu, kamu benar-benar menyerahkannya?”
“Lantas, sebesar apa pedulimu dengan hidupku? apa kamu sanggup pergi meninggalkan semuanya dan ikut bersamaku bertahan?”
Sayangnya pemikiran Ree tak sampai sejauh itu dan cukup membuat Ree tercengang. Ini tentang sejauh mana Ree harus mendukung sesuai dengan kemampuannya.
“Kita tidak akan bisa bersama selamanya Ree, akui itu. Kemampuanmu untuk membantuku juga ada batasnya, karena itu biarkan aku memilih hidup dengan caraku meski aku harus membencinya.”
Apa benar-benar berakhir?
Kalimat itu berakhir dengan Frigid kembali membalikkan badannya pergi menjauh dan semakin jauh hingga tak lagi terlihat oleh kedua mata Ree.
Apa dia akan benar-benar pergi dan Ree tidak lagi bisa bertemu dengannya?
“Setelah semua yang kulakukan.” Ree mengusap setitik air mata yang meluap di sudut matanya.
Waktu dan tenaga terasa sangat sia-sia.
Lelah itu nyatanya tak terbayar oleh senyuman lega dari seseorang.
“Setidaknya pergi dengan membawa harapan, bukan seperti ini.”
Seolah semuanya hancur begitu saja.
__ADS_1
Rapuh, tidak seperti botol kaca yang menjadi objek pegangan erat Ree sejak percakapan tadi dimulai hingga berakhir.
To Be continued.