We And Problems

We And Problems
Chapter 19 : Pengorbanan Seorang Frigid


__ADS_3

Apakah memaafkan bisa menjadi suatu masalah dalam kehidupan? Kata ‘maaf’ selalu memiliki keterkaitan dengan kesalahan yang telah dilakukan, meski sekecil apapun itu kesalahan tidak akan luput dari ‘maaf’ setelahnya dan nampaknya merupakan hal wajib untuk diucapkan. Namun tidak selalu didahulukan dengan orang yang bersalah lebih dulu mengucap kata maaf, kadang sudah ada yang duluan ‘menerima’ rasa bersalah itu tanpa harus mengucap ‘aku minta maaf.’


Kebesaran hati dipertanyakan disini, berlapang dada menerima seseorang yang sudah melakukan kesalahn yang tidak berkenan di hati diri sendiri. Meski sulit untuk menerimanya dan hidup tidak selalu berputar di sekitar satu orang itu, tidak ada salahnya menghapus semua rasa sakit yang pernah dibuat dulu.


“Liliana, kamu tidak makan makananmu?” tanya Maglina ketika melihat Liliana hanya diam dan menatap kosong nampan berisi makan siangnya sementara Ree dan Ghea sudah lebih dulu menyantap makan siang.


“Ah?! Apa? Aku makan.”


Liliana mulai mengangkat sendoknya dan mulai makan. Kini berganti Ree yang meletakkan sendok makannya karena teman di depannya tidak begitu menikmati makanannya.


“Liliana, jika terlalu berat lupakan saja ucapanku. Aku merasa tidak nyaman jika kamu kepikiran seperti ini.” tanpa basa basi Ree mengutarakan yang mengganjal dihatinya meski sudah berulang kali Maglina dan Ghea mencegah Ree untuk tidak mengungkit persoalan Liliana dan Alexander.


Sambil mengunyah makanannya Liliana menggeleng dan menampakkan bahwa ia tidak mempermasalahkan saran yang diberikan Ree padanya semalam. Bukan karena ia tidak bisa melakukannya, hanya saja Liliana tidak tahu bagaimana memperlakukan orang yang pernah membuatnya takut menjalani hari-hari di akademi.


“Aku tidak mempermasalahkannya Ree, aku hanya bingung karena kadang ketakutan itu datang tidak aku rencanakan, kamu tahu maksudku bukan?”


“Sulit mengatakannya sebagai trauma, namun Liliana mungkin sejauh ini sudah berusaha keras dalam menerima keberadaan Alexander yang ingin berteman dengannya.” timpal Ghea.


“Liliana tidak takut dengan Alexander, ia hanya tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang ingin terlihat baik di mata Alexander.” timpal Maglina.


“Aku setuju dengan ucapanmu Maglina.” sambut Ree.


“Arghh!! Kalian ini!! Bukannya sibuk menghabiskan makanan malah membicarakan orang di depan orangnya.” Protes Liliana kesal sementara ketiga temannya itu terkekeh.


“Jarang bisa melihat Ghea terkekeh.” timpal Ree.


Ghea tersenyum tipis.


“Benar, itu karena kasus Liliana sangat lucu bagiku.”


*


*


*


Setelah makan siang selesai, Liliana pun langsung pergi menuju ruang kelas yang akan ia ikuti selanjutnya. Ketiga temannya sudah pergi ke arah masing-masing kelas yang berbeda dengannya.


Seolah seperti sudah ada yang mengatur, tepat di ujung koridor berjalan berlawanan arah dengannya, menuju ke arah kelas yang sama dengan Liliana. Tidak pernah berubah sedikitpun dari dulu sejak pertemuan pertama di depan toilet.


Saat ini dikepala Liliana hanya mengingat ucapan Ree untuk tidak terlalu dingin pada Alexander. Memang tidak seperti Liliana yang mengabaikan orang lain, namun sedikit rasa takut itu masih tersisa di dalam diri Liliana tanpa alasan yang jelas.


Hingga saat keduanya bertemu tepat di depan pintu kelas dan saling berhenti karena ruang pintu masuk tidak bisa dilalui oleh dua orang atau lebih dalam satu waktu.


Alexander dengan wajah canggungnya dan Liliana hanya diam menatap Alexander tanpa mengucapkan satu patah kata meminta duluan atau ia yang maju lebih dulu.


“A-.”


“Tidak, kamu lebih dulu saja.” ucap Liliana langsung memotong ucapan Alexander yang belum selesai.


Namun bukannya menuruti ucapan Liliana, pria itu malah mematung dan membuat Liliana bingung.


“A-ada apa?” tanya Liliana bingung karena Alexander hanya diam menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Ah! Tidak, maaf, terima kasih.”


Alexander langsung pergi masuk ke kelas barulah setelah itu Liliana menyusul dibelakangnya dengan perasaan bingung. Liliana bertanya-tanya pada dirinya sendiri sembari mengingat pesan Ree padanya, apa ia sudah melakukannya dengan benar? Terlebih respon Alexander barusan, bukannya itu sedikit mengejutkan?


Liliana tidak tahu, menurutnya ia melakukan sudah sebaik yang mampu ia lakukan.


*


*


*


“Wah, apa kamu benar-benar serius?” tanya Yohan pada Frigid yang sedari tadi hanya diam mengurusi beberapa pekerjaan administrasi sebagai ketua senat.


“Apanya?” tanya Frigid tanpa menoleh sedikitpun pada Yohan yang duduk di salah satu sofa di ruang senat. Hanya ada mereka bertiga diruangan itu, Yohan dan kembarannya juga Frigid.


“Aku tahu keputusan ini sudah diambil cukup lama, namun tetap saja kejam ketika negara harus mengorbankan nasib hidup seseorang hanya untuk hubungan dua negara agar aman.” timpal Yohanna heran.


“Aku tidak merasa mengorbankan diri, aku hanya melakukannya karena tugasku.” jawab Frigid santai.


“Apanya yang tugasmu?! Kau akan melayani wanita tua seumur hidupmu tanpa bisa melakukan hal yang kau inginkan. Apa jadi seorang selir itu terdengar menyenangkan bagimu?!” protes Yohanna tidak suka. Ia tidak suka ketika Frigid nampak pasrah dan tidak mempedulikan nasib hidup kedepannya jika hanya mengikuti arus yang sudah dibuat oleh orang-orang dewasa yang egois.


“Yohanna, meskipun ini di luar dinding istana, kamu tidak boleh berteriak seenakmu saja, bagaimana jika ada orang yang mendengar? Terlebih kerajaan Agnus juga pasti mengawasi Frigid.” tegur Yohan agar Yohanna tidak lepas kendali dan mengomeli Frigid sepanjang hari.


Menjadi selir? Melayani seorang wanita yang lebih tua sepanjang hidupnya di negeri orang lain? Frigid ingin menertawakan kehidupannya yang sudah dipersiapkan seperti itu.


“Aku tidak peduli! Mentang-mentang mereka sedikit lebih besar wilayahnya dari kita, kaisar perempuan itu memangnya harus seegois ini mengambil orang-orang hebat di setiap negeri tetangga untuk ia jadikan selir?! Terlebih Frigid adalah yang ke-20!! Bukan yang pertama!! Frigid, lebih baik kamu menikah denganku saja!” protes Yohanna yang masih belum menerima.


“Keputusan itu sudah dibuat ketika Frigid berusia 15 tahun, jika Frigid tidak sakit saat itu mungkin ia akan menjadi selir diusianya 15 tahun. Apa kamu tidak mengerti perasaan Frigid? Lagi pula menikah denganmu bukannya memperbaiki keadaan menjadi lebih baik, malah menambah masalah konflik antar dua kerajaan.” ucap Yohan.


“Masalahnya ia sudah 40 tahun Yohan! 40 tahun! Apa aku bisa menerima jika Frigid yang bisa menikahi gadis muda diluar sana malah menghabiskan hidupnya untuk seorang wanita tua?!”


“Yohanna.” panggil Frigid.

__ADS_1


Perasaan Yohanna yang menggebu-gebu barusan seketika langsung terdiam hanya karena satu penggal kata memanggil namanya dengan tenang. Ruangan itu menjadi hening seketika.


“Umur bukan menjadi masalah.”


Yohanna bungkam sekaligus tak mampu berkata-kata ketika mendengar respon Frigid diluar dugaan.


“Figrid…” lirih Yohan.


Yohan tidak sepenuhnya percaya jika Frigid tidak mempermasalahkan apa yang sudah diputuskan orang lain padanya. Memang benar jika Frigid melakukan semuanya sendiri, akan pergi ke negeri orang setelah menyelesaikan pendidikannya di akademi, menjadi selir termuda untuk kaisar wanita kerajaan Agnus. Pengorbanan ini dilakukan tidak jauh dari tujuan mempererat hubungan diplomatik satu  sama lain. Bagaimana jika tidak dituruti? Banyak aspek yang bisa bersitegang dengan Agnus mulai dari pertahanan hingga ekonomi saling berkaitan.


Yohan benci ini.


Ia tidak ingin sahabatnya malah menjadi boneka kerajaan dan berjuang sendirian.


“Yohan jangan lagi-lagi kamu mengharapkan sesuatu yang tidak-tidak.”


Frigid menyadari arti diamnya Yohan, pria itu entah apa yang di kepalanya pasti memikirkan jalan keluar untuk permasalahan Frigid.


“Tidak, hanya saja jika aku memiliki sedikit kekuasaan. Pasti akan ada jalan keluar dan kamu tidak perlu melakukannya Frigid.” Yohan mengutarakan apa yang ada di kepalanya saat ini sambil menatap Frigid dengan tatapan ibanya.


“Aku tidak ingin menjadi alasanmu untuk mengambil kekuasaan. Itu tidak akan etis.” timpal Frigid.


Frigid nampak sudah menyelesaikan tugas-tugasnya dan menyusun tumpukkan kertas di atas mejanya lalu menatap keluar jendela untuk melihat pemandangan hijau luar ruangan yang nampak menyegarkan.


“Sejak awalpun aku tidak pernah keberatan menerima keputusan ini. Karena tidak ada yang bisa aku lakukan untuk keluargaku, aku hanya bisa melakukan semuanya sebaik mungkin.”


*


*


*


“Oke, sedikit lagi.” Hari ini Ree kembali mencoba untuk menyentuh kelinci yang ia simpan di kandang belakang gedung B itu.


“Kamu tidak akan bisa menyentuhnya.”


Tiba-tiba saja Servio tanpa dosa muncul di belakang Ree dan membuat suara yang mengejutkan kelinci yang sudah ingin Ree sentuh itu. lagi-lagi gagal, pikir Ree.


“Aku bisa meraihnya jika kamu tidak muncul dan mengejutkannya.” ucap Ree sembari membereskan makanan yang akan diberikannya pada kelinci dan rusa di kandang itu.


“Lagi pula kenapa kamu ada di sini?” tanya Rishe heran.


“Justru akulah yang bertanya, gedung B adalah wilayah kekuasaanku dan anggota keamanan lainnya seharusnya tidak ada di sini, terlebih sedang berusaha menyentuh kelinci liar.”


Antara protes dan mengejek, Servio benar-benar membuat Ree kesal.


“Hoo!! Nampaknya kamu sedang kesal dan berusaha melampiaskannya padaku.”


Ree menghela napasnya, akhir-akhir ini ia memang sedang kesal dengan akademi yang sedang ia pijaki saat ini. entah itu karena aturannya dan orang-orang di dalamnya.


“Meski begitupun, kamu tidak dapat membantu meredakan rasa kesalku.” ujar Ree sembari mengunci pintu kandang.


Tiba-tiba saja Servio menyeringai dan membuat Ree bergidik ngeri. Terakhir kali ketika Servio menyeringai, tidak pernah ada hal yang menyenangkan bagi Ree.


“Kamu mau apa?” tanya Ree was-was.


“Eh? Aku hanya tersenyum, memangnya kenapa?” Seolah tidak merasa bersalah, Servio menghapus seringaiannya dan memasang wajah polos.


“Berhenti pura-pura, aku tahu sikapmu yang sebenarnya.” timpal Ree lelah.


“Kamu yakin tidak ingin menceritakan masalahmu? Biasanya setelah bercerita, itu akan membuatmu nyaman.” Tawaran Servio memang menarik, namun masalahnya.


“Aku tidak bisa mempercayaimu sedikitpun.” Itu masalahnya. Di mata Ree, Servio bukanlah orang yang dapat ia percayai untuk bercerita. Terlebih, masalah yang ada pada Ree tidak sekedar permasalahan perempuan biasa.


“Karena kamu belum mengetahuiku sepenuhnya, bagaimana kamu bisa tahu? Karena itu tidak ada salahnya untuk mencoba.” timpal Servio.


“Apa kamu pikir kepercayaan itu seperti mengobral? Kepercayaan itu nyatanya tidak murah.” ucap Ree.


Servio tersenyum, perkataan Ree barusan terdengar menarik.


“Kepercayaan ya? Seberapa besar kamu bisa percaya dengan orang di sekitarmu? Aku benci untuk percaya karena itu melelahkan.”


Ree memang tidak pernah bisa mengerti pria bersurai panjang di depannya ini.


“Belum lama ini kamu menawarkan sebagai pendengar masalah. Bagaimana bisa pendengar tidak bisa menjaga kepercayaan.” ujar Ree heran.


“Biar aku tebak! Kamu pasti merasa kesulitan dengan kekuranganmu itu ya??” tebak Servio.


“Apa itu terdengar menyenangkan bagimu?” tanya Ree.


Ia benci jika ada yang menebak sembarangan tentang apa yang ada dalam dirinya, terlebih itu dari Servio.


“Tentu saja tidak, banyak gadis yang ingin aku sentuh, sementara ada satu orang di akademi ini menamparku dan menolak sentuhanku. Aku jadi sedih sekali senior.”


Ree memicingkan matanya.


“Dari ucapanmu, aku tahu kamu bukanlah orang yang bisa di ajak bicara sedikitpun. Lebih baik kamu pergi dan lanjutkan pekerjaanmu sebagai senat.”

__ADS_1


“Baiklah!! Baiklah!! Jangan rindu sentuhanku ya! Jika memerlukannya kamu bisa mencariku di gedung B.”


“Oh!” Servio sedikit kaget ketika ia memutar badannya terdapat seseorang yang tidak terduga datang ke belakang gedung.


“Frigid.” Bisik Ree kesal dan hanya dia seorang yang dapat mendengar bisikannya itu.


Benar, Frigid tiba-tiba saja sudah ada di ujung jalan dan nampak baru saja tiba. Seolah memergoki Servio dan Ree berdua, pria yang akhir-akhir ini bermasalah dengan Ree hanya diam.


“Wah! Nampaknya aku harus pamit pergi dulu. Sampai jumpa Ree.”


Ingin rasanya Ree mengekor Servio karena situasi yang ditinggalkan pria itu tidak akan lagi menyenangkan. Sungguh saat ini ia tidak ingin menatap wajah Frigid sedetikpun. Entah karena kesal, marah, atau bingung. Semua perasaan bercampur jadi satu atas ketidakjelasan keputusan yang Frigid berikan seenaknya.


“Aku ingin bicara denganmu.” ucap Frigid tanpa ingin mengulur waktu lama tepat setelah Servio tidak lagi terlihat di matanya.


“Aku tidak ingin bicara padamu, bagaimana?” tanya Ree seolah menantang, meski ia tahu kekuatannya tidak akan sepadan dengan Frigid.


“Nampaknya kamu belum memikirkannya secara tenang tentang keputusanku. Meski terdengar egois, itu juga demi kebaikan bersama.”


Ree bertanya-tanya tentang siapa yang ada di hadapannya saat ini dan siapa yang sedikit ramah pada kelas berburu serta siapa yang memaksanya untuk ikut senat.


“Ketidakjelasanmu memutuskannya membuatku tidak berminat menurutimu. Maaf, aku pikir kita selesai bicara dan bertahanlah sampai beberapa bulan kedepan. Itu tidak sulit bukan?” tanya Ree.


“Bukankah itu perkataan yang seharusnya diajukan padamu?”


Ree kesal.


“Mungkin saat ini hanya Servio dan aku yang mengetahui keterbatasanmu, namun ke depannya kamu akan lebih banyak mengenal orang bahkan ada yang lebih buruk dari Servio ketika memperlakukanmu.” Terdengar seperti peringatan, namun bagi Ree sangat tidak etis ketika seorang ketua senat mengatakannya.


“Itu tidak masuk akal ketika mendengar peringatan tentang hal ‘keteledoran’ itu keluar dari mulutmu.” cibir Ree tanpa takut dengan siapa ia berhadapan.


“Apa kamu ingin bertaruh?” tanya Frigid sembari maj mendekati Ree.


Tindakan Frigid sudah di antisipasi Ree dan otomatis wanita itu mengambil langkah mundur. Hingga semakin pria itu mendekat dan Ree mundur menabrak dinding kandang hewan peliharaannya. Hanya tersisa satu meter di antara mereka berdua.


“Apa maksudmu?” tanya Ree menahan suaranya agar tidak bergetar.


“Aku memang tidak menentang tentang perubahan sistem pada akademi dan tidak membencinya. Hanya saja, aku sedikit tidak suka jika ada yang mengganggu proses perubahan itu. Aku pikir awalnya akan baik-baik saja, namun nampaknya semakin ke sini kamu banyak terlibat dan kerepotan sendiri. Aku tidak menyukainya.”


Sekejap mata wajah Frigid sudah ada di depan matanya dan hampir menepis jarak diantara mereka. Ingin berontak namun dengan cepat Frigid menahan kedua lengan Ree hingga menabrak dinding kandang yang terbuat dari kawat itu.


Tidak ada seorangpun di belakang gedung kecuali mereka berdua, Servio sudah lama sejak ia meninggalkan halaman antaran gedung B dan kaki gunung yang dikelilingi oleh pagar tinggi.


“Kamu mengancamku?” tanya Ree dengan suara rendahnya.


Ia takut sekaligus panik, tenaga yang Frigid gunakan padanya cukup kuat dan sulit membuat Ree menggerakkan kedua tangannya dengan bebas.


“Aku tidak menyukai adanya korban jiwa di akademi ini, meski aku tahu kamu hanya mengikuti keputusan akademi lamamu untuk pergi ke sini, kondisimu yang terbatas ini akan membunuhmu. Lalu siapa yang akan disalahkan? Tidak lain adalah La Priens itu sendiri.” Frigid memberitahukan alasan jelasnya yang ia pikir akan logis dan diterima oleh Ree.


Namun dari pihak Ree, nampaknya wanita itu tidak menyukai penjelasan yang Frigid berikan. Setelah ia banyak melalui hal-hal yang tidak menyenangkan di La Priens, ia malah di minta pergi.


“Menjijikan, apa kamu tahu saat ini aku berpikir bahwa kamu yang membuat La Priens menjijikan.” timpal Ree.


“Apa kamu menyalahkanku? Padahal kamu berpikir demikian pada semua laki-laki di La Priens.”


“Haa?”


Semua laki-laki di La Priens tidak seburuk itu di mata Ree. Bagaimana ia mengingat Marco yang mencoba menemaninya setiap hari, Alexander yang melakukan segalanya untuk meminta maaf, terlebih Viovarand yang pernah menggantung Ree hanya dengan mengangkat kerah baju Ree lalu meminta maaf keesokan harinya dengan banyak penyesalan. Dari semua orang itu tidak ada yang lebih buruk dari apa yang Ree hadapi saat ini.


Kepribadian yang misterius, sikap yang sulit di tebak, namun kenapa semua orang mengikuti perkataannya tanpa harus ia repot-repot menekan kata?


Apa yang ada pada Frigid?


Semakin lama, semakin sulit bagi Ree untuk bernapas dan menjernihkan pikirannya. Sentuhan fisik, jarak yang sangat tipis, bahkan suara serta aroma yang jelas asing baginya membuat Ree tidak nyaman. Haruskah Ree menyalahkan kekurangannya atau kekurangan orang lain di matanya? Mana yang lebih baik?


“Kamu takut?” tanya Frigid dengan wajah seperti orang yang tidak bersalah. Datar tanpa dosa.


Jelas saja Frigid sadar dengan kondisi fisik Ree yang tidak baik-baik saja saat ini. bahkan kedua lengan gadis itu bergetar berada di genggamannya dan suara napasnya semakin kasar dari waktu ke waktu.


“Wah, saat ini jantungku bahkan berdegup sangat kencang… dan ingin meledak rasanya… Tidak sekalian saja… kamu membunuhku?”


Serasa sesak di dada, sulit bagi Ree untuk bisa bernapas normal di tengah kondisi gilanya seperti ini. Ia mengucapkan kata-kata itu dengan senyuman dan air matanya. Apa artinya Ree sudah menyerah? Jika ia mati, ia tidak akan repot lagi merasa sesak dan lelah setiap kali bertemu lawan jenisnya. Bukan berarti ia berniat membunuh dirinya sendiri, ia hanya mati jika memang sudah waktunya dan mungkin saja Frigid akan mempercepat hal itu, maka ia bertanya.


Bahkan Ree bingung, ketika ia membuka mata, Frigid masih ada di depannya dan bahkan ujung hidungnya bisa bertemu dengan milik pria bersurai hitam itu. Namun ketika ia menutup mata, hal-hal yang membuat lukanya ada muncul dalam kepalanya dan membuat Ree semakin takut.


Apa yang harus ia perbuat?


“Jika kamu bisa mempercepat waktu matiku… aku tidak akan marah padamu...”


Bagaimana bisa ada orang yang minta di bunuh dengan senyum dan air mata di wajahnya ketika rata-rata semua orang menampakkan ketakutan dan keputusasaan di wajah mereka masing-masing.


Frigid terdiam, dalam bola mata hitamnya yang lurus masih nampak bayangan dari wajah gadis yang ada di hadapannya. Ini memang diluar perkiraannya, ia pikir akan cepat selesai ketika Ree sudah ketakutan dan menyerah lalu memutuskan untuk kembali ke akademi lamanya di Litore.


Namun, nampaknya gadis itu sama sekali tidak berniat kembali ke Litore.


 


To Be Continued.

__ADS_1


__ADS_2